WONDERFULL 2020 DI PASARWAJO DAN WAKATOBI

OLEH YAMIN INDAS

KADIS PARIWISATA SULTRA I GDE PANCA

SEPANJANG tahun 2020 ini Indonesia menyelenggarakan pesta budaya. Semua yang indah, semua yang unik, dan hal-hal yang membuat orang terkagum-kagum, akan ditampilkan. Dunia silakan menonton. Untaian zamrud di khatulistiwa menyimpan ragam budaya dan pesona alam yang hangat.

        Pesta itu dikemas dalam apa yang disebut Wonderfull Indonesia 2020. Digelar mulai dari Aceh hingga Papua dengan jadwal pesta yang berbeda. Nuansa kearifan lokal masing-masing daerah dapat disaksikan di event-event tersebut. Anda tinggal memilih ke provinsi mana yang disuka. Yang pasti, 34 provinsi di Nusantara kebagian minimal dua paket dari 100 wonderfull event dengan tempat yang berbeda.

        Sulawesi Tenggara, provinsi yang memiliki potensi aspal alam terbesar di dunia dan terdapat di Pulau Buton, kebagian dua paket dari 100 wonderfull event yang akan digelar sepanjang tahun ini di seluruh Nusantara. Kedua paket itu adalah Wakatobi Wonderfull and Expo Wakatobi Wave di Kabupaten Wakatobi, dan Festival Budaya Tua Buton di Pasarwajo, ibu kota kabupaten penghasil aspal alam tadi.

        Festival Budaya Tua Buton lebih awal dari Wakatobi Wonderfull. Seperti dijelaskan Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, I Gde Panca, event Budaya Tua Buton digelar 19-24 Agustus 2020. Sedangkan Wakatobi Wonderfull and Expo Wakatobi Wave diselengagaran 14-16 November 2020. “Jadwal ini ditetapkan secara nasional oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif”, ujar Panca di kantornya, Kamis 13 Februari 2020.

        Ia mengatakan, masyarakat Sultra dengan senang hati menyambut program Wonderfull Indonesia 2020 dengan 100 wonderfull event. Event di Pasarwajo dan Wakatobi diperkirakan padat pengunjungnya. Sebab masyarakat Sultra dikenal sangat menghargai budayanya sendiri. Setiap kali ada festival budaya, kegiatan itu selalu dipadati pengunjung dari warga lokal sendiri.

        Di antara ragam pesona budaya Buton yang akan ditampilkan pada festival Budaya Tua Buton adalah makan bersama yang disebut Pekande-kandea. Di acara ini semua jenis makanan tradisional disajikan. Pengunjung yang dianggap tamu istimewa disuap oleh gadis-gadis pilihan. Tamu memilih jenis makanan apa yang sesuai selera. Makanan itu  dipajang di atas talam dari kuningan buatan beberapa abad yang lalu.

          Selain panorama alam bawah laut berkonten ribuan spesis terumbu karang dan ragam ikan hias, Wakatobi Wonderfull juga akan menampilkan kegiatan seni tari dan seni musik tradisional, serta festival kuliner.

        Wakatobi dengan taman lautnya itu menjadi pertimbangan pemerintah pusat untuk menempatkan daerah tersebut sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dalam rangka menyiapkan 10 Bali Baru di Indonesia. Ke-10 Bali Baru itu tersebar dari Aceh hingga Papua. Beberapa di antaranya telah ditetapkan sebagai KSPN super prioritas, agar pembangunannya lebih dipercepat.

                 Terkait tingkat perkembangan pariwisata saat ini, I Gde Panca mengatakan, Sultra masih dalam tahap mulai berbenah. Namun demikian, kunjungan turis mancanegara maupun lokal kian meningkat. Turis mancanegara lebih banyak ke kepulauan, terutama Wakatobi dengan taman lautnya itu.

Sedangkan turis lokal lebih terkonsentrasi di daratan besar yakni Kendari. Sebagai ibu kota provinsi, Kendari sering menjadi tuan rumah untuk event-event yang bersifat konferensi tingkat nasional maupun internasional. Menjelang tutup tahun 2019, misalnya, sekitar 34.000 peserta Hari Pangan Sedunia berkumpul selama 3-4 hari di kota tersebut. Dan bebarapa hari yang lalu, sekitar 5.000 kader Partai Amanat Nasional (PAN)  dari seluruh Indonesia mengadakan kongres di Kendari.

        Kota Kendari memiliki sebuah pulau wisata, yaitu Pulau Bokori di ambang masuk Teluk Kendari. Pulau berpasir putih seluas kurang lebih 6 hektar, ini bisa dicapai hanya sekitar 10 menit dari daratan terdekat di Desa Bajo Indah. Di desa ini telah dibangun pelabuhan khusus wisata sebagai tempat transit ke Pulau Bokori.

        Menurut I Gde Panca, akses dan aminitas pariwisata masih menjadi tantangan pembangunan pariwisata di Sultra.  Selain menambah hotel dan restoran yang ada, kualitas pengelolaan aminitas tersebut masih ditingkatkan. Panca menyebut Sultra masih sangat membutuhkan manajer yang handal di bidang pariwisata.

Ia berharap perguruan tinggi yang ada di provinsi ini membuka program pendidikan pariwisata. Tujuannya adalah untuk menghasilkan SDM pariwisata berkualitas baik di bidang manajemen hotel maupun tata boga dalam rangka menyiapkan, memasak dan menghidangkan makanan siap saji yang lebih berkualitas.

Penyiapan SDM pariwisata dipandang penting dan mendesak. Sebab pariwisata saat ini merupakan primadona bagi Indonesia maupun provinsi dan kabupaten/kota untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kegiatan ekonomi pariwisata dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain itu, kegiatan industri pariwisata  menyerap banyak tenaga kerja.

Tantangan lainnya adalah akses. Obyek-obyek wisata di Sultra belum terakses transportasi lokal yang memadai. Pasalnya, infrastruktur jalan menuju destinasi wisata, kondisinya  belum  baik dan nyaman dilalui alat-alat transportasi. Alat transportasi laut dari pulau ke pulau destinasi wisata,  juga demikian halnya, belum tersedia setiap saat diperlukan.

 Adapun akses antar  provinsi dan kabupaten melalui konektivitas udara, bagi Sultra dianggap telah memadai. Di provinsi ini terdapat 5 bandar udara yang melayani penerbangan setiap hari. Tiga bandar udara beroperasi di kepulauan, yaitu Bandara Betoambari di Baubau, Bandara Matahora di Wakatobi, dan Bandara Sugi Manuru di Muna. Dua lainnya di Kendari dan Kolaka.

        Angkutan kapal feri di lintas-lintas penyeberangan juga telah berkembang secara bertahap. Pulau Muna, Pulau Buton, Wakatobi, dan Pulau Kabaena telah terkoneksi dengan Kendari, ibu kota provinsi, berkat pelayanan armada kapal feri sebagai salah satu unsur atau komponen dari sistem perhubungan darat.

        Persoalan tersisa adalah ruas-ruas jalan lokal yang kondisinya memprihatinkan. Perbaikan dan peningkatan kualitas jaringan jalan lokal menjadi jalan beraspal, tidak berjalan lancar seperti yang diharapkan.  Kondisi Infrastruktur transportasi lokal yang demikian itu oleh I Gde Panca disebut sebagai bagian dari tantangan program pengembangan pariwisata di Provinsi Sultra.***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>