Akhmad Chaidir Perkuat Posisi Petani

       DIA boleh disebut birokrat profesional. Jabatan dan keahliannya didarmabaktikan secara maksimal bagi masyarakat, dalam hal ini petani yang bergiat di subsektor perkebunan. Dia rajin ke lapangan  bertemu langsung petani untuk menyuluh dan sekaligus mendeteksi berbagai masalah teknis terkait pelaksanaan program dan kegiatan, termasuk  kesulitan yang sedang dihadapi petani.

Ir H Akhmad Chaidir Nurdin MBA

  Ir H Akhmad Chaidir Nurdin MBA, sebetulnya telah menjabat Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara di era pemerintahan Ali Mazi SH. Namun, tanpa alasan yang jelas dia mendadak dinon-jobkan oleh Gubernur Sultra itu. Gubernur Sultra berikutnya, H Nur Alam SE kemudian  mengembalikan Akhmad Chaidir ke posisinya  itu. Kader tersebut dinilai cakap dan mampu meneruskan misi pembangunan pertanian khususnya subsektor perkebunan.

       Secara riil subsektor perkebunan telah memberikan kontribusi yang besar bagi denyut perekonomian rakyat di pedesaan. Kakao, misalnya, tidak bisa disangkal merupakan komoditas andalan yang menghidupkan kegiatan perdagangan antarpulau dan ekspor. Sehingga Gubernur Nur Alam merasa perlu menunjuk Chaidir sebagai orang yang tepat untuk lebih menggenjot subsektor tersebut.

            Dalam pembicaraan-pembicaraan informal, Gubernur Nur Alam sering memuji kinerja Chaidir. Dia termasuk salah satu di antara sedikit Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah)  yang dinilainya berkinerja bagus. Dia lebih banyak berkumpul dengan petani di desa. Dari sana lalu muncul kreasi dan ide tentang upaya-upaya menyejahterakan para petani tersebut.

       Jauh berbeda dengan kebanyakan rekan-rekannya sesama pimpinan SKPD. Mereka baru akan berama-ramai ke kabupaten atau turun ke desa untuk mengikuti kegiatan kunjungan kerja gubernur. Sebaliknya perjalanan dinas ke Jakarta atau provinsi lain, pantang dilewatkan kendati urusannya adalah porsi pejabat eselon III. “Ada juga yang bersemangat tinggi tapi miskin implementasi”, kata Nur Alam mengeritik kinerja para pembantunya itu.

       Penguatan petani adalah prioritas tinggi bagi Chaidir dalam melaksanakan kegiatan terkait penjabaran program Bahteramas (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) di subsektor perkebunan. Bahteramas adalah program unggulan Pemprov Sultra untuk periode 2008-2013. Dia membuka akses pasar produksi, seperti kakao misalnya, dengan industri dan eksportir kakao di Jawa Barat dan Jakarta. Persyaratan kualitas produksi yang dikehendaki pasar (pembeli dengan konsep kemitraan) lantas dijadikan agenda kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan petani terkait.

       Untuk mengefektifkan langkah-langkah penguatan itu, maka petani dihimpun dalam wadah Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera. Organisasi pra-koperasi inilah yang bergerak membangun kerja sama dengan perbankan dan pihak industri serta eksportir sebagai pembeli produksi dari para anggota LEM Sejahtera.

       Organisasi petani itu juga berfungsi sebagai wadah pembinaan dan pelatihan dalam rangka peningkatan sumber daya petani. LEM Sejahtera juga membuka akses petani terhadap berbagai sumber daya seperti lahan, modal, teknologi, informasi, dan pasar. Bahkan, wadah tersebut dapat menangani distribusi berbagai kebutuhan para anggotanya, termasuk sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan.

         Alhasil, di sentra-sentra produksi usaha perkebunan rakyat kini telah beroperasi sekitar 30 unit LEM Sejahtera. Sebagian besar adalah LEM Sejahtera komoditas kakao. Selebihnya menangani produksi kelapa, jeruk.

       Keberadaan LEM Sejahtera membantu pemerintah untuk menghemat devisa. Industri makanan cokelat di dalam negeri setiap  tahun mengimpor paling sedikit 30.000 ton biji kakao. Nah, Sultra melalui LEM Sejahtera kini sanggup memasok kurang lebih 10.000 ton bahan baku tersebut. Seperti dijelaskan Chaidir, beberapa LEM Sejahtera telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), nota kesepahaman dengan industri cokelat antara lain  di Tangerang terkait pemasokan tersebut.

       Bagi Chaidir, di balik upaya penguatan posisi tawar petani ada komitmen dan tekad yang kuat untuk melindungi petani dari kemungkinan dieksploitasi pihak-pihak pemilik uang, termasuk investor besar yang tidak bernurani. Investor jenis ini, kini beroperasi di Kolaka dan mengelola perkebunan kelapa sawit di atas lahan masyarakat.

       Chaidir merasa prihatin terhadap nasib petani yang menjadi plasma investor tersebut. Pola pembagian hasil yang diterapkan adalah 40:60. Porsi petani pemilik lahan yang 40 persen itu dipotong lagi 70 persen sebagai biaya sarana produksi. Dengan demikian, porsi petani hanya 30 persen setara 28 kilogram dalam setahun dengan asumsi produksi total setiap hektar  100 kilogram. Dia menyayangkan Pemda Kolaka membiarkan pembagian tidak adil itu.

       Lahir di Raha (kini ibu kota Kabupaten Muna) tanggal 2 Agustus 1955, Chaidir dikaruniai 5 orang anak hasil pernikahan dengan Hj Andi Susiwati. Dari lima putra-putri itu, dua di antaranya sudah bergelar sarjana S-1. Kendati tidak berprofesi sebagai guru sebagaimana mendiang ayahnya, Nurdin Malimpo, Chaidir dikenal di kalangan keluarganya sangat disiplin mendidik putra-putrinya. Mereka dibiasakan hidup seperti rakyat kebanyakan, antara lain pulang pergi sekolah atau kuliah  dengan menggunakan angkutan umum.

       Chaidir yang menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin tahun 1981 memiliki obsesi seperti Gubernur Nur Alam: Sultra harus dibangun dengan investasi antara lain di bidang usaha perkebunan tebu dan kelapa sawit. Dengan catatan, investasi tersebut harus mensejahterakan, bukan sebaliknya menyengsarakan rakyat. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>