Sekarat, Industri Mente di Dalam Negeri

Pasuruan, Jawa Timur, adalah salah satu lokasi pabrik pengolahan mente terpadu milik Sekar Alam Group. Namun pabrik ini dalam keadaan mega-megap akibat kesulitan bahan baku. InI dampak dari kebijakan mengizinkan ekspor jambu mente mentah alias gelondongan oleh pemerintah semenjak era reformasi. Foto Yamin Indas

       Pemerintah seringkali tidak konsisten. Sejumlah industri pengolahan jambu mente di Jawa saat ini dalam kondisi sekarat akibat kesulitan bahan baku. Padahal, para investor senantiasa didorong agar membangun industri pengolahan produksi pertanian menjadi bahan jadi atau bahan setengah jadi dalam rangka mendapatkan nilai tambah.

       Pekan lalu kami meninjau industri jambu mente di Pasuruan, 40 km tenggara Surabaya, Jawa Timur. Rangkaian pabrik di sana dalam keadaan megap-megap. Pangkal masalahnya: kebijakan pemerintah yang membolehkan ekspor jambu mente gelondongan. Pasar kemudian didominasi eksportir dari India. Poduksi jambu mente mengalir ke tangan eksportir tersebut. Mereka terjun langsung ke sentra-sentra produksi, termasuk di Sulawesi Tenggara. Mereka menyisir dan nyrais tak menyisakan jambu gelondong bagi industri di dalam negeri.

       Dari kalangan pengusaha pabrik jambu mente kami mendapat keterangan bahwa proses dibukanya kran ekspor jambu mente gelondongan beraroma korupsi. Modusnya sama dengan kasus impor daging sapi. Seorang anggota DPR berkolusi dengan eksportir. Anggota Dewan itu lalu melobi menteri terkait.  Di sini ada kompensasi pengaruh. Nilainya  tentu besar, seperti halnya yang dinikmati Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden Partai Keadilan Sejahtera dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Tetapi korban jatuh jauh lebih besar. Di Pasuruan saja, pabrik jambu mente yang dipadukan dengan pengolahan kulit mente menjadi minyak pelumas, CNSL (cashew nut shell liquid), kini menunggu waktu untuk berhenti berproduksi secara total. Mesin pabrik mulai dirayapi karat, berangsur menjadi besi tua, dan akhirnya nanti ambruk.

Karyawan pabrik jambu mente di Pasuruan, 40 km selatan Kota Surabaya. Mereka bekerja dengan tekun. Namun, bila pemerintah tidak segera membuat kebijakan protektif, karyawan ini terancam kehilangan pekerjaan. Foto Yamin Indas

Di lain pihak, petani kembali ke zaman baheula, petani subsisten meminjam istilah Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultra Sultra Ir Bambang MM.  Mereka memungut biji jambu setiap hari dan selanjutnya ditimbang. Harganya dibayar tunai oleh kaki tangan eksportir India. Setelah itu petani menganggur, atau setengah menganggur. Begitulah yang terlihat dan terjadi di Sulawesi Tenggara.

Sebelum pasar lokal dikacaukan eksportir India, petani jambu mente menikmati kenaikan pendapatan dari nilai tambah yang diperoleh. Rangkaian kegiatan pasca panen mulai dari pemungutan biji dari kebun, pengangkutan, penyeleksian biji, penjemuran hingga pengolahan secara manual dengan alat kacip. Kegiatan ini melibatkan seluruh anggota keluarga, bahkan juga sesama warga desa. Setelah menjadi kacang, dikemas kemudian dijual dengan harga naik beberapa kali lipat.

Sebagai gambaran, di musim panen tahun ini harga gelondong sekitar Rp 13.000 per kilogram kualitas satu. Setelah diolah menjadi kacang harganya menjadi sekitar Rp 80.000 per kilogram.  Peluang inilah yang hilang akibat praktik kolusi elite politik dan pengusaha Jakarta.

Pabrik jambu dan minyak pelumas CNSL di Pasuruan mengandalkan bahan baku dari Sultra. Secara nasional, provinsi ini adalah penghasil jambu mente terbesar, menyusul NTT, NTB, Jawa Timur, dan lainnya.  Menurut Ir Bambang MM, luasan tanaman jambu mente rakyat di Sultra tercatat 117.598 hektar. Produksi gelondongan mencapai 14.996 ton setahun. Produksi ini memang agak jauh menurun karena tanaman kurang dirawat, selain karena usia tanaman juga sudah tua.

Menurut Plant Manager PT Bumifood Industri Pasuruan, Tirtowibowo S (57), pabrik di Pasuruan berkapasitas 30.000 ton  mente gelondong setiap hari. Pabrik tersebut berproduksi jauh dari kapasitas yaitu tinggal 20 persen. Tenaga kerja yang dilibatakn (dipekerjakan) juga
menyusut tajam dari 11.000 orang setiap hari menjadi sekitar 500 orang.

Pabrik di Pasuruan juga mengolah limbah kulit mente menjadi minyak pelumas CNSL. Produk ini otomatis juga menyusut, kendati ada suplai dari pabrik mente lain milik PT Bumifoof Industri di Wonogiri (kapasitas 15 ton), Rembang (7 ton), dan Kediri (5 ton). Minyak pelumas CNSL dimanfaatkan antara lain sebagai minyak rem pesawat terbang.

Di ruang lobi pabrik di Pasuruan menempel pigura sebuah prasasti yang ditandatangani Presiden Soeharto pada tahun 1990. Pak Harto saat itu meresmikan perluasan pabrik pengolahan jambu mente yang dikelola PT Bumifood Industri, salah satu unit usaha Sekar Alam Group. Beragam penghargaan dari Presiden Soeharto telah diterima pimpinan kelompok beromzet penjualan trilyunan itu.

Sekar Alam Group mengelola sekitar 60 unit perusahaan dengan bisnis inti (core bussines) bahan makanan seperti kerupuk udang sidoardjo yang terkenal di berbagai belahan dunia.

Terapkan Bea Keluar

Ekspor jambu mente gelondong barangkali memang sudah sulit dihentikan di bawah tekanan rezim organisasi perdagangan dunia (WTO) dewasa ini. WTO yang dikendalikan negara maju terus menekan negara berkembang agar lebih membuka diri dalam perdagangan hasil pertanian tanpa mempertimbangkan nasib petani yang merupakan, mayoritas dari 260 juta penduduk Indonesia.

Satu-satunya jalan keluar dan ini harus dilakukan untuk menyelamatkan industri mente di dalam negeri dan profesionalisme serta income petani yang hilang, adalah menerapkan kebijakan bea keluar (BK) seperti komoditas lain. Artinya, ekspor jambu mente gelondongan dikenakan pajak ekspor tinggi, katakanlah sampai 20 persen.

Pemerinah daerah provinsi atau kabupaten/kota bisa juga menahan laju ekspor jambu mente mentah dengan cara memungut retribusi atau pajak hasil pertanian. Pungutan itu dibebankan kepada setiap kilogram jambu mente gelondongan yang akan keluar dari Sulawesi Tenggara, baik untuk antarpulau maupun ekspor. Kebijakan ini sangat realistis bagi peningkatan pendaatan asli daerah daripada berburu calon investor tambang nikel yang hasilnya tak jelas bagi rakyat. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>