Robohnya Pabrik Jambu Mente

Salah satu unit pabrik jambu mente di Sidoarjo, Jawa Timur. Kacang mente dalam proses pengeringan secara mekanis. Foto Yamin Indas

DUA WANITA sedang mengupas jambu mente. Wanita pertama kedua tangannya menekan pisau kacip dengan cermat agar tidak tembus ke daging kacang mente, dan yang lainnya langsung menyambar lalu memisahkan kacang itu dari kulitnya yang liat. Beberapa karyawan lain tenggelam dengan tugas masing-masing. Ada yang membuka karung berisi jambu gelondong, ada yang menyusun karung kosong, dilipat kemudian ditempatkan di sudut.

Di ruangan luas mirip aula salah satu unit gedung pengolahan jambu mente di Pasuruan itu tampak agak lengang. “Dulu, di ruangan ini banyak pekerja. Kegiatannya selain mengupas jambu mente, juga menyortir biji kacang dan selanjutnya dikirim ke mesin pengering di unit lain”, tutur Sumiati, salah satu dari dua wanita tadi.

Di luar gedung, juga tidak begitu ramai kendaraan keluar masuk kompoleks pabrik. Kompleks ini terletak di Desa Karangrejo, di tepi Jalan Raya Surabaya – Malang (95 km). Desa Karangrejo sendiri hanya sekitar 40 km tenggara Kota Surabaya. Instalasi industri jambu mente di desa ini menempati 2 dari 3 hektar tanah milik Sekar Alam Group, perusahaan yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Tenggara, lebih khusus lagi para petani jambu semenjak tahun 1960-an.

Bahkan, bagi petani di Kabupaten Muna dan Buton nama Sekar Alam nyaris melegenda. Dua kabupaten kepulauan itu melengkapi empat pilar pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara bulan April 1964. Dua kabupaten lainnya adalah Kendari dan Kolaka. Saat ini Provinsi Sultra telah berkembang menjadi 14 kabupaten/kota.

Sekar Alamlah yang membina petani jambu mente setempat sehingga mereka memiliki keterampilan mengolah jambu gelondong menjadi kacang mente. Kacang mente yang rasanya gurih itu merupakan suguhan berkelas di restoran-restoran elite kota-kota besar di dalam dan luar negeri.

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, kacang mente mengandung nutrisi dan energi yang tinggi. Bahkan dikatakan bahwa kacang mente dapat memantu mencegah penyakit ginjal dan memecah batu empedu.

Selain mengolah jambu mente gelondong, instalasi kompleks pabrik di Karangrejo juga menyuling minyak pelumas dari limbah kulit mente. Minyak itu disebut CNSL (cashew nut shell liquid) yang dimanfaatkan sebagai bahan minyak rem pesawat terbang dan belakangan juga digunakan sebagai lem atau perekat perabot rumah tangga (furniture).

Di era tahun 1980-an hingga 1990-an, industri mente di Karangrejo (Pasuruan) mengalami masa kejayaan. Pada masa Orde Baru itu barang mentah hasil pertanian dan kehutanan tidak boleh di eskpor sebelum berubah bentuk menjadi produk olahan. Tujuan pemerintah mulia, untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan untuk mengembangkan industri dalam negeri. Dampak positif lebih nyata adalah terbukanya kesempatan kerja yang semakin luas baik di pedesaan maupun di kota-kota.

Iklim itu yang dimanfaatkan Sekar Alam Group. Rangkaian pabrik di Pasuruan kemudian diperluas sampai ke Wonogiri, Rembang, dan Kediri. Tidak kurang dari Presiden Soeharto yang datang ke Pasuruan dalam tahun 1990 untuk meresmikan perluasan pabrik tersebut. Ketiga lokasi pabrik perluasan itu menampung produksi jambu mente dari daerah-daerah sekitarnya. Adapun Pasuruan adalah untuk menampung jambu mente dari Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan daerah-daerah penghasil lainnya.

Semua instalasi industri jambu mente tersebut dikelola PT Bumifood Industry, anak perusahaan Sekar Alam Group. Kelompok bisnis ini mengelola sekitar 60 anak perusahaan, termasuk pusat industri terpadu yang memproduksi bahan makanan dari hasil pertanian dan perikanan di Sidoarjo, Surabaya.

Akan tetapi masa berkilau industri mente PT Bumifood Industry berangsur memudar seiring perubahan politik yang ditandai tumbangnya rezim Orde Baru digantikan era reformasi yang realitasnya adalah liberalisasi di bidang politik dan ekonomi.

Liberalisasi ekonomi berkiblat kepada WTO (World Trade Organisation) yang dikendalikan negara maju. Negara berkembang seperti Indonesia, misalnya, diberi tekanan agar membuka diri dalam pemasaran hasil pertanian. Salah satu dampaknya adalah dibukanya kran ekspor barang mentah seperti jambu mente, kakao, rotan asalan, dan lain-lain.

Jambu mente gelondongan oleh rezim Soeharto dilarang ekspor untuk menghidupkan industri yang didorong perkembangannya menuju era industrialisasi. Industrialisasi terutama yang mengolah hasil pertanian merupakan peluang besar bagi petani Indonesia yang umumnya masih tradisional, untuk memasuki tahap pertanian modern. Usaha tani dilakukan dengan sistimatis mulai dari pengolahan lahan hingga masa petik dan jual berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi: efisien dan meraih sebanyak-banyaknya keuntungan.

Boleh jadi pemerintah sekarang tidak memahami tujuan mulia dari arah kebijakan pembangunan pemerintahan Orde Baru sehingga ikut larut dalam kancah pasar bebas dunia, tanpa melihat dampak negatif terhadap kehidupan petani. Petani kembali bekerja dengan pola lama, tradisional.

Maka industri jambu mente di Jawa kini dalam situasi sulit. Bahan baku jambu mente gelondong direbut pengusaha yang terjun membeli langsung ke petani untuk diekspor dalam keadaan mentah. Pabrik di Sidoarjo dan tempat-tempat lain terpaksa beroperasi jauh di bawah kapasitas. “Paling tinggi hanya bekerja 20 persen dari kapasitas”, tutur Tirtowibowo, Plant Manager PT Bumifood Industry.

Banyak warga masyarakat ikut sengsara. Menurut Tirto, perusahaannya melibatkan sekitar 11.000 tenaga kerja, umumnya wanita. Belakangan tinggal sekitar 500 orang. Bila bangunan pabrik dan mesin terlampau lama menganggur, maka robohnya industri jambu mente tinggal menunggu waktu.

Jambu mente mentah Indonesia lebih banyak di ekspor ke India. Komoditas tersebut diolah dalam rangka memberikan lapangan kerja rakyat miskin di anak benua itu. Ironinya, kacang mente hasil olahan India dieskpor kembali ke Indonesia. Keadaan itu dianggap wajar saja oleh pemerintah dan elite bangsa kita.

Pemerintah sekarang niscaya tahu jalan keluar dari kesulitan yang mendera industri jambu mente di Jawa. Namun, komitmen mereka untuk mensejahterakan rakyat hanya sebatas bibir belaka, lip service. Yang diurus pencitraan, kemudian menguras uang hasil pajak rakyat secerdik mungkin agar tak terdeteksi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kami melihat, ada dua hal yang membuat industri mente di dalam negeri terancam gulung tikar. Yang pertama, uraian panjang lebar tulisan ini dan di tulisan lain berjudul “Sekarat, Industri Mente di Dalam Negeri”.

Ihwal yang kedua menyangkut volume produksi yang makin merosot. Keadaan ini menurut Kepala Dinas Perkebunan & Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara, Ir Bambang MM, disebabkan usia tanaman semakin tua, dan kurangnya pemeliharaan oleh petani pemilik kebun. Kebun tidak dibersihkan, tidak dipupuk, tidak dipangkas, dan tidak dijarangkan sejak tanaman masih remaja. “Maklum, petani subsisten”, ujar Kadis berumur 48 tahun dan tampak kreatif itu.

Kadis Perkebunan & Horti Sultra Ir Bambang MM. Foto Yamin Indas

Dia pun memaparkan rencananya untuk meremajakan tanaman jambu mente. Sultra adalah pionir di bidang perkebunan komoditas unggulan itu. NTT dan NTB mendatangkan bibit dari Sultra sehingga kedua provinsi itu juga menjadi penghasil jambu mente terbesar setelah Sultra. Luasan kebun rakyat di Sultra mencapai 117.598 hektar. Total produksi sekitar 15.000 ton gelondong setahun. Produktivitas per hektar 170 kiligram. Sebelumnya, di era 1980-an hingga 1990-an, 1-2 ton per hektar.

Bambang tidak akan menganjurkan rakyat membuka kebun baru dalam rangka peremajaan. Tanaman tua yang ada dipotong dengan gergaji mesin sampai sekitar satu meter tingginya dari tanah. Tonggak itu akan bertunas. Nah, tunas itulah yang akan dirawat hingga berbuah sebagaimana pohon induknya pada musim sebelumnya. Perawatan paling penting dilakukan petani adalah pemupukan, penjarangan pohon, dan penyemporotan hama penganggu tanaman jambu mente.

Gagasan Bambang ini disambut baik oleh Tirtowibowo. Plant Manager PT Bumifood Industry tersebut menyatakan ingin bekerja sama dengan Dinas Perkebunan & Hortikultura Sultra dalam usaha peremajaan tanaman jambu mente di Sultra. “Kita menunggu peran apa yang bakal kita kontribusikan demi kepentingan petani jambu mente di Sultra”, ujarnya melalui telepon dari Sidoarjo. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>