Sultra Segera Operasikan Smelter Nikel

Smelter nikel di Desa Lameruru, Konawe Utara. Smelter ini akan memproduksi NPI (nickel pig iron), bahan baku utama industri baja tanah karat. Pabrik ini ditargetkan beroperasi mulai Desember 2013. Foto Yamin Indas

INI bukan janji, apalagi pembohongan kepada rakyat. Di Sulawesi Tengara, sebuah smelter berkapasitas sedang, siap dioperasikan pada bulan Desember tahun ini. Industri pengolahan nikel itu dibangun perusahaan lokal  PT Kembar Emas Sultra (KES). Presiden Direktur PT KES adalah anak lokal pula bernama Guntur alias George Hutama Riswantyo.

Pembangunan smelter itu kini tengah dikebut. “Kami bertekad mengoperasikan pabrik tersebut dalam bulan Desember mendatang ini”, ujar Guntur berapi-api. Proyek perintis tersebut didesain untuk memproduksi NPI (nickel pig iron) sejumlah 35.000 ton per tahun. Pabrik akan dikembangkan hingga kapasitasnya menjadi 200.000 ton per tahun pada tahun 2015. Produk NPI adalah bahan baku utama industri baja tahan karat (stainless steel).

Proyek smelter nikel di Lameruru, 200 kilomter utara Kota Kendari, mendapat perhatian rekan bisnis Guntur dari Rusia. Dengan pesawat pribadi Maxine Sokov dan Mathew M Weber, Selasa ( 24 September 2013) meninjau proyek itu, termasuk pelabuhan yang telah dibangun lebih dulu PT KES. Sokov adalah Direktur Rusal & Narilsk Nickel, produsen aluminium terbesar di dunia. Apakah mereka akan ikut berinvestasi pada proyek perluasan pabrik,  Guntur menyatakan, hal itu akan dibicarakan kemudian setelah mereka kembali ke Moskwa.

Proyek smelter nikel yang dibangun PT Kembar Emas Sultra ditinjau pengusaha Rusia, Selasa (24 September 2013). Presdir PT KES dan Direktur Rusal & Narilsk Nickel Maxine Sokov ceria setelah peninjauan itu.Foto Yamin Indas

Dalam perjalanan transit ke Jakarta, Sokov dan Weber sempat bertemu Gubernur Sulawesi Tenggara, Haji Nur Alam SE MSi, di ruang VIP Bandara Haluoleo. Dalam pertemuan selama kurang lebih satu jam, Gubernur Nur Alam memaparkan berbagai potensi daerah yang masih terpendam dan menunggu pemanfaatan melalui kegiatan investasi. Gubernur  yang juga berlatar belakang pengusaha mengundang pengusaha Rusia tersebut untuk mencermati peluang dan kondisi yang dimiliki Sultra.

Buka kedok kebohongan

       Usaha PT KES membangun smelter pengolahan nikel di Sultra patut diapresasi. Pabrik yang dibangun tahap pertama ini memang tergolong kecil dilihat dari dana yang diinvestasikan. Biaya konstruksi pabrik termasuk harga mesin dari China  sekitar 15 juta dollar AS. Biaya eksploitasi dan pengadaan alat-alat berat  serta pembangunan dermaga khusus, totalnya  kurang lebih 11 juta dollar AS. Akan tetapi makna kehadiran smelter tersebut sangat besar bagi pemerintah dan rakyat Sultra.

Pasalnya, hanya PT KES yang mampu membuktikan janjinya. Langkah nyata tersebut sekaligus membuka kedok kebohongan ratusan perusahaan tambang yang beroperasi di Sultra. Mereka menyuap pejabat terkait di pusat dan daerah dalam proses-proses lobi untuk mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) dengan janji akan membangun pabrik pengolahan nikel. Di antaranya ada yang mengklaim memiliki kesiapan dana sampai 6 miliar dollar AS di hadapan seorang menteri koordinator. Namun, janji tinggal janji. Smelter tak kunjung menjadi kenyataan. Yang terjadi adalah pengerukan habis-habisan tanah nikel di atas lahan konsesi mereka. Mereka berpacu dengan waktu karena pemerintah tidak akan mengizinkan lagi ekspor nikel mentah (ore) mulai Januari 2014.

Larangan ekspor ore, juga masih menjadi tanda tanya apakah akan diberlakukan secara konsekuen atau hanya sekadar alat posisi tawar dalam rangka praktek-praktek korupsi. Di sebuah situs internet terbaca keterangan Dirjen Mineral dan Batubara  Kementerian ESDM, bahwa saat ini ada 19 pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) siap dibangun. Namun, boleh  jadi penjelesan tersebut adalah opini yang dibangun untuk meng-excuse  sebuah kebijakan yang akan dikeluarkan untuk mementahkan undang-undang tentang larangan ekspor mineral mentah, termasuk bijih nikel (ore).  Isi kebijakannya bisa diterka: pengusaha yang sudah memulai kegiatannya membangun smelter termasuk yang masih melakukan studi kelayakan, diizinkan terus mengekspor mineral mentah sambil mengebut pembangunan pabriknya.

Sebelum meninggalkan lokasi proyek smelter nikel di Konawe Utara para pengusaha ini berfoto bersama. Dari kanan ke kiri: Guntur, Sokov, Wicahyo Ramoto, seorang pejabat PT KES, dan Weber.Foto Yamin Indas

Pelunakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 itu tentu tidak gratis. Orang awam pun  mafhum, apalagi insan KPK (Komisi Pemberanatasan Korupsi). Sayangnya KPK kini baru menyentuh sektor hulu Migas dengan tersangka baru satu orang pula. KPK  belum merambah ke dunia pertambangan nikel dan mineral lainnya yang banyak melibatkan pejabat kementerian terkait dan para kepala daerah.

Sekali lagi, pembangunan smelter nikel di Lameruru, Kabupaten Konawe Utara, adalah sebuah penegasan tentang pembohongan kepada rakyat Sultra selama ini oleh para perusahaan tambang nikel. Ada 449 perusahaan pemegang IUP di Sultra. Tetapi yang membuktikan kesungguhannya cuma PT KES dan sejak lama PT Aneka Tambang, BUMN. Kurang apa mereka yang katanya bermodal miliaran dollar Amerika Serikat. Tentu ada sesuatu di balik janji-janji kosong. Sesuatu  yang patut memicu perhatian penegak hukum, seperti KPK yang kredibilitasnya tidak diragukan.

Alasan Guntur tampil percaya diri dengan modal hanya sekitar 26 juta dollar AS, cukup ideal dan menggugah integritas serta moralitas para pengusaha tambang nikel yang telah mengantongi IUP. Dia mengatakan, pembangunan smelter  nikel tersebut bukan karena adanya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang melarang ekspor bahan mentah tambang mulai 12014. “Saya merintis itu karena keterpanggilan, dan seharusnya bangsa kita melakukannya sejak lama. Potensi nikel Sultra segera akan lenyap jika terus diekspor secara besar-besaran dalam bentuk mentah oleh para pengusaha yang ingin meraup keuntungan melimpah ruah dalam seketika. Padahal, kalau kita ekspor dalam bentuk setengah jadi banyak keunggulan yang diperoleh. Harga jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dari harga nikel mentah. Selain  itu kegiatan industri nikel juga membuka lapangan kerja bukan saja tenaga kasar melainkan juga tenaga berpendidikan tinggi dan berkualitas. Lebih dari itu potensi nikel tidak bakal segera habis”, ujarnya. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>