BERSINERGI DENGAN MEDIA

OLEH YAMIN INDAS

PLT KADIS INFOKOM SULTRA SAIFULLAH

DI ERA media sosial media online orang bisa menulis apa saja. Perasaannya tengah galau atau lagi senang, dia ungkapkan di akun facebooknya. Ibu-ibu yang ingin mempertahankan status quo namun berat badannya malah makin naik juga ditayangkan di publik melalui medsos.

Beberapa waktu lalu, ketika kampanye pilpres, sedikit saja orang Indonesia  yang tidak terlibat politik praktis. Tetapi selebihnya, yang banyak (mayoritas) itu, Masya Allah gatal tangannya kalau tidak menulis soal politik. Panjang pendeknya tulisannya bukan soal. Yang penting aspirasi politiknya  diumumkan lewat medsos.

Diakui atau tidak, medsos kemudian disebut ikut berperan dalam kegaduhan politik. Sebab dia menjadi sarana penyampaian isu-isu pro-kontra yang sedikit banyak memengaruhi masyarakat. Situasi semakin parah karena tidak sedikit informasi yang ditayangkan adalah infomasi bohong alias hoax.

Setelah pilpres maupun pilkada, berita-berita nyinyir di medsos tak kunjung lenyap. Bahkan, berita-berita hoax dan hate speech masih sering muncul di tayangan media sosial: facebook, twitter, instagram, dll.

Bagi wartawan media mainstream atau media konfesional haram hukumnya membuat atau menyiarkan berita yang menyudutkan personal, pejabat maupun lembaga pemerintah dan masyarakat seumpama ormas, parpol, tanpa klarifikasi kepada yang bersangkutan atau pihak-pihak terkait. Coven  both side tidak dilaksankan sesuai tuntunan kode etik jurnalistik.

Tetapi wartawan juga manusia, sering tak luput dari salah dan khilaf. Jika tidak dilakukan berulang-ulang kelemahan manusiawi tersebut dapat dipahami.

Beberapa waktu lalu, kata yang punya cerita, Gubernur Ali Mazi merasa kesal. Dia diserang bukan oleh medsos tapi media konfensional. Ali yang baru lebih setahun menjabat, ditulis 8 hari dia meninggalkan tugas, pergi keluar negeri, dan terserang penyakit jantung. Informasi ini ditulis begitu saja tanpa konfirmasi kepada yang bersangkutan atau pihak-pihak yang dekat dengan Gubernur Ali Mazi.

Once upon a time, saya bersilaturahim dengan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Infokom Provinsi Sultra, Saifullah. Dia menggantikan Kusnadi yang sudah pensiun sejak bulan Juli 2019. Saifullah masih merangkap sebagai Kepala Bidang Sandi di dinas itu. Dan dia tetap berkantor di ruangan kerjanya seperti biasa. Ruangan kerja Kadis kosong meskipun sudah ditata rapi.   “Plt ini hanya tugas tambahan, sebelum ada pengangkatan Kadis baru”, ujarnya merendah.

Saifullah adalah orang pemerintahan. Tujuh tahun dia menjadi camat di suatu wilayah di Kabupaten Konawe Selatan. Setelah itu dia ditarik untuk menduduki berbagai jabatan eselon II/B di kabupaten tersebut. Terakhir Saiful menjabat Kepala Pemerintahan Desa Konawe Selatan. Karena satu dan lain hal, dia pindah ke provinsi dan ditempatkan sebagai kepala bidang, eselon III, setingkat lebih rendah dari eselon saat di kabupaten.

Ketika dipercaya untuk menjabat Plt Kadis Infokom, Saifullah memutuskan ingin merangkul teman-teman media, baik media mainstream maupun media sosial media online. Mereka dipandang sebagai mitra yang harus saling membantu dan saling mendukung.

Bagi Saiful, tidak ada anak emas tidak ada anak tiri. Semua harus diperlakukan sama dan adil secara proporsional. Dalam rangka itu dia kunjungi kantor-kantor redaksi media konfensional, merangkul teman-teman dari media online, kantor berita, para reporter TV lokal dan TV nasional. Maka Saiful pun merasa plong.

Di lain pihak, Saiful optimalkan tenaga fungsional di Dinas Infokom. Kameramen dan fotografer setiap hari diarahkan untuk  meliput kegiatan Gubernur dan pemda umumnya. Hasil pekerjaan mereka dipublikasikan melalui saluran media online milik Dinas Infokom maupun media massa lain.

Saiful juga bercerita, baru-baru ini Gubernur Ali Mazi mengadakan kujungan kerja ke Amerika Serikat. “Saya kejar beliau ke Jakarta dan melakukan semacam wawancara, dalam rangka apa Pak Gub ke Amerika, berapa lama. Kalau ada kegiatan resmi di sana tolong dikirim informasinya, termasuk foto-foto kegiatan yang dianggap patut diketahui masyarakat”, tutur Saifullah.

Alhasil, kepergian  Gubernur keluar negeri tidak memunculkan informasi yang simpang siur, apalagi controversial. Gubernur Ali Mazi juga sangat well come. Informasi kegiatan di Amerika serta foto-foto dikirim ke Dinas Infokom. Selanjutnya Saifullah menyebarkan bahan berita tersebut ke semua media lokal, baik mainstream maupun media online. Kerja sama dengan semua media mulai dibangun dalam suasana kekerabatan fungsional.

Dalam perbincangan dengan saya terbaca pikiran Saiful bahwa dia berkomitmen untuk bersinergi dengan media. Semua koran yang terbit di Sultra, baik di ibu kota provinsi maupun di kota-kota kabupaten seperti Buton Pos dan  Kolaka Pos, dipandang sebagai mitra. Tidak terkecuali kantor berita, repoter TV lokal dan nasional dan media online lokal.

Unsur-unsur pers tersebut dianggapnya setara. “Saya tidak ingin menganakemaskan salah di antara mereka”, ujar Saiful menegaskan sikapnynya.

Saiful berharap pihaknya dapat ters menjalin silaturrahim dan bersinergi dengan media massa yang beroperasi di Sultra, baik secara kelembagaan maupun personal insan media. Ia berpandangan, bersinergi dengan media sangat penting dalam rangka menciptakan iklim yang sejuk di tengah gelegar pembangunan daerah dan nasional.

Melalui media, pemerintah juga dapat mensosialisikan program-programnya kepada masyarakat. Di lain pihak media juga harus tetap konsisten dengan fungsinya sebagai sarana pencerah dalam kehidupan sosial. Juga tetap konsisten dengan fungsi sosial kontrolnya  yang konstruktif dalam koridor kebebasan pers yang bertanggung jawab.***

 

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>