Niko Berkebun di Pasar Tradisional

Oleh Yamin Indas

Niko Samara, Direktur Pasar Kota Kendari. Foto Yamin Indas

 PASAR tradisonal adalah jantung kehidupan masyarakat kota. Tanpa pasar tradisional, warga kota pasti mengungsi ke tempat yang ada pasarnya agar tidak mati kelaparan, atau sekalian pulang ke desa yang lebih dekat dengan produksi berbagai bahan makanan pokok.

Kota Kendari di Sulawesi Tenggara sebetulnya boleh dikatakan lahannya pasar tradisional. Sebab pasar modern di sini belum mencapai jumlah jari sebelah tangan. Penduduk kota itu saat ini kurang lebih 500.000 orang. Warga kota masih tetap menyandarkan kebutuhan hidupnya pada pasar tradisional. Bila toh ke pasar modern, seperti Lippo Plaza, atau Briliyant Plaza, lebih pada keperluan untuk sekalian berwisata. Cuci mata begitu.

Namun, fakta di lapangan jauh berbeda. Malah agak ironis. Ada enam pasar tradisional di Kendari saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, Pasar Punggolaka yang dapat menampung sekitar 800 pedagang, saat ini hanya kurang lebih 20 pedagang yang aktif berjualan di sana. Padahal, pasar itu dibangun pemerintah kota pada tahun 2004. Artinya, pusat bisnis berskala menengah, kecil, dan mikro itu telah menganggur hampir 10 tahun ini.

Boleh jadi lapangan kerja di Kendari dan Sulawesi Tenggara umumnya masih banyak pilihan yang menjanjikan. Sehingga profesi jual beli berskala menengah, kecil, dan mikro, belum  banyak warga kota yang melirik. Sebab salah satu peran strategis pasar tradisional sebenarnya adalah penyerapan tenaga kerja dalam rangka mengurangi pengangguran.

Untuk mengoptimalkan fungsi dan peran pasar tradisional di Kota Kendari, Walikota Dr Ir H Asrun mengangkat Niko Samara SE sebagai Direktur Pasar Kota Kendari sejak 14 Juni 2013. Kebijakan Asrun ini merupakan juga sebuah langkah terobosan. Sebab Niko bukanlah pegawai negeri sipil di lingkup Pemkot Kendari melainkan seorang swasta yang mengelola beberapa rumah toko di bilangan Baruga.

Asrun menantang anak muda berumur 41 tahun itu untuk menjajal kemampuan manajerialnya bagi optimalisasi pemanaatan pasar-pasar tradisional di Kota Kendari. “Saya memang merasa tertantang oleh kepercayaan Pak Wali menugaskan saya untuk mengelola pasar-pasar yang selama ini terkesan mubazir,” ujar Niko, kelahiran Watubangga, Kota Kendari, tanggal 23 Agustus 1972.

Kecuali sebagai wiraswasta, Niko juga dikenal sebagai aktivis Partai Amanat Nasional (PAN). Dia kadernya Nur Alam, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PAN Sulawesi Tenggara beberapa periode dan belum setahun ini terpilih kembali sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara periode kedua. Nyaris tiada kegiatan Nur Alam dalam rangka konsolidasi partai tanpa kehadiran Niko Samara.

Dia tidak asing dengan dunia birokrasi karena istrinya, Marlin Tepo SE adalah staf Biro Umum Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara. Dari istrinya ini Niko dianugerahi seorang anak.

Ihwal penugasannya sebagai Direktur Pasar, Niko mengibaratkan dirinya sebagai petani jagung. Dia menyiapkan kebun mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, pupuk, hingga tetek bengek kebutuhan lainnya untuk merangsang pertumbuhan tanaman jagung. “Bila jagungnya sudah  berbuah dengan baik, baru saya bisa panen”, ujarnya.

Pasar Punggolaka Kendari. Bangunan los kosong tanpa pedagang. Padahal, lokasi pasar ini cukup strategis, di jalur jalan raya lintas Kendari – Kolaka. Foto: Yamin Indas

Perumpamaan Niko tersebut lebih ditekankan pada usaha pemanfaatan Pasar  Punggolaka. Dari 6 pasar tradisional di Kendari yang kurang diminati pedagang, Pasar Punggolakalah yang paling miskin penghuni. Los pasar itu hanya terisi 20 pedagang dari kapasitas sekitar  800 pedagang.

Dia mengatakan, pedagang yang ingin berjualan di Pasar Punggolaka hanya satu kewajibannya, yaitu siap berdagang. Kewajiban kepada pemerintah kota akan dibebaskan hingga waktu yang belum ditentukan. “Pokoknya, pakai dulu fasilitas yang tersedia tanpa dipungut apa pun”, ujarnya.

Karena itu, Niko memilih berkantor di kompleks pasar tersebut. Sebuah bangunan rumah potong hewan (RPH) yang sudah tertelan rermputan liar, dibersihkan dan dijadikan kantor pusat pengendalian lima pasar tradisional lainnya dengan total karyawan lepas 128 orang. Sebelumnya 172 karyawan.

Langkah pertama Niko ialah mengurangi karyawan. Lalu sisanya diusahakan honornya naik secara bertahap sekitar 15 persen. Honor terendah adalah Rp 475.000. Dengan sedikit perbaikan penghasilan itu diharapkan kinerja mereka (karyawan) bisa lebih baik.Target  Niko adalah menciptkan pelayanan yang rapi, aman, dan nyaman bagi para pengguna pasar.

Agenda  berikutnya adalah memperbaiki infrastruktur dan fasilitas umum di pasar-pasar tradisional untuk memudahkan aktivitas para pengguna, baik pedagang maupun masyarakat. Selain itu meningkatkan kualitas  barang dagangan, baik  bahan makanan maupun ke butuhan sekunder seperti pakaian dan alat-alat rumah tangga.

Niko yakin misinya di Kota Kendari akan terlaksana dengan  baik. Sebab dalam waktu lima bulan terakhir ini dilakukan perbaikan dan penataan manajemen, terlihat kemajuan menggembirakan, kendati masih bersifat makro. “Jika pada awal tugas saya, potensi pasar yang terkelola secara optimal baru sekitar 64 persen, maka saat ini sudah di level 80 persen”, kata alumni Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Makassar (STIM) tersebut.

Menurut Niko, pungutan Pemerintah Kota Kendari  kepada para pedagang pasar tradisional  sangat ringan. Hanya sekitar Rp 3.200 sehari. Ini untuk kios permanent berukuran 2 kali 3 meter. Pungutan itu terdiri atas jasa pelayanan berdagang,  penggunaan kekayaan daerah (PKD),  jasa keamanan, ketertiban, dan kebersihan (K3), dan izin usaha yang dikeluarkan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Kendari. Cuma Rp 2.300 per hari. Tetapi khusus di Pasar Punggolaka, tarif-tarif tersebut belum diberlakukan. “Bila transaksi sudah lancar dan omset sudah berkembang, maka ‘jagungnya’ baru akan mulai dipanen,” kata Niko Samara bertamsil. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>