Kepeloporan Ansar Belum Kendor

Dokter H Ansar Sangka MM

 DAUD JUSUF, Ahmad Amiruddin, dan Ansar Sangka adalah figur yang pernah mewarnai suasana politik eksplosif di kampus Universitas Hasanuddin kendati hanya dalam beberapa saat di era Orde Baru. Ketika itu Daud Jusuf menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ahmad Amiruddin sebagai Rektor Unhas, sementara Ansar Sangka adalah Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas.

       Menteri Daud Jusuf, melakukan kunjungan kerja ke Makassar. Misi ini tentu saja terkait pengecekan pelaksanaan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) ke berbagai kampus di kota tersebut. Kebijakan NKK dicetuskannya segera setelah ia dilantik sebagai Mendikbud. NKK adalah alat untuk melumpuhkan kegiatan politik praktis mahasiswa yang dipandang sebagai kekuatan oposisi dalam sistem kekuasaan Orde Baru. Dema (Dewan Mahasiswa) merupakan kutub kekuatan mahasiswa dalam pergerakan yang terstruktur dan bersifat masif dan berperan mengeritik pemerintahan otoriter Soeharto. Maka, Dema pun dibubarkan dan diganti dengan organisasi kemahasiswaan yang berorientasi kegiatan akademik dengan dalih  untuk melahirkan kaum intelektual  berbobot.

       Pada sebuah siang menjelang senja di Makassar pada tahun 1979. Suhu udara agak dingin karena kota sedang diguyur hujan. Sebaliknya, suhu politik di kampus IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan, kini Universitas Negeri) Makassar, terasa gerah. Menteri Daud Jusuf setibanya dari Jakarta  langsung meninjau kampus yang mencetak sarjana pendidik tersebut. Namun, dia disambut unjuk rasa yang agak brutal sehingga mengancam keselamatan menteri. Daud Jusuf kemudian dievakuasi petugas keamanan  melalui pematang-pematang sawah dalam keadaan berselubung mantel hujan.

       Insiden ini menimbulkan perkiraan kalangan pemimpin mahasiswa Unhas bahwa pencetus konsep NKK itu pasti bernasib lebih buruk jika merealisasikan rencananya mengunjungi kampus Unhas keesekokan harinya. Anak-anak IKIP saja bisa berbuat begitu, apalagi ‘kakak’-nya anak-anak Unhas. Perkiraan buruklah itulah yang membuat Ansar dan sejumlah ketua senat mahasiswa dari masing-masing fakultas bersepakat untuk menyelamatkan muka rektor dan kampus Unhas serta juga pimpinan daerah Sulawesi Selatan.

       Isi kesepakatan adalah melarang Rektor Amiruddin menerima kunjungan Menteri Daud Jusuf. Para pemimpin mahasiswa tersebut kemudian mendatangi dan membangunkan rektor dari tidurnya saat Kota Makassar memasuki waktu dinihari. Setelah bersitegang, saran Ansar dkk diterima. Alhasil, Daud Jusuf meninggalkan Makassar tanpa menginjak kampus Unhas.

       Sepintas lalu Ansar berpenampilan tenang dan penuh perhitungan bila ia berbicara. Sebagai seorang mahasiswa kedokteran tentu saja ia selalu berpakaian rapi. Kepribadian itu yang membuat Amiruddin segera memahami aspirasi dan tuntutan mahasiswa Unhas ketika disampaikan oleh Ansar dkk.

       Kematangan berpikir dan kearifan bertindak menjadi modal besar bagi Ansar ketika ia memulai pengabdiannya dengan jabatan sebagai Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Ladongi, Kabupaten Kolaka. Peran dokter Puskesmas diembannya  dua tahun setelah diwisuda tahun 1984.

       Ladongi adalah kawasan permukiman transmigrasi berjarak 30 km dari jalan poros Kendari-Kolaka (173 km). Kondisi jalan masuk Ladongi ketika itu masih sangat sulit dilalui kendaraan bermotor pada musim hujan. Kondisi kesehatan masyarakat, baik pendatang (transmigran) maupun penduduk local, juga masih sangat buruk.

       Faktor lingkungan juga ikut memengaruhi kesehatan  masyarakat. Kecuali penyakit yang umum diidap masyarakat miskin, Ansar juga sering menghadapi pasien gawat akibat serangan hewan liar, seperti buaya, anoa, ular, dan sebagainya. Ia pernah agak panik menangani kasus tetanus. Pasiennya sudah kejang-kejang. “Saya terpaksa lari ke Kendari (ibu kota Provinsi Sultra) mengambil obat. Alhamdulillah, korban bisa tertolong”, tutur Ansar. Ladongi terletak kurang lebih 150 km barat Kendari.

       Upaya pertolongan paling mengesankan Ansar sebagai dokter Puskesmas di Ladongi adalah pemulihan kasus alergi obat. Pasien itu mendadak koma setelah disuntik salah seorang perawat. Ansar mengambil tindakan dengan menyuntikkan obat penawar melalui pembuluh darah. Namun, pasien itu tak bereaksi. Ansar kemudian menyuntikkan obat lagi langsung ke jantung pasien. “Saya pegang nadinya, jantungnya mulai berdenyut”, tuturnya.

       Pengalaman unik lain adalah penyelamatan seorang ibu bersalin. Ketika kepalanya mulai nongol sang bayi tak mau terdorong keluar, kendati ibunya telah mengeluarkan hampir seluruh energi yang dimilikinya.  Dengan penuh percaya diri Ansar segera mengambil tindakan: kepala bayi itu dijepit dengan sebuah alat sederhana lalu ditarik perlahan-lahan. Proses persalinan dramatis itu kemudian berakhir dengan sukses, ibu dan bayinya selamat!

       Dalam perjalanan kariernya Ansar yang kini menjabat Kepala Biro Kesra Sekretariat Pemerintah Provinsi Sultra tidak sepi dari tantangan. Ketika ditarik dari penugasan di Puskesmas ke Kantor Wilayah Depkes Sultra untuk menduduki jabatan struktural eselon IV, ia mendapat tugas tambahan memberantas penyakit kusta. Maka ia pun terjun ke pelosok-pelosok Sultra untuk berburu orang berpenyakit kusta. Terkait tugas tersebut ia pernah dikirim ke India melakukan studi banding tentang cara pengobatan dan pemberantasan penyakit kulit tersebut, selama beberapa bulan.

       Ansar lahir di Lasusua tanggal 12 Desember 1955. Bersama tokoh Kolaka Utara lainnya ia ikut memperjuangkan pemekaran daerah penghasil cokelat dan cengkeh itu menjadi kabupaten baru. Keberhasilan perjuangan tersebut mengantarkan Ansar ke jabatan politik. Ia  dipercaya pemerintah sebagai Penjabat Bupati Kolaka Utara. Ibu kota kabupaten ini adalah tempat kelahirannya sendiri.

       Ia kembali ke provinsi setelah menunaikan tugas sebagai Pj Bupati selama setahun. Ansar pun ditunjuk sebagai Kepala Unit Transfusi Darah RS Palang Merah Indonesia Kendari. Selain menata organisasi agar berfungsi optimal, ia juga melakukan perbaikan gedung UTD. Di RS PMI Kendari Ansar bukan orang baru. Setelah bertugas sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka ia ditunjuk sebagai direktur rumah sakit tersebut. Dalam masa penugasan yang relatif singkat (2001-2002), ia melakukan renovasi bangunan RS PMI Kendari, menata ruang –ruang perawatan seperti kamar operasi, kamar rawat inap. Beberapa kamar rawat inap diberi mesin pendingin udara (air condition).

       Ansar dikenal sebagai pejabat yang jujur dan memiliki integritas tinggi. Ketika menjadi panitia dan kuasa pengguna anggaran APBD terkait penyelenggaran Pesparawi Nasional di Kendari bulan Juli 2012, ia melakukan serangkaian penghematan dana. Antara lain tidak melakukan pembelian piano baru bagi keperluan kegiatan umat Kristiani tersebut karena penggunaannya bersifat sementara. Alat tersebut disewa saja dari warga. Ia juga menghemat biaya penginapan kurang lebih Rp 1 miliar. Sebagian peserta Pesparawi pulang ke daerahnya lebih awal dari jadwal sehingga kamar hotel tak dibayar penuh. Gubernur Nur Alam sangat mengapresiasi komitmen moral yang ditunjukkan stafnya tersebut.

       Dengan jabatannya sebagai Wakil Ketua PMI Sultra, Ansar diberi amanat oleh Gubernur Nur Alam agar membenahi dan mengembangkan RS PMI Kendari. Amanat tersebut telah direspons dengan baik. Ansar telah menemui Ketua Umum PMI Jusuf Kalla. Alhasil, RS PMI Kendari diberi bantuan dana Rp 1 miliar. Dana ini akan digunakan untuk memperbaiki ruang kamar operasi, penambahan kamar rawat inap berkelas VIP (Very Importen Person), penyediaan ruang dokter dan perawat, serta pembangunan lapangan parker.

       Ansar juga mulai menjalin hubungan kerja sama dengan pihak RS PMI Bogor. Rumah sakit yang dirintis sejak zaman Belanda ini, kini  telah berkembang menjadi rumah sakit modern bersaing dengan rumah sakit yang dikelola investor besar. “RS PMI Bogor akan berperan sebagai bapak angkat bagi RS PMI Kendari”, ujar ayah 4 anak ini.

       Dalam rangka mewujudkan kerja sama tersebut Ansar telah mengunjungi RS PMI Bogor awal bulan September 2012, dan melakukan pendekatan dengan para pajabat rumah sakit tersebut. Sebagai tahap pertama, ia rencanakan mengirim tenaga perencanaan dan manajemen untuk magang di RS PMI Bogor.

       Kepeloporan Ansar memang tak pernah mengendor. Ia mensponsori pendirian Akademi Perawat Avicena yang kini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan kesehatan elite dan megah di Kendari. Karena berbagai kesibukan Ansar tidak berambisi menjadi orang Nomor 1 di kampus tersebut. Ia berharap agar manajemen Avicena dikelola secara profesional, jujur,  dan transparan.

Sukses Ansar tidak hanya dalam pengabdian masyarakat tetapi juga dalam kehidupan keluarga. Jamilah, gadis Gowa yang dinikahinya tak lama setelah menyelesaikan studi kedokteran telah memberinya empat putra-putri. Mereka adalah Eka Srikandiputri (lulusan STPDN Jatinangor), dokter Dewi Nugrawati (Unhas), Tri Nursatria SH (Unhalu), dan Muhammad Asrul (masih kuliah di Teknik Sipil Unhas). ***

==================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>