Hj Fatimah, Wanita Tangguh

Ibu Hajjah Siti Fatimah dengan pakaian rumahan saat diambilnya gambarnya di kamarnya di rumah dinas Gubernur Sultra tanggal 13 Juli 2011. Kepalanya hanya sempat ditutup dengan handuk kecil putih.

BUYA Hamka mengatakan, perjuangan laki-laki di medan laga, sedangkan perjuangan wanita di dalam rumahnya. Ungkapan ulama besar yang juga sastrawan itu pas dengan jalan hidup Hajjah Siti Fatimah, wanita kelahiran Konda, Sulawesi Tenggara, sekitar 82 tahun silam. Dia bukan wanita pergerakan di bidang sosial dan politik tetapi Fatimah adalah pejuang bagi keluarga dan anak-anaknya.

Sebagai istri pegawai negeri golongan rendahan, dia berusaha mengelola penghasilan (gaji/pensiun) secara optimal sehingga bisa mencukupi kebutuhan  keluarga besarnya. Bahkan, sumber daya terbatas  tersebut mampu menunjang eksistensi suaminya sebagai tokoh masyarakat. Isruddin, suaminya, dikenal suka membantu orang yang hidupnya lebih susah. Dia juga tidak memperkenankan tamu pamit dari rumahnya sebelum makan, lebih-lebih tamu transit dari perjalanan jauh seperti dari Muna, dan sebagainya. Rumah keluarga ini terletak kurang lebih 20 km dari Kota Kendari di tepi jalan raya yang menghubungkan Kendari Selatan (kini Kabupaten Konawe Selatan), Kabupaten Muna, dan Buton.

Pasangan Isruddin-Fatimah, memang keluarga besar. Mereka dikaruniai 12 orang anak. Kecuali itu terdapat pula beberapa anggota kerabat yang tinggal di rumah. Sebagaimana dituturkan Ibu Hj Fatimah kepada penulis, lima di antara putra putri mereka itu meninggal dunia ketika masih kecil. Sekitar 3-4 tahun silam, anak tertua kedua bernama Yusuf  (dipanggil akrab Supu) meninggal dunia pula karena sakit. Ketika menyinggung kisah duka meninggalnya Supu, Ibu Fatimah menerawang dan matanya berkaca-kaca. Kesedihan kembali mendera hatinya. “Ibu memang sangat menyayangi kami semua anak-anaknya”, ujar Suhartini (54) yang biasa dipanggil Ibu Sukri. Ibu Sukrilah yang diserahi tanggung jawab oleh keluarga untuk mengurus perawatan Ibu Fatimah di usianya yang semakin sepuh itu.

Perjuangan Ibu Fatimah terasa lebih berat ketika suaminya dipanggil lebih dulu menghadap Sang Khalik, pada tanggal 26 Februari 1982. Ketika itu Isruddin menjelang pensiun sebagai PNS dengan jabatan Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Konda. Jabatan ini telah dipegang almarhum selama puluhan tahun. Maka, Ibu Fatimah sejak itu praktis berperan sebagai orangtua tunggal (single parent). Dua anak yang masih kecil menyedot perhatiannya. Anak ke-11 dan 12 tersebut baru berumur belasan tahun dan bersekolah di SMP dan  SD.

Akan tetapi, perhatian Ibu Fatimah lebih dicurahkan kepada anak ke-11, bernama Nur Alam. Anak laki-laki ini sejak masih balita dipanggil akrab Bolo karena warna kulitnya agak gelap. Perhatian khusus itu telah diperlihatkan suaminya sejak Bolo masih belajar merangkak. “Jika dia berak, bapanya segera bereaksi membersihkannya, kendati bapanya itu masih sedang makan. Saya dicegahnya untuk melakukan itu dengan isyarat”, kenang Ibu Fatimah tentang kebaikan budi almarhum suaminya.

Ketika Bolo bersekolah di SMP hingga SMA, dia lebih banyak tinggal di rumah kerabat ayahnya, bernama Haeruddin Pondiu di Kota Kendari. Ibu Fatimah pun hampir selalu mendampingi putranya itu, untuk menyiapkan makanan dan pakaiannya. “Sejak kecil Bolo selalu tampil necis. Kalau hendak duduk di kelas, bangkunya terlebih dulu disapu dengan tangannya berulang kali”, tutur Ibu Sukri.

Sejak usia remaja, Bolo telah memperlihatkan sifat mandiri dan berani mengambil keputusan. Sifatnya itulah yang membuat Bolo tidak sempat menyaksikan saat-saat terakhir kepergian ayahnya untuk selama-lamanya.

Bolo, siswa SMP Negeri di Kendari  menjadi salah satu anggota kontingen Pramuka Provinsi Sultra yang akan mengikuti kegiatan nasional Pramuka di Cibubur. Kendati ayahnya sedang sakit, dia memutuskan tetap pergi mengikuti kegiatan Pramuka tersebut. “Pergilah mencari masa depanmu, nak”, begitu inti pesan Isruddin saat Bolo berpamitan. Ketika Bolo kembali dari Cibubur, dia hanya menemukan gundukan tanah merah, pusara ayahnya. Dia telah wafat 40 hari sebelum Bolo tiba di Konda, tempat tinggal orangtuanya.

Seperti dikemukakan Paraminsi Rahman (63), yunior almarhum, Isruddin adalah tokoh masyarakat yang disegani. Dia dikenal disiplin dan tegas dalam menjalankan tugas. Wilayah tugasnya sebagai KRPH meliputi hampir separuh wilayah Kabupaten Konawe Selatan sekarang. Fokus perhatiannya adalah menjaga kelestarian hutan Wolasi yang memiliki arti strtagis bagi kehidupan masyarakat Konawe Selatan dan Kota Kendari. Hutan itu menjadi catchment area bagi DAS (Daerah Aliran Sungai) Laeya dan DAS Wanggu. DAS pertama berfungsi sebagai sumber air irigasi persawahan di daerah Punggaluku dan sekitarnya. Adapun DAS Wanggu juga sumber air irigasi dan sekaligus hutan penyangga Kota Kendari.

Karier Isruddin dimulai dari bawah. Dia baru memperoleh kesempatan menambah wawasan tentang kehutanan melalui pendidikan di Makassar setelah beliau menjabat KRPH. Rumahnya di Konda, masih menurut Paraminsi – alumni SMKA (Sekolah Menengah Kehutanan Atas) Bogor –  menjadi tempat  persinggahan para sahabat dan rekan sekerja almarhum. “Dia marah besar kalau tamu hendak pergi sebelum makan bersama dengannya”, tutur pensiunan PNS Kementerian Kehutanan itu.

Bagi Ibu Fatimah, kepergian orang yang dicintainya  tentu saja sangat terpukul. Mereka telah puluhan tahun membangun bahtera rumah tangga. Isruddin yang berasal dari Moramo menikahi gadis Konda tersebut ketika Fatimah masih belia. Dia anak pertama dari enam bersaudara buah pernikahan pasangan Rahim dan Danai. Ibu Fatimah sempat bersekolah di Sekolah Rakyat, SD sekarang.

Namun, Ibu Fatimah tidak ingin terlampau larut dalam kesedihan. Sebab di hadapannya ada tujuh anak yang masih membutuhkan perhatian, kendati sebagian sudah mulai dewasa, bahkan sudah ada yang menikah. Fakta itu membuat jiwanya makin tangguh menjalani hidup bersama anak-anaknya tersebut. Dana pensiun yang diterimanya setiap bulan makin diperketat penggunaannya karena jumlahnya sudah lebih kecil. Diatur sedemikian rupa sehingga biaya hidup dan biaya pendidikan anak-anak harus tetap dapat terpenuhi.

Beban perjuangan Ibu Fatimah terasa agak ringan ketika Bolo alias Nur Alam mulai belajar hidup mandiri. Setelah memasuki pendidikan sekolah lanjutan atas (SMA Negeri 4 Kendari), Nur Alam terjun ke dunia usaha kecil-kecilan. Bakat bisnis itu terus dikembangkan sambil menyelesaikan studi S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo.

Setelah menikah dan kondisi ekonominya makin mapan, anak ke-11 Ibu Fatimah tersebut kemudian terjun ke dunia politik. Tidak tanggung-tanggung, karier politiknya melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Puncaknya adalah keberhasilan Nur Alam mengalahkan gubernur incumbent Ali Mazi hanya dalam satu putaran pemilihan Gubernur Sultra secara langsung pada akhir tahun 2007.

 Jabatan tinggi dan kedudukan terhormat yang diraih anaknya itu membuat Ibu Fatimah kembali mengenang lakon mimpi dalam tidurnya menjelang kehamilannya untuk anaknya yang ke-11 itu. “Waktu itu saya suka mimpi berada di tempat ketinggian dan memandang ke bawah”, tuturnya dalam suatu wawancara tanggal 13 Juli 2011.

Dengan nada bercanda Ibu Fatimah mengungkapkan pula makna dan hikmah dari pendirian mendiang suaminya menolak program Keluarga Berencana yang intinya pembatasan kelahiran itu. Kebetulan, pos KB tidak jauh dari rumah mereka di Konda. Ketika petugas KB mengajak Ibu Fatimah ikut program tersebut, mendiang suaminya secara spontan menolak dengan alasan, setiap anak manusia yang lahir, dia membawa rezekinya sendiri yang disediakan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.  Waktu itu Ibu Fatimah telah 10 kali melahirkan.  “Kalau saya ikut KB tentu tidak akan pernah lahir anak ke-11 yang kini menjadi gubernur”, ujarnya.

Pada hari-hari ini merupakan momen istimewa bagi Ibu Fatimah yang masih selalu tampil rapi itu. Sebab jika Allah Swt mengizinkan, dia bersama keluarga besarnya akan menyaksikan lagi Bolo alias H Nur Alam SE MSi alias bapanya Giona untuk dilantik kembali sebagai Gubernur Sultra masa jabatan kedua, periode 2013-2018, pada tanggal 18 Februari 2013. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>