Buta Terhadap Keberhasilan Nur Alam

Oleh Yamin Indas

Gubernur Nur Alam dan istri Dra Hj Asnawati (Tina) Hasan MM. Foto Yamin Indas

   BANDARA  Haluoleo adalah gerbang utama Sulawesi Tenggara. Ada sekitar 12 kali penerbangan dari dan ke bandara tersebut setiap hari. Jarak bandara ini dengan Kendari, ibukota provinsi, hanya kurang lebih 20 kilometer. Ruas jalan nasional  terse but beraspal mulus dan dua jalur. Lampu merkuri di meridian jalan membuat nyaman perjalanan malam hari menuju kota yang kini sedang tumbuh pesat.

       Sesudut pemandangan tersebut adalah bukti tak terbantahkan bahwa Sulawesi Tenggara sedang bergerak tahap demi tahap menuju perkembangan lebih jauh. Hanya orang buta yang tak mampu melihat fakta: jalan poros menuju bandara telah dilebarkan dan dibagi dua jalur, serta diberi penerangan lampu merkuri yang membuat kota menjadi hidup. Fakta lain: dua belas kali penerbangan antara lain dengan pesawat Boeing.

       Fakta-fakta tersebut adalah sebuah progres. Artinya, baru ada di era kepemimpinan Nur Alam dan Saleh Lasata sebagai Gubernur dan Wakil Guernur Sulawresi Tenggara yang menggunakan tagline Nusa. Dan itu baru sesudut pemandangan. Coba kita lebarkan sedikit pandangan ke berbagai sisi dan sudut, pasti di sana akan terlihat banyak progres.

       Dengan demikian,  kalau kita mendiskreditkan Nusa dengan ungkapan gagal, tukang mimpi, tidak mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi rakyat Sultra, itu ngoceh namanya. Jadi tukang ngoceh kurang baik karena sifat itu mengindikasikan bahwa kita tidak punya kerjaan, berwawasan kerdil pula.

       Seorang politisi pasti merasa hina jika dijuluki tukang ngoceh. Bisanya hanya mendikskreditkan lawan politik di media massa. Politisi yang baik pantang menghujat orang karena akan dinilai kurang memahami etika dan kesantunan. Dalam situasi normal, hampir tidak ada orang yang mau berteman dengan politisi  yang suka berbicara kasar di depan umum. Malu disebut tak berbudaya.

       Dalam agama Islam perbuatan menghujat dan mendiskreditkan orang, walaupun dia lawan politik,  adalah dosa besar. Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW telah menegaskan hal itu. Sifat buruk itu disebut dengki. Orang atau politisi yang memiliki sifat dengki selalu sakit hati melihat orang lain berhasil. Sakit hati itu diekspresikan dalam bentuk fitnah, mengoceh ke sana ke mari. Padahal, keberhasilan adalah rahmat Allah Swt. Jika sakit hati berarti kita melawan kehendak Allah Swt karena rahmat itu hak prerogatif  yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

       Kepemimpinan Nusa harus kita akui banyak membuat progres. Itulah sebabnya pasangan ini langsung menang satu putaran ketika pemilihan gubernur dan wakil gubernur, Pilkada Sulawesi Tenggara Tahun 2012. Tiket untuk masa jabatan periode kedua  2013-2018.  Seandainya pasangan ini dinilai gagal, mustahil mayoritas rakyat memilih mereka lagi. Suara mereka pasti diberikan ke pasangan Ridwan/Haerul dan Buhari/Amirul.

       Pada Pilkada sebelumnya, Nusa juga langsung menang satu putaran mengalahkan incumbent. Ini indikator bahwa rakyat makin cerdas dan berdaulat memilih pemimpinnya. Kemauan rakyat tersebut tidak bisa dilawan hanya dengan rasa dengki. Bersikap seperti itu kita akan makin ditinggalkan.

       Ada suatu progres dalam kepemimpinan Nur Alam bersama Saleh Lasata. Atau lebih tepat kita sebut inovasi. Dalam menggerakkan pembangunan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, Nur Alam tidak bermain di APBD maupun APBN. Dia hanya intens di tahap perjuangan mendapatkan anggaran. Tetapi setelah plafon disetujui, Nur Alam melepaskan APBD dan APBN untuk dimainkan SKPD dan kabupaten/kota. Dia sendiri lantas fokus melobi para investor. Maka muncullah megaproyek swasta di Kota Kendari seperti sejumlah pasar modern dan hotel berbintang.

       Kita harus jujur mengatakan bahwa kehadiran Lippo Plaza dan Hotel Clarion di Kendari adalah salah satu keberhasilan kepemimpinan Nur Alam. Jadi kedua megaproyek itu tidak begitu saja jatuh dari langit. Siapa yang tidak kenal James Riady, sahabat dan penyandang dana kampanye Bill Clinton? Nah, Nur Alam mampu merangkul tokoh pengusaha tersebut sehingga mau berinvestasi di Sulawesi Tenggara.

Industri pengolahan nikel di Puriala, Kabupaten Konawe. Smelter ini diresmikan pengoperasiannya oleh Gubernur Nur Alam menjelang tutup tahun 2013. Masih banyak industri serupa yang akan bewroperasi tahun ini karena ekspor nikel mentah sudah dilarang.Foto Yamin Indas

       Di antara kemilau keberhasilan Nur Alam, tentu masih banyak yang belum dikerjakan. Ini memang gejala negeri miskin. Banyak keinginan dan mimpi indah tetapi hanya sedikit yang dapat diwujudkan. Pasalnya, kemampuan dana dan daya (sumber daya manusia) terbatas. Jadi tidak semua keinginan dan mimpi bisa dipenuhi sekaligus.

       Kita tengok ke bawah, masih banyak penduduk yang terkesan melarat. Semisal penduduk Pulau Kabaena di Kabupaten Bombana. Pulau itu subur  dan kaya mineral nikel. Tetapi kesan miskin sangat kuat. Mengapa? Penduduknya sendiri malas, lebih suka menikmati kemiskinannya daripada harus bekerja keras memanfaatkan lahan subur dekat rumah panggung milik satu-satunya. Dari segi tempat tinggal, mereka masih seperti burung. Sejak dunia terkembang, sarang burung tak pernah berubah.

       Gejala tersebut bukan indikasi kegagalan Nur Alam sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara. Dalam pembangunan di dunia ketiga, tidak semua masyarakat  bisa dan mampu melangkah maju secara serentak seperti kelompok militer sedang defile baris berbaris. Sebab kemampuan warga tidak sama, ada yang cepat menerima perubahan dan ada pula yang lamban seperti penduduk di Pulau Kabaena itu.

       Masih banyak yang harus dibenahi Nusa dalam sisa masa jaatan empat tahun ke depan. Sektor pertanian terkesan agak slowdown, meskipun dilaporkan terjadi peningkatan produksi masing-masing subsektor. Kita merasa geli melihat para pejabat di sektor ini ngantor setiap hari layaknya direktur perusahaan besar yang senantiasa merawat penampilan. Pakaian mereka necis tak ternoda lumpur sawah atau air comberan ikan berbau tengik.

       Bosan ngantor, cari alasan buat izin ke Jakarta atau daerah lain buat macam-macam urusan yang hasilnya tidak pernah jelas. Kita, misalnya, merindukan para pejabat sektor pertanian membuat acara panen raya atau kegiatan apalah yang terkait pemberdayaan para pelaku sektor ini, lalu mengundang gubernur atau bupati untuk seremonialnya. Tidak semua acara seremonial jelek. Bagi dunia pertanian, seremonial itu ajang penyuluhan dan motivasi. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>