Kerja Sama Sultra – Australia Barat

       SETELAH kurang lebih tiga jam tinggal landas dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar (Bali), pesawat Garuda yang membawa Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam dan rombongan mendarat di Bandara Internasional Perth, ibu kota negara bagian Australia Barat, Jumat tanggal 23 Maret 2013. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Waktu Perth sama dengan waktu Kendari (Wita). Bedanya: di Perth dan Australia Barat umumnya, matahari lebih lama bersinar. Di Perth, malam baru mulai merangkak turun  pada sekitar pukul 19.00. Bedanya yang lain tentu saja suhu udara lebih dingin, 19 deajat Celcius.

Teluk Kendari secara alamiah lebih mempesona. Kota pantai di Anustralia seperti Perth juga menampilkan teluk yang indah namun sudah diperkaya dengan gedung-gedung pencakar langit.

  Kedatangan Gubernur Nur Alam ke Perth bukan untuk menjemput nelayan Buton yang kerap ”kesasar” berburu lola ke perairan Broome, Australia Barat, melainkan untuk sebuah kunjungan kerja atas undangan Pemerintah Negara Bagian Australia Barat melalui Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dalam rangka menjajaki kerja sama di berbagai bidang. Para pejabat Australia di Jakarta terkesan dengan visi Nur Alam tentang potensi kekayaan alam Sulawesi Tenggara, termasuk agenda pemanfaatan sumber daya mineral melalui  konsep pembangunan sejumlah kawasan industri. Kawasan itu akan menjadi simpul-simpul pertumbuhan sosial ekonomi.

       Selama di ibu kota  Australia Barat, Gubernur Nur Alam mengadakan serangkaian pembicaraan dengan pihak pemerintah setempat, para pengusaha, perguruan tinggi,  dan Konsul Jenderal RI di Perth. Substansinya adalah menjelaskan potensi dan kekayaan alam serta rencana-rencana pembangunan infrastruktur terkait pemanfaatan potensi tersebut. Gubernur didampingi antara lain pejabat yang terkait dengan pembangunan sumber daya manusia yaitu Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Damsid, dan Kepala Dinas Kesehatan Amin Yohanis. Tentu saja tidak ketinggalan Kadis Energi & Sumber Daya Mineral Haqqu Wahab dan stafnya Burhanuddin. Dua pejabat terakhir merupakan staf penting Gubernur  Nur Alam di bidang pertambangan.

Gubernur H Nur Alam SE MSi

Alam Australia Barat dan Benua Kangguru pada umumnya kurang lebih sama dengan kondisi Sulawesi Tenggara dan Indonesia umumnya, yaitu kaya dengan berbagai sumber mineral. Bedanya: mineral di Australia sudah sejak lama diolah melalui proses industrialisasi canggih yang memberikan kesejahteraan masyarakat setempat. Sedangkan kondisi kita masih bersifat potensial. Belakangan ini mulai juga dilakukan usaha pemanfaatan, namun masih dengan cara-cara primitif. Nikel, misalnya, dikeruk kemudian diekspor dalam bentuk ore (tanah mengandung nikel dan beragam logam lainnya). Di lain pihak, kerusakan lingkungan akibat penambangan tidak diperbaiki dengan cara menghutankan kembali lahan-lahan bekas galian. Penduduk sekitar tambang sebagai bagian dari stakeholder usaha pertambangan, juga belum mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya.

       Tidak sedikit investor atau calon investor tambang mangkir akan janji-janjinya. Ketika melakukan lobi dengan pemerintah daerah dan kemudian mengurus perizinan, mereka menebar janji muluk. Namun, tatkala kegiatan ekspor bijih nikel (ore) telah berjalan, pemerintah daerah dan masyarakat paling hanya gigit jari.

       Di hadapan para investor dan pejabat Pemerintah Australia Barat, Gubernur Nur Alam memaparkan potensi sumber daya mineral yang melimpah di daerahnya. Tidak lupa pula gubernur menerangkan kondisi dan permasalahan infrastruktur, pengelolaan lingkungan yang belum memadai dan upaya mengatasi masyarakat sekitar tambang.

Ir Haji Burhanuddin, Kepala Bidang Mineral, Batubara dan Panas Bumi Dinas ESDM Provinsi Sultra

       Maka Gubernur Nur Alam pun merasa perlu meninjau salah satu usaha pertambangan di Australia Barat. Pilihannya adalah tambang bauksit terbesar di dunia, masih dalam kawasan Kota Perth.  Di sini gubernur mencermati bagaimana perusahaan tambang itu menjalin hubungan baik dengan penduduk asli Australia, suku Aborigin, teknik penambangan ramah lingkungan, dan sebagainya.

       Kawasan pertambangan bauksit tersebut berlokasi di hutan konservasi. Namun, status hutan tersebut tidak lantas menjadi hambatan untuk mengambil mineral tersebut bagi kesejahteraan rakyat Australia. Teknik penambangan dilakukan dengan sistem blok. Dalam satu blok luasnya 40 hektar. Seperti dijelaskan Burhanuddin, blok ini dieksploitasi hingga bauksitnya habis. Blok ini kemudian direklamasi dan ditanami kembali dengan pohon yang sama (asli) saat digusur pertama. Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai baru melangkah ke blok berikutnya untuk melakukan penambangan.

       Berbeda dengan kita di Indonesia. Hutan konservasi yang dikenal oleh rakyat sebagai hutan lindung, tidak boleh disentuh meskipun di bawah permukaan hutan itu melimpah bahan tambang seperti emas, nikel, bijih besi, dan lain-lain. Ketentuan itu termaktub dalam suatu undang-undang. Mineral bernilai ekonomi tinggi itu hanya mungkin, sekali lagi hanya mungkin bisa diolah jika status hutan tadi diturunkan menjadi hutan produksi atau areal peruntukkan lain melalui peraturan pula. Perubahan tersebut membutuhkan waktu panjang dengan birokrasi berbelit dan berbiaya tinggi.

       Singkatnya, pemerintah kita kerapkali membuat kebijakan bodoh. Kebijakan bodoh itu membelenggu kreativitas untuk keluar dari rantai kemiskinan, terutama di kalangan rakyat bawah. Sepanjang masa bangsa kita akan terus hidup sengsara di tengah potensi sumber daya alam yang melimpah, bak ayam bertelur di lumbung mati kelaparan.

       Karena itu, kunjungan ke luar negeri seperti yang dilakukan Gubernur Nur Alam sesungguhnya sangat penting dan perlu bagi para penyelenggara negara, seperti DPR, pimpinan pemerintahan nasional dan lokal. Tujuannya untuk studi banding dalam arti sebenarnya, bukan untuk plesir seperti yang sering dilakukan para anggota DPR-RI selama ini. Buktinya, hasil kunjungan mereka tidak pernah menghasilkan perubahan bagi percepatan peningkatan kondisi sosial ekonomi rakyat.

       Seperti dicatat Ilah Ladamai, staf ahli Gubernur Nur Alam, banyak peluang yang terbuka bagi terbangunnya kerja sama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan Pemerintah Australia Barat. Antara lain di bidang investasi pertambangan, termasuk sharing pengalaman dan pengetahuan pengusaha Australia tentang teknik pengelolaan tambang ramah lingkungan dan kerja sama dengan penduduk sekitar tambang.

       Kerja sama di bidang sains dan teknologi juga lebih menarik dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Sultra. Murdoch University malah telah menawarkan kerja sama di bidang pendidikan S1, S2, dan S3 bagi tenaga PNS Pemerintah Sultra dan Universitas Haluoleo. Menurut Gubernur Nur Alam,  Langkah-langkah kerja sama ini akan lebih dimantapkan dalam pertemuan lanjutan dengan Pemerintah Australia Barat bulan April ini. Mereka diundang menghadiri Hari Ulang Tahun ke-49 Provinsi Sultra tanggal 27 April 2013. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>