Ifishdeco Kebut Pembangunan Smelter

Salah satu pabrik pengolahan nikel di China. Smelter seperti ini yang akan dibangun PT Bintang Smelter Indonesia di Tinanggea, Konawe Selatan.

    BELUM ada ketegasan apakah ekspor bijih nikel (ore) benar-benar akan disetop mulai Januari 2014, atau kran ekspor tetap dibuka untuk memupuk modal bagi para investor yang serius akan membangun pabrik pengolahan (smelter) nikel. Di tengah ketidakpastian itu manajemen PT Ifishdeco membulatkan tekad untuk membangun smelter mulai sekarang juga. “Pokoknya dalam bulan November ini kami akan melakukan groundbreaking”, kata  Direktur PT Ifishdeco Harrison Iyawan berapi-api.

     Dengan demikian, di Sulawesi Tenggara saat ini baru dua dari sekitar 449 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan nikel yang tercatat paling serius dan ingin membuktikan komitmennya membangun pabriuk pengolahan nikel. Yang pertama adalah PT Kembar Emas Sultra di Konawe Utara. Perusahaan pimpinan Guntur alias George Hutama Riswantyo ini juga akan memproduksi nickel pig iron.

     PT Ifishdeco bermarkas di Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Sekitar 4 tahun silam, perusahaan itu bikin geger. Sekitar 125 unit alat berat miliknya nyangkut di pelabuhan Kendari karena terjadi miskomunikasi dengan pihak Bea Cukai. Gubernur Nur Alam ikut turun tangan. Maka dilakukanlah upacara pelepasan armada pengeruk tanah nikel itu dari pelabuhan menuju Tinanggea. Konvoi alat berat tersebut cukup panjang sehingga menarik perhatian masyarakat.

     Ifishdeco adalah anak perusahaan PT Sekar Alam yang berpusat di Surabaya. Perusahaan ini nyaris melegenda di Sulawesi Tenggara, terutama di Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton. Sejak tahun 1960-an PT Sekar Alam membina petani jambu mete di daerah itu. Petani dilatih mengolah jambu mete gelondongan menjadi kacang mete. Pengolahan tersebut meningkatkan nilai tambah bagi petani.

    PT Sekar Alam kemudian membuka perkebunan jambu mete di Konawe Selatan dengan bendera PT Ifishdeco. Akan tetapi produksi perkebunan tersebut kurang maksimal karena tanahnya kritis. Lahan tersebut mengandung mineral nikel. Ketika terjadi boom nikel sejak tahun 2000-an, lahan jambu mete itu kemudian dikeruk dan nijih nikelnya di ekspor ke China. Tidak mulus juga urusannya. Sebab tanah hak guna usaha (HGU) perkebunan tidak otomatis bisa diunakan sebagai dasar penambangan nikel. PT Ifishdeco harus bersaing lagi dengan investor lain untuk mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP).

     Ketika pemerintah mengeluarkan larangan ekspor mineral mentah sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009, rata-rata pengusaha pemegang IUP nikel di Sulawesi Tenggara tidak bergeming, cuek. Tak terlihat upaya jatuh bangun untuk segera membangun pabrik pemurnian bijih nikel, tidak terkecuali PT Ifishdeco.

     Tetapi hal itu dibantah Harrison Iyawan. Ia mengatakan, pembangunan industri nikel membutuhkan persiapan matang karena modal yang akan ditanam tidak sedikit. Ada studi kelayakan, analisis dampak lingkungan, dan sebagainya. Selain itu bagi Ifishdeco, memerlukan juga penguatan investasi, antara lain dengan membentuk konsorsium.

     Maka untuk merealisasikan pembangunan smelter di Tinanggea, Konawe Selatan, manajemen PT Ifishdeco mendirikan perusahaan baru yang disebut PT Bintang Smelter Indonesia (BSI). PT BSI adalah sebuah konsorsium dari Finna Group, Pan China Group, dan Tekindo Group. Perusahaan yang disebut terakhir memiliki konsesi nikel di Kecamatan Weda, Kabupaten Maluku Tengah (Maluku Utara). Bila pabrik PT BSI kelak kekurangan bahan baku (ore), maka Maluku Utara siap untuk memasok.

     Adapun smelter yang akan dikebut pembangunannya oleh PT BSI direncanakan berkapasitas 100.000 ton nickel pig iron per tahun. Dengan investasi sekitar 100 juta dollar AS proyek itu ditargetkan selesai tahun 2015, dikerjakan dua tahap. Pembangunan smelter tahap pertama diharapkan mulai berproduksi pada akhir tahun 2014.

     Menurut Harrison, modal tersebut bertsumber dari dana equity dan juga dana sindikasi. Smelter itu akan menggunakan energi batu bara. Sedangkan konstruksi dan mesin pabrik didatangkan dari China. Baik rakitan konstruksi maupun mesin diupayakan agar tiba di Indonesia dalam semester pertama 2014.

     Nickel Pig Iron (NPI) yang akan diproduksi PT BSI berkadar minimal 10 persen nikel. Produk ini merupakan bahan baku utama industri baja tahan karat (stainless steel). Smelter NPI tersebut membutuhkan sekitar 1.000 tenaga kerja. PT Ifishdeco sendiri saat ini juga mempekerjakan sebanyak 612 karyawan yang umumnya tenaga lokal.

     Kehadiran usaha pertambangan dan industri nikel di Tinanggea, pertumbuhan sosial ekonomi akan terdorong lebih cepat. Peluang masyarakat sekitar untuk memasarkan produksinya makin terbuka lebar. Karyawan pertambangan dan industri yang ribuan jumlahnya itu membutuhkan bahan makanan seperti beras, ikan, daging ayam, daging sapi, telur, dan sebagainya. Oleh karena itu, masyarakat sekitar kini gilirannya ditantang untuk lebih giat bekerja dan meningkatkan produksi agar mampu memasok kebutuhan bahan pangan tersebut.

     Bantuan bersifat langsung dari PT Ifishdeco selama ini disalurkan melalui program CSR (Company Social Responsibility) dan Comdev (Community Development). Bantuan itu meliputi antara lain pembangunan jembatan, pembuatan sumur bor untuk irigasi pertanian, pembangunan rumah-rumah ibadah. Dana Comdev sendiri telah disalurkan sekitar Rp 960 juta dalam dua tahap. “Ada 25 desa di sekitar tambang yang kami bina”, tutur Harry Fong, pimpinan senior PT Ifishdeco.

     Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian PT Ifishdeco. Tugas mulia itu diwujudkan melalui bantuan satu unit kendaraan ambulance untuk Rumah Sakit Umum Kabupaten Konawe Selatan, dan penyediaan air bersih bagi warga di beberapa desa berupa sumur bor.

     Bantuan yang sangat signifikan bagi peningkatan kualitas SDM adalah pemberian beasiswa bagi sekitar 100 mahasiswa S1, S2, dan S3. Para peserta berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. Bantuan ini direalisasikan melalui kerja sama PT Ifisdeco dengan Universitas Haluoleo.

     Seperti dijelaskan Harry Fong, PT Ifishdeco memiliki filosofi bisnis yang bunyinya begini: “Mari kita berdayakan sumber daya di sekitar kita sebagai upaya untuk turut mensejahterakan dan memamkmurkan sumber daya manusia di sekitarnya, dan mari kita selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa”. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>