ARI BERTEKAD TINGKAT PRODUKSI

 OLEH YAMIN INDAS

        ORDE BARU harus diakui banyak membawa kemajuan. Tidak ketinggalan dunia pertanian. Di subsektor pertanian tanaman pangan, misalnya, FAO (Food and Agriculture Organisation) tanpa pikir panjang mencatat Indonesia mencapai swasembada pangan, khususnya beras  pada tahun 1980-an. Wajah Pak Harto makin semringah ketika mendapatkan pengakuan organisasi pangan dunia tersebut.

        Adalah jasa pupuk anorganik (kimia) yang memforsir peningkatan produksivitas beberapa kali lipat setiap hektar tanaman padi. Selain itu penggunaan berbagai jenis bibit varietas unggul yang pada awalnya diimpor dari Filipina, dan kemudian bisa dihasilkan sendiri.

        Petani juga tertarik menggunakan anorganik karena lebih praktis. Jumlahnya penggunaannya relatif sedikit. Harga pun lebih murah karena memang disubsidi pemerintah. Penjualan pupuk kimia menjadi bisnis yang menguntungkan sehingga di kota kabupaten dan kecamatan berderet toko yang menawarkan pupuk tersebut. Karena itu petani mudah memperolehnya.

        Beberapa dekade kemudian lahan pertanian, khususnya lahan  sawah menjadi jenuh dengan pupuk  kimia. Pupuk itu tidak lagi menyuburkan tetapi sebaliknya membuat lahan mengeras dan kurus. Tidak heran jika produktivitas dan produksi beras mengalami status quo. “Bahkan cenderung menurun”, ujar Ari Sismanto, Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra.

Mantan Kadis Pertanian Konawe Selatan itu mengatakan, jika pada awalnya petani sangat gembira dengan produksi padi 4-5 ton per hektar. Sekarang galau karena produksi umumnya rata-rata hanya 3 ton.

        Ari bertekad untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras. Dia tidak puas dengan kondisi saat ini, meskipun swasembada beras Provinsi Sultra telah mencapai 158.850 ton pada tahun 2018. Produksi tersebut berasal dari luasan sawah 128.00 hektar, dan umumnya beririgasi teknis.

        Untuk mewujudkan tekad itu Ari mengajak petani untuk kembali menggunakan pupuk organik, pupuk yang tidak asing sebelum pupuk kimia menjadi sarana produksi yang hasilnya mencengangkan ketika itu.

        Setelah diuji coba di beberapa tempat, petani sawah kembali bergairah karena produksi padi meningkat 6-8 ton per hektar. Ari Sismanto menjelaskan, dalam musim tanam saat ini ditargetkan sekitar 1000 hektar lahan sawah di Konda akan menggunakan pupuk organik.

        Petani tidak sulit mendapatkan pupuk organik. Sumber bahan pupuk ini dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang,  limbah panen seperti jerami, dedak, batang dan tongkol jagung, limbah ternak.

        Terkait peningkatan pangan, Ari juga mengemukakan pihaknya akan menambah beberapa jenis tanaman pangan yang diakrabi petani Sultra selama ini, seperti padi, jagung, umbi-umbian.

        Menurut dia, tanaman porang lebih mahal dari tanaman pangan lainnya. Produksi tanaman ini berbentuk umbi. Setelah dikeringkan harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap kilogram.

        Ari mengatakan, tumbuhan porang sebetulnya banyak juga terdapat di Sultra. Tetapi tumbuh liar di hutan karena belum dibudidayakan.  Tumbuhan ini serumpun dengan bunga bangkai.

        Tumbuhan porang menghasilkan umbi yang bisa dimakan. Selain itu multiguna. Tepung porang dapat digunakan sebagai bahan lem, agar-agar, mi, tahu, bahan baku industri kosmetik. Tidak heran jika umbi yang multiguna itu bernilai ekonomi tinggi.

        Selain porang, Ari juga ingin mengembangkan sorgum. Produksi tanaman ini juga serba guna. Selain sebagai bahan pangan, pakan ternak, juga merupakan bahan baku industri minuman seperti sirup wine (anggur), lem, cat. Di beberapa Negara seperti Amerika, sorgum digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol.

        Semangat dan tekad Kadis Pertanian dan Peternakan Sultra untuk meningkatkan produksi sangat sejalan bahkan merupakan respons positif terhadap pembangunan infrastruktur yang menggelegar di era Presiden Joko Widodo. Infrastruktur seperti pelabuhan dan penyediaan tol laut, harus diimbangi dengan peningkatan produksi.

        Ada fenomena di kawasan timur Indonesia yang tidak menguntungkan dunia pelayaran. Umumnya kapal cargo yang beroperasi ke kawasan ini,  ketika pulang ke pelabuhan utama seperti Makassar, Surabaya, dan Jakarta dalan keadaan muatan kosong. Sangat kekurangan muatan balik (return cargo). Pasalnya, di kawasan timur produksi belum berkembang.

        Masalah tersebut belum direspons sebagaimana mestinya oleh para kepala daerah setempat, yaitu bupati/walikota dan gubernur. Pembangunan infrastruktur yang menggelegar tidak segera ditangkap sebagai peluang untuk segera memajukan ekonomi masyarakat setempat. Wujudnya adalah peningkatan produksi. Sekali lagi peningkatan produksi, agar kapal-kapal cargo tidak kesulitan muatan balik,  dan bangkitnya perdagangan antar pulau dan antar daerah.

        Karena itu, semangat dan tekad Kadis Pertanian dan Peternakan Sultra harus didukung oleh pengambil keputusan setempat. Dana-dana DAK (Dana Alokasi Khusus) maupun APBD harus diarahkan lebih banyak ke sektor-sektor peningkatan produksi. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>