Modern Group Operasikan Smelter

Oleh Yamin Indas

Pabrik pengolahan nikel mentah (ore) mulai beroperasi di Puriala, Kabupaten Ko nawe. Ini smelter pertama di Sultra dari kalangan swasta. Foto Yamin Indas

PLONG! Obsesi pengolahan nikel (smelter) mentah menjadi setengah jadi secara bertahap mulai terwujud. “Sayalah yang palng berbahagia atas kehadiran pabrik sederhana ini. Kita berharap akan segera muncul smelter-smelter yang lain di Sulawesi Tenggara”, ujar Gubernur Nur Alam saat meresmikan produksi pertama smelter nikel, Senin tanggal 23 Desember 2013 di Kabupaten Konawe.

Smelter itu berlokasi di Desa Wonua Morone, 194 km barat Kota Kendari. Dibangun oleh PT Cahaya Modern Metal Industri (CMMI), smelter tersebut berkapasitas 25.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun. Produk ini merupakan komoditas ekspor sebagai bahan baku pabrik stainless steel.

Harga NPI di pasar dunia saat ini sekitar 16.000 dollar AS per ton. Bandingkan dengan harga nikel mentah (ore) berkadar 1,9 persen, harga tertinggi hanya 26 dolar AS per ton. Dengan demikian, perdagangan nikel hasil olahan, memang jauh lebih menguntungkan dibanding nikel mentah. Nilai tambah lain dari pembangunan smelter adalah perluasan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi sekitar kawasan pertambangan.

Peluncuran produksi pertama smelter di Sulawesi Tenggara dilakukan sekitar tiga minggu menjelang berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba yang isinya antara lain menetapkan larangan ekspor mineral mentah, termasuk nikel. UU itu akan berlaku mulai 12 Januari 2014.

Bagi Gubernur Sultra Nur Alam, larangan ekspor nikel mentah tidak bisa lagi ditawar. “Kami, lima gubernur di Indonesia Timur telah sepakat menghentikan ekspor nikel mentah sesuai amanat Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, katanya. Kesepakatan para gubernur itu ditandatangani di Makassar awal bulan Desember 2013.

Gubernur Nur Alam berbincang dengan Sungkono Honoris, pemilik Modern Group. Foto Yamin Indas

Menurut dia, larangan ekspor nikel mentah akan berdampak positif terhadap harga nikel Indonesia. Sekitar 30 persen kebutuhan nikel dunia disuplai Indonesia. Dengan larangan itu maka Indonesia bisa ikut menentukan harga nikel di pasar dunia. “Selama ini peranan China sangat dominan”, ujarnya.

Karena itu Gubernur Nur Alam mengapresiasi kepeloporan PT CMMI di  bidang pembangunan smelter nikel. Pasalnya, dari sekitar 500 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) di Sultra, baru PT CMMI yang membuktikan komitmennya.

PT CMMI adalah anggota Modern Group yang dipimpin Sungkono Honoris. Menurut Sungkono, investasi pembangunan smelter berskala kecil tersebut sekitar Rp 200 miliar. Artinya, kurang dari 20 juta dollar AS. Kapasitas produksi secara bertahap akan ditingkatkan dari 25.000 ton menjadi 65.000 ton NPI per tahun. Perusahaan tersebut memiliki lahan konsesi nikel seluas 2.000 hektar di sekitar smelter.

Perusahaan tersebut tidak muluk-muluk alias gombal. Ada perusahaan berkomitmen akan membangun pabrik feronikel di Kabaena dan Konawe Utara. Dana investasi yang tersedia tidak tanggung-tanggung, 6.000.000.000 dollar AS! Namun, hingga menjelang berlakunya larangan ekspor nikel mentah, 12 Januari 2014,  belum ada sepotong pun besi yang disiapkan untuk pembangunan industri nikel tersebut.

Sejarah pengolahan dan industri nikel di Sultra sudah cukup panjang. Usaha itu dimulai setelah E.C. Abendanon menemukan bijih nikel di Pomalaa, tahun 1909. Di kurun waktu 25 tahun kemudian OBM (Oost Borneo Maatschappij) dan Bone Tolo Maatschappij mengadakan eksplorasi, dan sempat mengekspor 150.000 ton bijih nikel ke Jepang sebelum pecah Perang Dunia II.

Baru pada tahun 1960 pemerintah meneruskan usaha tersebut dengan membentuk PT Pertambangan Nikel Indonesia. Lalu berubah menjadi PN Aneka Tambang tahun 1968, dan selanjutnya menjadi PT Aneka Tambang tahun 1974. Setahun sebelumnya (1973), BUMN di bawah Departemen Pertambangan dan Energi (sekarang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), ini merintis pembangunan pabrik feronikel di Pomalaa.

Pabrik tersebut diresmikan Wakil Presiden Sultan Hamengku Buwono IX tanggal 23 Oktober 1976 di Pomalaa. Dari saat itulah sesungguhnya sejarah industri nikel di Sultra dimulai. Pabrik berkapasitas 5.500 ton feronikel per tahun itu kemudian diperluas hingga pabrik unit V sekarang. Total produksi sekitar 27.000 ton feronikel/tahun.

Harga produk feronikel jauh lebih tinggi lagi dari harga NPI. Sebab feronikel Pomalaa berkadar lebih dari 90 persen nikel murni, sementara NPI hanya berkisar 8-10 persen. NPI disebut juga feronikel berkadar rendah. Kedua produk ini adalah bahan baku pabrik stainless steel. China dan India tercatat sebagai pengompor NPI terbesar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri stainless steel.

Obsesi Gubenur Nur Alam untuk menjadikan Sultra sebagai pusat industri pertambangan nasional khususnya nikel telah dijawab Modern Group, kendati dimulai dengan smelter berskala kecil. Di belakang Modren Group ada pula PT Ifishdeco dari Sekar Group yang membangun smelter berkapasitas 100.000 ton NPI per tahun di Tinanggea, Konawe Selatan, lalu PT Kembar Emas Sultra di Langkikima, Konawe Utara berkapasitas 35.000 ton per tahun.

Namun, obsesi terbesar Nur Alam adalah pembangunan industri stainless steel. Proyek besar tersebut juga merupakan cita-cita PT Aneka Tambang Tbk sejak tahun 1990-an. Selain modal raksasa, pabrik stainless steel membutuhkan dukungan pabrik feronikel berkadar tinggi berkapasitas 200.000 ton per tahun. Jika menggunakan produk feronikel berkadar rendah seperti NPI, kebutuhannya  lebih besar lagi. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>