ALI MAZI MANFAATKAN ASPAL BUTON

 OLEH YAMIN INDAS

 

              

Ruas jalan di Buton Utara yang menggunakan aspa buton.

  PERGILAH ke seluruh pelosok Sulawesi Tenggara. Masuk ke kecamatan dan desa. Anda tidak bakal melihat jalan beraspal, kecuali kecamatan dan desa yang dilalui  ruas-ruas jalan poros. Itu juga banyak yang bolong-balong. Bahkan sebagian besar ruas jalan poros di Pulau Buton saat ini dalam keadaan rusak berat. Aspal hotmixed yang pernah dihampar di sana, sudah hancur.

                Pulau Buton kini sudah terkavling-kavling dalam rangka pemekaran. Ada 5 daerah otonom di daratan pulau itu: Kota Baubau, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, dan Kota Baubau.

 Bukan hanya di daratan Buton. Hampir semua pedalaman dan pulau-pulau di Provinsi Sultra kesulitan infrastruktur. Di Pulau Kabaena, eks-wilayah Kesultanan Buton juga, menemukan jalan beraspal sama sulitnya menemukan burung gagak berbulu putih.

                Itulah sebuah ironi. Pulau Buton di Provinsi Sultra menyimpan aspal alam yang berlimpah. Namun anugerah Tuhan itu tak dimanfaatkan. Untuk memenuhi kebutuhan aspal, kita impor dari Singapura. Apa-apa dari Singapura. Bahan bakar minyak (BBM) juga diimpor dari Singapura. Tanpa Singapura barangkali Indonesia bakal mati kutu, tak berdaya.

                Soal impor aspal minyak bumi (aspal cair atau disebut minyak ter di kalangan warga), terkait kondisi kita yang tak berdaya itu. Hingga tahun 1980-an, aspal buton masih berjaya. Sebab semua perkerasaan jalan di Indonesia menggunakan aspal alam itu.

                Tak dinyana muncul keputusan, semua proyek perawatan dan peningkatan jalan di Indonesia harus menggunakan aspal minyak impor. Keputusan itu datang dari negara-negara donor yang disuarakan Asian Development Bank (ADB). Maka, apa boleh buat. Sejak itu aspal buton dipinggirkan.

                Banabungi, kota pelabuhan aspal yang biasanya didatangi 20-30 kapal berbobot mati sampai 50.000 ton, dengan sendirinya ikut memudar. Perumahan direksi dan karyawan Perusahaan Aspal Negara (PAN) menjadi rumah hantu karena ditinggalkan penguninya. Banabungi saat itu merupakan satelit kota Baubau, ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Buton. Ketika itu Dati II Buton, wilayahnya mencakup seluruh wilayah eks-Kesultanan Buton.

                                 Di tengah kebuntuan penggunaan aspal buton, menjelang dan sesudah era reformasi ada sejumlah pengusaha dari Jakarta yang mengolah aspal buton menjadi butiran halus dan dikemas dalam karung. Produk ini diekspor antara lain ke China dalam skala kecil,  berkisar ribuan ton.

                 Bahkan, belakangan ada pengusaha yang menggunakan teknologi ekstraksi. Namun, produk hasil pemurnian ini juga masih berskala kecil.

Gubernur Sultra Ali Mazi

Presiden Jokowi pernah punya rencana yang serius untuk memanfaatkan aspal buton. Presiden berjanji kepada Bupati Buton Umar Samiun dan Gubernur Nur Alam akan segera ke Buton. Kunjungan itu dijadwalkan akhir Mei atau awal Juni 2015.  Presiden akan melihat kesiapan industri aspal di sana untuk melayani kebutuhan aspal dalam negeri.

                                     Tetapi Presiden tak kunjung datang hingga saat ini. Hal itu tentu karena Presiden telah menerima laporan bahwa di sana tidak ada kegiatan investasi industri aspal buton  yang maksimal dan bisa diandalkan sesuai harapan Presiden ke 7 Republik Indonesia.

                 Sejauh pengamatan kita, hambatan pengembangan industri  aspal buton berskala besar, bersumber dari sindikasi impor aspal minyak bumi. Sebagian pemilik izin usaha pertambangan (IUP) dan sekaligus pemilik industri aspal  berskala kecil adalah importir aspal minyak.  Jadi ada konflik kepentingan.

                 Kepentingan yang lebih utama bagi para pengusaha tentu saja bisnis impor aspal minyak dari Singapura. Sebab kebutuhan aspal Indonesia sekitar 1,3 hingga 1,5 juta setahun. Angka ini terus melaju karena munculnya daerah otonomi baru terjadi peningkatan status jalan dari jalan provinsi/kabupaten menjadi jalan nasional.

                 Dengan demikian, ladang bisnis ini sangat merangsang. Dari kebutuhan nasional akan aspal tadi, Pertamina hanya dapat menyediakan aspal minyak (residu pengolahan minyak bumi) sekitar 300.000 hingga 400.000 ton setahun. Selebihnya sekitar 80 persen harus diimpor dari Singapura.

                                 Bisnis impor aspal minyak lebih mudah dan untungnya tentu lebih besar. Sebaliknya kegiatan investasi dengan teknologi ekstraksi memerlukan jangka waktu lama dan dukungan modal besar. Tetapi di lain pihak, importir aspal  minyak masih tetap mempertahankan IUP aspal buton.

                                Hamparan lokasi aspal alam di Pulau Buton boleh jadi sudah tidak tersisa karena telah dikuasai sindikasi impor aspal minyak, dan tentu saja juga oleh para spekulan. Kelompok yang disebut terakhir ini, ya bisanya cuma jual beli IUP bila pada suatu kegiatan industri aspal  bergairah dan memanas.

Akan tetapi untuk menciptakan gairah berinvestasi, pemerintah harus melakukan intervensi dengan suatu kebijakan sehingga pengusaha mau serius melakukan investasi di bidang industri aspal buton.

Salah satu langkah intervensi yang harus dilakukan  adalah mencabut IUP yang pemiliknya tidak serius membangun industri aspal, dan pemegang IUP yang bersikap wait and see (spekulasi). Seiring dengan itu pemerintah  mendorong dan membantu investor yang saat ini mulai memanfaatkan teknologi ekstraksi, agar pabriknya mampu berproduksi dalam skala besar.

Di tengah ketidakpastian nasib aspal buton, saya merasa gembira mendengar kabar, pembangunan jalan highway Kendari-Toronipa (14,6 Km) akan menggunakan aspal buton. Proyek bertahap itu mulai dikerjakan tahun ini. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Sultra Hado Hasina, Gubernur Ali Mazi akan menggunakan aspal buton dalam pembangunan jalan “bebas hambatan” tersebut.

Saya sebut jalan highway karena lebar jalan itu direncanakan minimal 27 meter. Jalan Jagorawi saja hanya sekitar 30 meter. Kemudian lebih separuh dari ruas jalan tersebut merentang lurus di tepi pantai. Titik tolaknya dari Kota Kendari adalah di pertigaan Kampung Salo dekat Masjid Raya Kota Lama dan pelabuhan perahu. Finishnya  di Toronipa, sebuah tanjung berpasir putih dalam wilayah administrasi  Kabupaten Konawe.

Hado mengatakan, proyek jalan tersebut membutuhkan aspal buton sekitar 20.000 ton. “Saya sudah bicara dengan pihak pabrik pengolahan aspal buton. Spesifikasi yang dibutuhkan adalah butiran halus”, ujarnya.

 Hado cukup berpengalaman dan ahli dalam memodifikasi aspal buton sehingga berkualitas baik dan telah teruji baik melalui laboratorium maupun hasil konstruksi perkerasan jalan di lapangan. Tidak heran jika Kadis Perhubungan Sultra ini dilibatkan dalam pembangunan jalan highway Kendari-Toronipa.

Pejainabat Kreatif Hado Hasina. Saat ini dia menjabat Kadis Perhubungan Sultra.

Adalah orang Kaledupa ini yang memprakarsai penggunaan aspal buton dan dapat dijadikan contoh bagi kabupaten/kota di Sultra. Menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buton Utara (Butur), dia tertantang untuk memanfaatkan kekayaan alam yang berlimpah itu. Dia membuat modifikasi yang disebutnya Butur Seal Asbuton.

Dia paham kendala selama ini terkait penggunaan aspal buton. Yaitu langkanya batu agregat standar yang umum digunakan dalam proyek-proyek pembangunan jalan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Disebutnya batu Moramo, misalnya, adalah agregat standar.

Kebuntuan ini dia atasi dengan memanfaatkan potensi yang terdekat yaitu batu kapur yang berlimpah di Butur. Bahan lapis pondasi seperti itu sesungguhnya  terdapat di hampir semua  tempat di Sultra. Namun demikian, sebelum digunakan sebagai bahan lapis pondasi konstruksi jalan, batu kapur Butur harus diuji melalui laboratorium Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Kementerian PU di Bandung, guna menetapkan spesifikasi yang ideal bagi konstruksi ruas-ruas jalan kelas-kelas tertentu.

Berdasarkan hasil uji laboratorium, Hado menyimpulkan, aspal alam Buton sesungguhnya sangat fleksibel. Karena itu, sebelum tersingkir oleh keharusan menggunakan aspal minyak impor, pemanfaatan aspal buton dijadikan prioritas utama oleh Kementerian Pekerjaan Umum dalam pembangunan ruas-ruas jalan LHR (Lalu Lintas Harian Rata-rata) rendah di seluruh Indonesia. Aspal itu digunakan dengan sistem campuran dingin (cold mixed), dan bahkan dengan campuran panas (hot mixed) untuk daerah-daerah padat LHR.

Teknis perkerasan jalan di Butur terkait penggunaan aspal buton dengan modifikasi Butur Seal Asbuton, dimulai dengan perbaikan tanah dasar, yaitu lapis paling bawah konstruksi jalan. Pekerjaan ini dilanjutkan dengan penghamparan batu kapur selektif berukuran paling halus  hingga tiga inci. Lapisan ini kemudian dipadatkan dengan roda besi berbobot 4-6 ton.

Pekerjaan berikutnya adalah pengerasan lapisan permukaan (lapisan paling atas) dengan menghamparkan butiran aspal buton berukuran maksimal dua mili yang telah dilunakkan dengan aspal cair atau aspal emulsi.

Dengan demikian menurut Hado, tanpa ekstraksi pun aspal buton sangat cocok digunakan di ruas-ruas jalan kabupaten, kecamatan dan desa. Sehingga pemerintah tidak perlu mengimpor aspal yang menguras devisa negara. Selama kurang lebih 7 tahun Hado duet dengan Bupati Butur Ridwan Zakariah, aspal minyak dipinggirkan. Butur Berdikari dengan aspal buton. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>