Memacu Diri Hingga Mencapai Puncak

    

Gubernur dan Ny Asnawati Nur Alam dalam sebuah acara resmi di Aula Nibandera, Kendari, baru-baru ini.

TANGGAL 9 Juli adalah hari istimewa bagi Nur Alam. Pada hari tersebut dia pertama kali melihat sinar matahari. Konda, tempat kelahirannya ketika itu masih berupa desa kecil, terletak di km-24 ruas jalan Kendari – Punggaluku.  Kondisi  jalan tersebut waktu itu belum teraspal. Lalu lintas angkutan pun masih sepi. Ruas itu hanya sesekali dilewati mobil truk yang mengangkut kayu atau rotan dari hutan Gunung Wolasi.

          Kurang lebih 39 tahun kemudian, desa itu mengukir sejarah. Nur Alam menjadi Gubernur Sulawesi Tenggara. Dia dipilih langsung oleh rakyat melalui Pilkada Gubernur Sultra di penghujung tahun 2007. Indonesia, dewasa ini memang sedang memasuki era demokratisasi setelah lebih 30 tahun dipimpin presiden otoriter, Soeharto.

          Nur Alam mencapai jabatan puncak itu bak sebuah mimpi. Dia putra daratan pertama yang mampu mengalahkan para pesaing dari kepulauan melalui pemilihan langsung. Hampir sepanjang sejarah pemerintahan di provinsi ini, jabatan gubernur selalu direbut putra daerah dari kepulauan. Adapun Abdullah Silondae, hanya menjabat kurang dari tiga tahun karena keburu wafat. Dia juga tercatat sebagai tokoh sipil pertama yang dipercaya Jenderal Soeharto menggantikan figur TNI, Jenderal Eddy Sabara.

     Mendiang Eddy Sabara adalah Gubernur Sulawesi Tenggara dua periode menyusul runtuhnya Orde Lama. Di zaman Orde Baru calon gubernur ditentukan di Istana. Setelah presiden memberi lampu hijau, calon bersama pendamping yang kerap disebut kayu bakar kemudian secara formalitas dipilih melalui DPRD. Begitu implementasi Demokrasi Pancasila.

u

          Ketika menginjak usia 46 tahun pada tanggal 9 Juli 2013, Nur Alam tengah menapak masa jabatan periode kedua sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara. Pesaingnya dari kepulauan tidak setangguh periode sebelumnya. Namun, dengan keberhasilan meraih masa jabatan periode kedua Nur Alam makin meneguhkan dirinya sebagai orang kuat di Sulawesi Tenggara (baca: daratan dan kepulauan). Karena itu saya merasa geli melihat anak-anak daratan yang tampak berambisi ingin mengganggu hegemoni politik Nur Alam dalam pemilihan bupati atau walikota. Mereka  adalah tokoh-tokoh masyarakat dan ada juga pejabat resmi seperti bupati.

     Nuansa politik tersebut terbaca, misalnya, dalam event pemilihan Bupati Konawe baru-baru ini. Pilkada Konawe itu kemudian dimenangi calon unggulan Nur Alam, Kerry Syaiful Konggoasa. Mestinya anak-anak daratan bertenggang rasa terhadap Nur Alam, tokoh muda yang mampu menghentikan langkah anak-anak kepulauan di ajang pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara. Belum tentu anak-anak daratan mampu bersaing dengan anak-anak kepulauan pada pemilihan gubernur pasca Nur Alam. Untuk ke depan itu, anak-anak kepulauan sekarang  tampak lebih siap. Pada tulisan sebelumnya secara eksplisit saya sudah menyebut nama salah satu bupati di kepulauan yang berpotensi menjadi gubernur menggantikan Nur Alam.

Gubernur Nur Alam di depan penggiat seni menjelang Hari Keluarga Nasional yang dipusatkan di Kendari tanggal 29 Juni 2013.

     Nur Alam adalah tipe generasi muda Indonesia yang mampu menerobos tantangan hidup yang keras untuk meraih status sosial politik paling bergengsi dan terhormat seperti sekarang ini.  Dia berangkat dari bawah. Orangtuanya adalah keluarga sederhana di Desa Konda. Ayahnya, Isrun adalah pegawai kehutanan golongan rendahan dengan jabatan KRPH (Kepala Resort Pemangkuan  Hutan) Konda dan sekitarnya. Nur juga keluarga besar, 12 orang bersaudara. Nur Alam sendiri anak ke-11 dari pasangan Isrun-Sitti Fatimah. Adalah kepiawaian Sitti Fatimah mengelola gaji/pensiun yang tak seberapa sehingga selusinan anak-anak tersebut bisa bertahan hidup dan bersekolah. Bahkan, salah satu di antaranya menjadi orang Nomor 1 di Provinsi Sulawesi Tenggara.

     Dalam sebuah perjalanan rekreasi dengan mengemudikan sendiri salah satu dari sekian banyak mobil koleksinya, Nur Alam sempat menuturkan penggalan-penggalan kisah hidupnya kepada saya. “Di sana, agak ke tengah tempat saya sering menangkap ikan”, ujarnya menunjuk tepian Laut Banda di kawasan Tanjung Toronipa. Siang itu matahari tertutup awan tipis sehingga laut tampak agak lembayung tanpa riak. Suasana kehidupan yang kami lewati terasa lebih sejahtera, tercermin pada kondisi perumahan  penduduk yang terbangun dengan konstruksi permanen dan mulusnya jalan aspal yang membelah perkampungan mereka. “Saya yang aspal ini”, ujarnya. Maksud gubernur, ruas jalan lingkar Kendari – Toronipa diaspal dengan dana APBD Provinsi Sultra.

     Dia mengaku sejak SD telah berusaha hidup mandiri. Dia menjual kelapa atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Nur Alam menamatkan pendidikan SD di Konda tahun 1979. Dia melanjutkan sekolah di SMP Negeri 3 Kota Kendari. Ke sekolah tersebut dia berjalan kaki. Bila kecapekan, dia menginap di rumah sepupu ayahnya, Haeruddin. Ibunya, Sitti Fatimah   pun menyertainya  buat menyiapkan makanan dan pakaiannya.

     Masa pendidikan lanjutan di SMA Negeri IV Kendari, adalah episode paling getir bagi kehidupan Nur Alam. Dia kehilangan ayah menjelang tamat SMP. Semangatnya untuk hidup mandiri makin tinggi. Dia lalu bekerja serabutan, apa saja yang bisa menghasilkan uang. Yang penting halal. Kadang menjadi sopir angkutan kota sebagai tenaga cadangan. Atau ikut teman pergi melaut seperti disebutkan di atas. Pondokannya juga tak menentu, berpindah-pindah dari satu teman ke teman yang lain. Tidak jarang perutnya tak mendapatkan sesuap nasi sepanjang hari. Tetapi keadaan kritis tersebut lebih disebabkan semangatnya kelewat kuat untuk mandiri. Kalau dia mau, bisa saja ke rumah salah satu kerabatnya di Kendari untuk sekadar numpang makan, termasuk di rumah Haeruddin tentunya.

      Kendati menjalani hidup morat marit dari sisi ekonomi, Nur Alam dapat menyelesaikan jenjang-jenjang pendidikannya tepat waktu. Otaknya cerdas. Tamat SMP tahun 1983, tiga berikutnya menggondol ijazah SMA. Ketika di Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo, kuliahnya agak tersendat karena ia sibuk berbisnis. Dia sudah terjun ke dunia usaha formal, antara lain menjadi kontraktor (pemborong).   Benderanya adalah PT Tamalakindo, perusahaan yang dia dirikan sendiri. Gelar sarjana ekonomi baru diraihnya tahun 1993.

     Setahun kemudian, tepatnya 15 Januari 1994 Nur Alam mempersunting Asnawati Hasan, dipanggil akrab Tina, putri tokoh politik Sulawesi Tenggara yang disegani di permulaan Orde Baru. Hasan tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenggara di era transisi politik tersebut. Sebuah sumber menyebutkan, perkenalan Nur Alam dengan Tina terjadi di sebuah rumah sakit Kendari tatkala dia menjenguk Pak Hasan yang sedang dirawat di situ. Alhasil, Nur Alam bercanda kepada ibunya Sitti Fatimah: “Ternyata ada anak gadisnya om Hasan yang cantik”. Ibunya senyum-senyum saja sebagai ungkapan rasa hati sang Bunda bahwa putra bungsunya itu sudah ingin menikah. Pasangan Nur Alam-Tina Asnawati membuahkan tiga putra putri. Sitya Giona Nur Alam, anak pertama kini studi di Singapura. Anak kedua Muhammad Radhan Algindo Nur Alam bersama si bungsu Enoza Genastry Nur Alam masih duduk di bangku SMA dan SD di Jakarta.

     Kiprah politik Nur Alam telah dirintis sejak aktif di asosiasi-asosiasi pengusaha yang semuanya bernaung di pohon beringin Golkar di era Orde Baru. Politik dukung-mendukung bupati atau walikota juga tak luput dari perhatiannya. Persahabatannya dengan mendiang La Ode Kaimoeddin, Gubernur Sultra dua periode justru dimulai dari suasana pro-kontra hasil pemilihan Walikota Kendari. Nur Alam menggugat putusan DPRD Kendari yang  menetapkan pasangan Masyhur Masie Abunawas/Muzakkir sebagai walikota dan wakil walikota terpilih. Mereka menang tipis, satu suara atas Buhari Matta bersama pasangannya. Dalam konflik itu Nur Alam dan Gubernur Kaimoeddin ternyata satu aspirasi.  Sejak itu hubungan pribadi kedua tokoh terjalin baik dan hangat.

     Ketika partai politik tumbuh menjamur dalam rangka pemilu yang dipercepat di era Presiden BJ Habibie, Nur Alam  bergabung  ke Partai Amanat Nasional (PAN). “Saya tertarik oleh konsep dan pandangan-pandangan ideologis para tokoh pendiri PAN, termasuk Amien Rais”, ujarnya menjawab pertanyaan mengapa memilih PAN. Nur Alam pun kemudian terpilih sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah PAN Sulawesi Tenggara. Ketuanya adalah mendiang Andrey Djufrie SH, mantan jaksa senior yang dikenal bersih dan masih kerabat istri Nur Alam.

       Pendirian dan proses konsolidasi partai yang sangat mepet dengan waktu pelaksanaan pemilu pertama di era reformasi, PAN akhirnya cuma kebagian  1 kursi di DPRD provinsi. Namun pada pemilu berikutnya (2004), kursi PAN di DPRD Sultra meningkat menjadi 6 kursi serta puluhan kursi di kabupaten/kota. Nur Alam pun menjajal elektabilitas dan kepiawaian merebut  pengaruh untuk meraih kursi wakil ketua di DPRD provinsi. Total kursi di DPRD Provinsi Sultra 45 kursi.

Makin tinggi pohon makin kencang angin menerpa. Makin banyak tanda jasa menempel di dada Gubernur Nur Alam, tetapi makin banyak dihujat dan difitnah di awal masa jabatan periode kedua ini.

Target politik untuk menjabat wakil ketua terpenuhi. Maka muncul ambisi Nur Alam  yang lebih besar, yaitu ingin merebut kursi Gubernur Sultra.   Hasrat itu dipicu situasi politik pemilihan gubernur periode 2003-2008. Pada saat itu Golkar sebagai mayoritas di DPRD provinsi mengusung Ali Mazi SH sebagai calon gubernur. Padahal, Ali Mazi adalah figur  yang muncul mendadak di bursa kandidat gubernur. Kiprah politiknya di Sultra selama ini tidak jelas. Ali Mazi memang putra daerah kelahiran Pasarwajo (Buton) tetapi setelah menyelesaikan studi di Yogyakarta, dia kemudian menetap di Jakarta sebagai praktisi hukum (advokat).

     Sejak proses pencalonan hingga detik-detik pelantikan Ali Mazi sebagai Gubernur Sultra menggantikan La Ode Kaimoeddin, protes penolakan melalui demonstarsi massa  sulit dicegah. Tokoh di belakang   gelombang unjukrasa itu adalah Nur Alam, Wakil Ketua DPRD Sultra. Saat pelantikan, di luar gedung DPRD Nur Alam berorasi bahwa ia bertekad untuk menggantikan Ali Mazi lima tahun yang akan datang. Tekad Nur Alam tersebut akhirnya menjadi kenyataan.

     Selama lima tahun pertama kepemimpinan Nur Alam, banyak kemajuan yang dirasakan masyarakat Sultra. Untuk peningkatan  kapasitas wilayah terdepan, misalnya, dia menggelontorkan dana segar melalui APBD yang disebut blockgrant sebesar Rp 100 juta setiap desa dan kelurahan. Pendek kata, sebagian besar dana APBD diarahkan untuk peningkatan sumber daya manusia Sultra. Terkait dengan itu, selain blockgrant ada program kesehatan dan pendidikan gratis.

     Sejalan dengan program tersebut ditingkatkan pula pembangunan infrastruktur. Nur Alam juga  melibatkan partisipasi dunia usaha dalam pembangunan desa dan perkotaan. Dia berhasil menggaet pengusaha Indonesia terkemuka James Riady untuk membangun pusat perbelanjaaan  mewah di Kota Kendari. James Riady dikenal sebagai sahabat dan penyandang dana kampanye Presiden AS Bill Clinton. Pengusaha lain diarahkan membangun hotel berkelas di ibu kota provinsi tersebut.

     Keberhasilan Nur Alam tidak bisa diingkari. Pekerjaan sia-sia. Sama dengan menutup matahari dengan saputangan. Di awal periode masa jabatannya yang kedua, Nur Alam tak henti-hentinya dihujat dan difitnah, baik melalui media sosial maupun media cetak yang biasa dipakai untuk menyerang lawan politik.

     Jalan terus Nur Alam. Biduk berlalu kiambang bertaut, anjing menggonggong kafilah berlalu. Happy birthday! ***

============================================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>