Selamat Datang di Tangkeno, Negeri di Awan

Tangkeno, Negeri di Awan, tagline yang diusung untuk mempromosikan kawasan wisata ini ke seluruh dunia. Bupati Tafdil dengan latar belakang Gunung Watu Sangita yang sedang mulai berselimutkan awan.

  RESMI sudah Desa Tangkeno menjadi kawasan wisata di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Agar kawasan wisata ini mampu tancap gas di dunia promosi maka dia mengusung tagline atau slogan Tangkeno Negeri di Awan.  Tidak mengada-ada. Kawasan Desa Tangkeno di lereng Gunung Sangia Wita (1850 M) – Pulau Kabaena –  memang selalu berselimutkan awan di segala cuaca. Lokasi perkampungan penduduk terletak di ketinggian 650 meter dari permukaan laut (dpl). Penduduk Tangkeno saat ini (2013) tak lebih dari 400 jiwa.

        Kamis, tanggal 16 Mei 2013. Matahari bersinar terang. Kendati jam telah menunjukkan pukul 10.00 Wita, hawa sejuk masih terasa menusuk. Pada saat itu Bupati Bombana Haji Tafdil SE, MM (40) membubuhkan tanda tangan di atas batu prasasti  untuk mengukir sejarah dimulainya Tangkeno menyandang predikat daerah tujuan wisata (destination area) di Kabupaten Bombana. Pertanda lainnya adalah pemukulan gong dua kali yang melambangkan dua tahun berjalan masa jabatan Tafdil sebagai bupati di Bombana. Dengungan gong itu diharapkan menggema dan menggetarkan jagat pariwisata di Indonesia dan juga dunia.

Bupati Tafdil menandatangani prasasti pencanangan Desa Tangkeno sebagai kawasan wisata di Kabupaten Bombana, disaksikan Ketua DPRD Ardhian SH dan Wakil Bupati Ir Hj Masyhura Ila Ladamai

        Seremoni pencanangan Tangkeno sebagai kawasan wisata tersebut disemarakkan dengan festival seni budaya Kabaena. Berlangsung mulai 14 hingga 16 Mei 2013, festival itu menggelar lomba dongeng rakyat, lomba tari lumense dan tari lulo alu, serta lomba lagu daerah Kabaena. Lomba tersebut melibatkan pelajar mulai dari SD hingga SLTA se-Pulau Kabaena. Festival tersebut merupakan yang pertama di Kabaena. Tidak heran jika peristiwa budaya tersebut mendapat perhatian masyarakat setempat. Tak pelak lagi, Desa Tangkeno selama festival menjadi episentrum  keceriaan dan hiburan yang menggetarkan pulau tersebut.

Bupati Bombana bersama Ny Hj Andi Nirwana Tafdil, didampingi antara lain dari kanan Ketua DPRD Andi Ardhian, Kades dan Ny Suriati Madjid, Hj Ny Sapia Rustam (sebelah kanan bupati)

        Penetapan Tangkeno sebagai kawasan wisata sangat tepat sesuai kondisi dan potensi yang dimiliki daerah tersebut. Dalam sambutannya Bupati Tafdil mengemukakan paling kurang ada empat alasan mengapa Tangkeno dijadikan daerah tujuan wisata di Kabupaten Bombana. Pertama, Tangkeno adalah jantungnya Pulau Kabaena saat ini dilihat dari aspek lingkungan. Sebagian besar desa di pulau ini, lanjut bupati, belakangan ini terimbas kerusakan hutan dan lingkungan akibat kegiatan pertambangan nikel. Sebaliknya, hutan dan lingkungan Tangkeno masih seteril. “Kondisi ini yang harus dijaga dan dipertahankan karena Tangkeno merupakan catchment area (daerah tangkapan hujan) bagi kelangsungan sumber-sumber air di Pulau Kabaena”,  kata Bupati Bombana.

        Alasan kedua, Tangkeno adalah negeri leluhur dan pusat peradaban masyarakat Pulau Kabaena. Semua manusia Kabaena leluhurnya berasal dari Tangkeno. Dalam tradisi lisan disebutkan, (kelompok) manusia pertama yang mendiami pulau tersebut berasal dari etnis Moronene di daratan besar. Penghuni pertama tersebut kemudian menerima pengaruh sosial budaya dari etnis Bugis Makassar (baca: mitos Sawerigading) yang datang berbaur dan membangun kekerabatan.

        Pertimbangan ketiga, masih uraian Bupati Tafdil, Tangkeno memiliki situs berupa sejumlah benteng pertahanan sebagai simbol kekuasaan di masa lalu. Benteng-benteng yang terbuat dari susunan batu lepas terletak di puncak-puncak bukit, itu menarik untuk diteliti dan dikaji secara ilmiah. Alasan keempat, Tangkeno berhawa sejuk dan amat kaya dengan panorama alam. Panorama alam pegunungan, dan panorama alam laut dan pantai. Semua keindahan tersebut dapat dinikmati di kawasan Desa Tangkeno.

        Terletak di lereng Gunung Sangita Wita yang dikenal sebagai salah satu atap Sulawesi Tenggara, Desa Tangkeno dan sekitarnya setiap saat berselimutkan awan. Desa ini berhadapan dengan lereng dan puncak Gunung Watu Sangia (1.400 M) yang setiap saat pula berselimutkan awan. Menikmati pemandangan alam di Tangkeno, kita merasa seperti berada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat,  dengan suguhan pemandangan alam lereng Gunung Singgalang yang molek.

        Dari aspek ekonomi, sosial dan budaya Bukittinggi tentu saja harus didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Bahkan, jauh, dan jauh sangat jarak kemjuannya dari Tangkeno. Agar ayam di lumbung tidak mati kelaparan, Tafdil mencoba mengangkat Tangkeno melalui program pariwisata. Tafdil tidak sekadar berwacana, apalagi membual. Selama tiga malam menginap di Tangkeno, sedikit tidurnya karena membahas dan menyusun rencana pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana dalam rangka mendukung Tangkeno sebagai kawasan wisata.

        “Tahun depan, Insya Allah sudah terwujud dan dinikamti masyarakat, termasuk turis lokal dan asing”, ujarnya seraya menuangkan rumusan dari rencana aksinya melalui laptop (computer jinjing) di rumah jabatan Kepala Desa Tangkeno. Rencana aksi itu antara lain pengaspalan jalan ruas Tangkeno – Sikeli, salah satu akses darat ke dan dari Tangkeno. Juga pusat informasi dan promosi pariwisata Tangkeno yang akan dibangun di atas lahan seluas 4 hektar.  Sarana ini meliputi pusat wisata kuliner khas lokal, rumah adat, gedung pertemuan, dan berbagai fasilitas lainnya.

        Kawasan wisata Tangkeno, Negeri di Awan (country in cloud) dapat dijangkau melalui pelabuhan Sikeli di pantai barat. Bisa juga dijangkau dari arah timur melalui pelabuhan kapal feri di Dongkala. Kabaena memang hanya mengandalkan akses laut, baik dari Kota Bau-Bau maupun Kota Kendari melalui Kasipute, ibu kota Kab upaten Bombana. ***

                                    ================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>