TERMINAL KERETA API DI PELABUHAN BUNGKUTOKO

DR IR H HADO HASINA, KEPALA DINAS PERHUBUNGAN SULTRA

 OLEH YAMIN INDAS

         KETIKA mendapat undangan melalui WA (WhatsApp) untuk menghadiri Rapat Koordinasi Teknis tentang studi kelayakan pembangunan kereta api Trans Sulawesi wilayah Sulawesi Tenggara, dalam benak saya muncul pertanyaan sudah layakkah Sultra punya jaringan rel kereta api sebagai alat angkutan massal?

Pertanyaan itu ternyata malah disampaikan juga Kepala Dinas Perhubungan Sultra Hado Hasina ketika membuka rapat tersebut di hotel Plaza Inn Kendari, Jumat 25 Oktober 2019. Rapat tersebut dihadiri antara lain beberapa pejabat di lingkup PT (Persero) Kereta Api dan utusan dinas-dinas provinsi serta Kota Kendari.

Akan tetapi, diakhir sambutannya Hado menyatakan, pembangunan dan penyelenggaraan perkeretaapian di Sultra adalah keniscayaan. Kebijakan ini dilakukan dalam rangka suplai (penyediaan sarana kemudahan) bagi masyarakat. Karena itu infrastruktur kereta api harus dibangun untuk mendorong pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat.

Pernyataan tersebut membuka memori saya pada tahun 1970-an. Ketika itu ruas jalan poros Kendari-Kolaka (171 Km) baru akan dimulai pembangunannya dan secara bertahap dilapisi aspal.

Menteri Pekerjaan Umum Prof Ir Purnomosidi dalam suatu briefing di hadapan para pejabat Sultra di Kendari

mengatakan prinsip pembangunan prasarana jalan baru di Indonesia, termasuk poros Kendari-Kolaka, adalah dalam rangka menciptkan permintaan (suplai). Belum merupakan permintaan (demand) mendesak. Tetapi lanjut mendiang Purnomisidi, penyediaan infrastruktur akan merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama masyarakat di sepanjang jalan poros itu.

         Teori ahli Pengembangan Wilayah tersebut tidak meleset. Secara berangsur terjadi perubahan sosial ekonomi masyarakat di sepanjang jalan. Saat ini umumnya bangunan perumahan warga, misalnya,  merupakan bangunan permanen, bersaing dengan model dan tipe perumahan modern di kota-kota.

         Hado Hasina mengawali sambutannya dengan mengutip firman Allah dalam Al Qur’an surah Ar Rahman ayat 60 yang terjemahannya: Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). Ia mengatakan, pembangunan jalur kereta api di Sultra sudah pasti bakal mendatangkan manfaat besar bagi kehidupan rakyat. “Pembangunan ini jalur kereta api ini adalah untuk menciptkan suplai”, ujarnya.

 Prinsip-prinsip kenyamanan dan keselamatan dalam penyelenggaraan angkutan umum, termasuk kereta api, tidak lupa diingatkan Hado Hasina. Menurut master transportasi tersebut, soal kenyamanan terkait dengan volume dan kapasitas prasarana yang tersedia. Jika mobil bus berkapasitas 30 penumpang tapi dijejali hingga 50 penumpang, maka pasti tidak ada kenyamanan bagi penumpang. Sama halnya prasarana jalan. Jika kapasitas (daya dukung) jalan hanya sekian, maka tidak bisa lebih dari kapasitas tersebut agar tidak terjadi kemacetan yang sangat  mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

         Ia menjelaskan, kereta api adalah bentuk transportasi berbasis rel untuk mengangkut barang dan penumpang. Selama ini kita (masyarakat di Sultra) baru mengenal transportasi berbasis jalan. Menurut rencana yang kini masih dalam proses studi kelayakan, jalur kereta api di Sultra akan dibangun bertahap pada jalur Kendari-Kolaka, kemudian Kolaka-Malili. Malili merupkan wilayah administrasi Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan. Selanjutnya dari Malili rel tersebut akan diintegrasikan dengan jalur kereta api Trans Sulawesi Makassar-Manado (2000 Km).

 Jadi,  jalur kereta api di daratan besar jazirah Sultra merupkan bagian dari jalur kereta api Trans Sulawesi. Pembangunan jaringan rel kereta api Makassar-Manado telah dimulai  sejak tahun lalu pada jalur Makassar Pare-Pare.Tahap berikutnya adalah Pare-Pare-Palu.

  Kadis Perhubungan mengatakan, terminal Baruga yang dibangun Pemerintah Kota Kendari telah dialihkan pengelolaannya kepada Pemda Provinsi Sultra melalui suatu perjanjian kerja sama. Dengan sendirinya terminal itu dinaikkan statusnya menjadi terminal tipe B. Selanjutnya terminal Puwatu akan dibangun dengan kelas terminal tipe A oleh pemerintah pusat.

 Hado Hasina mengemukakan infrastruktur transportasi moda darat tersebut karena dia berharap agar jaringan rel kereta api di wilayah Kota Kendari diintegrasikan dengan terminal moda angkutan berbasis jalan, moda angkutan laut dan udara. Tujuannya adalah untuk memudahkan pergerakan barang dan orang pada simpul-simpul transportasi tersebut.

 Dalam hubungan itu Kadis Perhubungan Sultra memberi masukan kepada tim studi kelayakan penyelenggaraan kereta api Kendari-Konawe-Kolaka Timur-Kolaka, dan Kolaka-Kolaka Utara-Malili, agar terminal atau stasiun kereta api di Kota Kendari dibangun di kawasan pelabuhan Bungkutoko.

 Bungkutoko saat ini masih berstatus terminal pelabuhan Kendari. Selain Bungkutoko, ada tiga lagi terminal pelabuhan Kendari yaitu  pelabuhan Nusantara (pelabuhan sejak zaman Belanda), pelabuhan kapal lokal, dan pangkalan perahu. Tetapi kelak setelah New Port   yang dibangun PT Pelindo di sisi pelabuhan Bungkotoko, Bungkutoko akan berberfungsi dan berperan sebagai pelabuhan utama provinsi ini. Praktis pula ia akan menjadi titik lintasan tol laut. Pelabuhan Kendari saat ini merupakan pelabuhan pengumpul terbesar di kawasan timur setelah Makassar dan Pantoloan di Palu.

 Pelabuhan baru di Bungkutoko akan menyiapkan kawasan pergudangan ekspor dan antar pulau. Selain itu Kementerian Perhubungan telah membangun terminal penumpang. Tidak ketinggalan Pemda Sultra juga membangun kawasan komersial yang menyediakan sarana dan fasilitas umum seperti kawasan kuliner, toko-toko yang menyediakan kebutuhan kecil, dll. Kawasan komersial tersebut dikelola masyarakat.

 Di bawah kepemimpinan Hado Hasina sebagai Kadis Perhubungan Sultra, pembangunan infrastruktur transportasi melibatkan masyarakat sekitar. Di hampir semua terminal pelabuhan feri terdapat kawasan komersial yang dikelola warga sekitar. Bahkan villa juga dibangun bagi kemudahan penumpang dalam perjalanan. Kreativitas ini menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD).

 Adapun rencana pembangunan jaringan rel kereta api di wilayah Sultra dan sebagian Sulsel (Malili) dalam rangka Trans Sulawesi, proses persiapannya masih agak lama. Masih perlu dimatangkan terutama terase lintasan rel yang membelah hutan, tebing dan lembah. Termasuk juga pertumbuhan potensi penumpang dan produksi.

 Menurut Hado Hasina, jalur rel Kendari-Kolaka baru akan siap sekitar tahun 2030-an, Sedangkan jalur Kolaka-Malili sekitar 2045. Ia mengatakan, infrastruktur transportasi yang agak mendesak sebetulnya adalah pembangunan bandara baru sebagai alternatif dari Bandara Haluoleo sekarang ini.

 Pertimbngannya adalah lahan Bandara Haluoelo termasuk landasan pendaratan adalah aset militer, dalam hal ini TNI Angkatan Udara. Pertimbangan kedua, kapasitas atau daya dukung Bandara Haluoleo akan semakin terbatas terkait perkembangan provinsi ini ke depan yang akan semakin pesat di segala bidang. Luas  Bandara Haluoleo hanya sekitar 100 hektar, sementara bandara standar membutuhkan lokasi sekitar 400 hektar.

 Hado Hasina melihat, lahan perkebunan eks PT Kapas Indah Indonesia (KII) di Punggaluku, Konawe Selatan, cukup layak dijadikan lokasi Bandara Haluoleo. Perkebunan kapas tersebut kemudian gagal akibat cuaca dan tidak tersedianya infrastruktur jalan baik di kawasan perkebunan maupun di luar kawasan, jalan umum. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>