Pertanian Kalah Pamor dari Nikel

Oleh Yamin Indas

Usaha rehabilitasi tanaman tua perkebunan jambu mente rakyat di Sulawesi Tenggara dilakukan dengan memotong pohon jambu tersebut. Tunas akan segera tumbuh untuk kemudian dipilih calon yang akan menggantikan pohon induk. Kadis Perkebunan Sultra Bambang memberi penyuluhan cara perlakuan tunas tersebut. Foto Disbun Sultra

INGAR BINGAR pertambangan nikel membuat sektor pertanian di Sulawesi Tenggara nyaris luput dari perhatian. Kita larut dalam mimpi indah. Sehingga lebih memperhatikan rayuan pengusaha tambang yang berjanji akan membangun industri nikel. Padahal hanya janji belaka. Tak satu pun smelter (pengolahan dan permurnian) nikel berdiri hingga gong larangan ekspor nikel mentah dibunyikan bertalu-talu pada hari Ahad tanggal 12 Januari 2014.

Arang habis besi binasa. Kerusakan alam dan lingkungan tak tercegah. Sejak Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disahkan lima tahun silam, selama itu para pengusaha hanya berlomba mengeruk tanah nikel secara besar-besaran kemudian mengekspornya dalam keadaan mentah (raw material) tanpa rasa berdosa kepada siapa pun.

Jangan tanya apa yang diperoleh daerah dan rakyat Sulawesi Tenggara dari puluhan juta dan boleh jadi ratusan juta ton tanah nikel yang telah diangkut ke China. Sebab jawabannya pasti mengecewakan. Masalahnya, fakta parahnya kerusakan hutan dan lingkungan akan segera menafikan (kalau ada) niat mulia di balik kegiatan investasi nikel. Kita dapat menyaksikan dengan sangat jelas kerusakan itu, terutama di Konawe Utara dan Kolaka Utara.

Tim pengumpul fakta dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara telah mencatat dengan cermat semua bentuk pelanggaran berikut para pelakunya (pengusaha) di semua lokasi tambang nikel. Tim itu digerakkan Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, menjelang diberlakukannya larangan ekspor nikel mentah. Hasil temuan tim akan diserahkan juga kepada institusi-institusi penegak hukum.

Perlu juga dicatat bahwa keberadaan tim yang beroperasi dan mendatangi semua lokasi kegiatan pertambangan, sempat menyulut kebakaran jenggot oknum-oknum pejabat penegak hukum yang selama ini terlibat dan mem-back-up para pengusaha. Sebagian oknum tersebut termasuk Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Andi Abdul Karim, namanya tercantum secara atraktif pada struktur organisasi salah satu perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Konawe Utara.

Kegiatan penambangan nikel di Sulawesi Tenggara, praktis terhenti total sejak 12 Januari, kecuali penambangan untuk bahan baku dua industri yang telah beroperasi sebelumnya. Yaitu milik PT Aneka Tambang di Pomalaa dan smelter berskala kecil di Puriala milik PT Modern Group.

Adapun sekitar 500 pengusaha pemegang izin usaha pertambangan (IUP), boleh jadi saat ini tengah berpikir keras apakah akan serius membangun smelter atau akan buang handuk. Tetapi yang paling menyita perhatian mereka adalah bagaimana caranya mengekspor tanah nikel yang tak sempat diangkut ke China hingga tiba hari H tanggal 12 Januari 2014. Menurut Gubernur Nur Alam, tidak ada jalan lagi kecuali nikel mentah itu dijual kepada pengusaha smelter di dalam negeri. Perdagangan nikel mentah di dalam negeri tidak masalah.

Perlu Optimalisasi

BAGI Sulawesi Tenggara, masa jeda ini sebetulnya sangat baik dimanfaatkan untuk kembali menengok fondasi riil perekonomian rakyat. Yaitu sektor pertanian yang meliputi subsektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan subsektor kehutanan. Dieavaluasi apakah terjadi kemajuan (progres) sektor andalan yang menghidupi hampir 90 persen penduduk provinsi tersebut.

Sebagai andalan dan fondasi riil perekonomian, pertanian sebetulnya jauh lebih menjanjikan kesejahteraan bagi rakyat jika sektor ini ditangani secara optimal. Para pelaku adalah pengelola dan sekaligus pemilik seluruh aset produksi.

Jika disentuh dengan (tambahan) investasi dalam bentuk sarana dan biaya produksi, para pelaku itu pasti mampu menciptakan produksi yang melimpah ruah. Nilai produksi tersebut akan dinkmati langsung oleh rakyat sebagai pemilik tunggal. Pada saat itu kemakmuran benar-benar menjadi kenyataan, bukan mimpi.

Dalam kondisi keterbatasan, rakyat telah membuktikan kehebatan itu. Berapa luas kebun dan produksi kakao Sulawesi Tenggara? Selanjutnya jambu mente, beras, jagung (jenis lokal), ternak, ikan, udang, dan rumput laut? Sulawesi Tenggara dikenal sebagai penghasil kakao terbesar di Indonesia. Begitu pula jambu mente. Kedua komoditas perkebunan tersebut bahkan telah menjadi brand image Provinsi Sulawesi Tenggara.

Beras? Sulawesi Tenggara sudah sejak tahun 1990-an kelebihan produksi beras. Subsektor yang terlihat kurang berkembang selama ini adalah perikanan rakyat, baik tangkap maupun budidaya. Khusus kegiatan budidaya seperti rumput laut selalu terkendala masalah pemasaran. Usaha pertambakan udang terkendala pada masalah kesulitan modal.

Pertanyaan kita, sudah seberapa jauh sub-sub sektor tersebut selama ini disentuh dengan program optimalisasi dalam arti tidak sekadar menyiapkan atau mengusulkan rencana kegiatan rutinitas SKPD-SKPD terkait. Sekadar mempertahankan status quo yang telah terkondisi 20 atau 30 tahun silam. Tetapi harus dilakukan gerakan optimalisasi yang berwujud kebijakan (strategis) dan tindak operasional (taktis).

Keberhasilan sektor pertanian akan terjawab di hilir. Manakala produksi sektor ini melimpah, maka dengan sendirinya akan berkembang pula kegiatan industri yang mengolah hasil-hasil pertanian tersebut. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa investasi bidang industri yang mendukung sektor pertanian di Sulawesi Tenggara, terlihat masih tetap sepi.

Ada sebuah gejala kemunduran di sektor pertanian yang perlu dicatat pada bagian akhir tulisan ini. Di antara komoditas pertanian yang telah mengharumkan nama Sulawesi Tenggara adalah produk jambu mente. Akan tetapi, belakangan ini areal kebun dan produksi jambu mente rakyat cenderung makin berkurang.

Sebagai contoh, pada tahun 2009 produksi tercatat 30.934 ton dari tanaman seluas 120.263 hektar. Produksi tersebut terus menurun sehingga pada tahun 2012 tinggal 14.966 ton dari perkebunan rakyat yang juga menyusut tinggal 117.486 hektar. Jadi penurunan produksi mencapai sekitar 52 persen. Luasan tanaman pun berkurang sekitar 3.000 hektar.

Seperti dikemukakan Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara, Ir Bambang MM, terjadinya penurunan produksi disebabkan usia tanaman yang makin tua, kurang perawatan, dan juga gangguan hama. Soal berkurangnya luasan tanaman, Bambang mengaku belum melakukan penelitian. Tetapi berdasarkan pemantauan kita, masalah tersebut disebabkan antara lain penggusuran para investor nikel karena kebun rakyat dicaplok pengusaha atas dasar izin yang dikeluarkan bupati.

Rehabilitasi Jambu Mente
ADA upaya Bambang untuk memperbaiki tingkat produksi dan produktivitas jambu mente di daerahnya. Yaitu melalui program rehabilitasi tanaman tua dengan cara memotong pohonnya setinggi kurang lebih satu meter dari permukaan tanah. Pohon jambu itu dipotong dengan gergaji mesin (chainsaw), lalu bekas potongan dibersihkan dari sisa-sisa minyak oli. Tunggak itu akan bertunas  dalam hitungan minggu. Tunas-tunas itulah yang akan diseleksi untuk menentukan calon pengganti pohon induk.

Kebn jambu mente. Usia tanaman makin tua, tak dirawat lagi. Agar tanaman kembali berproduksi dengan baik, pohon-pohon tua itu akan dipotong. Dari tunggaknya akan keluar tunas yang lebih subur untuk mengganti pohon induk. Foto Disbun Sultra

Menurut Bambang, tunas tersebut akan berbuah lebih cepat, antara satu sampai satu setengah tahun, tergantung pemeliharaan. Bila menanam baru, masa panen pertama sekitar 3-4 tahun. Rehabilitas jambu mente dengan cara tersebut, sebetulnya masih dalam percobaan di sebuah desa dalam Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna. Tetapi Bambang optimistis, percobaan tersebut bakal sukses. Kabupaten Muna adalah salah satu sentra perkebunan jambu mente rakyat di Sulawesi Tenggara.

Bambang ingin mengembalikan kejayaan produksi jambu mente di Sulawesi Tenggara seperti pada era tahun 1970-an hingga 1990-an. Produksi pada masa itu ditampung Sekar Alam Group, perusahaan industri makanan dari hasil bumi dan laut dari Surabaya. Sekar Alam membangun gudang penampungan di kepualauan dan daratan, sebelum bijih jambu mente diangkut ke industri jambu mente di Pasuruan, 40 km tenggara Surabaya.

Selain mengolah jambu mente gelondong menjadi kacang mente berkualitas ekspor, industri di Pasuruan itu juga menyuling minyak pelumas (getah) dari limbah kulit mente. Minyak itu disebut CNSL (cashew nut shell liquid) sebagai bahan minyak rem pesawat terbang, dan perekat (lem) yang digunakan industri perabot rumah tangga (furniture).

Akan tetapi, industri jambu mente di Pasuruan itu kini terancam gulung tikar. Pasalnya, pemerintah mengizinkan ekspor jambu mente gelondongan. Tindakan tersebut menyimpang dari kebijakan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan puluhan tahun silam untuk mendorong industri yang mendukung sektor pertanian. Pemberian izin ekspor raw material itu tidak terlepas dari parktik kolusi antara pejabat kementerian terkait, politisi di Senayan, dan pengusaha India yang menjadi eksportir. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>