Tarian Lumense dari Kayangan

Oleh Abdul Madjid Ege *
Ketua Lembaga Adat Kabaena

Tari lumense untuk tolak bala yang diekspresikan dengan penebangan pisang

  SECARA etimologis lumense berasal dari kata lumee dan eense ( huruf e diucapkan seperti bunyi kata ember, pen) . Lumee berarti mengeringkan atau membuang genangan air. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kabaena di jaman dulu maupun sekarang selalu membersihkan sumur dengan cara lumee agar sumber air itu terhindar dari pencemaran kotoran dan penyakit .
Sedangkan eense dapat diartikan berjingkrak-jingkrak. Jadi pengertian lumense adalah suatu gerakan ritual tertentu yang bertujuan membersihkan diri dari dosa, bala, bencana ataupun penyakit.

Lumense oleh masyarakat tradisional Kabaena digelar pada upacara sesajen yang disebut meoli (sesembahan). Sesajen berisi segala macam makanan yang dipersembahkan kepada makhluk halus yang menjadi penguasa di Pulau Kabaena . Penguasa itu berkedudukan di puncak Gunung Sangia Wita. Dalam kepercayaan animisme masyarakat Kabaena, penguasa itu dianggap memiliki kekuatan yang mampu mencegah wabah penyakit pada musim barat (musim hujan ). Dalam kehidupan nyata, musim hujan selain mendatangkan kebaikan bagi pertanian, sering pula menimbulkan bencana alam atau penyakit .

Bagi orang kesurupan, lumense biasanya juga menjadi obat penawar. Orang yang ditimpa penyakit kejang-kejang itu secara refleks akan segera bangkit berjingkrak-jingkrak bila ditabuhkan gendang lumense . Dan selanjutnya dia pun akan berangsur sembuh dari penyakit tersebut.

KONON, penemu tarian lumense adalah seorang pertapa bernama Woliampehalu. Ia penduduk kampung Tangkeno, Desa Tangkeno sekarang. Desa ini telah ditetapkan sebagai desa tujuan wisata di Kabupaten Bombana oleh Bupati Tafdil tanggal 16 Mei 2013, dengan tagline (slogan): Tangkeno Negeri di Awan. Desa Tangkeno terletak di lereng Gunung Sangia Wita pada ketinggian 650 meter dari permukaan laut (dpl). Puncak Sangia Wita (1.850 M) merupakan atap Sulawesi tenggara di wilayah kepulauan.

Di tempat pertapaan, Woliampehalu sering mendengarkan gendang dan suara hiruk-pikuk manusia dari arah gunung Sangia Wita. Pada suatu saat ia berusaha menemukan pusat “keramaian” tersebut, namun tak berhasil . Ia lalu kembali bertapa selama 8 (delapan) hari kemudian sekoyong-konyong di tempat itu muncul gendang serta beberapa orang pemuda ganteng yang diiringi para penari yang memperagakan gerakan-gerakan menuruti irama gendang yang di tabuh para pemuda tadi. Mereka mengelilingi sebatang pohon pisang.
Hampir bersamaan dengan itu antara mimpi dan tidak, Woliampehalu mendengar suara sayup-sayup yang menjelaskan manfaat gerakan berirama tadi bagi manusia. Dijelaskan pula bahwa penari maupun alat gendang berasal dari wawo sangia (kayangan ).

Seusai pertunjukan, mereka lenyap, kembali ke kayangan . Setelah kembali dari bertapa ia berusaha melengkapi peralatan sesuai apa yang dilihatnya. Ketika itu di negeri Tangkeno dan Kabaena umumnya sering terjadi bermacam- macam bencana, wabah penyakit, dan lain-lain.

Maka sesuai apa yang disaksikannya dari pertapaan, Woliampehalu mencoba mempraktekkan cara pengobatan dengan gerakan-gerakan yang diiringi irama tabuhan gendang. Upacara itu dilaksanakan pertama kali di sebuah bukit tidak jauh dari Tangkeno. Bukit itu kemudian dijuluki Tangkeno Mpeolia.

DI ZAMAN dahulu, lumense tidak diajarkan secara khusus seperti sekarang ini. Penari pada masa itu lahir dengan sendirinya setelah mengalami kesurupan. Begitu ditabuhkan gendang, orang kesurupan itu bangkit dan secara spontan memperaggakan tarian tersebut. Penari yang baru itu disebut wolia.

Menurut tradisi lisan di Kabaena tarian lumense telah berusia kurang lebih 700 tahun. Setelah Islam masuk dan menjadi agama resmi masyarakat Kabaena, pesta adat yang menampilkan tarian lumense jarang diadakan karena dianggap berbau Hindu/Animisme. Tarian ini baru dimunculkan kembali di zaman pembanggunan sekarang ini dalam rangka melestarikan budaya tradisional untuk memperkaya khazanah kebudayaan nasional.
Masyarakat Kabaena di zaman lampau juga diketahui cukup kreatif.

Dari gerakan-gerakan fisik tarian lumense itu kemudian dikreasikan sehingga tari lumense dapat dipadukan dengan tari lulo dengan iringan gendang lumense. Tarian lulo di Kabaena banyak ragamnya. Konon, lulo yang kemudian menjadi tari pergaulan masyarakat Sulawesi Tenggara berasal dari Kabaena.

Gendang tradisional yang mengiringi tarian lumense dan lulo sangat sederhana. Gendang tersebut di buat dari kayu berlubang dengan diameter tertentu. Salah satu ujung lubang tersebut ditutup dengan kulit kambing yang sudah diawetkan. Bila ditabuh ahlinya ,bunyi gendang tersebut biasanya mampu menggerakkan sukma orang tertentu hingga kesurupan . Tak lama kemudian ia akan bangkit berjingkrak-jingkrak mengikuti irama gendang lumense. Maka lahirlah wolia baru yakni penari lumense.

Kini tarian lumense ditampilkan untuk menyambut tamu agung seperti pejabat tinggi ataupun para turis asing yang datang dalam kelompok besar di Kabaena . Biasanya, daerah tujuan para turis itu sebelumnya adalah Pulau Sagori yang menawan. Tetapi sebelum ke pulau mungil berpasir putih itu , mereka diterima secara adat di pelabuhan Sikeli.

Upacara penyambutan tamu dengan tarian lumense mempunyai makna simbolis . Tarian itu merupakan ungkapan doa bagi para tamu agar selamat dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi Pulau Kabaena . Doa tersebut diekspresikan dalam gerakan menebas pohon pisang sebagai simbol rintangan atau bahaya (dicopy paste dari surat kabar mingguan Nusantara Pos edisi Juni 1996)

* Penulis adalah pensiunan Kepala SDN 1 Baliara di Sikeli

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>