BAUBAU BUTUH DUKUNGAN PROVINSI

     OLEH YAMIN INDAS

Sebagian dari jalan akses terminal tipe BLkologou ke pelabuhan Murhumyang akan dibangun dalam rangka pengembangan transportasi kota yang terintegrasi darat, laut, dan udara.

SEBELUM mengunjungi Buton, Jan Pieterszoon Coen dalam tahun 1609 ikut perjalanan ekspedisi ke Kepulauan Banda yang dipimpin Laksamana Pieterszoon Verhoeven. Dia mendampingi dan sekaligus menjadi juru tulis laksamana tersebut.  Perjalanan itu dilakukan dengan maksud untuk menjalin kerja sama dengan para penguasa lokal Banda (Maluku) terkait perdagangan rempah-rempah. Sebab Inggris telah lebih dulu melakukan hal yang sama.

Pada suatu kesempatan, dalam tahun 1613, Coen berkunjung pula ke Buton. Dia mengagumi sebuah pelabuhan dan teluk yang indah di pantai Buton itu. Teluk itu sekarang disebut Teluk Baubau. Adapun pelabuhan, tempat kapal Coen mendarat masih di Ngangana Umala, yaitu muara Kali Ambon yang belakangan disebut Kali Baubau. Dari situ panorama alam teluk, memang indah dan  masih sangat alami  (natural).

Pelabuhan Ngangana Umala kemudian dipindahkan agak ke tengah garis pantai Teluk Baubau karena kunjungan kapal dan perahu makin ramai seiring kemajuan ekonomi dan perdagangan di Kesultanan Buton. Lokasi pelabuhan baru berhadapan dengan Pulau Muna. Pulau ini menjadi pelindung teluk dan pelabuhan dari terpaan ombak dan gelombang.

Coen mengagumi alam teluk dan pelabuhan tempat kapalnya mendarat. Ia berkata: “Hier is een zeer schone reede en de baye  (di sini ada suatu pelabuhan dan teluk yang sangat indah)”.  Perihal tersebut dikemukkan JP Coen dalam suratnya kepada Bewindhebber (administrator VOC) di Banten, sebagaimana dikutip Susanto Zuhdi dalam bukunya ‘Sejarah Buton yang terabaikan, Labu Rope Labu Wana’. JP Coen kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-4 selama periode 1619-1623, lalu dilanjutkan periode kedua (1627-1629).

CERITA di atas menunjukkan Kota Baubau memiliki sejarah panjang. Pelabuhan Ngangana Umala, difungsikan sebagai pangkalan armada semut para pelaut Buton  dan memiliki arti strategis di bidang ekonomi bagi kerajaan Buton. Kerajaan ini kemudian berubah menjadi kesultanan setelah raja ke-6 Lakina Ponto memeluk Islam. Dia diislamkan  Saikh Abdul Wahid dari Arab.

Gubernur Ali Mazi

Nama Lakina Ponto pun diubah menjadi Qaimuddin dan disebut Sultan Qaimuddin. Sultan Qaimuddin berkuasa selama 43 tahun (1541-1584). Setelah wafat, dia disebut Sultan Murhum, berasal dari kata almarhum. Makamnya terletak di sebuah bukit kecil di depan Masjid Agung Keraton dalam kawasan Benteng Keraton Buton.

BAGAIMANA perkembangan Kota Baubau saat ini? Baubau adalah sebuah kota kecil. Penduduknya belum mencapai 200.000 jiwa. Meskipun demikian, kota ini kelihatan padat karena daya dukung wilayahnya memang terbatas. Fisik kota saat ini menempati daerah-daerah kemiringan berbatu.

Sejak dulu penduduk berkonsentrasi di sekitar kawasan pelabuhan. Kawasan ini, seperti dituturkan Ali Arham (Kadis Pariwisata Baubau),  memang merupakan daerah pengembangan bau (bau dalam bahasa lokal berarti baru). Lama kelamaan kata ini diucapkan berulang menjadi ‘baubau’.

Pengembangan daerah baru (bau) dilakukan pemerintah kesultanan untuk menampung tambahan (pecahan) keluarga penduduk sekitar keraton dan juga pendatang (imigran). Jadi daerah baru di sekitar pelabuhan merupakan penyangga, baik dalam arti ekonomi maupun pertahanan keamanan bagi keraton yang terletak di ketinggian sekitar 3 Km dari pelabuhan.

Di era Amirul Tamim sebagai Walikota Baubau dua periode, perluasan kota itu gencar dilakukan seiring makin bertambahnya populasi penduduk dan pembangunan sarana prasarana publik maupun pemerintah. Perluasan dilakukan antara lain menggandeng para investor perumahan (properti). Selain itu Amirul membuka jalan baru dari Pantai Nirwna ke   arah Palagimata, kompleks pemerintahan kota.

Namun demikian, kegiatan ekonomi dan sosial masih tetap terkonsentrasi di kawasan-kawasan hunian lama dan di sentra-sentra kegiatan  perdagangan. Wilayah-wilayah tersebut tidak didukung akses jalan yang memadai. Ruas-ruas jalan umumnya sempit. Kehadiran PKL (Pedagang Kaki Lima) di beberapa tempat ikut mempersmpit badan jalan.

Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina

Akibatnya, kesemrawutan dan kemacetan di kota kecil itu tak terhindarkan. Keadaan tersebut melemahkan citra Baubau sebagai kota yang diharapkan menjadi tujuan wisata. Kondisi yang demikian itu menjadi tantangan bagi Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina ketika dia ditunjuk sebagai Pj Walikota Baubau selama kurang lebih 6 bulan.

Selain fokus pada pelayanan publik sebagai kepala daerah, Hado menata sistem transportasi. Ruas-ruas jalan tertentu yang meluap pada jam-jam tertentu, dioperasikan sebagai jalan satu arah. Aparat Dinas Perhubungan Kota dikerahkan ke lapangan untuk mem-back-up aparat kepolisian mengatur lalu lintas.

Sasaran yang ingin dicapai Hado adalah pengguna jalan, baik yang menggunakan angkutan umum maupun kenderaan pribadi harus nyaman, lancar, dan aman selama perjalanan.

Agar konsep percepatan pembangunan Kota Baubau berjalan terarah di atas dasar pijakan yang jelas dan tepat, Pj Walikota Hado Hasina (waktu itu) menggandeng para pakar pembangunan kota dan ahli transportasi dari ITB Bandung dan UI serta Kementerian Perhubungan untuk menyusun semacam master plan dan action plan percepatan pembangunan Kota Baubau, teristimewa di bidang transportasi.

Tim ahli tersebut beberapa kali datang ke Baubau terkait pelaksanaan kerja sama tersebut. Setelah melihat kondisi kota itu, Tedy Murtejo ST MT, salah satu pakar transportasi menyimpulkan, aksesibilitas dan mobilitas Kota Baubau masih terbatas. Ini yang perlu ditingkatkan dalam rangka pertumbuhan daerah (obyek) wisata baru dan pertumbuhan ekonomi kota tersebut.

Terkait pembangunan transportasi kota yang berkelanjutan (sustainable urban transport), menurut Tedy, harus dibuat rancangan transportasi kota yang terintegrasi antara transportasi laut, darat, dan udara.

Konsep itu yang ingin dilaksanakan Hado Hasina selaku Kadis Perhubungan Sultra. Dalam rangka itu dia bertekad melanjutkan dan mengembangkan terminal Lakologou yang telah dirintis Amirul Tamim.

Lakologou adalah terminal tipe B yang melayani Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Dengan demikian, aliran angkutan umum (bermuatan orang dan barang) dari Kendari, Buton Utara, Buton/Pasarwajo, dan Buton Selatan/Batauga harus berhenti di terminal tersebut. Perjalanan selanjutnya untuk tujun dalam kota akan ditangani armada angkutan kota. Jadi, Lokologou merupakan filter bagi angkutan luar kota agar tidak menambah kesemrawutan Kota Baubau.

Kondisi terminal Lakologou saat ini masih berupa lahan yang disiapkan sebagai lokasi terminal tipe B. Pembangunan fisik belum dimulai. Karena itu, Kadis Perhubungan Sultra saat menjabat Pj Walikota Baubau membangun subterminal Waramosiu yang lokasinya terletak di sebuah  titik antara Lakologou dan pelabuhan Murhum. Langkah itu diambil untuk mempercepat pemindahan terminal darurat dari lahan Lapangan Tembak milik TNI. Terminal darurat ini ikut berkontribusi terhadap kesemrawutan lalu lintas dalam kota.

Menurut Hado, pembangunan terminal Lakologou meliputi gedung terminal dan berbagai sarana prasarana, penyempurnaan subterminal Waramosiu, dan pembangunan jalan akses dari terminal Lakologou ke subterminal Waramosiu dan selanjutnya ke pelabuhan Murhum. Total panjang jalan akses tersebut sekitar 4 km. Pembangnan jalan akses akan dilaksanakan dengan pengurukan pantai Teluk Baubau.

 

Dana yang diperlukan untuk pembangunan infrastruktur transportasi tersebut sekitar Rp 120 miliar. Bila rencana itu terwujud, maka Teluk Baubau akan kian cantik. Dia akan menjadi sabuk putih di kaki tebing pantai teluk.  Dengan demikian, Baubau sebagai kota tujuan wisata akan semakin kaya dengan sumber daya buatan yang mempesona di luar Benteng Keraton sebagai inti destinasi wisata di kota itu selain atraksi-atraksi seni budaya.

Oleh sebab itu, Pemprov Sultra diharapkan tidak berdiam diri, tetapi sebaliknya harus proaktif memberikan dukungan biaya bagi terlaksananya proyek-proyak infrastruktur transportasi yang menunjang upaya pengembangan industri pariwisata.

Saya yakin Gubernur Ali Mazi sependapat dengan para pengamat pariwisata bahwa salah satu peluang ekonomi yang signifikan bagi Baubau adalah sektor pariwisata. Sebagai representasi Kesultanan Buton di masa lalu dengan berbagai peningglan sejarah dan budaya,  modal Baubau cukup menjanjikan, untuk dikesploitasi dalam rangka memajukan industri pariwisata.

Ali Mazi juga sebetulnya sangat diharapkan memiliki spirit dan komitmen moril untuk lebih concern terhadap pembangunan wilayah kepulauan, termasuk Kota Baubau yang kelak akan difungsikan sebagai ibu kota Provinsi Buton Kepulauan. Secara kebetulan beliau adalah putra daerah Sultra dari calon provinsi baru tersebut. ***

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>