In Memoriam PP Bittikaka: BERGULIR SEPERTI BOLA SALJU

Oleh Yamin Indas

 DIA sering keluar  masuk rumah sakit, sejak diserang stroke ringan belasan tahun silam. Tetapi ketika beredar kabar dia meninggal dunia Senin tanggal 17 Maret 2014, berita itu sangat mengejutkan saya. Mengapa? Sulawesi Tenggara dan dunia pers nasional telah kehilangan salah seorang tokohnya.

Pither Pakulla Bittikaka termasuk perintis pers di di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dialah yang pertama menerbitkan surat kabar mingguan format plano (ukuran normal umumnya surat kabar) di Kendari, ibukota provinsi, sekitar tahun 1968. Nama koran itu adalah ‘Warta Sulawesi’, dicetak di Percetakan Sultra (Badan Usaha Milik Daerah).

Sebelumnya, di era Gubernur Suawesi Tenggara La Ode Hadi, sekitar tahujn 1966 Zakaria Harris bersama Abdu Hafied Ras dibantu Idrus Indas menerbitkan sebuah harian stensilan format dobel folio. Namun, koran mini itu tak berusia lama, mati menjelang tumbangnya rezim Orde Lama.

Zakaria Harris kembali berfokus sebagai wartawan Antara, dan Abdul Hafied Ras menekuni usahanya sebagai wartawan foto ‘Press Photo Anda’. Adapun Idrus Indas di kemudian hari juga menerbitkan mingguan ‘Nusantara Pos’. Koran ini tak sempat berkembang hingga pendirinya meninggal dunia 19 September 2012 di Kendari.

PP Bittikaka adalah sosok wartawan yang sangat loyal dan setia pada profesinya. Datang dari Makassar di penghujung tahun 1960-an, dia menemukan Kendari dalam keadaan sepi tanpa surat kabar lokal. Keadaan itu sesungguhnya mencerminkan kondisi  umumnya Suawesi Tenggara sebagai provinsi baru dengan segala keterbatasannya. Provinsi ini terbentuk bulan April 1964.

Dengan modal pengalaman sebagai loper dan kemudian berkembang menjadi wartawan di sebuah harian di Makassar, Bittikaka berupaya menerbitkan surat kabar mingguan ‘Warta Sulawesi’ untuk melayani kebutuhan masyarakat akan informasi.

Surat kabar ini tak berumur panjang. Pada tahun 1971 PP Bittikaka menerbitkan koran baru bertajuk ‘Media Karya’. Masih tetap koran mingguan yang sering tidak terbit sesuai jadwal. Kendala pokok adalah faktor modal, baik piranti lunak (sumber daya manusia) maupun piranti keras (percetakan). Mengelola penerbitan Bittikaka memang hanya bermodalkan semangat iealisme yang tinggi.

Apalah arti sebuah nama, kata William Shakespeare (1582-1616), sastrawan besar Inggris. ‘Media Karya’ oleh PP Bittikaka diganti dengan nama baru ‘Media Kita’. Ada unsur politik di balik perubahan itu. Golkar, partai penguasa Orde Baru mengelola penerbitan majalah internal yang juga bertajuk Media Karya. Kendati ‘Media Karya’ adalah gagasan orisinal PP Bittikaka, beliau mengalah untuk menghindari konflik dengan pemerintah. Toh ‘Media Kita’ lebih akrab dengan publik karena secara konotatif dia berarti: koran kita bersama.

‘Media Kita’ makin rajin terbit secara teratur hampir setiap minggu. Kelancaran itu didukung tersedianya percetakan handset, milik PP Bittikaka sendiri. Dia mengupayakan hadirnya piranti sederhana itu agar korannya tidak lagi tergantung pada PD Percetakan Sultra.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, Bittikaka menempuh jalan terobosan. Dia menjalin kerja sama dengan pihak Kelompok Jawa Pos, pimpinan Dahlan Iskan (kini Menteri Negara BUMN) bersama Alwi Hamu (di kemudian hari menjadi staf khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla). Langkah terobosan itu akhirnya mewujudkan obsesinya menghadirkan sebuah koran harian di Sulawesi Tenggara.

‘Media Kita’ pun segera bangkit menjadi surat kabar harian pertama di provinsi itu.  Momentum bersejarah ini terjadi menjelang tutup abad ke-21. Alhasil, terobosan Bittikaka telah membuat  Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara tidak lagi kesepian. Banyak koran baru yang terbit baik di ibu kota provinsi maupun di kota-kota kabupaten.

Di bawah manajemen Kelompok Jawa Pos, ‘Media Kita  berganti nama menjadi ‘Kendari Pos’. Dengan sumber daya yang memadai, ‘Kendari Pos’ tampak mulai berkembang pesat mengikuti laju dan dinamika perkembangan daerah Sulawesi Tenggara.

Perkembangan ‘Kendari Pos’ sebagaimana yang kita lihat saat ini maupun media-media cetak lain yang muncul kemudian, sesungguhnya itulah bola salju yang digulirkan  PP Bittikaka yang lahir di Makale, Tana Toraja, tanggal 11 November 1944. Mula-mula kecil, kemudian besar, dan makin besar.

Bittikaka adalah sosok wartawan yang mampu membangun hubungan persahabatan dengan semua kalangan masyarakat, termasuk pejabat. Namun demikian, dia tetap bersikap kritis dan menjaga jarak. Dengan demikian, dia memiliki kebebasan untuk menulis berita atau tulisan yang isinya bersifat kontrol sosial.

Bittikaka adalah seorang pekerja keras. Kecuali sebagai wartawan dan sekaligus penerbit surat kabar, dia juga aktif sebagai pegawai negeri sipil di lingkup Kantor Wilayah Departemen Penerangan Sulawesi Tenggara. Berbagai kegiatan sosial dan keagamaan tak dilewatkan.

Salah satu organisasi kemasyarakatan yang selalu menjadi perhatiannya adalah PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Kecuali merintis penebitan pers sebagai wadah kegiatan jurnalistik, Bittikaka tercatat sebagai salah seorang pemrakarsa pembentukan organisasi PWI di Sulawesi Tenggara, era 1970-an. Komitmennya yang kuat terhadap eksistensi PWI dibuktikan dengan kesediaannya selalu tampil menjadi pengurus PWI dalam usianya yang semakin sepuh.

Saya mengenal Bittikaka sejak masih di sekolah lanjutan. Abang saya Idrus Indas (alm) adalah wartawan. Karena itu, saya mengenal semua teman-temannya di Kendari, yang jumlahnya di tahun 1970-an tidak sebanyak jari-jari kedua belah tangan.

Bittikaka yang selalu tampil necis senada dengan warna kulitnya yang putih bersih, malah menganggap saya sebagai adik sendiri.  Karena itu, dia tak sungkan-sungkan menyuruh saya, misalnya, mengambil bungkusan koran yang telah selesai dicetak di kantor PD Percetakan Sultra. Di kemudian hari saya menjadi wartawan Kompas, dan merasa profesi itu tumbuh antara lain karena termotivasi pergaulan saya dengan PP Bittikaka dan kawan-kawan, teramsuk dengan abang sendiri tentunya. Seingat saya Bittikaka pernah berujar, saya adalah warga lokal pertama yang lahir sebagai wartawan dari kancah pertumbuhan awal kehidupan pers di Sulawesi Tenggara.

Bittikaka adalah pengusaha media sejati. Kendati ‘Kendari Pos’ telah berkembang menjadi koran besar di Sulawsi Tenggara, dia masih bersemangat membuat koran baru lagi, harian ‘Pos Kita’ (sekarang ‘Koran Tribun’). Maka lengkaplah kiprah dan perjuangan beliau sebagai pembuat dan sekaligus pelaku  sejarah kehidupan pers di Sulawesi Tenggara.

Itulah sebabnya saya sangat terkejut dan merasa suatu kehilangan besar bagi daerah ini dan dunia pers Indonesia ketika mendengar tokoh ini telah menghembuskan napas terakhirnya di RS Santa Anna Kendari, Senin pagi tanggal 17 Maret 2014. Dia meninggalkan seorang istri, Debora Somalinggi, 8 anak, serta 17 orang cucu.

Dan saya  pun sangat mengapresiasi Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam SE MSi atas kehadirannya  dan memberi sambutan pada upacara pelepasan jenazah wartawan senior dari rumah duka di Jalan Malik Raya ke perisitirahatan terakhir Pekuburan Punggolaka. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>