Inmemorium Idrus Indas: Teguh Memelihara Etika Profesi

Idrus Indas di depan mesin tik. Gambar diambil Selasa pagi 14 Agustus 2012

 

NAMANYA akan terukir abadi dalam sejarah pers nasional. Idrus Indas adalah pendiri dan penerbit surat kabar mingguan Nusantara Pos di Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia sekaligus juga menjadi pemimpin umum/penanggung jawab. Perintis itu telah meninggal dunia, Hari Rabu siang tanggal 19 September 2012 dalam usia 69 tahun. Jenazahnya dimakamkan pada sore harinya di pekuburan umum Punggolaka. Ia meninggalkan seorang istri, dan dua anak yang telah memberinya empat orang cucu. Inna lillahi wa inna ilaihi rejiun!

Kepergiannya sangat mengejutkan. Didadak ajal. Ia meninggalkan rumahnya di Jl Bung Tomo, dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kendari, sekitar pukul 09.00 Wita. Berita meninggalnya saya terima kira-kira sejam kemudian. Sesuai agenda kegiatan yang diketahui keluarga, pagi itu ia mau ke Kantor Bahasa di komplek Kantor Gubernur Sultra, Andonohu. Ia naik angkutan umum (pete-pete). Di bundaran Andonohu ia berganti pete-pete. Namun, saat menunggu angkutan lanjutan ke kantor bahasa, ia terlihat oleng dan kemudian terjerembab.

Kejadian itu  terlihat beberapa saksi mata di sekitar situ. Dua atau tiga orang saksi mata tadi segera menolong dan hendak membawanya ke RS Abunawas yang jaraknya relatif dekat. Namun, sebelum sampai ke rumah sakit, ia telah menghembuskan napas terakhirnya. Keterangan ini dikemukakan juga seorang dokter wanita yang menyambutnya di RS Abunawas. Anak sulungnya, Enisna tak kuasa menghadapi proses yang sangat cepat dan tragis itu. Ia menangis histeris di rumah sakit tersebut hingga jenazah bapanya (almrhum dipanggil bapa oleh anak-anaknya) dibawa ke rumah duka di Jalan Bung Tomo itu.

 Idrus Indus telah membuat dan menjadi pelaku sejarah pers di daerahnya, Sulawesi Tenggara. Bermodal  komitmen dan tekad, Idrus Indas menerbitkan sebuah surat kabar mingguan yang diberinya Nusantara Pos dengan nomor perdana – seingat saya –  terbit di bulan April 1971. Adapun   modal biaya investasi dan sumber daya manusia dianggapnya perkara belakangan. Yang penting berbuat dulu, begitu perinsip beliau.

       Keberanian Idrus Indas tampil mengelola sebuah penerbitan pers dimotivasi kegiatan serupa yang telah dirintis temannya Piter Pakula Bittikaka dari Makassar. Bittikaka lebih dulu menerbitkan sebuah koran mingguan bernama Warta Sulawesi, juga dengan bermodalkan semangat  dan keberanian.

       Sebagai putra daerah – lahir di Kabaena (kini wilayah administrasi Kabupaten Bombana) tanggal 22 Juli 1943 –  Idrus Indas terpanggil untuk ikut meletakkan dasar pembangunan dan pengembangan pers di Sultra. Ia bekerja dengan piranti pers yang masih primitif: percetakan handset. Percetakan itu dioperasikan di rumahnya bersatu dengan kantor Redaksi Nusantara Pos.

       Ia mencari dan mengumpulkan bahan berita seorang diri. Kadang juga bekerja sama dengan Noor Satega Ali, wartawan senior dan Kepala Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Cabang Kendari, dan dengan Zakariah Harris, teman akrabnya yang juga wartawan Antara tersebut. Penamaan Nusantara Pos sendiri diilhami nama sebuah harian terkemuka di Jakarta, Nusantara, yang dipimpin Suardi Tasrif SH, salah satu dari empat sekawan tokoh pers yang disegani sejak tahun 1950-an. Tiga lainnya adalah BM Biah (Harian Merdeka), Mochtar Lubis (Harian Indonesia Raya), dan Rosihan Anwar (Harian Pedoman). Seperti halnya Harian Nusantara, ketiga surat kabar harian yang melegenda itu juga telah tiada. Para pendirinya pun demikian halnya. Mereka adalah pelaku utama sejarah pers Indonesia di era transisi setelah Kemerdekaan.

       Akan halnya Idrus Indas dengan korannya Nusantara Pos, tumbuh dan berkembang dalam irama yang sangat lambat. Kendalanya tetap masalah modal dan sumber daya manusia. Selain itu masyarakat lingkungannya belum melek informasi media massa. Pemerintah daerah provinsi dan kabupaten juga kurang tertarik membantu pengembangan pers daerah yang tugas dan fungsinya sangat mulia: mencerdaskan dan mengibur masyarakat.

       Secara nasional perkembangan pers di era tahun 1970-an itu, memang juga  baru mulai menggeliat di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makssar. Tahap industri pers Indonesia baru terjadi setelah koran besar seperti Kompas, Berita Buana, dan juga Majalah Tempo melakukan investasi di bidang pengadaan percetakan modern yang disebut offset. Industri tersebut segera terdongkrak perkembangan ekonomi yang ditandai meledaknya berbagai produk barang konsumtif dalam dan luar negeri (impor). Produk-produk tersebut memanfaatkan media massa sebagai sarana promosi dalam bentuk iklan-iklan yang memenuhi hampir separuh dari seluruh ruang surat kabar yang tersedia. Bahkan, halaman suatu surat kabar di kota-kota besar harus ditambah karena kebutuhan ruang pemasangan iklan yang meningkat begitu deras.

       Biaya iklanlah yang mengaktrol sebuah penerbitan pers menjadi perusahaan besar. Dengan kondisi seperti itu maka SDM dan manajemen pers segera bisa tertangani secara profesional. Proses rekrutmen wartawan mulai ketat. Mereka yang diterima bukan saja memiliki bakat menulis, bergelar sarjana, tetapi juga disyaratkan jujur, beretika, cerdas, dan arif. Manajemen perusahaan juga segera mendapatkan dukungan profesional dari rekrutmen tenaga-tenaga handal.

       Akan halnya Idrus Indas dan korannya Nusantara Pos, tetap berjalan di tempat. Dengan semangat dan tekad ingin menembus kebuntuan, Idrus Indas sering mencetak korannya di Makassar baik di zaman mesin rotasi maupun era offset. Rekrutmen wartawan juga dilakukan melalui sistem magang. Namun, para pemagang itu satu per satu meninggalkan Nusantara Pos karena mau jadi pegawai negeri, pindah ke pekerjaan lain, dan ada juga yang meneruskan profesi jurnalistiknya di surat kabar lain, termasuk saya adik kandungnya yang menjadi wartawan Kompas hingga pensiun setelah bekerja di situ selama 30 tahun.

       Ketika pers kapitalis mulai merambah daerah-daerah kecil seperti Sultra, Idrus tetap tak bergeming. Ia mengaku pernah diajak bekerja sama oleh kelompok usaha pers yang kini mengelola sejumlah surat kabar harian di Sultra. Namun, tawaran itu ditolaknya secara halus dengan alasan masih akan meminta pertimbangan saya yang kala itu sedang ikut  mengelola Harian Surya Surabaya, salah satu anak perusahaan Harian Kompas.

       Nusantara Pos yang dipayungi sebuah SIUP (Surat Izin Usaha Pers) versi Departemen Penerangan era Orde Baru, masih terus memenuhi kewajibannya mengunjungi pembacanya, kendati sering hanya sekali sebulan. Formatnya terakhir berbentuk tabloid 16 halaman. Dicetak warna di percetakan Media Sultra, sebuah harian milik keluarga BM Diah.

       Sekitar pertengahan tahun 2011, fisik almrahum makin lemah, tidak kuat lagi menyelenggarakan sebuah penerbitan seorang diri. Ia dibantu Agus Sana’a, koresponden Harian Sinar Harapan, sebagai tenaga inti satu-satunya. Saya menyarankannya untuk non-aktif saja. Nusantara Pos biar diteruskan Agus jika dia suatu saat memiliki kemampuan modal.

       Kendati telah ‘pensiun’ almarhum terlihat masih aktif menulis karena mesin tiknya masih selalu terletak di atas meja kerjanya setiap kali saya mengunjunginya untuk melepas kangen. Sampai inmemorium ini ditulis, saya belum periksa dokumen-dokumen yang ditinggalkannya, termasuk tulisan-tulisan menjelang saat-saat terakhirnya.

       Idrus Indas adalah seorang otodidak. Ia belajar jurnalistik melalui kursus tertulis ‘Syailendra’ tahun 1960. Lembaga itu berpusat di Yogyakarta.  Pendidikan formalnya tidak tamat dari sebuah SMA di Makassar hingga sebuah penerbitan mingguan mengirimnya ke Kendari tahun 1965, dengan tugas sebagai koresponden dengan wilayah coverage provinsi yang terbentuk 27 April 1964.

       Simpulan inmemorium ini menjelaskan bahwa Idrus Indas adalah pionir bagi putra daerah di bidang penerbitan pers. Sayang sekali jiwa kepeloporan itu belum direspons hingga saat ini. Kesetiaan dan loyalitasnya kepada profesi jurnalistik tidak diragukan. Ia juga sosok yang mandiri. Tidak mau tergantung pada siapa pun, dan teguh memelihara etika profesi serta teguh pula memelihara jarak dengan sumber-sumber berita untuk menjaga prinsip-prinsip obyektif sebagai seorang wartawan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>