Industri Semen Tonasa Berkembang Sampai Jauh …

Oleh Yamin Indas

Pabrik semen Tonasa telah berkembang sampai jauh. Unit pengantongan di Lapuko, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan, 40 km dari Kota Kendari. Foto Yamin Indas

DI TENGAH suasana peresmian unit pengantongan semen Tonasa, Kamis siang yang agak terik (23 Januari 2014), ingatan saya melayang ke sosok mendiang Jenderal M Jusuf. Pabrik semen Tonasa di Pangkejene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, telah berkembang sampai jauh ke pelosok desa terpencil di Sulawesi Tenggara bernama Lapuko. Pembangunan industri tersebut diprakarsai jenderal kharismatik itu.

Tidak salah Presiden Soekarno mengangkat M Jusuf sebagai Menteri Perindustrian. Sebab ketika menjabat Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Jusuf dikenal memiliki banyak gagasan untuk memajukan industri di Sulawesi Selatan dalam rangka memanfaatkan potensi alam yang begitu melimpah bagi kesejahteraan masyarakat yang akan menikmatinya. Salah satu di antaranya adalah proyek pembangunan semen Tonasa di Pangkep.

Proyek yang semula dibiayai dengan bantuan Cekoslovakia itu terhenti akibat kekacauan politik tahun 1965. Tetapi dilanjutkan kembali setelah Jusuf makin mantap kedudukannya sebagai Menteri Perindustrian di bawah pemerintahan baru Presiden Soeharto. Bahkan, Jusuflah yang membangun cetak biru industri nasional dalam sejarah pembangunan ekonomi Orde Baru.

Dia menyatukan organisasi yang mengurus masalah perindustrian ke dalam satu departemen, yaitu Departemen Perindustrian. Sebelumnya terpecah-pecah dalam beberapa departemen. Selanjutnya dirumuskna visi dan misinya. Salah satu misi jangka pendek Departemen Perindustrian yang ditetapkan M Jusuf adalah menghidupkan dan membangun industri-industri yang mendukung sektor pertanian. Kemudian melanjutkan proyek-proyek Orde Lama yang sempat terhenti, termasuk pabrik semen Tonasa.

Setelah organisasi. misi dan filosofi serta kebijakan pembangunan sektor industri berada di rel yang tepat (on the track), Jenderal M Jusuf diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima Angkatan Bersenjata periode 1978-1983. Dia juga menata tubuh ABRI, menyalakan semangat juang dan disiplin prajurit TNI, serta mewujudkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Jusuf adalah sosok pemimpin militer yang dipuja dan dikagumi rakyat. Selalu disambut dan dieluk-elukan ke mana dan di mana pun dia melakukan aktivitas.

Saya menggunakan kata cetak biru untuk judul tulisan singkat ini selain mengenang jasa besar Jenderal M Jusuf di bidang kemajuan industri Indonesia, juga mengadopsi sambutan Gubernur Sultra Nur Alam saat meresmikan industri pengantongan semen Tonasa, Packing Plant PT Semen Tonasa di Lapuko, 40 km dari Kota Kendari, Kamis siang itu. Dia mengatakan, peresmian ini menambah satu deretan inevstasi untuk menjadikan Sultra sebagai kawasan industri nasional.

Gubernur Nur Alam menyaksikan kantong (zak) semen Tonasa yang keluar dari proses pengantongan bergerak menuju bak angkutan truk. Foto Yamin Indas

Ada kesamaan obsesi Jenderal Jusuf dengan Nur Alam. Nur Alam juga berkeinginan keras agar potensi sumber daya alam yang melimpah di daerahnya dijadikan aset pembangunan industri sehingga menjadi sumber ekonomi nyata bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Karena itu, baru beberapa bulan menjabat Gubernur Sultra, dia mengusulkan Sultra sebagai pusat industri nasional di bidang pertambangan.

Namun, usulan itu tak direspons pemerintah pusat. Di lain pihak, para pengusaha yang telah diberi izin pengolahan nikel (izin usaha pertambangan) ternyata juga mangkir dari janji mereka akan membangun industri nikel. Adapun pengusaha yang saat ini telah dan sedang membangun smelter adalah mereka yang bekerja diam-diam tanpa mengobral janji. Mereka inilah yang diharapkan Gubernur Nur Alam untuk mengisi peluang industri yang terbuka lebar di Sultra.

Dalam sambutannya tadi gubernur menjelaskan, ia baru saja meresmikan pengoperasian sebuah pabrik pengolahan nikel NPI (nickel pig iron) di sebuah desa di Puriala, Kabupaten Konawe. Dalam waktu tidak lama dia berharap akan meresmikan lagi beberapa industri serupa. Sebab para pengusaha pemegang IUP nikel kini telah ‘dikandang paksa’ tidak mengekspor mineral mentah menyusul berlakunya Undang-undang Minerba Nomor 4/2009 sejak 12 Januari 2014.Sebaliknya mereka harus segera membangun smelter agar IUP-nya tidak dicabut.

Kehadiran industri pengantongan semen Tonasa di Lapuko disebutkan oleh Gubernur Nu Alam akan mendorong pengusaha lokal agar membuka industri baru seperti pembuatan tiang pancang, tiang listrik, paving blok, dan lain-lain dalam rangka memanfaatkan potensi batu gunung moramo yang dikenal tinggi kualitasnya. Peluang lain adalah berkembangnya usaha pengangkutan baik darat maupun laut untuk mendukung jaringan distribusi semen Tonasa.

Kemudian masalah kelangkaan semen yang sering terjadi akibat transportasi jarak jauh dari pabrik di Pangkep, dengan sendirinya teratasi setelah beroperasinya pabrik pengantongan di Lapuko. Packing plant tersebut berkapasitas 300.000 ton per tahun, atau sekitar 70 persen kebutuhan semen Sultra yang ditaksir 550.000 ton per tahun.

Pabrik semen Tonasa yang berproduksi sejak 1968 kini telah berkembang hingga lima unit. Pabrik unit lima kini juga sudah mulai berproduksi secara komersial. Total renacana produksi semen Tonasa untuk tahun ini (2014) ditargetkan sekitar 6,7 ton. PT Semen Tonasa terus berupaya mendekatkan produknya dengan konsumen, antara lain dengan memperluas pembangunan unit-unit pengepakan di berbagai kawasan di Indonesia Timur. Semen Tonasa diibaratkan oleh Dirut PT Semen Tonasa, Unggul Attas, sebagai roti holland bakery. “Di mana-mana orang bisa membeli roti holland bakery”, ujarnya membuka acara peresmian di Lapuko.

Bagi masyarakat Sultra, semen Tonasa memiliki keistimewaan tersendiri. “Masyarakat belum merasa bangunannya kokoh kuat tanpa menggunakan semen Tonasa”, kata Nur Alam, Gubernur Sultra yang sebelumnya berprofesi sebagai pengusaha kontraktor. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>