Tajuk Rencana

Berantas Gejala Markus

KASUS pembunuhan dua ibu rumah tangga di wilayah hukum Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara sangat merobek rasa kemanusiaan dan keadaban. Kedua ibu tersebut: Wendy Evelyin  (33) dari Medan (Sumatera Utara)  dan ponakan suaminya Nur Hasanah (27)    dari Jakarta dicekik lehernya di dalam mobil hingga tewas.  Para pelaku telah ditangkap termasuk otaknya Andi Samsuddin.

Wendy berada di Kendari awal September lalu untuk  mengurus penangguhan penahanan suaminya, El Fahmi, di Polda Sultra. Wendy ditemani Nur Hasanah yang tinggal di Jakarta.

Di tangan Wendy diketahui ada uang  sebanyak Rp 500 juta yang disiapkan untuk mengurus penangguhan penahanan itu. Wendy telah menyerahkan uang sejumlah Rp 300 juta melalui Andi Samsuddin yang disebut-sebut  sebagai pengacara. Namun, sebelum Polda Sultra menangguhkan penahanan suaminya, Wendy dan Nur Hasanah pada tengah malam dijemput Andi Samsuddin dkk di penginapan. Mereka naik di mobil  yang berbeda. Saat berputar-putar di Kota Kendari  mereka dicekik. Mayat Wendy kemudian dibuang ke sebuah hutan di  Konawe Utara, sedang mayat Nur Hasanah ke hutan Meluhu, Kabupaten Konawe.

Kita patut mengapresiasi keberhasilan Polda Sultra menangkap para pelaku pembunuhan tersebut dalam waktu kurang dari satu bulan. Dari keterangan para pelaku kemudian terungkap fakta dan urutan kejadian hingga latar belakang pembunuhan.

Namun, ada yang menarik dan perlu dicermati dari kasus ini, gejala makelar kasus (markus). Ada hubungan yang terbangun antara pihak Polda Sultra dan keluarga tersangka El Fahmi. Yaitu antara aparat terkait di Polda Sultra dan Andi Samsuddin.

Melalui mediasi itulah terjadi negosiasi dan kesepakatan tentang syarat yang harus dipenuhi pihak keluarga tersangka agar penahanan dapat ditangguhkan. Syarat itu adalah tersedianya sejumlah uang yang harus diserahkan kepada aparat terkait di Polda Sultra melalui Andi Samsuddin. Di sinilah sesungguhnuya kasus pembunuhan itu bermula.

Menurut pengakuan Andi Samsuddin sebagaimana dikutip pers, dia telah menyerahkan uang sebanyak Rp 200 juta kepada seorang pejabat terkait berpangkat ajun komisaris besar di Polda Sultra. Tetapi transaksi itu tidak ditindaklanjuti dengan penangguhan penahanan El Fahmi. Yang terjadi kemudian justru penculikan dan pembunuhan kedua wanita keluarga tersangka El Fahmi.

Dalam kasus pembunuhan tersebut terkesan kuat adanya makelar kasus (markus) yang bergentayangan di sekitar Polda Sultra. Para markus itu tentu tidak bekerja sendirian. Mereka bekerja sama dengan oknum-oknum di lembaga penegak hukum tersebut.

Polda Sultra dengan pimpinan yang baru sekarang ini sangat diharapkan agar memberantas gejala markus di jajarannya. Harus dimulai dengan pengusutan kasus pembunuhan kedua ibu rumah tangga asal Sumatera Utara, itu secara tuntas. Jika kasus ini melibatkan oknum Polri, tidak bisa lain kecuali yang bersangkutan diberi sanksi berat

Kasus ini seyogyanya menjadi momentum bagi  Polda Sultra untuk melakukan upaya pembersihan diri secara menyeluruh. Praktik markus, cegatan dan pungutan liar di jalan, tindakan main hakim sendiri yang terdorong rasa keangkuhan karena memiliki kekuasaan hukum dan bersenjata pula, semuanya harus diberantas dalam rangka membangun citra dan menegakkan wibawa Polri. ****

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>