Oleh Yamin Indas

Gubernur Nur Alam di depan masyarakat Kabaena dalam peremuan di Desa Tedubara. Foto Yamin Indas

  PERSONAL BRANDING yang dapat dipraktekkan antara lain dengan cara blusukan adalah perkara penting dalam dunia politik modern. Demikian menurut psikolog politik Universitas Indonesia  Hamdi Muluk (kompas.com).

       Ia menyebut Joko Widodo (Jokowi) sebagai tokoh politik yang paling berhasil dalam hal personal branding, terutama terkait blusukan yang sering dilakukannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

       Pendapat psikolog politik tersebut terkonfirmasi blusukan yang dilakukan politisi muda PAN (Partai Amanat Nasonal) Nur Alam beberapa tahun silam. Dua tahun menjelang pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara, dia mengunjungi hampir semua 2000 desa di provinsi penghasil aspal dan nikel itu.  Dia mendatangi penduduk dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua DPRD dan Ketua PAN Sultra.

       Alhasil, Nur Alam berjaya memenangi pilkada Gubernur Sultra tahun 2007. Dia mengalahkan incumbent Ali Mazi dengan hanya satu putaran.

       Praktek blusukan terus dilakukan Nur Alam hingga di periode kedua masa jabatannya sebagai Gubernur Sultra. “Kita tidak diliput media televisi sehingga  kita tidak populer. Blusukannya juga dilakukan di medan yang berat, bukan di dalam kota”, ujar  Nur Alam pada suatu  kesempatan.

Tiga kali pendaratan darurat

       Sehari menjelang masa minggu tenang Pemilu 2014, Nur Alam blusukan ke Pulau Kabaena. Dia menggunakan helikopter. Akibat cuaca buruk yang diperparah kondisi pilot yang nampaknya kurang menguasai medan, penerbangan itu terasa cukup menegangkan terutama saya sendiri. Tiga kali pesawat itu melakukan pendaratan darurat.

       Heli itu berkapasitas enam penumpang, termasuk pilot dan co-pilot. Empat kursi di belakang pilot diisi tiga orang yakni Gubernur Nur Alam, Ketua DPRD Bombana Andi Ardhian, dan saya yang duduk menghadap ekor pesawat.

       Perasaan kurang nyaman mulai mendera saat penerbangan ditunda kurang lebih tiga jam. Pasalnya, pilot berkebangsaan asing (bule) bernama Philip tidak berani menerbangkan pesawatnya tanpa pelampung khusus heli tersebut. Masalah itu baru dilaporkan saat Gubernur Nur Alam berada di teras terminal VIP  Bandara Haluoleo, bersiap-siap hendak naik pesawat. Sebab keberangkatan ke Kabaena dijadwalkan pukul 08.30 Wita. Solusinya, Philip bersama co-pilotnya Sarbini terbang ke Konawe Utara untuk mengambil pelampung. Jarak tempuh masing-masing 40 menit pulang pergi. Heli tersebut adalah milik PT Rio Tinto, perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Konawe Utara.

       Jam menunjukkan pukul 11.45 Wita ketika heli mulai airborne. Rencana penerbangan ke Kabaena, kurang dari 50 menit. Titik pendaratan adalah di lapangan bola Desa Tedubara di mana masyarakat wakil dari enam kecamatan di pulau itu menunggu kedatangan Gubernur Nur Alam sejak pagi.

       Akan tetapi, kedatangan itu lagi-lagi molor. Pilot melewati daerah pendaratan di utara pulau, pesawat diarahkan ke barat, kemudian mendarat di sebuah lapangan di Desa Baliara, Sikeli. Gubernur terpaksa naik mobil pengangkut konsumsi (makanan) agar segera tiba di tempat acara. Tampaknya pilot Philip tidak tahu pasti letak titik kordinat pendaratan di Tedubara

       Keticka mobil itu mulai menari di jalan poros menuju Tedubara (kurang lebih 12 km), saya berpikir ada juga hikmahnya pesawat gubernur mendarat darurat di Sikeli. Gubernur Nur Alam kini merasakan getirnya transportasi warga Kabaena akibat kondisi jalan yang masih seadanya sejak zaman baheula.

       Ketika kami tiba di tempat acara, pesawat heli itu telah lebih dulu mendarat. Mungkin setelah melakukan kontak dengan Bandara Haluoleo, sang pilot baru tahu kekeliruan rute yang ditempuhnya.

       Ketegangan lebih meningkat dirasakan dalam perjalanan pulang ke Kendari. Hari menjelang petang sehingga cuaca agak mencemaskan. Kabut agak tebal menggantung rendah. Hanya beberapa menit setelah takeoff heli mulai menabrak hujan. Pilot berusaha mencari celah dengan terbang di atas daerah bukit Tanjung Mongiwa. Heli terbang rendah menyapu lereng-lereng bukit terjal. Namun, kabut dan hujan makin mengganggu. Pilot pun memutar arah ke belakang untuk mendarat di sebuah timbunan tanah di kaki bukit. Saat memutar itu terasa sangat kritis karena pesawat mengambil posisi vertikal.

       Setelah sekitar 30 menit mendarat di kaki bukit, masih di daratan Kabaena, heli terbang kembali dan cuaca cukup bersahabat. Tetapi ketika hendak melintasi Gunung Wolasi heli dihadang lagi hujan dan kabut yang membatasi jarak pandang. Dalam situasi itu pesawat mengulang posisi vertikal. Posisi vertikal kali ini  sangat berbahaya. Ini komentar Gubernur Nur Alam setelah kami di dalam mobil menuju Kota Kendari.

       Heli sebenarnya sudah terbang di atas kawasan Bandara Haluoleo. Tetapi karena cuaca makin buruk, pilot mendaratkan pesawatnya di sebuah lapangan rumput tak jauh dari gedung Pesantren Gontor Putri di daerah Konda, kampung halaman Gubernur Nur Alam. Titik pendaratan itu hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Bandara Haluoleo. Waktu menunjuk pukul 16.30.

       Warga yang datang menyaksikan pendaratan pesawat heli tersebut kaget luar biasa ketika melihat sosok yang keluar dari pesawat adalah Gubernur Nur Alam. “Astaga, gubernur rupanya yang naik di pesawat ini”, seru seorang ibu. Gubernur kemudian naik mobil yang segera datang menjemputnya.

       Di belakang kami terdengar co-pilot Sarbini menelepon petugas perusahaan agar segera ke lokasi pendaratan membawa terpal untuk menyelimuti badan pesawat. Malam tak lama lagi merangkak turun, sementara hujan belum reda. Kabut masih menyungkup tebal membatasi jarak pandang.

Kabaena akan dimekarkan

       Blusukan Gubernur ke Kabaena, pulau seluas 867,69 km2 dengan penduduk sekitar 30.000 jiwa, bertujuan menjelaskan dukungan pemerintah provinsi terhadap aspirasi masyarakat yang ingin agar Kabaena berdiri sendiri menjadi kabupaten baru.

Masyarakat Kabaena menyambut gembira respons Gubernur Nur Alam terhadap aspirasi pemekaran Pulau Kabaena. Foto Yamin Indas

       Kepada masyarakat yang sempat hadir dalam pertemuan di Tedubara Gubernur memberi arahan agar nama kabupaten dan calon ibu kota kabupaen dimusyawarahkan dengan baik agar menghasilkan kesepakatan yang bersifat permanen. Gubernur menyarankan agar nama-nama itu mudah disebut. Misalnya, Kabupaten Kabaena saja tanpa embel-embel kepulauan. Ibu kotanya disebut Kabaena Jaya. Rencana ibu kota sesuai kesepakatan masyarakat bersama tim pemekaran berlokasi di Tedubara, ibu kota Kecamatan Kabaena Utara.

       Menurut Ketua Tim Ir Hj Mashura Ladamay yang juga Wakil Bupati Bombana, masyarakat telah menghibahkan tanah seluas 120 hektar untuk lokasi perkantoran pusat pemerintahan kabupaten. Gubernur Nur Alam mengimbau agar keputusan hibah tersebut tidak diganggu gugat di kemudian hari. “Saya minta Bupati Bombana agar segera menugaskan Badan Pertanahan untuk mengukur dan menerbitkan sertifikat tanah hibah tersebut”, ujarnya.

       Proses aspirasi pemekaran Kabaena telah berjalan hampir dua tahun terakhir. Menurut Mashura, seluruh dokumen persyaratan sudah lengkap yang diperkuat dengan keputusan persetujuan pemekaran oleh DPRD Bombana sebagai kabupaten induk.

       Gubernur menyatakan, pemerintah provinsi akan mendukung pemerintah Kabupaten Bombana terkait penyiapan infrastruktur di Pulau Kabaena dalam rangka pemekaran itu. Menurut Gubernur Nur Alam, di pulau itu akan segera dibangun smelter nikel berkapasitas besar. Industri ini akan mendorong percepatan pembangunan di kabupaten baru itu. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>