Sam Bukan Tukang Cukur Biasa

Sam Aski mencukur janggut  pasiennya dengan ekstra hati-hati. Pasalnya, sang pasien adalah orang Nomor 1 di Sulawesi Tenggara. Foto Yamin Indas

PROFESI tukang cukur alias tukang pangkas rambut, bukan pekerjaan sembarangan. Profesi elite. Siapa berani pegang kepalanya Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat ke-42, yang ganteng itu? Tidak lain dari Christophe. Dia tukang cukurnya mantan Gubernur Arkansas itu. Konon, Air Force One, pesawat kepresidenan AS  pernah ditunda (delay) penerbangannya beberapa saat hanya karena Chris masih dengan cermat memperindah model rambut sang presiden.

Sam (53) juga nyaris demikian halnya. Banyak pejabat tinggi di Sulawesi Tenggara menjadi pasiennya dalam perkara perawatan rambut. Tidak terkecuali Gubernur H Nur Alam SE MSi. “Sudah lama saya dipercaya merawat rambutnya. Sejak dia masih  berprofesi sebagai pengusaha”, ujarnya.

Perbincangan ini berlangsung hanya beberapa saat setelah Sam selesai memangkas rambut orang Nomor 1 di Sultra itu.  Tempatnya di teras belakang rumah pribadi Gubernur Sultra di bilangan Wua-Wua, Kendari. Cuaca di hari Minggu, 8 Desember 2013, cerah. Matahari bersinar lembut karena terhalang kabut tipis. Cuaca di bulan Desember tahun ini berubah-ubah. Di pagi hari cerah. Namun,  bisa jadi turun hujan di sore hari. Maklum, musim penghujan mulai berlangsung.

Di pagi itu Gubernur Nur Alam tampak santai. Bercelana pendek dipadu baju kaus putih leher  bundar.  Hingga menjelang siang belum ada tamu, kecuali saya. Kami berbincang di sebuah sudut rumahnya yang adem. Rumah terasa sepi. Sebab Hj Asnawati Hasan, ibu dari tiga anaknya sedang mengadakan kunjungan kerja ke Kabupaten Kolaka sebagai Ketua Umum Penggerak PKK Sultra.

Tanpa saya sadari Nur Alam meningalkan tempat. Saya duduk sendirian di ruangan itu. Namun tak lama seorang petugas rumah tangga meminta saya pindah ke teras  belakang. Rupanya dia sedang memangkas rambut di teras tersebut.

Seorang pria berkumis agak tipis dan memutih di sana sini sedang memangkas dan memperindah model rambut sang gubernur. Dia seorang tukang pangkas rambut yang berpraktik di dekat kantor Bank Pembangunan Daerah Sultra yang kini telah berganti nama menjadi  Bank Sultra. Salonnya diberi nama “Bangkalan” yang merujuk tanah leluhurnya, Madura. Tapi Sam sendiri lahir di Makassar 53 tahun silam, tempat bermukim kedua orangtuanya.

Bagaimana, tidak grogi memegang-megang kepala seorang gubernur? “Saya tidak grogi, hanya saya sangat berhati-hati. Sebab dia publik figur. Ada kelainan sedikit saja pada rambut atau kumis, pasti menjadi perhatian masyarakat”, kata sarjana muda Ekonomi Manajemen Univresitas Muslim Indonesia Makassar itu.

Sam Aski menjadi warga Kota Kendari sejak tahun 1992. Dia ke kota ini dalam rangka penugasan sebuah perusahaan farmasi. Sepulang dari kantor dia buka praktik pangkas rambut hingga jam 10 malam. Keterampilan itu diwarisi dari ayahnya Aski. Bahkan, sejak sekolah Sam sudah ikut membantu ayahnya memangkas rambut para pelanggan di Makassar.

Bukan hanya Gubernur Nur Alam yang memang telah menjadi langganan lama Sam Aski. Ali Mazi juga ketika menjabat Gubernur Sultra adalah salah satu pasiennya. Pasien lainnya sebagian besar pejabat level provinsi, sebagian bupati, Walikota Bau-Bau AS Thamrin  dan Walikota Kendari  Asrun.

Sam tak melanjutkan kariernya sebagai pegawai perusahaan farmasi. Dia memutuskan untuk fokus pada profesi yang telah digelutinya sejak muda. Dia buka warung praktik “Bangkalan”. Pengunjung lumayan banyak, sekitar 20 orang setiap hari. Tarifnya Rp 20.000 per kepala. Jika menggunakan jasa pijat yang juga keahliannya tambah Rp 5.000.

Penataan rambut gubernur hampir rampung. Dia gonta ganti alat: gunting listrik, biasa manual, pisau silet, dan sisir. Sam bekerja profesional.  Berulang kali dia cermati model dan potongan rambut pasiennya dari berbagai arah pandang. Jangan-jangan ada yang kurang pas sehingga mengganggu harmoni penampilan pria ganteng berumur 46 tahun itu.

Tadi ke sini dijemput? “Tidak, saya naik kendaraan sendiri, sepeda motor”, ujarnya sambil membenahi alat-alat cukurnya memasukkan ke dalam tas khusus. Sam tinggal di bilangan Mekar, Wua-Wua, bersama keluarga. Dari empat anaknya, si sulung dan anak kedua kini duduk di bangku kuliah. ****

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>