Tantangan Nur Alam

Gubernur Sultra H Nur Alam SE MSi Foto Yamin Indas

  NUR ALAM adalah tokoh mengesankan di era demokrasi. Dua kali ikut pemilihan gubernur oleh rakyat secara langsung, dia menang telak. Itu bukti tak terbantahkan bahwa secara politis Nur Alam memang orang kuat di Provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi 12 kabupaten/kota dengan wilayah geografis terdiri atas daratan dan kepulauan.

       Sejak awal, Nur Alam bersama pasangannya Saleh Lasata telah membaca permasalahan provinsi secara seksama. Kondisi sosial ekonomi masyarakat bawah dipotret seperti apa adanya di tengah eforia reformasi kaum elitenya yang nyaris tak berkesudahan. Maka dia memutuskan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai langkah prioritas setelah terpilih pertama kali sebagai gubernur. Kebijakan strategis tersebut ditopang lagi dengan pembangunan desa di mana berkonsentrasi mayoritas warga yang menjadi sasaran program peningkatan mutu SDM.

       Visi misi tersebut terangkum dalam tiga program inti: pendidikan dan kesehatan gratis serta penyediaan dana block grant Rp 100 juta bagi setiap desa/kelurahan melalui APBD Provinsi. Dana ini disebut block grant sebab sasaran penggunaannya ditentukan sendiri warga bersama kepala desa/lurah sesuai kebutuhan mendesak. Khusus program pendidikan dan kesehatan gratis ditunjang pengadaan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk sektor kesehatan, misalnya, Gubernur Nur Alam membangun rumah sakit yang dilengkapi peralatan canggih. Rumah sakit itu telah beroperasi sejak Agustus 2012 dan diberi nama Rumah Sakit Umum Bahteramas, akronim dari Bangun Kesejahteraan Masyarakat. Bahteramas kemudian dimaknai sebagai sebuah solusi pembangunan Provinsi Sultra dengan tiga program pokok tadi.

Gubernur Nur Alam sangat sering ke lapangan untuk melihat kondisi daerah terpencil dan terbelakang di Sultra. Gubernur ketika meninjau sebuah daerah terpencil di Kabupaten Konawe pada tahun 2012. Foto Yamin Indas

       Selain program inti, pembangunan infrastruktur berupa jalan, jembatan, pelabuhan laut dan udara juga ditangani secara intensif. Bukan hanya itu. Gubernur Nur Alam yang berlatar belakang pengusaha terlihat piawai menarik banyak investor untuk ikut berperan dalam pembangunan sesuai bidang bisnis masing-masing. Dia menyadari,  peran pemerintah dalam pembangunan tidak lebih dari 20 persen. Selebihnya diserahkan kepada pengusaha dan masyarakat.

       Premis tersebut teraktualisasikan secara mantap. Kendari sebagai ibu kota provinsi – sebagai contoh – kini makin berkilau berkat keikutsertaan pengusaha dan masyarakat mengisi pembangunan kota tersebut. Kehadiran Lippo Plaza dan Hotel Clarion hanyalah beberapa indikator pesatnya kegiatan investasi itu. Frekuensi kedatangan pesawat di Bandara Haluoleo, sekitar 10 sampai 12 kali penerbangan dalam sehari menjadi pelengkap bukti tingginya dinamika kehidupan sosial ekonomi di Sultra belakangan ini.

Gubernur Nur Alam memulai pembangunan bendung irigasi persawahan di Latooma, kecamatan terpencil di hulu Sungai Konaweha, Kabupaten Konawe. Gubernur saat meletakkan batu pertama. Foto Yamin Indas

Di era pemilihan langsung kepala daerah, hampir tak tersua sosok kepala daerah baik bupati/walikota maupun gubernur yang berani menciptakan agenda pembangunan berdimensi jangka panjang. Umumnya tersandera kepentingan jangka pendek, bagaimana bisa terpilih lagi untuk masa jabatan periode kedua. Maka dalam periode pertama para pemimpin kerdil tersebut hanya mengerjakan proyek-proyek populis yang bersifat instan.

       Berbeda dengan Nur Alam. Baru dua hari setelah dilantik sebagai Gubernur Sultra periode 2008-2013 dia menyisir pantai Teluk Kendari untuk mendapatkan calon lokasi pelabuhan kontainer dalam rangka mengoptimalkan peran pelabuhan Kendari sebagai pintu gerbang perekonomian provinsi. Pada hari itu juga diputuskan Bunggutoko sebagai lokasi pelabuhan yang akan segera dibangun. Pelabuhan baru tersebut menggantikan fungsi pelabuhan lama di kota tua yang telah beroperasi sejak zaman Belanda.

       Beberapa bulan kemudian Nur Alam menyampaikan usul kepada Presiden SBY, agar Sultra dijadikan pusat pertambangan nasional. Terkait dengan itu akan dibangun kawasan ekonomi khusus berbasis pertambangan. Mulai saat itu gubernur tersebut menggalang para investor bermodal kuat untuk membangun industri nikel di beberapa tempat. Smelter tersebut boleh jadi baru akan beroperasi ketika Nur Alam telah pensiun dari jabatan sebagai Gubernur Sultra.

       Bukan hanya itu proyek strategis yang dirintis Nur Alam. Jembatan yang melintas di atas Teluk Kendari yang bakal melenyapkan kota tua menjadi salah satu megaproyek yang dikejar waktu dimulainya pelaksanaan pembangunan konstruksi oleh gubernur. Namun, faktor teknis membuat proyek bernilai Rp 600 miliar itu harus dilelang berulang-ulang.

Baru dua hari setelah dilantik menjadi Gubernur Sultra periode 2008-2013 Nur Alam langsung menggebrak. Dia menyisir pantai Teluk Kendari untuk mendapatkan lokasi pembangunan pelabuhan kontainer. Gubernur terlibat diskusi dengan Walikota Kendari Asrun di salah satu sudut pantai Bunggutoko di mana lokasi pelabuhan kemudian ditetapkan gubernur.Foto Yamin Indas

       Pendek kata, prestasi Nur Alam bersama pasangannya Saleh Lasata mengesankan dan membanggakan. Dalam skala makro pertumbuhan ekonomi Sultra tahun 2012 mencapai di atas 10 persen, jauh dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap berkutat di angka 6 persen. Secara mikro, warga terlihat cukup menikmati kelancaran hubungan dan transportasi, terbukanya lapangan kerja dan peluang-peluang ekonomi produktif di pedesaan sebagai dampak penggelontoran dana block grant. Tak heran jika dengan mudah dia memenangi pilkada untuk menjabat Gubernur Sultra hingga tahun 2018. Pasangan ini, jika Allah SWT mengendaki,  akan dilantik kembali sebagai gubernur dan wakil gubernur pada tanggal 18 Febrauri 2013 mendatang.

       Secara program dikaitkan kondisi dan kebutuhan daerah (rakyat), tantangan ke depan nyaris tak ada lagi bagi Nur Alam. Dia tinggal melanjutkan program-program berdimensi jangka panjang yang telah digagas dan dirintis pada masa jabatan periode pertama. Kemudian lebih mempertajam program peningkatan produksi pertanian di subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan perikanan. Karena, sesungguhnya ketiga subsektor itulah basis dan tulang punggung perekonomian masyaraka lapis bawah.
Akan tetapi, di era masa jabatan kedua ini tantangan yang dihadapi Nur Alam, sesungguhnya cukuplah berat. Tantangan itu bersifat struktural dan kultural. Tantangan tersebut lebih terkait pada penguatan jajaran birokrasi dan gaya kepemimpinan.

       Ke depan ini Gubernur Nur Alam bersama Wakil Gubernur Saleh Lasata harus menata kembali organisasi birokrasi, kalau perlu sampai ke kabupaten/kota sebagai wilayah subordinasi pemerintahan provinsi. Pertama dan utama yang harus dilakukan adalah menegakkan disiplin. Pegawai yang melanggar disiplin harus diberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Kedua, uraian tugas (job description) harus diawasi pelaksanaannya. Penilaian kinreja harus diukur dari uraian tugas.

       Hal ketiga dan ini sangat penting adalah membangun semangat dan mentalitas seluruh staf Pemerintah Provinsi Sultra agar berkonsentrasi membantu dan melancarkan pelaksanaan kebijakan gubernur. Salah satu kebijakan penting Gubernur Nur Alam adalah menciptakan iklim kondusif bagi maraknya kegiatan investasi di Sulawesi Tenggara.

Terkait dengan itu setiap aparat harus berfungsi sebagai salah satu alat dari sebuah sistem pelayanan. Jika alat itu rusak (indisipliner dan korup) maka operasional sistem akan mandek total. Ada contoh konkret yang sangat buruk. Ketika RSU Bahteramas hendak dimulai pembangunannya, Gubernur Nur Alam menugaskan Faisal (staf ahli) mencari sertifikat tanah milik pemda tersebut. Faisal dipimpong oleh pejabat eselon III terkait di Biro Umum Kantor Gubernur Sultra. Setelah dua bulan dan Faisal juga sudah hampir habis kesabarannya, oknum itu kemudian membuka lemari di depan ruang kerjanya. Sertifikat itu ternyata sudah sejak lama tersimpan di almari tersebut.

Langkah keempat adalah mengubah gaya kepemimpinan. Dalam suatu perbincangan, Nur Alam sendiri mengakui kepemimpinannya selama ini tergolong super akomodatif. “Kepemimpinan hati nurani”, ujarnya. Ke depan ini, gaya tersebut sangat tidak relevan lagi, tanpa mengurangi sikap egalitarian sebagai sebuah karakter yang dimiliki Nur Alam. Gubernur Nur  Alam kelak harus meninggalkan Sultra dalam keadaan running-well and well-organized. Dengan demikian, fundasi yang telah diletakkan baik Nur Alam maupun juga para pendahulunya tidak goyah lagi, apalagi bergeser.

Politik keseimbangan wilayah yang senantiasa melandasi kebijakan pengisian jabatan struktural dan fungsional di lingkup Provinsi Sultra, sekarang bukan zamannya lagi untuk dipraktekkan. Kebijakan itu kelihatan arif, aspiratif, tetapi tidak produktif. Di era periode pertama masa jabatan Nur Alam, putra Sultra asal Kabupaten Muna nyaris mendominasi jabatan-jabatan struktural eselon II di lingkup Pemprov Sultra. Namun, publik sendiri bisa menilai kinerja mereka, baik yang bersifat teknis operasional pelayanan maupun  aspek misi kemasyarakatan (akseptabilitas) sebagai ‘gubernur kecil’ yang mewakili sosok Gubernur Nur Alam./p>

Ke depan ini Gubernur Nur Alam bersama Wagub Saleh Lasata harus membentuk tim kerja berdasarkan kemampuan dan kecakapan yang dibutuhkan organisasi satuan kerja. Tentu saja soal loyalitas dan kejujuran (integritas pribadi) menjadi pertimbangan pokok. Mereka yang bermental seperti oknum eselon III di Biro Umum tadi harus ditinggalkan. Bahkan dilempar ke neraka bagi pejabat yang memperjualbelikan penerimaan calon pegawai negeri sipil seperti yang pernah santer terdengar 2-3 tahun silam. Perbuatan oknum tersebut sangat keterlaluan. Negara memberikan kesempatan kepada warga negara untuk mengisi lowongan pengangkatan PNS. Namun, hak warna negara tersebut kemudian dijual oleh oknum-oknum bermental korup. ***

                          ===============

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>