Kesaksian Sunset di Bali

Guntur alias MR George mengantar putri sulungnya Windy ke tempat pemberkatan pernikahan di vila Phalosa, salah satu pantai indah di Bali, Sabtu senja tanggal 17 November 2012

PULAU Bali dianugrahi pantai berpasir putih nan panjang, mulai dari Jimbaran hingga Gilimanuk. Pantai tersebut dijilat hempasan ombak Lautan Hindia sepanjang tahun. Fenomena alam tersebut kemudian menjadi ikon pariwisata Indonesia. Gulungan ombak yang meninggi sebelum pecah di hamparan pasir putih dijadikan sarana olahraga berselancar (surfing) oleh para pelancong dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Para peminat sangat termotivasi untuk menaklukkan ombak Pantai Kuta, salah satu titik pantai Bali yang telah dikelola sebagai sebuah resor wisata paling terkenal di dunia. Ke arah selatan Kuta, ada Pantai Jimbaran yang pernah menggemparkan dunia akibat ledakan bom, dan juga Deklarasi Jimbaran sekelompok kapitalis di sekitar penguasa Orde Baru yang berisi gagasan tentang upaya pembinaan pengusaha kecil dan menengah Indonesia.

       Di sekujur pantai nan panjang, ada lagi sepotong pantai Bali bernama Pantai Batublig. Letaknya di sebelah utara Kuta. Kawasan ini belum dikelola sebagai arena olahraga berselancar. Kawasan ini ditumbuhi gedung-gedung berkelas, seperti hotel, restoran, dan villa. Salah satu villa yang menarik perhatian saya adalah Phalosa Villa berupa bangunan kembar di bibir Pantai Batublig. Villa ini tak pernah sepi dari suara deburan ombak Lautan Hindia.

       Sabtu senja tanggal 17 November 2012. Bola Matahari tampak tertutup awan agak tipis sehingga sinarnya yang lembayung tak menerpa secara langsung pelataran depan villa mewah tersebut. Latar depan Phalosa Villa adalah sebuah taman yang tertata indah. Pohon-pohon hias seperti kamboja, nyiur, pinang gajah, rumpun pandan, dan sederet tanaman hias lainnya berfungsi sebagai sabuk dari lapangan ruput hijau yang terhampar bak permadani. Di tengahnya ada kolam yang airnya mengalir perlahan. Di tepi kolam berdiri semacam gapura bertiang enam dan tak bernuansa Bali. Gapura itu tampak berhiaskan rangkaian bunga krisan dalam paduan warna putih, hijau muda, dan kuning. Yah, semua kursi dan meja yang telah diatur rapi di pelataran didominasi warna-warni tersebut. Bahkan, seikat karangan bunga krisan yang digenggam erat jemari lentik Windy, juga menampilkan dominasi warna-warni tadi.

       Bola Matahari senja di Pantai Batublig masih tetap bersembunyi di balik awan tipis. Bola yang menerangi alam semesta itu seolah menunda waktunya untuk memasuki peraduan. Maka suasana pun terasa lebih romantis. Ratusan pasang mata kini makin sering diarahkan ke pintu utama bangunan villa sebelah utara. Dan sejurus kemudian, yang dinanti-nanti pun keluar dari dalam villa. Seorang pria terbalut setelan jas biru tua dengan dasi warna merah menggandeng seorang gadis bergaun pengantin, warna putih krem. Gaun berekor itu praktis membungkus seluruh tubuh sang gadis, kecuali wajah yang tersaput kain tembus pandang sebagai bagian dari gaun mewah tersebut.

Windy dan Sanni saat menjalani pemberkatan pernikahan mereka di vila Phalosa dalam suatu upacara yang penuh khidmat Sabtu senja tanggal 17 November 2012.

       Windy, itulah gadis yang di senja itu mengakhiri masa lajangnya. Peristiwa sakral ini disaksikan pesona alam pantai (Batublig) Bali yang indah di bawah sorotan sinar lembayung.  Bola Matahari secara perlahan mulai tersembul dari balik awan. Peristiwa sunset yang penuh misteri, kini tinggal hitungan menit.   Nama lengkap gadis yang sedang dalam pelukan bahagia adalah Windy Riswantyo. Dia anak sulung pengusaha George Hutama Riswantyo, hasil perkawinannya dengan Yulia. Mereka menikah tanggal 14 Oktober 1980 di Kendari. Windy pun lahir di kota lulo tersebut, tanggal 25 Februari 1982. Pasangan Guntur-Yulia dikarunai tiga anak. Dua lainnya adalah Cindy, kembarnya Windy, dan Gino. Ketiga anak ini sudah hidup mandiri. Windy yang keluar lebih dulu dari Cindy pada tanggal 25 Februari  adalah salah satu manajer di lingkungan PT Astra Internasional, Cindy masih sedang menyelesaikan studi hukum S2 di Columbia University (AS) sambil bekerja di sebuah Legal Office yang berkantor pusat di London. Adapun Gino, putra satu-satunya  ditugaskan ayahnya mengelola usaha garmen.

       George (52) pertama kali melihat sinar Matahari justru di pedalaman jauh dari Kota Kendari yakni di sebuah desa sepi bernama Wanggudu. Wanggudu di hulu Sungai Lasolo kini  merupakan wilayah administrasi Kabupaten Konawe Utara, hasil pemekaran Kabupaten Konawe. Konawe Utara dikenal kaya deposit nikel.

George alias Guntur bersama putrinya terus melangkah perlahan di bawah iringan alunan musik klasik yang lembut. Mereka menuju tempat pemberkatan nikah di depan gapura tadi. Pemberkatan itu dilakukan  seorang pendeta dari Kendari.  Di sana Windy dipertemukan dengan pasangannya bernama Sanni Haryanto, pengusaha muda dari Bandung. Tangan kiri Windy lalu menggaet lengan kanan calon suaminya, sementara tangan kanannya masih memegang erat seikat karangan bunga krisan. Kini pasangan ini diresmikan menjadi suami istri melalui ritual pemberkatan. Acara ini dilanjutkan dengan saling memasang cincin kawin di kedua jari manis masing-masing mempelai.

Kecuali kedua pasangan orangtua mereka (Windy dan Sanni), peristiwa sakral tersebut disaksikan pula Yohana alias Kie Siu Hwa, nenek Windy yang kini berusia 80 tahun. Nenek ini tampak masih segar dan lebih awet dari usianya. Yohana selalu tampak sumringah pertanda sangat berbahagia masih dapat menyaksikan upacara pernikahan salah seorang cucunya dari Guntur.

Fenomena alam saat ini sedang berlangsung khidmat, seperti halnya prosesi pernikahan Windy-Sanni. Bola Matahari telah berubah menjadi bola api yang merah membara di kaki langit. Permukaan Lautan Hindia tampak berpendar-pendar dengan warna keperakan. Sunset! Matahari hendak memasuki peraduannya melalui garis cakrawala pertemuan langit dan bumi. Proses alam tersebut telah menunaikan tugasnya menyaksikan kekhidmatan suasana pernikahan Windy-Sanni dalam sebuah pesta outdoor di Pantai Batublig, Bali.

Keluarga terdekat Windy. Searah jarum jam: Guntur, Ibunda Yulia, sang nenek Yohana, dan adik kembarnya Cindy. Mereka menyimak dengan saksama pidato pemberkatan pernikahan Windy-Sanni oleh seorang pendeta dari Kendari.

Ketika rembulan telah menggantikan peran Sang Surya menerangi mayapada dengan sinar lembut bulan muda penanggalan Samsyiah (tanggal 3 Muharram 1433 H), arena pesta outdoor makin ramai oleh para undangan. Dalam perkiraan saya, para undangan akan didominasi para pengusaha dari kalangan industriawan, bankir, manajer, dan tokoh-tokoh dunia usaha lainnya. Kehadiran  mereka tentu membuat kemewahan villa Phalosa lebih bergengsi. Akan terjadi banjir hadiah dan tanda mata yang bernilai tinggi. Maklum, Mr George alias Guntur adalah pengusaha garmen di Denpasar, sekaligus pula pemilik sebuah pabrik pakaian selancar. Belakangan, Guntur merambah pula  dunia usaha pertambangan nikel di daerah kelahirannya, Sulawesi Tenggara.

Namun, saya kepeleset. Para undangan yang hadir hanyalah keluarga besar kedua mempelai, sahabat dan handai tolan Guntur dari Kendari, Bau-Bau, Makassar, Jakarta, dan Bali sendiri. Tidak ada yang membawa kado, hadiah, maupun tanda mata lainnya. Makanan yang disajikan juga biasa-biasa, tidak ada santapan khas China, seperti ekor hiu, teripang,  apalagi madat. Ketika didaulat tampil menyanyi di panggung, Gubernur Sultra H Nur Alam SE MSi mengatakan, pesta ini tidak lebih dari reuni keluarga besar dan sahabat-sahabat Guntur.

Suami istri Sanni-Windy di tengah pasangan orangtua mereka. Di kanan Windy adalah ayahnya Guntur dan ibunda Yulia, sementara di kiri Sanni adalah ayah ibunya yang berdomisli di Jawa Barat

 “Kami teman sepermainannya di Kendari memanggilnya Guntur. Karena itu saya sempat bingung membaca undangan yang menuliskan namanya sebagai Mr George”, kata Nur Alam sebelum membawakan lagu Firman Idol berjudul Kehilangan. Dia bertrio dengan jenderal TNI  berbintang satu Taufik Hidayat dan jenderal (Pol) berbintang satu Djoko. Keduanya adalah anggota dan mantan anggota forum komunikasi pimpinan daerah Sultra.

Guntur dan orangtuanya adalah orang Wanggudu. Keluarga itu boyongan ke Kota Kendari untuk mencari peluang hidup yang lebih baik. Ayahnya bernama Akoa kemudian membuka restoran dan sukses. Restoran Hilman di bilangan Benu-Benua cukup terkenal di kalangan kaum elite lokal. Pengunjung Kota Kendari tak melewatkan restoran itu untuk menikmati masakan China, seafood, dan lain-lain.

Setelah menikah dan beranak tiga, Guntur sekeluarga hijrah ke Pulau Dewata, juga untuk mencari peluang baru. Ia kemudian membuka bisnis pakaian jadi (garmen). Usaha tersebut mengalami kemajuan pesat ketika terjadi resesi ekonomi mulai tahun 1997. Investasi dengan rupiah, tetapi produksinya diekspor dan menghasilkan dollar Amerika Serikat dalam nilai berlipat ganda. Maka menetaplah Guntur di Denpasar hingga anak sulungnya disunting pengusaha muda dari Bandung. Ketika Nur Alam terpilih sebagai Gubernur Sultra untuk masa bakti 2008-2013, Guntur sering bolak-balik ke kampung halamannya di Kendari. Ia mempunyai rencana membangun smelter nikel di salah satu kabupaten di Sultra bekerja sama dengan investor dari China.***
==============

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>