Pupuk Cair Menyentak

PERBINCANGAN petani cokelat (kakao) nyaris tak bergeser dari soal kejenuhan. Mereka jenuh karena kondisi tanah yang makin kerdil dan keras, jenuh karena hasil panen tak memadai lagi, hama penggerek batang tak kunjung lenyap, usia tanaman makin tua, dan berbagai keluhan lain di seputar tanaman kakao alias cokelat. Dalam situasi serba mentok itu muncul surprise dari uji coba penggunaan pupuk cair. Hasilnya menyentak: 2 ton per hektar! Sepanjang riwayat perkebunan kakao di Sulawesi Tenggara, produksi tanaman kakao belum pernah menembus angka setinggi itu. Produksi tanaman tua selama ini berkisar 600 sampai 800 kilogram per hektar.

Ir H Akhmad Chaidir MM, salah satu dari sedikit SKPD Sultra yang kreatif

Seperti diceritakan Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara Akhmad Chaidir, kehadiran pupuk cair membuat petani kembali bergairah mengelola kebunnya. Tanaman tua yang telah dibiarkan terlantar, lahannya kini dibersihkan, dan tanamannya dirawat sesuai teknik budidaya yang dianjurkan. Bahkan banyak petani aktif mencari dan membuka lahan baru dalam rangka perluasan kebun. Lahan-lahan tersebut kemudian digemburkan dengan pupuk organik cair. Sedangkan pupuk kimia mulai dikesampingkan.

Pupuk organik cair yang kini dijadikan primadona petani kakao di Lambandia adalah produk PT Visi Karya Agritama. Produk tersebut beredar dalam kemasan jeriken berisi 20 liter. Cairan ini mengandung antara lain humic acid, mikroba, hormon pertumbuhan, serta unsur hara makro dan mikro. Pupuk tersebut terbukti sangat efektif untuk menyuburkan kembali tanah dan tanaman pada lahan-lahan kritis akibat penggunaan pupuk kimia. Pupuk cair ini bisa digunakan untuk semua usaha pertanian: perkebunan, persawahan, dan pertanian hortikultura. Menurut Akhmad Chaidir, setiap satu liter pupuk cair ini dilarutkan dengan 40-60 liter air sungai atau air tanah sebelum disemprotkan ke lahan kebun kakao. Dosis setiap hektar adalah 20 liter.

Kadis Perkebunan & Hortikultura Sultra berbincang-bincang dengan Gubernur Nur Alam dalam suatu kunjungan kerja di Lambuya, Konawe, tanggal 24 September 2012.

Kerusakan lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia membuka peluang para pengusaha agribisnis untuk menciptakan pupuk alternatif yang diharapkan lebih baik sesuai kemajuan teknologi yang bisa diaplikasi dengan dukungan investasi. Para investor tersebut kemudian berhasil menemukan solusi dengan memproduksi pupuk organik cair. Pupuk jenis ini terbukti lebih praktis, lebih efektif, lebih murah, lebih mengoptimalkan produksi tanaman, serta lebih ramah lingkungan. Maka, di pasaran sekarang ini beredar banyak produk pupuk cair dalam kemasan dan merek yang mencitrakan keunggulan produknya. Pabrik pupuk organik cair tersebut bertaburan di Jawa.

Di Sulawesi Tenggara sejauh ini terlihat baru ada satu merek yang beredar dan digandrungi petani kakao, yaitu Humate Fitriani. Pupuk cair tersebut diproduksi dan didistribusikan PT Visi Karya Agritama. Pabriknya terdapat di Jawa Barat dan Jawa Timur. “Secara kebetulan saya bertemu dan berkenalan dengan Pak Ferry di Jakarta, lalu saya ajak dia ke Kendari”, kata Akhmad Chaidir menceritakan ihwal kehadiran perusahaan agribisnis itu di Sulawesi Tenggara. Ir Ferry Firdaus adalah Direktur Utama PT Visi Karya Agritama.

Perusahaan tersebut bukan hanya menjual pupuk tetapi juga berperan sebagai pembina petani. Daerah binaannya selama hampir dua tahun ini adalah Lambandia, salah satu sentra kakao di Sulawesi Tenggara. Hamparan kebun kakao di sana kurang lebih 31.000 hektar. Luasan tersebut melibatkan sekitar 2.000 keluarga petani.

Sulawesi Tenggara dikenal sebagai penghasil kakao terbesar. Potensinya mencapai sekitar 236.000 hektar dengan produksi sekitar 126 ton setahun. Sebagian besar produksi tersebut dijual ke Makassar dalam bentuk asalan. Di Makassar kakao asalan tersebut diolah dalam bentuk setengah jadi atau biji kering berkualitas ekspor. Selanjutnya produk-produk tersebut dikirim ke industri-industri makanan cokelat di Jawa, Eropa, dan Amerika Serikat.

Sebagai pembina petani, PT Visi Karya Agritama bekerja secara profesional. Perusahaan itu menggunakan tenaga-tenaga berpengalaman untuk mentransfer cara perlakuan dan teknologi budidaya kakao ke petani. Bagaimana menentukan komposisi dan dosis pupuk cair, cara membersihkan kebun, penjarangan dan pemangkasan pohon kakao, semuanya diajarkan secara cermat.

Ada ungkapan PS-PS, pangkas sering – panen sering, di komunitas petani binaan. Perlakuan itu telah terbukti mampu meningkatkan kualitas produksi. Patokannya adalah 10 lembar daun untuk satu buah kakao. Jarak antarpohon dijaga agar daun masing-masing pohon tidak saling bersentuhan. Alhasil, pohon kakao menjadi rimbun dengan daun lebar-lebar. Maka buahnya pun besar-besar.

Dengan perlakuan tersebut tanaman tua pun kembali produktif. Bahkan, hama penggerek batang kakao yang menjadi momok petani itu lenyap dengan sendirinya. Program peremajaan dengan sistem sambungan samping, malah tergeser. Petani lebih berkonsentrasi pada penggunaan pupuk organik cair dipadukan dengan perlakuan tepat sesuai arahan tenaga-tenaga ahli dari PT Visi Karya Agritama. Pendek kata, kehadiran pupuk organik cair telah mengatasi masalah penurunan produksi kakao di Sulawesi Tenggara selama ini. Yaitu problem tanaman tua dan hama penggerek batang.

Petani atau kelompok tani yang berhasil meningkatkan produksi diberi hadiah, antara lain ibadah umrah ke Tanah Suci. Salah satu petani yang telah menikmati ibadah umrah adalah Sudirman bersama istrinya. Kakao petani binaan juga dibeli dengan harga lebih tinggi. Petani kakao di Lambandia dan Ladongi umumnya dikenal lebih mengutamakan kualitas sehingga semua produksi kakao mereka diproses dengan cara fermentasi.

Salah satu faktor yang memudahkan perusahaan “bapak angkat” melakukan pembinaan ialah terorganisasinya petani dalam wadah yang disebut Lembaga Ekonomi Masyarakat Sejahtera (LEM). LEM Sejahtera dibentuk di sentra-sentra produksi. Pihak perbankan juga lebih mudah berhubungan dengan petani terkait penyaluran kredit melalui LEM Sejahtera. Akhmad Chaidir mensponsori pembentukan LEM Sejahtera di hampir semua sentra perkebunan kakao, kelapa, cengkeh dalam rangka menjabarkan konsep Bahteramas (Bangun Kesejahteraan Masyarakat Sulawesi Tenggara) ke tingkat operasional (akar rumput). Konsep tersebut merupakan salah satu program dari visi misi pasangan Gubernur Nur Alam dan wakilnya Saleh Lasata sejak masa jabatan mereka periode pertama 2008-2013. ***

=================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>