LEM Sejahtera Pintu Masuk Semua Kementerian

Oleh Yamin Indas

Sembian tokoh Desa Samaenre, Kolaka, yang terjaring dan selanjutnya dipilih tiga di antaranya untuk jabatan ketua, sekretaris, dan bendahara LEM Sejahtera.Paling kiri adalah Kamisa SPd, terpilih sebagai sekretaris.Haji Dahlan, ketiga dari kiri terpilih sebagai ketua. Foto Yamin Indas

PETANI adalah kelompok sosial terbesar, sekaligus kelompok produsen terbesar. Ironisnya, kelompok besar ini, kehidupannya masih terus memudar. Mereka tidak memiliki posisi tawar untuk menghadapi pasar bagi produksi yang dihasilkannya. Pemilik uanglah yang mengatur dan memainkan pasar. Maunya kelompok pedagang ini, kondisi tak berdaya petani harus tetap langgeng.

Tetapi kondisi status quo tersebut kemudian setahap demi setahap diamputasi melalui upaya membangun kelembagaan petani. Petani di Sulawesi Tenggara dihimpun dalam organisasi Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera. Singkatan LEM ditekankan sebagai sebuah frasa yang menunjuk pada kata dasar lem, yaitu bahan perekat sesuatu pada barang lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan kokoh. Misi LEM Sejahtera, memang untuk menyatukan petani dalam satu wadah kelembagaan yang kuat agar secara mandiri mereka mampu mewujudkan kesejahteraan.

Petani di Sulawesi Tenggara adalah petani handal yang menghasilkan kakao, jambu mete, cengkeh, kopra, beras, rumput laut, selain produksi perikanan, peternakan, dan tanaman pangan (beras). Sebagian produksi tersebut merupakan komoditas ekspor yang memberi kontribusi kepada pemasukan devisa negara. Kendati menghasilkan komoditas unggulan, kehidupan petani sulit berkembang karena lemahnya posisi tawar tadi.

“Semula kita ajak mereka membentuk wadah Koperasi Unit Desa (KUD) untuk melawan pemilik modal. Tetapi sebagian besar tidak tertarik karena peran KUD selama ini tidak menjawab permasalahan petani”, tutur Ir Bambang MM. Bambanglah penggagas LEM Sejahtera pada sekitar tahun 2006. Ketika itu dia masih pejabat eselon IV di lingkup Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara. Dia malang melintang mengurus petani kebun di lapangan. Kini, Bambang (48) adalah orang Nomor 1 di dinas tersebut. LEM Sejahtera pun telah berkembang pesat. Saat ini tercatat 64 LEM Sejahtera yang tersebar di provinsi tersebut.

Kepala Dinas Perkebunan Sultra Ir Bambang MM saat berbicara do depan warga Desa Samaenre, Kabupaten Kolaka. Para petani tersebut dimotivasi agar berhimpun dalam kelembagaan LEM Sejahtera sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan. Foto Yamin Indas

Lapangan usaha LEM Sejahtera hampir sama dengan koperasi. Bahkan, unit usaha pertama yang dibuka LEM Sejahtera biasanya adalah koperasi simpan pinjam. Sebab pemupukan modal dapat segera terwujud melalui koperasi simpan pinjam.

Salah satu daya tarik kelembagaan LEM Sejahtera bagi petani dan masyarakat desa umumnya ialah kepemimpinan yang mengedepankan kejujuran dan profesionalisme. Kepemimpinan ideal tersebut lahir dari proses rekrutmen yang ketat. Pengurus LEM Sejahtera dipilih secara demokratis setelah melalui tahapan seleksi berdasarkan kriteria dan syarat-syarat umum seorang calon pemimpin.

Sangat berbeda cara pengangkatan umumnya lembaga-lembaga desa seperti Badan Perwakilan Desa (BPD), koperasi, dan perangkat-perangkat organisasi pemerintahan desa sendiri. Mereka yang diangkat adalah orang dekat atau keluarga kepala desa. Pendek kata, sarat kolusi dan nepotisme.

Proses rekrutmen pengurus LEM Sejahtera saya saksikan sendiri di Desa Samaenre, Kabupaten Kolaka, Sabtu tanggal 21 Juni 2014. Desa berpenduduk 190 kepala keluarga (773 jiwa) itu terletak di km-50 Trans Sulawesi yaitu ruas jalan Kolaka – Tolala (perbatasan dengan Sulawesi Selatan). Hamparan kebun kakao rakyat di desa ini tercatat 425 hektar, dan cengkeh 100 hektar.

Sebuah tim fasilitator dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara telah dua hari sosialisasi, melakukan pertemuan dan diskusi dengan warga Samaenre. Tema diskusi tentu saja di seputar upaya pengendalian hama dan perawatan tanaman agar produksi kakao bisa optimal. Soal kualitas, teknis pengolahan dan pemasaran. Lalu tentang perlunya dibentuk LEM Sejahtera, untuk memperkuat petani agar mampu menangani masalahnya sendiri, termasuk membuka akses langsung ke perbankan dan pabrik.

Menjelang petang dalam dekapan cuaca cerah, peserta pertemuan diarahkan mengikuti acara seperti kuis begitu. Masing-masing peserta mendapat selembar kertas berisi pertanyaan berbagai hal seputar kepemimpinan, kepribadian, dan entrepreneurship (kewirausahaan). Ada kurang lebih 60 soal multiple choice yang harus dijawab dengan melingkar jawaban yang dianggap tepat. Tentu saja data diri juga harus ditulis lengkap.

Setiap jawaban diberi skala atau skor oleh tim yang dipimpin Amin dari Disbun Sultra. Alhasil, dari sekitar 90 peserta diskusi tercatat sembilan orang yang memenuhi kriteria dan mendapatkan skor nilai tertinggi, berkisar antara 180 sampai 200. Kecuali hasil skor tertinggi, ke-9 orang itu tidak diwawancarai secara langsung oleh tim fasilitator.

Pada sesi pemilihan pengurus yang digelar seusai santap malam, ke-9 figur yang terjaring tadi ditempatkan duduk berjejer di depan para peserta yang akan memilih mereka. Sebuah surprise, beberapa tokoh masyarakat rupanya ikut terjaring melalui mekanisme permainan kuis. Antara lain Haji Dahlan (pedagang) dan Ketua Gabungan Kontak Tani (Gapoktan) Desa Samaenre, Hamsah K. Ada pula tokoh wanita dari generasi muda bergelar Sarjana Pendidikan (S-1) bernama Kamisa.

Sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga LEM Sejahtera, pengurus hanya tiga orang: Ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Masing-masing jabatan tersebut dipilih terpisah, tidak satu paket. Cara pemilihannya juga bersifat tertutup. Tak heran jika suasana pemilihan berlangsung seru dan mendebarkan karena biasanya terjadi saling kejar perolehan suara di antara calon saat dilakukan penghitungan suara.

Pemilihan di Samaenre lebih heboh karena ketiga tokoh tadi bersaing ketat dengan kandidat lain yang kalah populer di desa itu. Namun, Dahlan kemudian memenangi pemilihan jabatan ketua. Tokoh ini memang dikenal luas karena dia pembeli kakao di desa itu. Dahlan mengaku tidak suka menekan petani. Adapun kedua figur lainnya: Kamisa terpilih sebagai sekretaris, dan Ketua Gapoktan Hamsah K terpilih sebagai bendahara.

Seperti halnya organisasi serupa yang telah terbentuk lebih dulu di desa lain (di Sultra saat ini tercatat 64 unit LEM Sejahtera), LEM Sejahtera di Samaenre diharuskan menghimpun dana dari para anggota dalam rangka menggerakkan mesin organisasi. Besarnya pungutan yang disepakati adalah simpanan pokok Rp 1 juta per anggota, simpanan wajib Rp 10.000 per bulan, simpanan sukarela maksimal Rp 5 juta setiap anggota. Kalau ada bantuan dana segar, misalnya, dari pemerintah maka dana tersebut akan dikategorikan sebagai Simpanan Lain-lain.

Selanjutnya dana-dana tersebut dapat dipinjamkan kepada anggota sesuai kebutuhan. Bunganya 2 persen per bulan. Dan seperti halnya kehidupan koperasi, LEM Sejahtera memiliki agenda rapat anggota tahunan (RAT). Di forum ini akan dihitung hasil perkembangan usaha selama setahun terakhir. Hasil tersebut akan dibagi 40 persen untuk LEM Sejahtera, 40 persen untuk dibagikan secara proporsional kepada setiap anggota. Sisanya adalah untuk pengurus (15 persen), dana pembangunan (3 persen), dana pendidikan (1 persen), dana sosial (1 persen). Penggunaan dana sosial antara lain untuk pengobatan warga miskin yang sakit, mengalami kecelakaan, dan lain-lain.

Adapun dana pendidikan dimanfaatkan untuk kegiatan pelatihan (bimbingan teknis) bagi pengurus di bidang pembukuan dan penggunan teknologi komputer. Umumnya pengurus LEM Sejahtera telah memiliki kemampuan mengelola administrasi keuangan.

Seperti dikatakan Ir Bambang MM, LEM Sejahtera dapat menampung dana-dana masyarakat baik anggota maupun bukan anggota, dalam jumlah tak terbatas. Bunganya lebih menjanjikan dari bunga bank umum, yaitu sekitar 1 persen. Sedangkan bunga bank umum saat ini sekitar 0,6 persen. Dengan demikian, pemilik uang yang berdomisili di desa tak perlu ke kota untuk urusan menabung uangnya. Manfaatkan saja jasa LEM Sejahtera terdekat.

Kemandirian petani berkat keberadaan kelembagaan LEM Sejahtera bukan cerita omong kosong. Warga sebuah desa kecil di Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, telah merasakan manfaat lembaga swadaya tersebut. LEM Sejahtera Desa Andomesinggo kini mengelola dua unit usaha yaitu koperasi simpan pinjam dan penyaluran pupuk.

Warga desa itu sebanyak 150 kepala keluarga juga adalah petani kakao. Kebutuhan pupuk untuk warga Andomesinggo tidak lagi disuplai pedagang tetapi dibeli langsung ke penyalur pupuk bersubsidi melalui LEM Sejahtera. Pupuk tersebut dapat dipinjam (kredit) tanpa beban bunga (rente).

Ketua LEM Sejahtera Andomesinggu, Sumandar (40) mengatakan, petani merasa terbantu oleh keberadaan lembaga tersebut. Lembaga yang dipimpinnya saat ini memiliki aset bernilai Rp 672,7 juta, termasuk dana segar di kas sebesar 172 juta per 31 Mei 2014. Kendala agak berat yang dihadapi warga di musim hujan sekarang ini adalah akses jalan sepanjang 5 km dari jalan poros Kendari-Kolaka. Kondisi jalan masuk ke desa tersebut masih berlumpur.

Kehadiran organisasi desa LEM Sejahtera adalah sebuah fenomena bangkitnya kesadaran masyarakat lapis bawah untuk mencoba mengatasi persoalan sendiri. Kesadaran itu terpicu oleh idealisme anak-anak muda aparat Dinas Perkebunan Provinsi Sultra yang dengan semangat tinggi ingin membuat hidup petani bersinar, sebanding dengan nilai produksi yang dihasilkannya. Telah sekian puluh tahun petani di Sultra bergelut dengan kondisi tak berdaya. Ini yang menantang anak-anak muda tersebut.

Ketika tampil mengelola pertemuan dengan warga desa, mereka tampak lebih pamong dari aparat pemerintahan seperti kepala desa, lurah, camat dan seterusnya. Padahal, mereka adalah aparat teknis. Dalam berbagai momen pembentukan LEM Sejahtera tak kelihatan hadir seorang pun aparat pamongpraja, kendati mereka selalu diundang oleh tim fasilitator.

Hadirnya kepemimpinan yang transparan ditunjang kemampuan profesional pengurus, LEM Sejahtera sangat layak diberi tanggung jawab mengelola setiap kegiatan pembangunan di desa. Artinya, lembaga ini difungsikan sebagai pintu masuk bagi semua kementerian dan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang memiliki program dan kegiatan pembangunan di desa. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>