Desa Wisata di Bombana

Di Desa Tangkeno banyak benteng pertahanan peninggalan masa lampu. Pintu gerbang masuk benteng Tawulagi dan seorang bocah Tangkeno

DALAM sebuah kesempatan, saya merangsang pikiran Gubernur Nur Alam bahwa ada dua figur bupati di Sulawes di Tenggara berpotensi menjadi gubernur Sultra ke depan. Mereka adalah Umar Samiun, Bupati Buton; dan Tafdil, Bupati Bombana. Umur keduanya sekarang, belum 40. Tapi bukan soal usia. Sepintas lalu saya lihat mereka kreatif, cerdas, berwawasan. Ketika tampil bicara di depan publik mereka tidak canggung alias demam panggung.

Menjelang Pemilu Kepala Daerah Sultra 2012 untuk masa bakti 2013-2018, saya mengunjungi sanak keluarga di Tangkeno, sekedar melepas kangen. Keluarga di sana, termasuk Kepala Desa Abdul Madjid Ege, menjelaskan, Bupati Bombana Tafdil sudah pernah datang menginap di desa terpencil, di lereng Gunung Sangia Wita (1.850 m dpl). Alhamdulillah, jawab saya menyatakan syukur kepada Allah SWT. Apa dia bilang? Maksud saya tentu komitmen bupati bagi masyarakat terpencil lagi miskin di lereng gunung itu.

Bupati berjanji, dia akan membangun desa ini untuk menjadi desa wisata di Kabupaten Bombana. Sasaran atau obyek yang akan dibenahi – masih penjelasan keluarga di sana – adalah jalan akses ke desa ini dari pelabuhan Sikeli, perawatan sejumlah benteng, penataan perkampungan warga agar rapi, bersih, dan hijau dengan tanaman lindung yang sekaligus menghasilkan buah komersial.

Bupati Bombana Tafdil

Masih ada? “Tidak ada lagi. Hanya begitu saja”, jawab mereka. Banyak, kata saya. Mental kalian harus diubah mulai sekarang, secara perlahan tentunya. Pertama dan utama adalah tegakkan kehidupan beragama seperti generasi Tangkeno sebelumnya. Masjid bagus dan agak besar yang baru dibangun atas prakarsa Kades Abdul Madjid harus selalu diisi dengan salat berjamaah secara rutin minimal pada waktu magrib, isya, dan subuh.

Bila kehidupan beragama sudah berjalan baik, maka perilaku warga akan berangsur baik sejalan dengan tuntutan syariah yang dijalankan itu. Keburukan mental suka mangkir janji, pepat di luar mancung ke dalam, lain di mulut lain di hati; suka mengambil barang milik orang lain; tidak senang melihat tetangganya hidup lebih enak (penyakit hati: dengki, irihati, khasad); sikap suka menunggu perintah kades atau pejabat pemerintah lebih tinggi  untuk berbenah minimal merawat rumah dan pagar halaman sendiri, harus dikikis.

Masih banyak penyakit sosial lain yang harus dibuang agar menjadi warga negara yang baik, ramah, dan bermartabat. Salah satunya adalah penyakit malas. Sebagian besar orang Tangkeno dan Kabaena  tidak memiliki etos kerja keras. Mereka hidup sebagai petani namun tidak serius bekerja untuk menghasilkan lebih dari kebutuhan sendiri. Bahkan hasil panen kadang tidak mencukupi kebutuhan sendiri dalam setahun.

Bupati Buton Umar Samiun.

Untuk mengimbangi kekurangan itu mereka lalu mengolah gula aren yang cepat menghasilkan uang. Kegiatan membuat gula aren ini justru makin mengurangi energi dan etos kerja mengolah lahan pertanian secara maksimal. Tidak heran jika perkampungan mereka dikepung lahan dan pepohonan liar. Padahal, jika lahan tersebut diolah dan ditanami kelapa misalnya, hidup mereka pasti lebih makmur seperti yang dirasakan warga masyarakat Poleang.

Ketika saya mengikuti orasi Nur Alam di Sikeli dalam rangka kampanye Pemilu Kepala Daerah Sultra 2012, isu pembangunan Tangkeno sebagai desa wisata digelindingkan pula oleh Gubernur Sultra incumbent itu. Ditekankan bahwa penyiapan desa wisata itu merupakan  salah satu program yang akan segera dilaksanakan ke depan ini. Maka saya menyimpulkan bahwa Tafdil adalah tipe pemimpin yang konsisten, amanah. Niat membangun desa wisata rupanya cukup  serius sehingga harus dikomunikasikan kepada gubernur. Tafdil ingin mewujudkan satunya kata dengan perbuatan sebagai seorang pemimpin yang amanah. Jadi, gagasan itu bukan sekadar komitmen belaka.

Gagasan itu telah pula dijelaskan dalam suatu perbincangan singkat dengan saya. Ia mengatakan,  dalam bulan Desember 2012 ini dia akan ke Tangkeno lagi untuk mencanangkan program pembangunan desa wisata tersebut. Ini berarti, Desember yang indah bagi warga Tangkeno dan masyarakat Kabaena umumnya.

Sejalan dengan program itu, disarankan agar  persoalan administrasi mengenai desa ini diselesaikan pula oleh Pemkab Bombana. Desa Tangkeno yang akan dijadikan desa wisata adalah desa yang dalam administrasi resmi pemerintahan disebut Desa Enano. Nama ini ditukar ketika mendiang Madia menjabat kepala desa. Kades ini berdiam di kampung Enano di kaki lereng Gunung Sangia Wita. Kampung tersebut merupakan bagian dari wilayah administrasi Desa Tangkeno. Akan tetapi, lama kelamaan kampung Enano berfungsi sebagai ibu kota karena yang terpilih atau diangkat sebagai kepala desa setelah Madia adalah warga Enano lagi, dalam hal ini Herman, polisi asal Sunda (Jawa Barat) yang menikahi gadis Enano bernama Rumawiah. Asal usul wanita ini adalah orang Tangkeno juga.

Adapun Tangkeno dengan sendirinya berubah menjadi sebuah wilayah ‘subordinasi’.  Maka ketika wilayah subordinasi ini dimekarkan menjadi sebuah desa otonom, dia tidak diberi hak menggunakan nama aslinya melainkan disebut Desa Enano. Keputusan itu menimbulkan masalah bukan hanya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan melainkan juga di bidang pemerintahan. Setiap ada urusan terkait nama Tangkeno, warga masyarakat atau lembaga kadang bingung, Tangkeno yang mana?

Tangkeno adalah negeri leluhur orang Kabaena. Asal usul leluhur itu datang dari suku Moronene di daratan besar (wita ea). Mereka datang secara berkelompok dipimpin seorang bernama Donsio Langi. Rombongan ini membuka ladang dan menetap  di Laohama, Poorempe, Enano, Bolonangka, Waru, Poote, dan Padaraha. Kelompok inilah yang  kemudian disebut penduduk asli. Dalam tradisi lisan diberitakan, sistem sosial, adat istiadat, dan kekuasaan baru mulai berkembang setelah  muncul seorang keturunan Raja Gowa (Sulsel) dan bergabung dengan penduduk asli tersebut.

Bangsawan itu dimitoskan dengan apa yang disebut Miano da tebota yi tulanggadi. Artinya, orang yang muncul dari dalam buluh bambu yang  hendak ditebang bagi keperluan membuat nasi bambu dalam rangka pesta panen di Waru, pusat kekuasaan penduduk asli. Bangsawan Gowa yang sudah lebih berbudaya itu kemudian diangkat menjadi mokole (raja) Tangkeno dengan wilayah kekuasaan meliputi tempat-tempat permukiman penduduk eks-wita ea tadi dan seluruh Pulau Kabaena termasuk pulau-pulau kecil sekitarnya seoerti Pulau Talaga. Setelah penduduk bertambah banyak, muncul pusat kekuasaan baru di Lengora dan Kotua (dalam dialek Kabaena, huruf a pada kata ini dibunyikan).

Sebagai desa wisata  Tangkeno memiliki simbol-simbol kekuasaan di masa lalu berupa 9 unit benteng pertahanan. Boleh jadi, benteng-benteng itu dibuat pada zaman merajalelanya komplotan perampok dari Tobelo (Maluku Utara). Hampir semua wilayah Kerajaan  Buton menghadapi gangguan keamanan dari komplotan tersebut, termasuk Kabaena.

Desa Tangkeno yang terletak di ketinggian 650 meter dari permukaan laut (dpl) memang sangat ideal sebagai desa wisata. Desa itu menyajikan pemandangan alam pegunungan yang menyenangkan. Pulau Sagori sebagai sebuah atol dapat dinikmati keindahannya dari desa Tangkeno.

Kecuali obyek wisata sejarah, budaya, dan pemandangan alam pegunungan, Tangkeno juga menawarkan jejak-jejak purbakala dan kepercayaan animisme seperti batu lesung di hulu Sungai Lakambula, jejak tapak kaki manusia di atas lempengan batu di tepi Kali Waombu, dan batu ‘beranak’ tidak jauh dari lokasi jejak tapak manusia tadi. Disebut batu beranak karena batu berbentuk badan buaya itu memiliki dua batu yang lebih kecil dengan bentuk dan warna mirip dengan induknya. Sayang sekali, salah satu anaknya sudah diambil tangan-tangan jahil, lalu disimpan entah di mana.

Batu beranak di Waombu, salah satu obyek wisara budaya di Tangkeno. Batu punya ‘anak’ dua tapi yang lain diambil tangan-tangan jahil

Menurut penduduk setempat, pada awal hilangnya anak batu itu terjadi hujan lebat lokal. “Ini bukan cerita, saya lihat dan rasakan sendiri peristiwa alam itu terjadi dalam suasana musim kemarau”, tutur Dino, Sabtu tanggal 13 Oktober 2012. Dino adalah  warga Desa Lengora yang mengolah gula aren di sekitar batu berwarna hitam berbintik-bintik putih  (burik) itu. Penduduk sekitar menyebutnya batu amalaa (batu tempat memuja menurut kepercayaan animisme). ***

                                                   =================

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>