INVESTOR ADALAH RAJA

DRS H MASMUDDIN MSi, KEPALA DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU S

OLEH YAMIN INDAS

BAGI Sulawesi Tenggara, investor adalah raja. Dia dilayani dengan penuh khidmat. Serba berhati-hati jangan keliru dalam berperilaku maupun dalam berkata-kata. Perhatian selalu tertuju kepada titah dan kemauan sang raja. Sorotan matanya saja harus pandai diartikan maknanya, apakah dia mau murka atau mau memerintahkan sesuatu.

Nah, siapa investor yang mau menjadi raja di Sultra. “Kita akan perlakukan dia sebagai raja”, ujar Drs H Masmuddin MSi, Kepala Dinas Penanamaan Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) ketika kami berbincang di kantornya , Rabu 4 Desember 2019.

Ketika dia menyebut investor adalah raja, maka saya bayangkan sosok raja ketika membuka tulisan ini. Padahal investor itu diibaratkan sebagai raja adalah terkait masalah pelayanan. Ini yang selalu ditekankan Presiden Jokowi dalam setiap kali berbicara tentang upaya meningkatan kegiatan investasi di Indonesia dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi.

Soal perizinan yang lambat, berbelit hingga dugaan pungutan liar adalah hambatan yang membuat investor kurang tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. Investor lokal pun mengalami hal serupa sehingga kegiatan investasi tidak berkembang seperti yang diharapkan.

Saat ditanya adakah kebijakan khusus Gubernur Sultra untuk kemudahan pengusaha berinvestasi, Masmuddin tidak menyebutkan secara konkret. Dia mengatakan, pokoknya terkait masalah perizinan, amdal dll tidak ada hambatan. Adapun akta notaris pendirian perusahaan, NPWP dll biasanya telah diurus di Jakarta atau di tempat dari mana investor berasal.

Pelayanan lain dari pemda disebutkan seperti penyediaan informasi berbagai potensi ekonomi bagi investor yang berminat menjajaki kemungkinan melakukan investasi.

Jika potensi itu menyangkut lahan untuk perkebunan maupun untuk pertambangan, Masmuddin mengatakan, pihaknya berusaha untuk memastikan status lahan tersebut telah clear dan clean dari soal tumpang tindih dengan peruntukkan lain.

Masalah tumpang tindih banyak ditemukan di Konawe Utara. Lokasi perkebunan kelapa sawit tumpang dengan lahan tambang. Pasalnya, ketika perizinan diproses, izin usaha pertambangan (IUP) biasanya lebih diprioritaskan karena pengusaha dikejar waktu untuk segera menambang nikel, dan untuk itu pengusaha berani membuang uang sebagai pelicin.

Seperti dijelaskan Masmuddin, Provinsi Sultra kini masih menyimpan banyak potensi sumber daya alam yang menunggu investor untuk diolah menjadi sumber ekonomi nyata bagi daerah dan kepentingan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lahan pertanian untuk berbagai komoditas bernilai ekspor, seperti perkebunan kelapa sawit, jagung, singkong, kedelai, peternakan sapi masih terhampar luas di hampir semua kabupaten di daratan besar Sultra.

Pemda Sultra sebetulnya punya ranch (ladang ternak) di Wawolemo, 42 Km barat Kota Kendari. Luasnya sekitar 400 hektar. Namun lahan itu dibiarkan menganggur tanpa diusahakan agar menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD). Agar tidak mubazir ranch tersebut akan segera mendatangkan manfaat jika dilerjasamakan dengan pihak swasta.

Usaha peternakan rakyat cukup berkembang baik. Sultra sering memasok sapi potong kepada provinsi lain seperti DKI dan Papua. Usaha peternakan ini akan lebih maju dan produktif bila didukung investasi yang berskala besar. Selain itu peternak juga dibimbing untuk melakukan sistem sapi kreman agar harga sapinya lebih tinggi, Teknik sapi kreman belum berkembang di Sultra.

Potensi lain yang dikemukakan Masmuddin adalah perkebunan, perikanan, pertambangan, dan pariwisata. Terkait sektor pertambangan nikel, mantan Wakil Bupati Konawe tersebut mengatakan, saat ini terdapat kawasan khusus industri pemurnian nikel di Morosi di pantai timur Kabupaten Konawe, sekitar 40 Km sebelah utara Kota Kendari.

Tidak sebesar dan terkenal seperti industri ferro nikel Pomalaa di Kolaka yang dikelola PT Aneka Tambang, tetapi ke depan Morosi akan memproduksi baja dan stainless. Ada dua perusahaan besar yang beroperasi di kawasan khusus itu, PT Tirtun Dragon Indonesia dan PT OpsidionSteel Stainless. Mereka juga mengelola pelabuhan khusus di situ.

Seperti dilukiskan Masmuddin, setiap hari kerja di kawasan khusus itu tampak sekitar 10.000 karyawan menyemut bila menuju tempat kerja masing-masing. Umumnya karyawan tersebut adalah penduduk lokal Sultra. Tenaga kerja akan meningkat hingga 15.000 orang bila industri di kawasan Morosi telah beroperasi penuh.

Namun ada cerita kurang sehat bagi manajemen perusahaan. Seorang pelamar kerja di situ, mudah diterima dengan syarat membayar sejumlah uang kepada oknum tertentu di perusahaan itu.

Di manajemen tingkat menengah dan puncak, boleh jadi tidak mengetahui permainan tersebut. Tetapi masalahnya, perusahaan tersebut agak tertutup karena manajemen puncak dikuasai pemilik modal, yaitu China.

Namun demikian, satu hal yang menggembirakan kehadiran kawasan khusus industri nikel selain penyerapan tenaga kerja yang melimpah tadi, juga kebutuhan pangan karyawan tersebut berasal dari produksi penduduk sekitar. Beras, sayuran, daging, ayam telur dll dipasok penduduk Konawe, Konawe Utara dll. Dengan demikian, penduduk akan lebih terpacu meningkat produksi untuk memenuhi permintaan kawasan industri Morosi, dan pada gilirannya perekonomian dan kesejahteraan mereka meningkat pula.

Transaksi bahan konsumsi tersebut dipusatkan di suatu pasar dalam kawasan yang disebut “Pasar China”. Pasar ini menyediakan selain bahan pangan, juga orang bisa berbelanja pakaian dan kebutuhan lain.

Kecuali tambang dan perkebunan kelapa sawit di Konawe Utara dan singkong di Konawe Selatan, ada pula perkebunan tebu di Bombana. Menurut Masmuddin, tanaman tebu di perkebunan itu hampir panen perdana. Sedangkan pabrik gula telah disiapkan untuk menampung produksi tebu tersebut. Investor perkebunan tebu dan pabrik gula adalah PT Prima Alam Gemilang dari Makassar. ***

 

Top of Form

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>