KEHIDUPAN LUMPUH TANPA TRANSPORTASI

 

Tulisan ini sekadar memaknai sekaligus memotret kondisi terkini perkembangan  transportasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam rangka Harhubnas 2019. Untuk diketahui, tulisan ini telah siap diluncurkan (posting) sejak Sabtu, 14 September 2019. Saya jadwalkan, naskah ini baru akan diposting Kamis 19 September. Tapi karena satu dan lain hal, karya jurnalistik ini terpaksa dipublished hari ini juga. YAMIN INDAS

Dishub Dukung Pembangunan Daerah

 

ultra bHado Hasina

DUNIA senyap dan kehidupan akan lumpuh tanpa transportasi. Oleh sebab itu, pembangunan sektor perhubungan dan transportasi teramat sangat penting bagi kehidupan dan bangkitnya kemajuan daerah. Maka, kebijakan dan strategi pembangunan sektor tersebut oleh Dinas Perhubungan Sultra tidak bisa lain kecuali diarahkan dan fokus mendukung pembangunan daerah.

Ada nuansa baru yang menandai Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2019. Yaitu program edukasi bertajuk mengajar di seluruh Indonesia. Di Sultra, program ini dibuka di SMAN No 1 Kendari oleh Kepala Dishub Sultra Dr Ir H Hado Hasina MT. Ia menyatakan, program ini adalah salah satu cara pengenalan kepada generasi milenial yang bercita-cita akan berkiprah dan memiliki minat bekerja di sektor perhubungan.

Sangat membesarkan hati jika  banyak generasi milenial tertarik akan pekerjaan mulia ini (di bidang transportasi). Pekerjaan ini berfungsi menyediakan kemudahan dalam aktivitas kehidupan indifidu dan masyarakat.  Perpindahan orang dan pergerakan barang dari suatu tempat ke tempat lain mustahil terjadi tanpa kehadiran jasa transportasi.

Tidak heran jika masih banyak daerah, terutama pedesaan  dan pulau-pulau sulit berkembang akibat kelangkaan transportasi. Kondisi seperti itu membuat kita harus memahami fungsi transportasi, yaitu memudahkan kegiatan penduduk yang dalam konkretivitasnya berupa kelancaran mobilitas warga dan kelancaran pengangkutan segala macam barang yang mereka hasilkan. Dengan demikian terjadi mekanisme perputaran ekonomi dalam rangka meraih dan menciptakan pertumbuhan di segala bidang.

Maka, tidak bisa lain harus dibuka akses sebagai solusi. Ketika diangkat sebagai Kadis Perhubungan Sultra pertengahan 2016, Hado segera merumuskan program dan kegiatan dalam rangka solusi tersebut. Hanya ada kendala berat. Semua program dan kegiatan, harus dibiayai provinsi. Sementara APBD provinsi tak mungkin mampu membiayai semua program suatu dinas tanpa bantuan dan dukungan dana alokasi khusus (DAK) maupun dana-dana lain dari kementerian terkait.

Kadis Perhubungan Sultra mengaku tidak pernah mendapatkan dana DAK dari Kementerian Perhubungan. Dana lain terkait pelaksanaan asas dekonsentrasi maupun tugas pembantuan; sama halnya, nol besar.

Namun, ketergantungan pada APBD bukan masalah bagi daerah yang berkomitmen mengatasi kesulitan sosial ekonomi masyarakat. Prinsipnya, setiap program dan kegiatan yang diajukan harus riil serta mampu menjawab permasalahan yang dihadapi. Selain itu harus sejalan dan mendukung mata rantai program pembangunan daerah secara keseluruhan.

Strategi itulah yang digunakan Hado sehingga tanpa dukungan finansial dalam bentuk DAK pun, program infrastruktur perhubungan di Sultra bisa jalan dan mampu menigkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

                                Kadis Perhubungan Sultra tersebut segera beraksi ketika melihat Gubernur Nur Alam (di akhir masa jabatan periode kedua) tengah menggenjot Pulau Bokori sebagai destinasi wisata yang terdekat dengan kota provinsi.

                Hado membangun demaga pelabuhan khusus wisata di Desa Bajo Indah sebagai sarana transit pengunjung yang hendak ke pulau eksotik tersebut. Dermaga tersebut berfungsi untuk memudahkan mobilitas, menciptakan  keamanan dan kenyamanan para pengunjung Pulau Bokori dan obyek wisata lainnya seperti Pulau Hari, Pulau Saponda hingga Pulau Labengki.

                Gubernur Ali Mazi saat ini sedang menggelar pembangunan jalan raya semacam jalan highway dari sebuah titik di Kota Kendari ke Toronipa. Toronipa adalah sebuah obyek wisata yang molek dan berhadapan dengan Laut Banda. Dia merupakan obyek wisata laut dan pantai yang sangat menarik. Dari sini Laut Banda tampak menyimpan misteri yang sulit diungkapkan dan   nyaris tak bertepi. Jadi, kawasan tersebut merupakan obyek wisata laut dan pantai.

Jalan highway (bebas hambatan) itu melintasi Desa Bajo Indah, lokasi pelabuhan khusus wisata yang fungsinya telah digambarkan di atas. Hado menyambut gembira dan mendukung penuh proyek jalan highway tersebut. Proyek ini merupakan salah satu program aksi Gubernur Sultra yang baru, Ali Mazi.

                Total panjang jalan highway mulai dari sebuah titik di Kota Kendari hingga pantai Toronipa adalah 14,6 Km. Proyek infrastruktur tersebut kini mulai dikerjakan dengan lebar 27 Km. Bahkan, Ali Mazi sebenarnya menginginkan lebar hingga 40 meter. Proyek ini segera pula dinikmati warga di sepanjang jalan yang tanahnya terimbas pembuatan badan jalan dalam bentuk ganti rugi. Tak heran jika warga menyambut baik proyek ini.

                Kehadiran jalan yang secara bergurau saya sebut jalan  “Daendels” itu, akan ikut mendorong Pulau Bokori dan obyek-obyek lain di sekitarnya cepat berkembang karena hadirnya sarana kemudahan infrastruktur jalan. Para pengunjung Kota Kendari yang ingin menikmati produk-produk makanan laut segar, tentu  tidak bakal melewatkan kesempatan untuk memanjakan diri melihat obyek-obyek alam wisata dimaksud.

                Bahkan, menurut Hado, akses jalan ke Pantai Toronipa akan diteruskan pembangunannya ke sepanjang pantai timur melewati Toli-toli, Batu Gong dll hingga mencapai Bundaran Mandonga di jantung Kota Kendari. Jadi jalan proyek Ali Mazi tersebut akan berbentuk ringroad. Di tengah jalan lingkar tersebut terdapat hutan lindung Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Nipa-nipa. Konon hutan ini masih menyimpan populasi anoa, binatang khas Sulawesi.

                Tempat-tempat yang dilintasi jalan di pantai timur seperti Toli-toli dan Batu Gong merupakan obyek wisata yang “mati” akibat akses jalan tidak terawat dan minimnya fasilitas, sarana dan prasarana wisata. Batu Gong sendiri merupakan pantai dengan gulungan ombak yang berpotensi untuk dijadikan tempat berselancar (surfing) maupun water sports lainnya.

                Bila megaproyek ringroad tersebut selesai sebelum masa jabatan Ali Mazi berakhir September 2023, nama Ali Mazi akan melegenda. Sebab dia telah membangun sebuah kawasan wisata terintegrasi dalam dua wilayah kabupaten/kota yang ditunjang infrastruktur yang baik, termasuk fasilitas dan akomodasi yang dikelola secara profesional dan menghasilkan PAD bagi Kota Kendari dan Kabupaten Konawe. Tentu terrmasuk di dalamnya adalah  obyek wisata Pulau Bokori dan Pulau Hari yang telah dirintis pendahulunya, Nur Alam.

                Masyarakat setempat juga tak diragukan akan meraih manfaat ekonomi. Sebab pariwisata merupakan sumber pendapatan nyata bagi masyarakat maupun negara. Belanja wisatawan (pengunjung) jatuh langsung ke masyarakat setempat berupa biaya transportasi, sewa penginapan/villa, makan dan minum, dll.

                Usaha ekonomi produktif masyarakat juga ikut terangkat. Seumpama perajin tenun kain adat Kendari (Tolaki) maupun tenun adat dari kepulauan. Tak ketinggalan para  pembuat makanan tradisional, penyelenggara event budaya dan sebagainya.

                Kawasan wisata terintegrasi tersebut cukup strategis karena dekat dengan ibu kota provinsi. Para pengunjung Kendari sangat berpotensi menjadi pengunjung untuk menyaksikan obyek wisata alam (laut, pantai, binatang anoa di hutan raya),  dan budaya masyarakat setempat.

***

 INFRASTRUKTUR transportasi yang menjadi perhatian Hado Hasina saat ini adalah pembangunan  14  terminal tipe B di kota kabupaten dan terminal tipe A di ibu kota provinsi. Pembangunan terminal tipe B merupakan tanggungjawab provinsi, sedangkan pembangunan terminal tipe A akan dibiayai pemerintah pusat (Kementerian Perhubungan).

Terminal berfungsi sebagai tempat beristirahat bagi penumpang sambil menunggu perpindahan dari satu moda atau kendaraan ke moda atau kendaraan lain. Bahkan, Hado membangun kawasan komersial di setiap terminal darat maupun pelabuhan feri, dan melibatkan masyarakat setempat. Warga setempat didorong membuka rumah makan (kuliner) dan fasilitas lain yang dibutuhkan penumpang bus/kapal feri.

Kecuali soal terminal, Kadis Perhubungan Sultra juga fokus mengoptimalkan kegiatan operasional kapal-kapal feri yang beroperasi di sejumlah lintasan feri di Sultra. Sasarannya mendisiplinkan pegawai baik menyangkut pelayanan pengguna jasa angkutan  maupun pelaksanaan tugas agar alat  angkutan berangkat sesuai jadwal. Jadi,  tidak malam tidak siang, petugas lapangan harus  bekerja optimal untuk melayani publik.

Kebijakan ini berhasil menaikkan PAD. Jika tahun 2016 setoran ke pemda hanya sekitar Rp 4 miliar. Tahun berikutnya telah naik menjadi sekitar Rp 6 miliar. Adapun tahun 2018 lebih menggembirakan, tercapai sekitar Rp 10 miliar. Prestasi ini tentu merupakan hasil kerja keras aparat di lapangan tadi. Karena itu, Hado selalu mengharapkan pemda tidak keberatan menyediakan semacam insentif (reward) kepada para petugas lapangan.

Masalah lain yang menjadi perhatian Dishub Sultra dalam suasana Harhubnas 2019 adalah penyediaan kapal berikut pembangunan dermaga pelabuhan feri di Kaledupa, Tomia, dan Binongko di Kabupaten Wakatobi. Ihwal ini menjadi penting dan mendesak karena Wakatobi telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Indonesia. Ini kebijakan dan program Presiden Joko Widodo yang terus diupayakan pembangunannya.

Pembangunan KSPN  merupakan tanggungjawab berbagai kementerian di tingkat pusat. Namun menurut Hado Hasina, pembangunan tersebut dilakukan bertahap, baik infrastruktur laut maupun udara. Khusus dermaga feri di Kaledupa, termasuk pengadaan kapalnya,  dikatakan kini sudah siap dioperasikan.

 ***

DALAM suasana perayaan Harhubnas 2019, konektivitas antar pulau, antar kota maupun konektivitas lintas provinsi, secara umum sudah berkembang dan berjalan baik di Sultra belakangan ini.

Aktivitas kehidupan masyarakat berlangsung kian meningkat. Gejala kelumpuhan memang masih terasa di beberapa tempat, tetapi ihwalnya lebih disebabkan faktor infrastruktur jalan yang kondisinya belum stabil. Pada musim hujan sebagian ruas jalan mudah mengalami deformasi dan menjadi kubangan.

Kondisi labil tersebut saat ini masih terlihat menyulitkan aktivitas sosial dan ekonomi Kabupaten Buton Utara, Konawe Utara, Konawe terutama di daerah Routa, dan Konawe Kepulauan.

Yang masih jauh tertinggal dan menyedihkan adalah kondisi jalan di Pulau Kabaena. Sekitar 200 Km jaringan jalan di pulau itu masih jalan tanah dan sangat menyengsarakan rakyat pada setiap musim hujan. Hamper 20 tahun bergabung dengan Kabupaten Bombana, hasil pemekaran Kabupaten Buton, kehidupan sosial ekonomi masyarakat nyaris tak berkembang. Nyaris lumpuh seperti judul tulisan ini.    

Namun, sekali lagi secara umum kondisi transportasi di Sultra saat ini sangat jauh lebih baik, ditandai  faktor konektivitas  yang telah berkembang. Adapun kondisi Kabaena dll, hanyalah kekecualian saja.

Konektivitas udara justru menjadi kemewahan tersendiri bagi Sultra. Saat ini terdapat lima bandara di provinsi tersebut, dua di daratan besar dan tiga lainnya di Kepulauan. Bandara Betoambari Baubau didatangi pesawat dari dua arah: Kendari dan Ambon. Bandara tersebut melayani penerbangan 7-8 kali dalam sehari, kendati masih dengan pesawat kecil jenis ATR 72-600.

Kemajuan konektivitas udara tersebut mestinya mendorong kegiatan investasi di provinsi tersebut. Sebab efisiensi waktu dan kecepatan mobilitas orang maupun barang merupakan kondisi ideal bagi dunia usaha.

Kepada insan perhubungan, saya ucapkan selamat menyambut dan merayakan Harhubnas 2019, tanggal 18 September. Selamat bekerja tidak siang tidak malam!   

  

======================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>