WALIKOTA BAUBAU AGAR PRIORITASKAN PARIWISATA

Pembangunan infrastruktur transortasi di Baubau terkait upaya pengembangan kota itu sebagai destinasi wisata. Dinas Perhubungan Sultra saat ini mmemberi perhatian kepada pembangunan jalan akses dari terminal Lakologou ke pelabuhan Murhum Baubau. Jalan yang terletak di bibir pantai Teluk Baubau bakal menambah pesona kota tersebut.

OLEH YAMIN INDAS

 

TIDAK diragukan manfaat ekonomi pariwisata. Sudah terlampau sering dikatakan bahwa penyumbang terbesar pasokan pendapatan masyarakat dan negara dewasa ini adalah sektor pariwisata.

Belanja wisatawan memang langsung jatuh ke masyarakat. Biaya hotel, transportasi, makan dan minum adalah bentuk pengeluaran riil itu. Usaha kecil masyarakat juga ikut menikmati manfaat ekonomi pariwisata. Seumpama perajin tenun adat di perkampungan tenun Kelurahan Sulaa, rumah makan dan restoran, pembuat bahan makanan tradisional, para pembuat souvenir, serta penyelenggara even budaya dan keagamaan di Benteng Keraton Buton.

Masih banyak kegiatan ekonomi produktif masyarakat yang terkait dengan pariwisata kalau mau dideretkan satu per satu. Tidak terkecuali usaha pertanian, peternakan, perikanan, pedagang kaki lima, penjual gula merah dan gula kelapa di Jembatan Batu.

Oleh karena itu, Walikota Baubau kini sudah saatnya menggeser prioritas pembangunan ke sektor pariwisata. Semua perangkat daerah diarahkan untuk bersinergi dan bersama dengan Dinas Pariwisata sebagai leading sector untuk mengurus pariwisata mulai dari menggali dan mengembangkan potensi hingga pengelolaan dan pemasaran aset wisata yang dimiliki Kota Baubau.

Kebijakan tersebut akan menjadi bukti keberpihakan dan kepedulian pemerintah kota kepada masyarakat yang hidupnya terkait dan tergantung pada kegiatan pariwisata. Sebab sektor ini sudah sangat jelas peran dan sasarannya yaitu menghasilkan manfaat ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat dan negara.

Promosi dan pemasaran pariwisata Baubau mungkin harus lebih digenjot untuk mempercepat perkembangan industri pariwisata di kota tersebut. Sebab menurut saya, arus wisatawan yang masuk masih sangat sedikit dibanding kemegahan aset wisata yang dimiliki Baubau sebagai represantasi Kesultanan Buton di masa lalu. Yaitu Benteng Keraton yang sarat dengan situs sejarah dan juga mistik serta even-even budaya dan keagamaan.

Seperti dijelaskan Kadis Pariwisata Kota Baubau Drs Ali Arham MMP, kunjungan wisatawan dalam tahun 2017 tercatat 715.476 wisatawan, terdiri atas 1.111 wisman dan sisanya wisnus (domestik). Bagi Ali Arham, kunjungan itu lebih meningkat sekitar 25 persen dibanding kunjungan tahun sebelumnya.

Ali mengatakan, gejala peningkatan itu merupakan hasil kegiatan promosi dan pemasaran yang dilakukan selama ini. Satu hal yang menggembirakan adalah perhatian Walikota Baubau AS Tamrin yang dinilainya cukup besar terhadap pengembangan pariwisata.

Langkah-langkah promosi selama ini dilakukan dengan mengikuti berbagai pameran di dalam dan luar negeri, bekerja sama dengan ASITA (Association of Indonesian Tours and Travel Agences), memanfaatkan media sosial dan internet untuk menyebarkan informasi obeyk-obyek wisata dan keunggulannya. “Saya juga memiliki sekitar 30 teman anggota komunitas media wisata di Baubau”, tutur Ali Arham.

Selain gencar melakukan promosi, Dinas Pariwisata Baubau juga masih terus menyiapkan sarana-sarana kemudahan bagi obyek-obyek wisata. Di Benteng Keraton, misalnya, telah dipasang jaringan wify di sejumlah titik untuk memudahkan pengunjung melakukan komunikasi. Benteng Keraton juga dilengkapi homestay di beberapa tempat.

Penataan obyek-obyek wisata juga dilakukan lebih intensif di masa kepemimpinan Hado Hasina sebagai PJ (Penjabat) Walikota Baubau. Kadis Perhubungan Sultra tersebut selain menata transportasi kota yang semrawut juga memoles dan membangun infrastruktur yang menunjang kegiatan pariwisata Kota Baubau.

Pantai Nirwana dirapikan dengan penyediaan puluhan villa dan homstay bekerja sama dengan warga yang selama ini berjualan bahan makanan dan minuman serta menyediakan pelampung bagi pengunjung. Hado juga merampungkan penyediaan air bersih untuk Pantai Nurwana.

Obyek lain yang disentuh Pj Walikota adalah sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Sulaa. Perkampungan warga penenun itu dipercantik dengan cat warna-warni. Untuk mewujudkan kreativitas tersebut Pj Walikota bekerja sama dengan industri cat glotex Pacific Paint Jakarta.

Program pembangunan infrastruktur dan penataan obyek, tentu telah terkait langsung dengan konteks promosi dan pemasaran. Tetapi kegiatan yang bersifat penawaran langsung kepada konsumen seperti pameran, kunjungan duta wisata keluar negeri, dan pemasokan informasi yang memadai adalah agenda dan pekerjaan yang harus berlanjut.

Untuk merekrut duta-duta wisata, Baubau jangan menabukan penyelenggaraan pemilihan Miss Pariwisata atau semacam abang dan nona wolio. Mereka ini kemudian diikutkan dalam rombongan perjalanan kebudayaan Buton ke dalam dan luar negeri. Mereka inilah yang akan mewakili wajah wisata Baubau.

Dalam rangka efisensi promosi dan pemasaran, sasaran dan lingkup obyek wisata harus dipersempit. Jadi tidak semua potensi dijual sekaligus dalam satu even promosi.

Oleh karena itu, Pemkot Baubau perlu menghidupkan kembali even Festival Keraton Buton yang telah beberapa kali diselenggarakan di zaman Kolonel H Saidoe menjabat Bupati Buton. Ketika itu Kabupaten Buton masih utuh, belum disekat-sekat oleh ambisi kekuasaan bertopeng pemekaran.

Dengan demikian,  Festival Keraton Buton kini menjadi fokus  promosi dan pemasaran. Festival  tersebut kemudian ditetapkan kembali sebagai  kalender pariwisata Kota Baubau. Event ini berisi sekitar 20 paket wisata , termasuk atraksi pekande-kandea yang fenomenal jika ditangani dengan baik. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>