MOROSI AKAN TERKONEKSI REL KERETA API

KEPALA SUBDIT PENATAAN DAN PENGEMBANGAN JARINGAN DIREKTORAT JENDERAL PERKERETAAPIAN KEMENTERIAN PERUBUNGAN iKHSANDI wANTO HATTA BERSAMA kADIS PERHUBUNGAN sULTRA HADO HASINA

 OLEH YAMIN INDAS

BAGI masyarakat Sultra akan semakin banyak pilihan alat transportasi. Kereta api sebagai alat transportasi berbasis rel tak lama lagi hadir melayani angkutan barang dan  orang di Trans Sulawesi, termasuk segmen Sultra pada jalur Kendari-Kolaka.

Studi kelayakan untuk segmen tersebut bekerja secara marathon. Bulan lalu, tepatnya tanggal 25 Oktober 2019 telah dilaksanakan rapat Koordinasi Teknis tentang studi kelayakan tersebut. Rapat serupa kembali diadakan Kamis, 28 November  2019 di Hotel Horison Kendari, Seperti sebelumnya, rapat koordinasi tersebut dipimpin Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina.

Peserta rapat antara lain Kepala Sub Direktorat Penataan dan Pengembangan Jaringan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Ikhsandi Wanto Hatta, Kadis Perhubungan Konawe Nuriadin, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kendari Ali Aksa, Sofyan dari Tim Studi Kelayakan,  unsur-unsur  dinas terkait dari provinsi  maupun kabupaten kota.

Banyak kemajuan yang dicapai tim dalam sebulan terakhir. Jika pada rapat sebelumnya baru dilaporkan rencana garis besar titik-titik jalur rel kereta api yang akan dibangun, maka sekarang tim studi kelayakan mengajukan 5 alternatif terase (jalur) kereta api Kendari- Kolaka dengan panjang (jarak) bervariasi. Terasa terpanjang 189 km, dan terpendek 129 Km.

Semua terase kereta api  yang ditawarkan bertitik tolak dari pelabuhan Bungkutoko dan Kendari New Port,  dan berakhir di Sabilambo. Di kedua titik tersebut akan dibangun stasiun. Ini memang sesuai pengarahan Kadis Perhubungan Sultra saat rapat koordinasi bulan lalu.

Pelabuhan Kendari di Bungkutoko yang telah diintegrasikan dengan Kendari New Port – masih dalam satu kawasan – telah dikelola PT (Persero) Pelindo IV. Karena itu, dalam pembangunan stasiun di situ harus dikordinasikan dengan pihak Pelindo IV. Menurut Hado, pelabuhan Kendari saat ini merupakan pelabuhan ketiga terbesar di kaswasan timur setelah Makassar dan Pantoloan di Palu.

Terkait sejumlah alternatif yang diajukan pihak konsultan,  Hado Hasina lebih memilih terase yang bakal terkoneksi dengan Morosi, pusat industri nikel (smelter) di pesesisir timur Kabupayen Konawe. Ia mengatakan, kawasan industri tersebut direncanakan meyerap tenaga kerja sampai 15.000 karyawan. Sehingga kebutuhan (demand) akan sarana transpotasi cukup besar.

Selain mobilitas karyawan yang akan lebih memilih kereta api karena tarifnya relatif murah, bukan tidak mungkin produksi smelter nikel di kawasan industri itu, akan memanfaatkan pelabuhan Kendari sebagai simpul terkait kegiatan ekspor. Secara ekonomis pelabuhan Kendari lebih menguntungkan karena faktor jarak yang lebih dekat untuk dijangkau kapal-kapal ekspor. Selain itu pelabuhan utama tersebut memiliki peralatan modern  sehingga kegiatan pemuatan lebih cepat.

Dalam konteks itu angkutan kereta api lebih relevan. Hado Hasina mengatakan, orientasi pelayanan kereta api di Trans Sulawesi segmen Kendari – Kolaka lebih ditujukan untuk keperluan pengangkutan barang. Sebab potensi penumpang masih terbatas. Penuduk di daerah ini belum sepadat di Pulau Jawa dll.

Kadis Perhubungan tersebut merasa puas karena berbagai alternatif terase kereta api yang ditawarkan tim studi kelayakan, semuanya diarahkan untuk diintegrasikan dengan simpul-simpul transportasi seperti terminal A Puwatu, terminal B Baruga, terminal Bandara Haluoleo dan terminal pelabuhan Kendari di Bungkutoko.

Hado juga sependapat dengan Kadis Perhubungan Kota Kendari Ali Aksa tentang perlunya terase rel kereta api  diarahkan ke selatan kota sesuai tata ruang Kota Kendari. Wilayah selatan itu merupakan daerah pengembangan industri. Kadis Perhubungan Sultra menegaskan tujuan penyediaan sarana angkutan kereta api adalah untuk menghubungan sentra-sentra produksi.

Dari pihak konsultan studi kelayakan mengajukan 2 alternatif terase Kendari-Kolaka. Alternatif 1 sepanjang 161 Km. Jalur ini bertitik awal dari pelabuhan Bungkutoko dan Kendari New Port. Terase tersebut melalui rencana jalan strategis lingkar Kendari, terminal Baruga, terminal A Puwatu, terminal barang Baruga, kawasan industri Morosi, terminal Rahabangga, terminal Tawainalu (Kolaka Timur), dan terminal Sabilambo.

Alternatif 2 sepanjang 189 Km, tetap start dari Bungkotoko dan Kendari New Port, terus meluncur melalui rencana jalan strategis lingkar Kendari, terminal Baruga, Bandara Haluoleo, Bandara Ni Bandera (Kolaka). Tapi untuk melintasi kawasan bandara tersebut jalur kereta api harus membelah hutan lindung di Bombana.

Sofyan dari tim studi kelayakan menyatakan, beberapa alternatif yang diajukan serta masukan dari peserta rapat terutama Kadis Perhubungan  Sultra, akan memperkaya referensi perbaikan dan penyempurnaan yang akan dilakukan studi kelayakan ini. Tim masih akan turun ke lapangan lagi, mengambil foto udara, dll.

Rencana pembangunan jaringan rel kereta api segmen Sultra semula diperkirakan baru akan siap dioperasikan sekitar tahun 2030. Namun Hado Hasina menyatakan, program itu bisa lebih cepat direalisasikan jika tim studi kelayakan bekerja lebih cemat namun cermat dalam menyelesaikan tugasnya hingga pada tahap rencana detail.

Hal senada diisyaratkan Ikhsandi Wanto Hatta, Kepala Subdit Penataan dan Pengembangan Jaringan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.  Sambil tertawa ia mengatakan ground breaking kereta api segmen Sultra segera dilaksanakan bila rencana detailnya sudah selesai dan disetujui pemerintah.

Dengan demikian berarti, rencana pembangunan sarana tranportasi berbasis rel di segmen Sultra sebagai bagian dari jalur Trans Sulawesi, bukan barang mustahil. Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf saat ini akan melanjutkan pembangunan infrastruktur di kawasan timur.

Hado Hasina mengatakan, upaya penyediaan infrastruktur bagi kawasan timur, lebih khusus Provinsi Sultra, merupakan terobosan untuk menciptakan suplai, permintaan. Berbeda halnya di Jawa dan Sumatera, pembangunan infrastruktur merupakan kebutuhan (demand).

Ia menyebut beberapa bandara di Sultra, antara lain Bandara Matahora di Wakatobi sebagai contoh pembangunan dalam rangka menciptakan permintaan (supply).  Banyak orang menganggap hal itu barang mustahil. Siapa yang akan menggunakan pesawat terbang, sewanya tak terjangkau orang biasa. Sekarang, bandara itu melayani penerbangan dua kali sehari. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>