PENGUSAHA JAKARTA INVESTASI JAGUNG

O

Direktur Utama PT Marwan Bersaudara Sukses Anton Suseno

OLEH YAMIN INDAS

DI MASA lalu sebelum Ir H Joko Widodo menjadi Presiden RI ke-7, kawasan timur Indonesia disebut sebagai masa depan. Hari ini Indonesia adalah Jawa dan Sumatera. Karena itu, derap pembangunan di kawasan ini tidak sekencang di kawasan barat. Wilayah masa depan Indonesia tersebut, entah kapan baru dapat giliran digenjot pembangunannya untuk empersempit gap sosial dan ekonomi.

Presiden Jokowi tidak sependapat dengan strategi pembangunan nasional yang terkesan diskriminatif itu. Dia bertekad membangun Indonesia dari kawasan timur dan dari wilayah pinggiran. Ketimpangan sosial ekonomi harus segera direspons dengan strategi keseimbangan dan pemerataan pembangunan yang benar-benar riil.

Tidak heran jika derap pembangunan kemudian membuat “gaduh” di kawasan ini. Pembangunan irigasi baru dan perbaikan irigasi yang nyaris tak berfungsi lagi, pembangunan dan peningkatan jaringan jalan, pelabuhan laut, dermaga feri (kapal penyeberangan), pembangunan lapangan terbang, penyiapan armada tol laut untuk menembus daerah dan kepulauan terpencil agar disparitas harga tidak menajam hingga terobosan harga bahan bakar minyak di Papua sama dengan harga Jawa, sangat terasa sebagai kenyataan di era Jokowi.

Ke depan ini, pembangunan infrastruktur tidak sekadar memantapkan koneksivitas antar daerah, antar kota, dan antar pulau, tetapi juga konektivitas sentra-sentra produksi dengan ruang-ruang pasar.

Pertanyaan sekarang, apakah kawasan timur telah memiliki sentra-sentra produksi berbagai komoditas unggulan secara ekonomis? Jawabannya, memang sudah ada tetapi secara kuantitas maupun kualitas belum memadai. Belum seimbang dengan ketersediaan sarana prasarana yang telah dibangun pemerintah.

Mengukur ketimpangan itu adalah perkara mudah. Lihat arus barang yang keluar masuk melalui pelabuhan-pelabuhan baik udara maupun laut. Untuk Provinsi Sultra, misalnya, ketimpangan bongkar muat barang di seluruh jaringan pelabuhan masih nampak.

Data BPS Sultra menyebutkan, pada tahun 2015 misalnya, barang yang masuk di Sultra (diturunkan dari kapal) tercatat 5.353.434 ton. Sedangkan barang yang diangkut keluar Sultra (return cargo) tercatat 3.087.226 ton. Barang masuk pada tahun 2016 terdata 5.767.958 ton, dan muatan balik bagi armada angkutan nasional tercatat 3.423.394 ton.

Pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota mestinya mencermati angka-angka tersebut. Kemudian, mereka juga harus cerdas membaca sikap dan kebijakan pemerintah yang belakangan ini mulai menaruh perhatian besar terhadap ketinggalan kawasan timur, terutama di bidang infrastruktur.

Keberpihakan tersebut mestinya direspons dengan program-program yang berorientasi pada peningkatan produksi. Modal dasar cukup melimpah berupa petani dan lahan luas serta perairan laut yang ikannya tinggal diambil. Maka, program peningkatan produksi harus dirumuskan sesuai kondisi dan potensi masing-masing wilayah kabupaten/kota.

Selain bidang kelautan, subsektor pertanian tanaman pangan sangat menjanjikan akan tercapainya peningkatan produksi berskala besar. Dua komoditas utama di subsektor ini adalah padi dan jagung.

Anto Suseno bersama Kadis Perhubungan Sultama penggunaan ra Hado Hasina (kiri) saat penandatanganan kerja sama pemanfaatn lahan di kawasan komersial pelabuhan Bungkotoko, Kamis 7 November 2019 di Hotel Horison Kendari.

Untuk komoditas jagung, semua wilayah di Sultra cocok ditanami jagung, baik dari kondisi aklimatologi maupun dari aspek kulturalnya. Jagung masih merupakan makanan alternatif setelah beras, terutama di wilayah Kepulauan. Dengan demikian, pengembangan lahan pertanaman jagung secara massal, prospeknya cukup bagus.

Ada berita gembira bagi masyarakat petani, khususnya para petani tradisional jagung. Saat ini sebuah perusahaan dari Jakarta mulai bergerak di lapangan dalam rangka program penanaman jagung secara massal. Perusahaan itu adalah PT Marwan Bersaudara Sukses.

Seperti dijelaskan Direktur Utama PT Marwan Bersaudara Sukses, Anton Suseno, dalam suatu percakapan dengan saya di Kendari, pada tahap awal ini akan dibuka pertanaman jagung seluas 47.564 hektar. Lokasinya tersebar di sejumlah kabupaten di daratan besar, termasuk Bombana. Untuk itu, pihaknya akan mengucurkan dana investasi sekitar Rp 50 miliar. “Dalam 2-3 minggu ke depan ini kegiatan penanaman di lahan petani sudah akan dimulai”, ujarnya.

Perusahaan ini akan terjun langsung ke lapangan mem-backup petani dalam proses pertanaman jagung. Bibit yang akan ditanam bukan sembarang bibit. “Bibit hibrida terbaik yang dapat menghasilkan sekitar 16 ton jagung pipilan per hektar”, kata Anton Suseno.

Ia menambahkan, pupuk yang akan digunakan juga adalah pupuk terbaik. Karena itu, jika petani mematuhi petunjuk para penyuluh di lapangan, mulai dari pengolahan lahan, teknis penanaman dan pemupukan, serta kegiatan pasca panen, maka tingkat produktivitas yang diharapkan, bisa tercapai.

Harga pembelian PT Marwan Bersaudara Sukses sudah disepakati yakni Rp 2.000 per kilogram jagung pipilan di tingkat petani. Anton yakin petani dapat menikmati penghasilan antara Rp 12 juta sampai Rp 16 juta dari satu hektar tanaman jagung, hanya dalam waktu tiga atau empat bulan.

Kegiatan di tingkat hilir juga mulai digarap. Beberapa hari yang lalu, Anton Suseno selaku Dirut PT Marwan Bersaudara Sukses telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pemprov Sultra terkait penggunaan lahan satu hektar di kawasan komersial pelabuhan Bungkutoko, untuk lokasi pergudangan, perkantoran dan fasilitas lain. Hal serupa juga akan dilakukan pada tahap berikutnya di Muna Barat, dan Baubau. Baubau adalah pusat kegiatan ekonomi di wilayah Sultra Kepulauan.

Anton Suseno mengatakan, pihaknya akan mengembangkan usaha pertanaman jagung di Sultra dengan target sampai 100.000 hektar. Jika rencana ini terwujud, maka seperti dikatakan Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina, jagung akan menjadi komoditas primadona bagi provinsi ini. Kapal-kapal niaga akan bersaing datang merebut muatan jagung produksi Sultra.

Dalam perkiraan minimal, lahan jagung seluas itu akan menghasilkan satu juta ton jagung pipilan dalam waktu 3-4 bulan. Masa panen jagung hibrida, menurut Anton, bisa dua kali setahun. Areal persawahan yang kekurangan air pada musim kemarau, dapat diisi dengan tanaman jagung. “Sebab jagung tidak membutuhkan banyak air. Yang penting lahannya agak sedikit basah atau lembab, sudah baik bagi tanaman jagung”, ujarnya.

Kehadiran PT Marwan Bersaudara Sukses melakukan investasi di bidang tanaman pangan, lebih khusus lagi komoditas jagung, patut diapresiasi dan didukung oleh jajaran pemda provinsi dan kabupaten/kota maupun masyarakat Sulawesi Tenggara.

Dukungan itu harus tulus, bukan basa basi, apalagi bermuatan kepentingan pribadi. Artinya, bila turun ke lapangan karena tugasnya, jangan menuntut uang bensin, dan sebagainya kepada investor. Ini pengalaman sahabat saya, pengusaha industri rumput laut di suatu kabupaten di Sultra.

Investor Jakarta ini sesungguhnya tampil untuk merespons penyediaan infrastruktur oleh pemerintah pusat di Sultra, agar pembangunan sarana dan prasarana terebut tidak terkesan mubazir sebagai akibat dari masih minimnya produksi di kawasan timur, khususnya di Provinsi Sultra.

Soal produksi suatu daerah, merupakan tanggung jawab pemerintah daerah bersangkutan. Banyak cara untuk itu, antara lain menciptakan iklim berusaha yang baik, agar pengusaha tertarik melakukan investasi.

Di lain pihak, ledakan produksi jagung yang bakal terjadi di Sultra, akan menggairahkan kehidupan usaha angkutan laut nasional. Armada angkutan yang bergerak ke dan dari kawasan timur tidak lagi bakal pulang dalam keadaan muatan kosong. Karena faktor return cargo dengan kondisi seperti itu, pemerintah pusat terpaksa harus memberikan dana subsidi kepada perusahaan pelayaran yang melaksanakan program tol laut.

Dalam konteks kepentingan yang lebih besar, kehadiran PT Marwan Bersaudara Sukses melakukan investasi di Sultra didorong semangat dan keinginan untuk berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan jagung nasional sebanyak 4 juta ton setiap tahun. Dengan demikian, bisnis impor jagung yang menguras devisa negara, dapat dikurangi atau dihentikan sama sekali. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>