Smelter Bernilai Rp 1 Trilyun di Sulawesi Tenggara

 

                           Oleh Yamin Indas

 

Direktur Utama PT Bintang Smelter Indonesia Harrison Iyawan  menyampaikan sambutan pada upacara peletakan batu pertama pembangunan smelter berkapasitas 100.000 ton per tahun di Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan. Foto Yamin Indas

UPAYA Gubernur Nur Alam menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai pusat industri nikel di Tanah Air, bukanlah impian kosong. Dua hari menjelang peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah smelter bernilai 100 juta dollar Amerika Serikat (setara Rp 1,1 trilyun pada kurs Rp 11.000 per 1 dollar AS) dimulai pembangunannya di Kelurahan Ngapaaha, Kabupaten Konawe Selatan. Pabrik berkapasitas 100.000 ton per tahun itu akan beroperasi akhir 2015.

Di penghujung tahun 2013 Gubernur Sulawesi Tenggara tersebut telah meresmikan pengoperasian sebuah smelter berskala kecil (kapasitas 25.000 ton nikel pig iron per tahun) milik Modern Group di Kabupaten Konawe. Saat ini tercatat pula sekitar 3-4 unit smelter berskala kecil yang tengah dibangun para investor. Smelter-smelter tersebut akan menambah deretan industri pengolahan dan pemurnian bijih nikel di Sulawesi Tenggara.

Sulawesi Tenggara dikenal sebagai daerah industri nikel di Indonesia. Sejak awal 1970-an, PT Aneka Tambang mengelola pertambangan dan industri nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka. Smelter Pomalaa memproduksi feronikel berkadar lebih 90 persen nikel murni.

Adapun smelter di Ngapaaha, Kecamatan Tinanggea, 120 km selatan Kota Kendari, akan memproduksi nickel pig iron, bahan baku utama industri stainless steel. Pabrik ini dibangun PT Bintang Smelter Indonesia (BSI), anak perusahaan PT Ifishdeco dari Finna Group Surabaya dan Wahana Tri Lintas Mining (anak perusahaan Fujian PAN-Chinese Mining Co Ltd, China (Tiongkok).

 

Kelompok Usaha dari Surabaya

Finna Group merupakan kelompok usaha industri bahan makanan dari hasil pertanian dan kelautan berkualitas tinggi di Kota Surabaya. Salah satu produk primadona adalah kerupuk udang. Orang Indonesia dari kalangan menengah atas merasa belum lengkap bila mereka makan tanpa mengunyah kerupuk udang sidoarjo. Sidoarjo adalah kota satelit Surabaya di mana rangkaian pabrik Finna Group berlokasi.

Kerupuk udang sidoarjo juga diekspor ke mancanegara, seperti halnya produk udang. Udang (Crustacea) ditakdirkan berbadan bungkuk bila terpisah dari habitatnya, air. Akan tetapi, udang sidoarjo produk Finna Group ada yang berbadan lurus. “Untuk memenuhi selera Jepang”, ujar Harry Fong Jaya, salah satu pimpinan Finna Group, dalam suatu kesempatan kepada penulis. Saat diolah, badan udang itu diluruskan.

Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya di wilayah kepulauan, tidak asing dengan orang-orang dari kelompok usaha tersebut. Pasalnya, PT Sekar Alam telah hadir di tengah-tengah petani jambu mete di wilayah Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna sejak tahun 1960-an. PT Sekar Alam adalah salah satu anggota Finna Group yang secara khusus mengelola pabrik jambu mete di Pasuruan, Jawa Timur.

Adalah PT Sekar Alam yang mula-mula melatih petani setempat menggunakan kacip untuk mengeluarkan kacang mete dari kulitnya yang keras itu.   Keterampilan tersebut kemudian menyebar luas di kalangan petani jambu mete sehingga penghasilan mereka lebih baik dibanding hanya menjual jambu mete dalam bentuk biji mentah (gelondongan).

PT Sekar Alam kemudian membuka unit usaha berbentuk PT Ifishdeco. Perusahaan baru ini membuka usaha perkebunan di Konawe Selatan untuk memanfaatkan lahan miliknya yang telah berstatus HGU (Hak Guna Usaha) seluas 2.580 hektar. Akan tetapi, perkebunan jambu mete tersebut kurang produktif akibat tekanan iklim yang sering ekstrem dan kondisi lahan yang tergolong tanah marginal. Sebagian lahan HGU tersebut berwarna merah karena mengandung mineral nikel.

 

Mendukung Kebijakan Pemerintah

Maka, ketika pasaran nikel meledak pertengahan tahun 2000-an,

Bupati Konawe Selatan H Drs Imran MSi (kanan) menyerahkan bantuan pendidikan kepada Camat Tinanggea, disaksikan Direwktur Utama PT Bintang Smelter Indonesia Harrison Iyawan (kanan). Foto Yamin Indas

Ifishdeco segera memanfaatkan peluang itu.  Ladang jambu mete serta merta diubah menjadi areal tambang yang melibatkan tenaga kerja sekitar 1.200 orang. Kegiatan tersebut kemudian dihentikan menyusul berlakunya ketentuan larangan ekspor mineral mentah sesuai Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba.

Dengan berlakunya undang-undang tersebut maka para investor pemegang izin pertambangan diharuskan membangun smelter jika masih berminat melanjutkan usahanya. Sebab pemerintah dipastikan menutup kran ekspor mineral mentah buat selamanya. Namun, belakangan ini muncul wacana, pengusaha yang serius dan mulai membangun  smelter bakal diberikan dispensasi ekspor mineral mentah dalam rangka penguatan modal untuk mempercepat proses pembangunan smelternya.

Akan tetapi bagi PT BSI, ada atau tanpa dispensasi ekspor bijih nikel (ore), pembangunan smelter di Konawe Selatan akan dikebut agar pada bulan Maret atau April tahun depan sebagian pabrik mulai beroperasi. Keseluruhan bangunan pabrik ditargetkan selesai pada akhir tahun 2015.

Direktur Utama PT BSI Harrison Iyawan menegaskan: “Peletakan batu pertama pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel di Konawe Selatan ini adalah bentuk komitmen kami mendukung kebijakan pemerintah  untuk mendapatkan nilai tambah bagi produk mineral sesuai amanat Undang-undang Mineral dan Batubara Nomor 4 Tahun 2009”.  Acara itu berlangsung di tengah terik matahari pada Jumat siang tanggal 15 Agustus 2014.

Hari Jumat, dan delapan belas bulan di langit. “Ini hari baik menurut kepercayaan orang Tolaki”, ujar Bupati Konawe Selatan H Drs Imran MSi seraya menambahkan bahwa tanda-tanda alam tersebut mengisyaratkan keberhasilan usaha pabrik pengolahan nikel bakal diraih.

Ia mengimbau masyarakat Konawe Selatan agar ikut menjaga kelangsungan hidup pabrik tersebut. “Adalah masyarakat Konawe Selatan yang sangat diuntungkan kehadiran industri tersebut, bukan masyarakat Jakarta maupun provinsi,” katanya.

 

Mendorong Produksi Lokal  

Seperti dikemukakan Harrison, smelter tersebut bakal menyerap tenaga kerja sekitar 500 orang. Sebagian besar akan direkrut dari penduduk sekitar pabrik. Bukan hanya itu. Keberadaan industri pengolahan bijih nikel di Tinanggea juga akan melebarkan ruang pemasaran produksi pertanian penduduk sekitar.

Bahan pangan yang dihasilkan seperti beras, sayur-sayuran, daging, telur, dan hasil-hasil laut akan diserap untuk memenuhi kebutuhan karyawan pabrik. “Dengan demikian, penduduk lokal juga akan terpacu untuk lebih meningkatkan produksi dan produktivitasnya sehingga makin mempercepat peningkatan kesejahteraan mereka sendiri”. ucapnya.

Pimpinan Finna Group selama ini memang memiliki perhatian besar kepada kehidupan penduduk setempat. Puncak acara peletakan batu pertama pembangunan pabrik ditandai dengan penyerahan dana bantuan pendidikan kepada Camat Tinanggea sebesar Rp 200 juta. Sebelumnya, di masa penambangan bijih nikel untuk ekspor, PT Ifishdeco telah menyalurkan bantuan CSR (Company Social Responsibility dan Comdev (Community Development). Total dana yang diterima masyarakat pada masa itu mencapai Rp 6 miliar lebih. Sasarannya antara lain pemberian beasiswa mulai pendidikan S1 hingga S3, pembuatan sumur bor untuk irigasi persawahan, dan satu unit mobil ambulance untuk Rumah Sakit Kabupaten Konawe Selatan.

Terkait penyaluran dana bantuan Rp 200 juta, Bupati Imran mengingatkan agar dana itu tidak dikorupsi. Mereka yang berhak menerima dana tersebut, kata Imran, adalah anak-anak kurang mampu secara ekonomi namun memiliki kecakapan akademis di jenjang pendidikannya. ***

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>