Tanah Longsor dan Banjir di Sultra

Salah satu dari tujuh titik tanah longsor di ruas Kendari Punggaluku.

SUASANA khidmat Ramadhan 1434 H diguncang banjir dan tanah longsor. Warga Sulawesi Tenggara terlihat panik menghadapi  situasi  tersebut. Maklum, selama ini mereka memang tidak terbiasa mengalami bencana sedahsyat itu. Kota Kendari tenggelam. Hubungan transportasi dari ibu kota provinsi tersebut ke kabupaten/kota di daratan besar maupun kepulauan, juga terputus total. Banyak warga terjebak tanah longsor dalam perjalanan ke Kendari atau sebaliknya. Mereka terpaksa menginap dan makan sahur di mobil.

Banjir dan tanah longsor yang lokasinya menyebar di seantero provinsi, terjadi sejak Selasa dinihari, tanggal 16 Juli 2013, menyusul hujan dengan intensitas tinggi sehari sebelumnya.

Kota Kendari lebih panik. Semua sungai dan anak sungai di kota itu meluap. Tanggul bibir kali yang telah dibangun beberapa tahun sebelumnya tak berdaya menahan luapan air bah yang datang begitu cepat. Hampir semua ruas jalan utama terendam air. Perumahan penduduk terendam pula, terutama di daerah kerendahan. Kedalaman air di dalam rumah sebatas leher orang dewasa. Bahkan, di beberapa tempat hanya bumbungan atau atap rumah yang tersisa dari genangan air. Sejauh ini tercatat dua warga kota tewas akibat tertimbun tanah longsor. Korban harta cukup besar. Banyak kendaraan tak dapat diselamatkan, rumah, ternak, dan lain-lain.

Gubernur Sultra H Nur Alam SE MSi terjun langsung ke lapangan.

Tanah longsor lainnya di ruas Kendari-Punggaluku. Jalan aspal anjlok hingga satu meter.

Dengan perahu karet dia mendatangi kompleks-kompleks pemukiman warga yang terendam air. Walikota Kendari Asrun justru sedang berada di luar daerah. Dia tiba di Kendari ketika air mulai surut. Warga yang tertimpa musibah agak terhibur hatinya karena dikunjungi Gubernur Nur Alam. Perhatian gubernur cukup besar. Setelah makan sahur Rabu dinihari, dia menyisir lagi daerah-daerah bencana di kota tersebut. Dia tak lupa membawa bantuan berupa bahan makanan dan keperluan lainnya bagi warga yang terpaksa mengungsi ke tempat lebih aman.

Dari berbagai kabupaten/kota Gubernur Nur Alam juga menerima laporan dari bupati dan walikota tentang situasi di daerah mereka. Bahkan beberapa bupati terlihat datang menemui langsung gubernur di kediamannya, Rabu malam (10 Juli 2013). Bupati Buton Utara Ridwan Zakariah, misalnya, melaporkan parahnya kerusakan jaringan jalan dan jembatan di wilayahnya. Ruas jalan utama (arteri) yang menghubungkan Ereke (ibu kota Buton Utara) dengan Kota Bau-Bau rusak berat. “Hubungan transportasi putus total”, paparnya.

Situasi serupa terjadi di ruas Kendari-Punggaluku (60 km). Sekitar 20-an mobil dari arah Konawe Selatan dan Kabupaten Bombana tertahan di Wolasi sejak Selasa malam (9 Juli 2013). Di penurunan menuju Tanea dan Konda tersebut terdapat 7 titik longsoran atau patahan badan jalan. Lokasi tersebut sekitar 2 kilometer jaraknya dari jalan lebar beraspal mulus di Tanea. Para pengemudi mobil berharap, kerusakan jalan tersebut akan segera dipulihkan alat-alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum. Namun sampai tulisan ini diluncurkan ke media online, tidak terlihat mobilisasi alat berat ke arah berbagai lokasi bencana tanah longsor di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara. Para pengemudi tadi dengan kecewa terpaksa berbalik arah menuju Bombana, dan kemudian terjebak lagi di jembatan Roraya. Sungai Roraya meluap merendam badan jalan.

Penderitaan rakyat akibat macetnya transportasi agaknya tidak segera bakal berakhir. Pasalnya, Dinas PU Provinsi Sultra tidak memiliki satu pun alat berat untuk memperbaiki kerusakan jalan. “Ada alat berat milik Balai PU tetapi tersebar di beberapa kabupaten. Tidak bisa juga dimobilisasi dalam waktu singkat karena mobil tronton yang akan menarik alat-alat berat tersebut masih terjebak di jalan rusak”, tutur Kepala Subdinas Bina Marga Dinas PU Sultra Faisal Alhabsi.

Faisal menyatakan, Gubernur Nur Alam telah berkomitmen untuk membeli alat berat bagi pembangunan dan pemeliharaan jalan di Sultra. “Sehari sebelum terjadi bencana banjir dan tanah longsor saat ini saya usulkan ke Pak Gubernur agar diadakan pembelian alat-alat berat. Pak Gubernur setuju dan kami akan usulkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2014. Dibutuhkan dana sekitar Rp 10 miliar untuk pengadaan ekskavator, loader, truk tronton dan lain-lain. Dengan demikian, bila terjadi situasi seperti sekarang ini, masyarakat bisa segera tertolong”, papar Faisal.

Salah satu lokasi banjir terparah di Kota Kendari. Jalan Kristian Marthahahu terendam ketinggian air 1,5 meter. Foto diambil di depan rumah Kusnadi, Humas Pemprov Sultra. Rumah Kusnadi sendiri terendam hingga dada orang dewasa.

Akar permasalahan banjir dan tanah longsor di Sultra tentu tidak terlepas dari terganggunya ekosistem, selain faktor intensitas hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang berkepanjangan. Di Sultra belakangan ini marak kegiatan pertambangan nikel dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, serta pengolahan kayu. Kegiatan tersebut dipastikan merusak keseimbangan alam. Bahkan, Gubernur Nur Alam langsung menuding pembukaan perkebunan sawit di sekitar Kota Kendari sebagai salah satu penyebab banjir besar di kota tersebut. Perkebunan tersebut berlokasi di daerah hulu Kali Lepo-Lepo. Kali ini memberi kontribusi  limpahan air yang merendam daerah Lepo-Lepo  dan sekitarnya selain tentu saja luapan air Kali Wanggu.

Kecuali kerusakan ekosistem hinterland, banjir besar yang melanda Kota Kendari tahun ini juga disebabkan persoalan drainase. Pertumbuhan fisik kota yang terpacu oleh maraknya pembangunan rumah toko (ruko) di sekujur wilayah kota tidak diimbangi program pembangunan sistem drainase. Industri properti tersebut justru membuat aliran air hujan, limbah industri dan rumah tangga macet. Akibatnya luapan air kali tergenang dan merendam semua daerah kerendahan. Kota Kendari yang terletak di bibir pantai teluk sangat berpotensi dibelit persoalan genangan kelebihan air hujan berdurasi panjang. Pemerintah Kota Kendari sekarang harus melakukan langkah-langkah nyata untuk menangkal terjadinya bencana lebih dahsyat di masa-masa yang akan datang. ***

               =====================================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>