EKSPOR SKALA KECIL

OLEH YAMIN INDAS

DR AKHMAD FIRMAN SE, MSP

AKHMAD FIRMAN adalah ekonom senior di Universitas Haluoleo. Ia mengatakan, pemerintah harus membina pengusaha menangah (UKM) agar terangkat menjadi pengusaha besar. Untuk mencapai kelas itu  pengusaha juga harus berorientasi ekspor. Di era digital, ekspor dapat dilakukan dalam kuantitas berskala kecil.

        Firman sejak lama melihat Sultra memiliki potensi ekspor cukup besar. Selain hasil perkebunan seperti kakao yang menjadi komoditas andalan, produksi perikanan juga berpotensi sebagai komoditas ekspor.

        Tetapi dia memberikan sedikit catatan tentang  potensi ekspor hasil perikanan. Produksi ini tersebar di pantai dan pulau-pulau dalam jumlah yang kecil-kecil sehingga nilai keekonomiannya kurang memadai. Untuk mengumpulkan sebaran-sebaran komoditas itu tentu membutuhkan biaya pengangkutan yang tidak kecil.

        Tetapi hal itu adalah mindset lama bahwa kegiatan ekspor harus dalam kuantitas yang besar. Harus mengumpulkan minimal satu  atau dua kontainer, kemudian mendatangkan kapal besar. Di era digital sekarang ini, menurut Firman, ekspor dapat dilakukan secara online. Maka kuantitas ekspor juga harus dalam skala kecil. “Eksportir dapat menggunakan perusahaan cargo seperti JNE”, ujarnya.

        JNE merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik yang bermarkas di Jakarta. Nama resminya adalah Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (Tiki JNE).  Perusahaan cargo tersebut kini dapat mengantar barang ke seluruh dunia.

        Firman menyebut beberapa jenis hasil perikanan yang dapat diekspor dalam kuantitas skala kecil. Ratusan bahkan puluhan kilogram saja bisa dipaket lalu dikirim melalui perusahaan cargo. Udang, kepiting, rajungan, dan jenis-jenis ikan tertentu seperti tuna disebutkan sebagai beberapa contoh. “Ikan bandeng pun bisa dieskpor”, katanya.

        Tetapi jenis ikan-ikan tertentu harus diolah dulu dengan kualitas yang bagus. Ikan besar, misalnya, diolah dalam bentuk fillet. Firman mengatakan, ikan bandeng presto merupakan bentuk ikan olahan yang sangat mungkin bisa menjadi favorit ekspor. Ikan bandeng diolah hasilnya menjadi empuk karena duri-durinya yang tajam sudah lembek setelah dipresto.

        Tetapi untuk terjun ke bisnis ekspor online, pemerintah dalam hal ini kementerian terkait bersama Dinas Perindustrian, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) serta instansi terkait lainnya di daerah, harus bekerja fokus. Eksportir pemula harus diberi wawasan, bahkan petunjuk teknis tentang pengolahan hingga prosedur kegiatan ekspor. Bukan itu saja. Pemerintah juga harus ikut membuka dan mengakses pasar ke negara-negara tujuan ekspor.

        Sejalan dengan itu, lembaga-lembaga bank pemerintah maupun swasta harus membuka koresponden di negara-negara tujuan ekspor.  “Pemerintah kini sudah saatnya fokus membina pengusaha untuk menjadi pelaku ekspor”, kata Firman.

        Menurut dia, selama ini pemerintah terlalu fokus terhadap pembinaan pengusaha kecil dari kategori UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) hingga UKM (Usaha Kecil Menengah). “Semua kebijakan pemerintah pusat diarahkan untuk UMKM/UKM”, kata Firman lagi.

        Namun demikian ia menyatakan sangat mengapresiasi komitmen pemerintah terkait pembinaan UMKM dan UKM. Tetapi harus ada langkah keberpihakan berikutnya yaitu pembinaan pengusaha yang levelnya telah terangkat sebagai pengusaha besar.

        Keberpihakan yang dianggapnya berat sebelah diimplementasikan dalam bentuk penyediaan fasilitas kredit antara lain KUR (Kredit Usaha Rakyat). Bank-bank pemerintah juga diwajibkan menyedikan porsi sekian persen dari total kredit investas yang dikeluarkan.

        Akhmad Firman mengajar di Universitas Haluoleo segera setelah meraih gelar sarjana Strata1 dari Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada tahun 1984. Dengan IP 2,9, dia  cukup memenuhi syarakt untuk mengajar di almamaternya.  Dengan IP (Indeks Prestasi) 2,7 saja sudah bisa diterima di Unhas. Tetapi dia memilih merantau ke Kendari untuk mencari tantangan.

Dalam curikulum vitae tercatat sekitar 32 penelitian yang melibatkan dirinya terkait pemetaan ekonomi masyarakat di lapis bawah, termasuk UMKM dan UKM, serta prospek bisnis ekspor komoditas lokal. Tidak hanya di Sultra tetapi Firman juga merambah ke Papua dalam rangka mengemban tugas ilmiah tersebut.

Secara pribadi saya sudah lama kenal sosok ini. Kami sering bertemu di lapangan di berbagai daerah dan penjuru di Sultra. Mobilitasnya yang tinggi itu tentu saja terkait kegiatan penelitian. Saya merasa akrab karena setiap ketemuan di kapal atau di darat Firman memuji produk jurnalistik saya di harian Kompas. “Saya senang dan selalu saya membaca tulisan Anda”, ujarnya.

Firman berasal dari keluarga mapan dalam ukuran desa atau kampung di Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Djama adalah kepala kampung “seumur hidup”. Kampung itu bernama Lamanda dan telah dimekarkan menjadi desa yang letaknya sekitar 170 Km selatan Kota Makassar.

Djama tidak memiliki ijazah sekolah manapun. Tetapi sosok ayah itulah yang meletakkan fondasi dan arah kehidupan Firman. Firman bertutur, ketika  hendak mendaftar kuliah ke Unhas dengan pilihan antara lain jurusan hukum dan ekonomi, ayahnya mendorong ke fakultas ekonomi saja.  “Kalau di hukum saya khawatir kau akan berpihak kepada keluargamu walaupun dia dalam posisi bersalah”, ujar Firman mengutip almrahum ayahnya.

Di zaman dulu posisi kepala desa, lurah atau kepala kampung merupakan simbol kekuasaan trias politika, minus legislatif yang biasanya dipegang dewan adat. Firman menuturkan, ayahnya sering mengadili warga dari kalangan bangsawan (karaeng) di wilayahnya dalam berbagai kasus. Tetapi kebanyakan sengketa tanah.

Kecuali ayahnya, Firman juga menyebut abangnya, Nurdin Basma, sebagai sosok yang berandil besar dalam menyongsong masa depannya. “Dia yang mengatur aset ibu buat biaya kuliah saya”, ujarnya. Nurdin Basma kini berstatus pensiunan guru SMA 2 Makassar. Mereka bersaudara 7 orang minus satu yang meninggal waktu kecil. Firman sendiri anak ke-6

Ibunda Firman, Basse (alm) kemudian berperan sebagai single parent karena sesuatu sebab sehingga berpisah dari Djama. Selain berdagang keliling, Ibunda Basse juga mengelola aset seperti lahan pertanian dan kehutanan yang ditumbuhi pohonan kayu berkualitas.

Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia. Hal itu yang membuat Firman harus melamar gadis Kalampang sekitar 7 Km dari Lamanda, agar calon istri itu bisa berkomunikasi dengan baik, dengan Ibundanya. Rosmawati, gadis itu adalah mahasiswi Akademi Koperasi Makassar.

Dalam hal pemilihan jodoh Firman bertentangan dengan pandangan ayahnya. Djama menghendaki anaknya yang telah menyandang gelar sarjana mau menikah dengan anak pejabat. “Kau sudah bisa memanjat, nak”, ujar Djama seperti dikutip Firman.

Hasil pernikahan Firman dengan Rosmawati telah membuahkan 4 anak. Ainal Fuad Adam bergelar S2 kini menjadi dosen di Universitas Negeri Musemus Merauke, Papua Barat. Anak kedua Nizar Fachry Adam menyandang gelar S2. Dua lainnya juga telah menyelesaikan pendidikan strata1, termasuk si bungsu Aulia Annisa yang meraih gelarnya dari Univesitas Gajah Mada.

Kampus Unhalu dan Kendari menawarkan banyak peluang bagi pasangan ini. Rosmawati, mama Ainal kemudian melanjutkan pendidikannya di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Unhalu. Alhasil, Rosmawati kini bergelar Master Pendidikan dan sehari-hari menjabat kepala sekolah di sebuah SD Kota Kendari.

Adapun Firman, pria bermata sipit juga tidak puas dengan gelar S1 dari Unhas. Di tengah kesibukannya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk kegiatan penelitian, Firman melanjutkan pendidikan S2 di ITB (Institut Teknologi Bandung) dan selesai tahun 1993. Sedangkan pendidikan doktoral dalam Ilmu Manajemen diraih dari Universitas Brawijaya Malang tahun 2014.

Cita-cita puncak seorang dosen adalah meraih gelar guru besar (profesor). Dr Akhmad Firman SE, MSP, berharap dapat menyandang gelar profesor sebelum pensiun tahun 2023. “Saya akan undang pada saat pengukuhan, insya Allah tahun depan”, kata pria yang lahir di Kampung Lamanda. 7 Juli 1958.

Ia berpandangan, di era digital manusia harus membangun jaringan pertemanan yang luas. Sejalan dengan itu manusia Indonesia juga harus terus meningkatkan kapasitas pribadi. “Saya ikut berbagai macam kegiatan dan forum ilmiah merupakan salah satu cara menambah wawasan dan jaringan”, ujarnya. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>