Bisnis Alternatif di Bogor

Ikhsan Rifani SH

AGAK susah memahami cara berpikir sebagian pengusaha kontraktor di daerah. Tidak kreatif dan hanya mengandalkan kedekatan dengan rezim. Bila rezim tumbang usaha mereka berakhir pula. Maka harus mulai dari nol lagi, kasak kusuk setor muka untuk kepentingan mendapatkan paket proyek. Namun, perilaku tidak berubah. Tidak kepikiran untuk memacu diri menjadi pengusaha profesional. Keuntungan yang didapat, masih saja digunakan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif, bukan untuk penguatan modal usaha.

       Sebagian dari pengusaha mandul tersebut saya kenal baik, bahkan sahabat karib. Terlalu sering saya menyampaikan pandangan bahwa menjadi pengusaha bukan perkara enteng. Harus jujur, tekun (tak mengenal putus asaa), cerdas, kreatif, inovatif, dan jangan angkuh, apalagi pelit (bakhil). Modal cuma pelengkap. Jika tahun ini, misalnya, kita dapat paket, maka sebagian disisihkan untuk membeli atau mengangsur sebuah truk. Anak kecil pun tahu bahwa sebuah truk bisa menghasilkan banyak truk jika alat angkutan ekonomi itu dikelola dengan baik.

       Belajar dari kecenderungan statis tadi, Ikhsan Rifani SH (42) secara diam-diam merintis usaha alternatif. Ia membuka usaha budidaya jamur tiram. Kecil-kecilan dan tempatnya nun jauh di sana, Bogor, Jawa Barat. Dalam waktu tiga bulan ini dia berharap bisa panen dengan nilai kurang lebih Rp 250 juta. Investasi yang ditanam masih di bawah Rp 100 juta.

Jamur tiram bahan makanan bergizi tingga yang dibudidayakan di Pasir Angin oleh pengusaha muda Ikhsan Rifani. Ini hasil tanaman percobaan

       Ikhsan adalah putra Banjar asli, anak kedua dari pasangan Ibrahim Rifani – Nurainah. Pasangan ini bukan keluarga birokrat tetapi warga biasa di Banjarmasin. Keberadaan Ikhsan di Sulawesi Tenggara seumur usia perkawaninannya dengan Fauziah, dokter spesialis gigi di lingkup Pemerintah Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra. Mereka menikah dalam tahun 1992 yang ditandai sebuah pesta agak besar sesuai  status sosial keluarga istrinya tersebut. Fauziah – dipanggil akrab Ozi – adalah anak ke-4 Gubernur Sultra dua periode mendiang Drs H La Ode Muhammad Kaimoeddin. Ikhsan-Ozi satu almamater, Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

       Ikhsan bisa dibilang dekat dengan Gubernur Sultra H Nur Alam SE, MSi. Kedekatan itu bukan karena dia pengusaha kontraktor skala kecil, tetapi Nur Alam memiliki komitmen untuk memelihara hubungan baik dan kekeluargaan dengan keluarga para pendahulunya dan tokoh-tokoh penting lainnya. Bahkan, keturunan Sultan Buton pun dia ingin melibatkan mereka dalam birokrasi dan struktur lainnya. Komitmen itu yang mendasari dukungannya kepada Wa Ode Maasra Manarfa sebagai calon Wakil  Wali Kota Bau-Bau mendampingi AS Thamrin sebagai calon walikota dari Partai Amanat Nasional. “Agar ada kesinambungan kultural dan historis dalam kehidupan masyarakat Sultra”, kara Nur Alam.

Manajer proyek jamur tiram di Pasir Angin. Mereka adalah Kirey dan Tio

  Pemilihan lokasi Bogor mudah ditebak alasannya. Di sana tersedia sumber daya dan pasar. Ikhsan berkongsi dengan Tio Prisastriyo (56), warga Kampung Pasir Angin, Desa Sipicung, Kabupaten Bogor. Kampung itu sendiri hanya berjarap 2 km dari Kota Bogor. Tio memiliki lahan lebih dari cukup untuk kegiatan budidaya jamur berskala besar. Selain penggunaan lahannya sebagai andil, Tio juga direkrut sebagai manajer teknis budidaya. Ikhsan juga mempercayakan karibnya Kirey sebagai manajer umum. Kirey adalah artis Ibukota pelantun lagu Rindang Tak Berbuah. Dia tampak serius menangani bisnis ini. Hampir tiap hari dia  ke Pasir Angin dengan mengemudikan sendiri mobilnya.

       Seperti dituturkan Ikhsan, permintaan pasar untuk jamur tiram sangat besar. Hasil panen tanaman percobaan baru-baru ini tak tersisa disedot pedagang pengumpul lokal. Harganya Rp 7.500 sekilogram. Tetapi minggu-minggu depan bakal naik menjadi paling rendah Rp 8.000/kg karena permintaan tinggi.

       Budidaya jamur tiram tergolong sederhana. Usaha budidaya Ikhsan di Pasir Angin menggunakan media tanam serbuk gergaji steril, dikemas dalam kantung plastk yang disebut bag log oleh Tio. Dalam setiap bag log bisa menghasilkan 3 ons jamur tiram. Kegiatan panen dilakukan setiap hari selama tiga bulan. Terkait dengan itu Ikhsan dkk telah membuat bangsal berkapasitas 90.000 kantung bag log. Aset inilah yang diharapkan dapat meraup keuntungan sekitar Rp 250 juta dalam tiga bulan ke depan ini.

       Jamur adalah bahan makanan mewah, kendati tumbuhan spora itu banyak terdapat di hutan-hutan berhawa sejuk pada ketinggian tertentu dari permukaan laut. Menurut hasil penelitian Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI, protein jamur tiram mencapai 3,5 sampai 4% dari berat basah. Jadi dua kali lipat lebih tinggi dari asparagus dan kubis (kol).  Dalam keadaan kering, kandungan proteinnya lebih dahsyat (10,5 sampai 30,4%) dari beras (7,3%), gandum (13,2%), dan susu sapi (25,2%). Dengan demikian, jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi.

Ikhsan Rifani SH bersama teman-temannya saat makan siang di sebuah warung pojok dekat Kantor DPP PDIP di Lenteng Agung Jakarta. Mereka adalah Drs Kahar Haris MSi (paling kiri, Kepala Bapedalda Prov Sultra), Derik Kaimoeddin (Karo Ortala Kantor Gubernur Sultra), Yusran Taridala (staf khusus Gubernur Nur Alam), dan H Abdurrahman Saleh SH (anggota DPRD Sultra dari PAN)

       Bagi Ikhsan, proyek budidaya jamur tiram Pasir Angin  merupakan batu loncatan. Sukses pertama biasanya akan disusul sukses-sukses berikutnya, begitu filosofi bisnis yang dipercaya politisi muda dari PPP, itu. Jika proyek Pasir Angin telah berkembang bagus, maka peluang membuka usaha serupa di Kendari atau Banjarmasin cukup besar. Mungkin jenisnya jamur merang atau jamur kuping.

       Profesi sebagai kontraktor proyek-proyek pemerintah tetap akan digeluti oleh Ikhsan sepanjang iklim masih kondusif. Sebab profesi tersebut telah dirintisnya di Banjarmasin setelah ia menyelesaikan studi hukum bisnis di Unpad tahun 1998. ***

                                             ==================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>