Petani Kakao Petani Miskin

SIAPA bilang petani kakao (coklat) petani kaya? “Masih tergolong petani subsisten”, ujar Ir Bambang MM (48). Ketika berbincang-bincang dengan saya tentang perkembangan kakao di Sulawesi Tenggara (Senin tanggal 7 Oktober 2013), Bambang baru saja kurang lebih sebulan menjabat Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia menggantikan seniornya Ir H Akhmad Chaidir yang telah menjalani masa pensiun.

Petani subsisten yang dimaksud Bambang tidak lain dari petani tradisional yang nilai produksinya hanya cukup untuk menyambung hidup. Persoalannya menjadi gawat karena sekitar 35 persen penduduk Sultra adalah petani kakao, setidak-tidaknya menjadikan kakao sebagai salah satu komoditas dari pola pertanian campuran. Penduduk Sultra saat ini kurang lebih 2,6 juta jiwa.

Ir Bambamg MM, Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara. Muda dan memahami permasalahan petani. Foto Yamin Indas

Jika demikian halnya, maka seharusnyalah masalah tersebut diberi perhatian. Artinya, bupati dan gubernur harus tanggap lalu melakukan langkah-langkah konkret penyelamatan petani kakao dari tekanan kondisi hidup pas-pasan itu. Idealnya, mereka segera membuat peta permasalahan, disusul penyusunan program penanganan, baru kemudian tindakan (aksi) di lapangan. Respons yang cepat penting dilakukan mengingat posisi Sultra sebagai salah satu sentra kakao di Indonesia. Lebih dari itu, kakao merupakan kekuatan ekonomi rakyat di Sultra selama hampir empat dasawarsa terakhir. Sultra adalah eksportir kakao baik dalam bentuk gelondongan maupun setengah jadi, kendati harus melalui pelabuhan Makassar di Sulawesi Selatan. Maka, kakao pun menjadi brand image provinsi ini.

Hingga era 1990-an petani kakao di Sultra, terutama di Kolaka Utara, masih berjaya. Tingkat produktivitas masih tinggi, sekitar 1,5 ton per hektar setahun. Organisme pengganggu tanaman (OPT) juga belum menjadi kendala yang merisaukan petani. Harga di tingkat petani senantiasa terkoreksi oleh harga di pasar dunia. Maka di era itu berlaku ungkapan: Petani Cokelat Petani Kaya. Kondisi sosial ekonomi petani yang terlihat mapan menjadi alasan untuk membenarkan ungkapan itu. Salah satu fakta tak terbantahkan adalah mekarnya Kolaka Utara menjadi daerah otonom, kabupaten baru. Fundasi ekonominya adalah perkebunan kakao rakyat.

Hama dan tanaman tua

Namun, perkebunan kakao rakyat ternyata juga mengalami pasang surut. Ketika penggerek buah kakao (PBK), busuk buah, dan hama lainnya menyerang tanaman kakao, petani pada awalnya nyaris tak berdaya. Produksi dan produksivitas anjlok hingga ke titik terendah. Keadaan itu diperburuk lagi oleh usia tanaman yang semakin tua.

Bagi Bambang yang sejak awal merintis kariernya di Dinas Perkebunan Sultra, persoalan bukan hanya gangguan hama dan usia tanaman. Profesionalitas dan komitmen petani yang masih rendah adalah faktor penting yang memberi kontribusi terhadap keterpurukan usaha perkebunan rakyat dewasa ini.

Menurut alumni Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo tersebut, petani kakao di Sultra belum optimal memelihara tanamannya. Mereka belum menyadari pentingnya tanaman kakao dibuatkan naungan (pelindung) agar tidak diterpa sinar matahari secarang langsung. Pemupukan juga cuma seadanya. Begitu pula pemangkasan, pembuatan rorak , dan sanitasi belum dilaksanakan sesuai petunjuk. Pendek kata, ujar Bambang, kesadaran dan pemahaman petani Sultra tentang teknik budidaya kakao yang baik, masih sangat kurang.

Perilaku dan wawasan petani tersebut dengan sendirinya terbawa pada kegiatan pasca panen. Bambang mengatakan, tidak sedikit petani melakukan panen secara sekaligus dalam waktu tertentu. Semua dipetik termasuk buah kakao yang belum matang. Fermentasi? Hanya sebagian kecil petani kakao melakukan fermentasi. Pasalnya, tanpa fermentasi pun kakao laku juga, kendati dengan harga lebih murah dibanding kakao fermentasi.

Secara terus terang Bambang menyatakan, petani Sultra ikut menyumbang citra buruk Indonesia sebagai penghasil kakao terjelek kualitasnya. Hampir seluruh produksi biji kakao Indonesia, termasuk Sultra, dikenal sebagai kakao asalan, tidak memenuhi standar SNI. Namun demikian, kakao Indonesia tetap dibutuhkan pasar dunia sebagai alternatif kakao berkualitas terbaik dunia dari Pantai Gading dan Ghana, Afrika. Amerika Serikat, misalnya, mengimpor kakao asalan dari Indonesia untuk industri minyak kakao dan bahan makanan ternak.

Lembaga Ekonomi Masyarakat

Alhasil, keterpurukan kakao Sultra baik kuantitas maupun kualitas membuat kehidupan petani terlihat makin getir. Ini menjadi tantangan pimpinan dan aparat Dinas Perkebunan Sultra. Maka sejak masa kepemimpinan Akhmad Chaidir, petani kakao dan petani komoditas lainnya, bahkan seluruh warga desa diajak berhimpun dalam organisasi Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera. Wadah pemersatu tersebut dipandang mampu menciptakan kekuatan dan kemandirian petani.

Dalam upaya meningkatkan keterampilan dan wawasan petani sesuai subsektor yang digelutinya, maka LEM Sejahtera secara demokratis menunjuk pengurus, anggota, atau kadernya untuk mengikuti program pelatihan dan penyluhan yang diadakan instansi terkait. Kader-kader LEM kemudian kembali mentransfer pengetahuan teknis budidaya yang telah dimilikinya ke kelompok masing-masing.
Menurut Bambang, keberadaan LEM Sejahtera mulai menunjukkan terjadinya proses perubahan orientasi petani kepada upaya peningkatan kualitas produksi kakao.

Komitmen untuk memperbaiki teknis budidaya bagi peningkatan kualitas itu mulai terbangun. Dalam rangka pengendalian hama PBK atau busuk buah, misalnya, petani telah dengan sadar membersihkan buah dari pohon kakao untuk dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam. Tindakan itu dilakukan pada saat siklus tanaman kakao sedang tidak berbuah lebat.

Keberadaan LEM Sejahtera juga makin dirasakan petani sebagai sarana penguatan dalam rangka kemandirian. Melalui lembaga LEM, petani dapat menghimpun dana dari para anggota untuk pengadaan kebutuhan sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan, dan lain-lain. Dengan demikian, peranan tengkulak berangsur diputuskan.

Bahkan, melalui LEM petani menjadi mudah berhubungan dengan perbankan dalam rangka mendapatkan kredit untuk biaya produksi. Dengan LEM pula, petani menaikkan posisi tawar dengan mitra dari kalangan industri kakao. Sekarang ini, kata Bambang, siapa yang bisa berteman dengan petani, maka bisa dijamin dia bakal mendapatkan biji kakao.

Dalam kondisi hidup pas-pasan akibat berbagai keterbatasan, petani kakao di Sultra kini secara berangsur mulai bangkit untuk meningkatkan produksi maupun mutu kakao. LEM Sejahtera telah berkembang dan membuktikan mampu menjadi alat bagi penguatan petani tersebut. Akan tetapi, dorongan dan bantuan dari pemerintah masih diharapkan terus mengalir agar petani tidak merasa sendirian menghadapi ber bagai masalah. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>