Safari Ramadhan di Tiga Kota

Anjungan Sulawesi Tenggara di TMII, karya agung Ibu Tien Soeharto

   SAFARI Ramadhan identik dengan Menteri Penerangan Harmoko di  Orde Baru. Setiap bulan Ramadhan beliau tidak hanya mengunjungi masjid, mushalla, pesantern, atau obyek-obyek Islam lainnya. Harmoko juga meninjau proyek-proyek pembangunan yang memang marak di masa itu, serta mengadakan tatap muka dengan masyarakat, sebagai pelaku dan sebagai sasaran pembangunan dalam rangka membangun apa yang dia sebut komunikasi sambung rasa (linkage communication).

          Tradisi Harmoko tersebut kemudian juga diikuti pejabat lain, baik pusat maupun daerah, eksekutif maupun legislatif. Gubernur Sulawesi Tenggara di era reformasi ini, H Nur Alam SE MSi juga tak ketinggalan. Untuk Ramadhan tahun 1434 H/2013 M ini, dia melakukan Safari Ramadhan di tiga kota: Makassar, Surabaya, dan Jakarta. Namun Makassar ditangguhkan karena dikejar waktu untuk menangani penanggulangan bencana alam berupa banjir dan tanah longsir yang menerpa hampir semua kabupaten/kota di Sultra.

          Safari Ramadhan di tiga kota tersebut dimaksudkan untuk membangun dan menghangatkan hubungan silaturahim dengan warga Sultra setempat yang dikemas dengan acara buka puasa bersama. Sekaligus pula Gubernur Nur Alam mengakrabkan hubungan kekerabatan fungsional dengan staf pemda yang bertugas di kantor-kantor perwakilan setempat. Acara silaturahim dan buka puasa bersama yang digelar di anjungan Sulawesi Tenggara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Ahad tanggal 21 Juli 2013, lebih semarak karena dihadiri sebagian besar masyarakat Sultra di Jakarta dan sekitarnya. Hadir pula para anggota DPR-RI dapil Sultra, Wakil Gubernur Saleh Lasata, Abbas SH (hakim Mahkamah Agung dan ayah Farhat Abbas), Rektor Universitas Sultan Agung (Unisula) Prof Dr Masihu Kamaluddin MSc.

Masyarakat Sultra di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia terhimpun dalam asosiasi Kerukunan Masyarakat Sulawesi Tenggara yang ketua umumnya saat ini dijabat  Drs H La Ode Djenis Hasmar, mantan anggota DPR-RI dan juga dikenal sebagai tokoh pemekaran di era reformasi. Pertemuan berkala bagi masyarakat Sultra di Jakarta dan sekitarnya di era Gubernur Nur Alam sangat mudah dilaksanakan. “Sebab, kami tidak Lagi repot mengedarkan map berisi permintaan sumbangan kepada warga. Semua biaya ditanggung pribadi Pak Nur Alam”, katanya yang disambut tepuk tangan hadirin. Nur Alam kini menjalani masa jabatan kedua sebagai Gubernur Sultra.

Gubernur Nur Alam dalam sambutannya menyampaikan situasi terakhir bencana alam yang menimpa Sultra berupa banjir dan tanah longsor tanggal 16-17 Juli 2013. Bencana tersebut menimbulkan kerugian tidak sedikit. “Kita masih terus mengumpulkan data di lapangan. Tetapi berdasarkan laporan sementara para bupati dan walikota, kerugian materil mencapai ratusan miliar rupiah. Tercatat pula beberapa orang tewas tertindis longsoran”, papar Nur Alam.

Gubernur Nur Alam berbincang dengan Ketua Kerukunan Masyarakat Sulawrsi Tenggara Drs H La Ode Djeni Hasmar MSi. Ada juga Wakil Gubernur H Saleh Lasata dan Chaerul Nasution (penceramah) di samping kiri Nur Alam

Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat Sultra di perantauan untuk  ikut membantu baik morel maupun materil kepada warga yang tertimpa musibah tersebut. Pemda Provinsi Sultra sendiri masih akan berkoordinasi dengan pusat terkait dengan usaha tanggap darurat bagi para korban dan kerusakan yang terjadi. “Teman-teman anggota DPR-RI silakan meninjau lokasi bencana dan kemudian melakukan sesuatu bagi upaya penanggulangan”, imbau Gubernur Nur Alam.

Dra Hj Asnawati Hasan MM, istri Gubernur Sultra diapit Ny Haola Mokodompit dan Ny Saleh Lasata (itsri Wakil Gubernur Sultra)

Suasana keprihatinan dan kebekuan di aula anjungan Sultra baru agak mencair setelah penceramah  Chaerul Nasution dari Universitas Indonesia menyampaikan materi-materi dakwah Ramadhan yang penuh guyon. Menurut dia,   Ramadhan adalah bulan antibohong. Orang berpuasa tidak boleh bohong agar puasanya sah dan diterima Allah Swt. Tapi sekarang, katanya, sudah ada robot antibohong bikinan Jepang. Jadi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak perlu berlama-lama memeriksa para tersangka korupsi jika menggunakan robot itu.

Profesor Chaerul berkisah, ada seorang pejabat mencoba membeli robot antibohong. Sasaran pertama dia tes putranya yang sedang berangkat remaja. Robot tadi disiapkan untuk mencermati I gerak bibir anaknya kalau dia bicara. Sang ayah bertanya, kamu tadi dari mana? “Dari nonton main bola, Pak”, jawab anaknya. “Plak-plak-plaak!” tangan robot menampar anak itu. Anak itu berbohong. Menurut robot, dia sebenarnya dari acara nonton film porno. Giliran ayah menyesali anaknya. “Kenapa kau  melakukan itu nak, seumur hidup ayah tidak pernah nonton film porno”. Kali ini sang ayah yang kena gampar si robot karena dia ternyata juga berbohong. Sang bunda   muncul: “Ada apaa kok rebut-ribut dari tadi”. Tapi sang bunda juga ditempeleng oleh robot. “Anak itu tidak jelas siapa ayahnya”, kata robot mengungkap aib sang bunda.

Dalam Safari Ramadhan Gubernur Nur Alam muncul lagi gagasan ekonomi kreatifnya. Rumah mewah milik Pemda Sultra di Surabaya dia ingin jual dan hasilnya digunakan untuk membangun kantor perwakilan merangkap penginapan di Denpasar, Bali. Pasalnya, keberadaan kantor penghubung di Surabaya itu tidak efektif. Penempatan staf di Surabaya hanya karena faktor rumah mewah tersebut agar tetap terpelihara. Pemda Sultra sendiri nyaris tidak memiliki urusan dan kepentinga di ibu kota Jawa Timur itu. “Lebih baik kita bangun kantor penghubung di Bali yang akan berfungsi sekaligus sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata Sulawesi Tenggara”, katanya.

Alasan Gubernur Nur Alam tepat. Selama ini arus turis asing yang ke Taman Laut (Marine Park) Wakatobi dan obyek-obyek wisata lainnya di Sultra menjadikan Denpasar sebagai tempat transit. Dari sini para penyelam handal dari Eropa dan Amerika mencarter pesawat ke Wakotobi untuk menyaksikan keindahan dasar laut Wakatobi. Tagline Wakatobi sebagai daerah tujuan wisata adalah Surga di Dasar Laut. Tangkeno sebagai desa wisata pegunungan di Kabupaten Bombana, Sultra, juga mengusung slogan Tangkeno Negeri di Awan.

          Rumah mewah di Jalan Margorejo Indah, Surabaya, itu berdiri di atas tanah 600 meter persegi. Margorejo adalah salah satu kompleks pemukiman elite  yang dibangun di era 1980-an. Rumah tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp 600 juta di era Gubernur La Ode Kaimoeddin. Ketika itu sering ada urusan dan kepentingan Pemda Sultra di Surabaya sehingga pembelian rumah tersebut merupakan suatu kebutuhan. Menurut harga pasaran Surabaya, rumah tersebut bisa laku 4-5 miliar rupiah. Berarti, untuk membangun kantor sekaligus penginapan di Denpasar Pemda Sultra tinggal menambahnya (dana) sedikit lagi.

          Adapun rumah eks-kantor penghubung di Jalan Sumenep, Jakarta, gubernur bermaksud melakukan renovasi menyeluruh. Rumah tersebut tetap berstatus sebagai rumah dinas Pemda Sultra, namun setelah direnovasi akan dikelola sebagai penginapan berkelas. Semua pejabat termasuk anggota legislatif bisa memanfaatkan fasilitas tersebut, bila mereka melakukan perjalanan ke Jakarta.

Suasana ramah tamah usai buka puasa bersama di kantor penghubung Surabaya. Paling kanan adalah Kepala Perwakilan Pemda Sultra di Surabaya Cungir, putra Salim Ode tokoh Sultra

          Gubernur Nur Alam dikenal piawai menangkap peluang-peluang ekonomi bagi kemaslahatan rakyat Sultra. Dana pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan tidak cukup dari APBN dan APBD, dia memanfaatkan dana pinjaman yang disediakan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan. Masyarakat butuh pusat belanja bergengsi, dia gandeng Lippo Group untuk membangun Kendari Plaza. Pusat belanja tersebut berfungsi pula sebagai tempat wisata bagi warga Sultra dan Kota Kendari khususnya.  Padat terus pengunjung sehingga terpaksa dibuka sampai tengah malam. Saya dan Halim dari Metro TV di suatu saat mengajak gubernur main ke Kendari Plaza. Begitu dia tampil di tengah kerumunan pengunjung, saya bilang inilah salah satu karya Anda. Pengunjung berjubel, ada yang memang datang berbelanja, makan minum di restoran, namun ada juga yang datang sekadar cuci mata. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>