Bukan Lagi Warga Negara Biasa

    

Bintang Jasa Mahaputra Utama di dada kiri Gubernur Nur Alam
Foto Kusnadi/Kabag Humas Pemprov Sultra

GEBRAKAN pembangunan Gubernur Nur Alam terlihat nyata hasilnya. Bukan saja rakyat tetapi negara pun mengakui keberhasilan itu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menganugerahkan Bintang Jasa Mahaputra Utama kepada Nur Alam bersama 27 tokoh lainnya dalam suatu upacara di Istana Negara, Selasa 13 Agustus 2013.

    Di layar kaca Nur Alam tampak tenang dan khidmat saat Presiden menyematkan Bintang Mahaputra Utama di dadanya. Ia didampingi istri, Asnawati (Tina) Hamid Hasan. Tiga putra putri mereka: Sitya Giona, Muh Radhan Algindo, dan Enoza Genasty bersama warga Sulawesi Tenggara lainnya larut dalam kebahagiaan  dan kebanggaan ketika mereka menyaksikan momen histroris itu dengan saksama melalui liputan media elektronik.

       Provinsi Sulawesi Tenggara seakan hening, sejenak. Provinsi kaya sumber daya alam ini telah melahirkan tiga tokoh putra terbaik bangsa. Dua tokoh sebelumnya adalah Eddy Sabara dan Alala. Seperti Nur Alam, mereka telah dianugerahi Bintang Mahaputra Utama. Mendiang Eddy Sabara dan mendiang Ir H Alala adalah Gubernur Sultra dua periode. Ketiga tokoh Sultra ini dianggap telah berjasa luar biasa terhadap nusa dan bangsa.

       Nur Alam tidak limbung dengan anugerah Bintang Jasa Mahaputra Utama. Ia mengatakan kepada media di Jakarta, bahwa penganugerahan Bintang Mahaputra merupakan hadiah bagi rakyat Sultra menjelang perayaan 50 tahun usia provinsi tersebut pada 27 April tahun depan. Penghargaan itu juga merupakan akumulasi apresiasi perjalanan panjang pelayanan kepada masyarakat di Sultra yang telah dilaksanakan dengan baik.

       Ia kemudian menyebut beberapa indikator makro keberhasilan pelayanan masyarakat. Antara lain pertumbuhan ekonomi yang mencapai jauh di atas rata-rata nasional yakni 10,41 persen pada tahun 2012. Pertumbuhan nasional hanya sekitar 6 persen. Pada saat ia mengambil kendali pemerintahan dari gubernur sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sultra hanya sekitar 8 persen. Penurunan angka kemiskinan juga cukup signifikan dari 22 persen pada tahun 2007 menjadi 13 persen pada tahun 2012.

Gubernur Nur Alam di depan pers Jakarta seusai menerima anugerah Bintang Jasa Utama di Istana Negara, 13 Agustus 2013. Foto Kusnadi/ Kabag Humas Pemprov Sultra

       Indikator riil terlihat pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sektor pendidikan, misalnya, dari angka partisipasi anak usia sekolah ke  berbagai jenjang pendidikan dasar dan menengah, Sultra melesat jauh meninggalkan 30 provinsi lainnya. Sultra di urutan ketiga setelah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Daerah Istimewa Yogya. Perkembangan tersebut merupakan hasil konkret dari program pendidikan gratis yang dilaksanakan sejak Nur Alam menjabat Gubernur Sultra.

       Kecuali pendidikan gratis, Nur Alam bersama wakilnya Saleh Lasata juga melaksanakan program kesehatan gratis bagi warga tidak mampu hingga rawat inap di kamar kelas III RSU Provinsi Sultra. Paket berikutnya dan ini yang paling popular, ialah bantuan tunai Rp 100 juta setiap desa/kelurahan. Bantuan ini bersifat block grant, warga desa sendiri yang menentukan penggunaan dana tersebut. Block grant, pendidikan dan kesehatan gratis didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.

       Cukup banyak indikasi keberhasilan jika harus disebut satu per satu. Kemajuan di bidang investasi tercatat paling mengesankan. Gubernur Nur Alam yang berlatar belakang pengusaha sangat pro-aktif melobi para investor agar memanfaatkan peluang-peluang di Sultra. Maka, ada yang  berinvestasi di industri perhotelan, properti, ruko dan pusat-pusat belanja di Kota Kendari. Bangunan hotel menjulang kini mulai bermunculan di bibir Teluk Kendari. Banyak orang meramalkan, Kota Kendari dengan latar teluknya yang indah bakal menjadi Hongkong di Indonesia.

       Kehadiran pusat belanja Lippo Plaza di Kendari membuat ibu kota provinsi itu tampak makin prestisius. Adalah faktor kegigihan Nur Alam melobi James Riady, pemilik Lippo Group, sehingga pusat wisata belanja termegah dan padat pengunjung itu hadir memicu dan memacu dinamika warga masyarakat Sultra. Lokasi pasar modern itu tadinya adalah bangunan kantor milik Pemprov Sultra yang kumuh dan menjadi sarang maksiat di malam hari.

       Kepeloporan lain yang patut dicatat ialah pemanfaatan dana Pusat Investasi Pemerintah Kementerian Keuangan. Langkah tersebut dilakukan Nur Alam untuk mengurangi gap yang terlampau lebar antara ketersediaan dana pemerintah dan kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi masyarakat Sultra.

       Menurut Nur Alam, Sultra membutuhkan dana sekitar Rp 6 trilyun untuk pembangunan infrastruktur, agar masyarakat bisa terpacu meningkatkan produksi dan produktivitas. Sedangkan dana yang tersedia setiap tahun hanya sekitar 25 persen, baik dari APBN maupun APBD. Agar jurang tidak terlalu dalam, pemerintah provinsi lantas meminjam dana PIP. Pada awalnya, pinjaman disetujui kurang lebih Rp 200 miliar untuk pembangunan rumah sakit, tahap berikutnya untuk peningkatan kualitas jalan dan jembatan disetujui lagi Rp 100 miliar. Langkah Nur Alam ini kemudian diikuti banyak provinsi lain di Indonesia.

       Target dari program pinjaman tersebut adalah percepatan pemenuhan kebutuhan mendesak. Selain itu untuk mewujudkan efisiensi. Proyek-proyek besar biasanya dikerjakan secara bertahap sesuai ketersediaan dana. Cara seperti itu, masih menurut Nur Alam, menjadi mahal karena tekanan inflasi dan kendala-kendala tak terduga lainnya.

       Penyandang gelar Mahaputra tersebut adalah anak ke-11 dari 12 bersaudara hasil pernikahan Isrun – Fatimah, pasangan keluarga sederhana di Desa Konda, 24 km selatan Kota Kendari. Lahir di desa itu tanggal 9 Juli 1967, Nur Alam menggeluti bisnis kontraktor sebelum terjun ke dunia politik. Ia meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Haluoleo Kendari pada tahun 1993. Saat menerima Bintang Mahaputra ia baru saja memasuki tahun pertama periode masa jabatan kedua sebagai Gubernur Sultra bersama wakilnya Saleh Lasata.

       Seperti halnya 27 tokoh lainnya yang menerima Bintang Mahaputra dalam rangka HUT Kemerdekaan RI Ke-68 Tahun 2013, Nur Alam kini bukan lagi warga negara biasa. Dia putra terbaik bangsa.  Predikat ini harus dipelihara terus bukan saja Nur Alam seorang melainkan juga keluarga dan anak cucu. Sebab esensi dari seorang Mahaputra tercermin pada perilaku keteladanan, jiwa kepahlawanan/kepeloporan, dan tak tercela. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>