Dari Belgia ke Tinanggea

Harrison Iyawan. Foto: Yamin Indas

HARRISON tidak lagi menemui kesulitan sedikitpun ketika kuliah di luar negeri. Bahasa Inggris yang menjadi kendala utama bagi kebanyakan pelajar dan mahasiswa di Tanah Air, telah dikuasai anak Sidoarjo, Jawa Timur, ini.  Pasalnya, selama bersekolah di pendidikan menengah mulai SMP hingga SMA, Harrison dipaksa harus  pandai berbahasa Inggris. Sebab dalam kegiatan belajar mengajar tidak dipergunakan bahasa lain kecuali bahasa Inggris. Semua buku pelajaran dalam bahasa Inggris. Maklum, semua itu berlaku di Singapura.

       Tujuan utama Harry Iyawan menyekolahkan anaknya ke SMP-SMA di Singapura, ya itu tadi, agar Harrison menguasai bahasa Inggris sampai ke sumsumnya. Orangtua seperti Harry patut dicontoh. Mengirim anak belajar ke Singapura ada target. Bukan buat pamer, apalagi hura-hura.

       Maka ketika Harrison kemudian belajar di Eropa, tepatnya di Institute European University Belgia, semua program studi dilahap seperti makan pisang goreng. Anak kedua pasangan Harry dan Jeanne tersebut dikirim ke Eropa untuk belajar ekonomi, juga ada target. Harrison diharapkan menjadi yang terbaik di antara generasi kedua atau ketiga dari dinasti kerajaan bisnis Sekar Group di Surabaya.

       Sekar Group adalah semacam holding company dari beberapa perusahaan yang mengelola industri pertanian dan perikanan. Di antaranya PT Sekar Alam, PT Sekar Bumi, PT Sekar Laut, PT Ifishdeco, PT Pangan Lestari, dan Finna Golf. Perusahaan yang pertama telah bergerak di Sulawesi Tenggara sejak tahun 1960-an, tepatnya di Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton. Provinsi ini terbentuk pada bulan April 1964 yang meliputi empat kabupaten sebagai pilar. Dua ,lainnya adalah Kendari dan Kolaka.

Di dua kabupaten itu Sekar Alam menggandeng petani untuk mengolah  biji jambu mete menjadi kacang mete. Petani diberikan alat-alat pengolahan. Penghasilan petani pun naik  beberapa kali lipat.

       Di kalangan pimpinan senior Sekar Group, Harrison – ponakan mereka – memang disebut-sebut bakal menjadi top manager di kelompok itu. “Kita dorong anak-anak muda untuk tampil mulai sekarang”, ujar Harry Fong, paman Harrison dalam suatu kesempatan di Jakarta. Figur yang dimaksud Harry Fong adalah Harrison.

       Harrison orangnya supel dalam pergaulan. Bila membaca sesuatu nalarnya  bekerja sehingga lebih melihat pada apa yang tersirat. Ketika ngobrol dengan saya di restoran Hotel Horison Kendari awal minggu kedua bulan November 2013, pria berumur 39 tahun itu cukup kreatif mengeksplorasi tema-tema pembicaraan. Tetapi dia akan lebih bersemangat tatkala pembicaraan menukik ke perihal kesejahteraan karyawan dan penduduk yang hidup di sekitar tambang.

       Dia memang Direktur Operasional PT Ifishdeco, perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan. Sepulang dari Belgia sekitar 20 tahun silam, Harrison tidak langsung menduduki jabatan strategs seperti sekarang. Ia merintis kariernya di PT Sekar  Bumi.

       Di Tinanggea dia mempekerjakan sekitar 612 karyawan, sebagian besar tenaga lokal. Ditambah dengan tenaga lepas dan pekerjaan-pekerjaan yang dikontrakkan, maka total tenaga kerja yang dilibatkan kurang lebih 1.000 orang. Di antaranya ada yang digaji sampai Rp 15 juta per bulan.  Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan, Harrison membentuk koperasi.

       Usaha koperasi tersebut antara lain menangani pengadaan  bahan makanan untuk konsumsi karyawan, menjual sembako, dan usaha simpan pinjam. Usaha yang terakhir sangat  penting dan perlu karena membantu karyawan yang membutuhkan dana agak besar bagi keperluan keluarga dan rumah tangga. Usaha simpan pinjam itu juga melayani permintaan warga sekitar tambang kendati mereka bukan anggota koperasi.

       Faktor kelangsungan hidup karyawan membuat Harrison merasa sangat terganjal jika pemerintah benar-benar memberlakukan larangan ekspor tambang mentah, termasuk bijih nikel pada tahun 2014 nanti. Kiamatlah bagi karyawan bila hal itu terjadi.

       Namun, Harrison percaya pemerintah pasti bertindak bijaksana. Investor yang terbukti telah merintis pembangunan smelter, bisa saja diberi kompensasi demi kelanjutan proyek smelternya. PT Ifishdeco sendiri sudah membentuk sebuah konsorsium yang menangani pabrik hingga manajemen pengoperasiannya nanti. Perusahaan konsorsium itu adalah PT Bintang Smelter Indonesia (BSI). Harrison sendiri dipercayakan sebagai Presiden Direktur PT BSI. “Tahun 2015 smelter kita yang direncanakan berkapasitas 100.000 ton nickel pig iron per tahun, sudah akan berproduksi”, katanya.

       Semangat Harrison terlihat makin berapi-api ketika bicara soal nasib penduduk di sekitar tambang. Ia menolak keras pendapat yang mengatakan, ketika kegiatan tambang dan industri nikel berakhir maka giliran penduduk yang ditinggalkan akan sengsara. Menurut ayah dua anak ini, justru yang akan terjadi adalah sebaliknya. Ia berkata: “Pada saat tambang dan industri nikel tutup, kehidupan warga di sekitar tambang sudah dalam kondisi mapan secara sosial ekonomi”.

       Alasannya, lanjut Harrison, perusahaan tambang dan industri nikel memiliki kewajiban memberdayakan masyarakat sekitar tambang melalui program CSR (Company Sosial Responsibility) dan Comdev (Community Development).

       Agar manfaat CSR dan Comdev dapat berkelanjutan, Harrison minta pemerintah daerah untuk mengatur dan mengarahkan penggunaan dana dari kedua jenis bantuan itu. Harus diarahkan ke proyek-proyek yang hasilnya akan menunjang kehidupan masa depan, bukan kehidupan hari ini. Tetapi bila dana CSR dan Comdev digunakan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif, maka masa depan memang suram.

       PT Ifishdeco dalam dua tahun terakhir ini telah menyalurkan bantuan CSR dan Comdev bernilai lebih dari Rp 6 miliar. Sasarannya antara lain pemberian beasiswa bagi 50 mahasiswa S1, S2, dan S3, pembuatan sumur bor untuk irigasi persawahan, bantuan 1 unit mobil ambulance untuk Rumah Sakit Kabupaten Konawe Selatan.  Sasaran bantuan tersebut sudah tepat karena terkait peningkatan kualitas sumber daya manusia dan ekonomi.

       Permintaan lain Harrison adalah perlindungan kepada smelter yang akan segera dibangun di Tinanggea. Smelter itu adalah aset dan sumber ekonomi nyata yang dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi rakyat dan daerah. Karena itu aset tersebut harus dan perlu dijaga kelangsungan hidupnya.

       Setelah 20 tahun kembali dari studi bisnis manajemen di Belgia, Harrison kini menghadapi tantangan lebih berat di Tinanggea. Hubungan harmonis yang diharapkan terjalin antara perusahaan dan masyarakat serta pemerintah daerah akan sangat tergantung warna kepemimpinan Harrison. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>