TAMAN KOTA DAN KEARIFAN LOKAL, OBSESI PAHRI

OLEH YAMIN INDAS

DR IR HAJI PAHRI YAMSUL MSI

SEKIAN lama saya dan mungkin juga warga Kota Kendari yang lain merasa sangat menikmati manfaat tempat jogging di sebuah tempat di kota itu yang disebut Taman Kota. Mengingat manfaatnya yang sangat besar bagi kesehatan tubuh, pembuat taman itu tentu saja tak luput dari pujian, kendati tak lebih dari dalam hati sekalipun. Pembuatnya, ya Walikota Kendari!

 

“Bukan, Pak. Kita yang membangun Taman Kota tersebut”, bantah Pahri. Sosok ini tidak lain dari seorang arsitek yang sejak awal tahun 1990-an membangun kariernya di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara. Struktur Dinas PU semula hanya terdiri dari tiga bagian: Binamarga, Pengairan, dan Cipta Karya. Pahri tentu saja berkutat di Cipta Karya.

 

Struktur itu kini telah dimekarkan sesuai tuntutan kebutuhan dan misi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta kebutuhan pembangunan daerah. Binamarga dan Pengairan dijadikan Dinas tersendiri, sedangkan Bagian Cipta Karya sekarang menjadi Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara.

 

Terhitung sejak tahun 2018, Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sultra  dipimpin Dr Ir Haji Pahri Yamsul MSi. Lahir di Makassar 11 Desember 1966, Pahri menyelesaikan pendidikan dasar SD, SMP dan SMA di Kendari. Adapun gelar S1 Arsitek (1992) dan S2 (2002) Manajemen Perkotaan diraih dari Universitas Hasanuddin Makassar. Sedangkan S3 (2012) diperoleh Pahri dari pendidikan doktral Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

 

Pengalaman dalam perjalanan karier Pahri menunjukkan dia seorang profesional. Hampir semua kota kabupaten di Sultra dia tempatkan pada sasaran “tembak” dalam rangka pengembangan wajah kota berciri khas kearifan lokal.

 

“Obsesi saya, pembangunan sebuah kota selain menciptakan keindahan dan rasa nyaman bagi warga kota, juga harus mencerminkan budaya setempat atau kearifan lokal”, ujar Pahri dalam suatu perbincangan dengan saya di Kendari.

 

Di Kota Kendari, misalnya, dia berharap bangunan-bangunan publik memiliki sentuhan budaya lokal. Perihal tersebut telah diterapkan antara lain pada pembangunan Masjid A’lam. Mozaik lukisan tabere pada bangunan bagian atas masjid terlihat indah dari luar atau dari tempat agak kejauhan dari masjid itu. Masjid A’lam berdiri megah dan terlihat mengapung di atas permukaan laut Teluk Kendari.

 

Patut juga diketahui, tabere adalah potongan kecil-kecil aneka ragam kain dari berbagai warna yang disambung satu sama lain. Sambungan ini kemudian dijadikan hiasan di dalam ruang pesta dan ruang-ruang publi lainnya. Tabere di Masjid A’lam tentu berupa relif dari beton sedemikian rupa sehingga tampak nuansa budaya lokal tersebut.

 

Masjid tersebut merupakan salah satu proyek monumental yang dikerjakan di era Nur Alam, Gubernur Sultra dua periode (2008-2013 dan 2013-2018).

 

Di satu sisi kehadiran bangunan itu merusak ekosistem dan keindahan alam teluk. Namun, di lain pihak dari visi Pahri sebagai seorang arsitek, kehadiran rumah ibadah tersebut justru melengkapi keindahan alam. Keindahan alam yang dipaduserasikan dengan keindahan sumber daya buatan (arsitektur).

 

Menurut Kadis Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sultra tersebut, warga kota tidak dapat berinteraksi secara maksimal dengan lingkungan teluk yang indah itu. Tetapi dengan hadirnya sebuah masjid bersama lingkungan baru yang tertata secara estetika, maka terbuka hubungan interaksi antara warga dan lingkungan baru tersebut.  Hubungan interaksi tersebut terkoneksi atau terakses oleh terbukanya kawasan wisata baru dan ruang hijau untuk publik.

 

Dengan demikian, Teluk Kendari yang menjadi ciri dan identitas ibu kota Provinsi Sultra, kini  tidak hanya memamerkan pemandangan alam tetapi sekaligus juga dia berfungsi sebagai ruang interaksi sosial.

 

Kota-kota lain di Sultra tetap mendapat perhatian serius  dari Pahri sejak arsitek ini menapak karier di lingkup Cipta Karya Dinas PU Sultra. Kolaka Utara, Kolaka, Bombana, Unaaha, Raha, Baubau, dan Wakatobi, semua telah kebagian sentuhan arsitektur dalam bentuk pembangunan taman kota. Tetapi Pahri agak kecewa terhadap Pemda Bombana. Sebab ruang terbuka hijau yang telah dibangun di ibu kota kabupaten, tidak dirawat. “Padahal, sudah ada kesepakatan bahwa pemeliharaan dilakukan pemerintah daerah”, ujarnya.

Kota Baubau tampak sangat menikmati kehadiran taman Kotamara di pantai Kamali. Taman tersebut mirip sebuah hunian elite karena dibuatkan beberapa rumah susun dan kali buatan sebagai jalur perahu bermotor yang keluar masuk ke Kotamara.

 

Pahri menjelaskan, Benteng Keraton Buton juga telah ditangani dengan penataan taman-taman sekitar fondasi benteng. “Kita bekerja sama dengan pihak lembaga Purbakala agar tidak mengganggu eksistensi nilai arsitektur asli benteng tersebut”, katanya.

 

Perhatian terhadap lingkungan fisik Kota Kendari tentu lebih spesifik bagi Pahri. Sebab selain sebagai ibu kota provinsi, Kendari sesungguhnya dapat dieksplorasi menjadi kota tujuan wisata. Kehadiran Masjid A’lam bersama lingkungan baru berupa kawasan wisata dan ruang terbuka hijau, tentu merupakan tambahan aset wisata bagi kota tersebut.

 

Kekurangan lain adalah langkanya taman kota. Kota Kendari tak memiliki alun-alun, yaitu lapangan terbuka yang luas dan berumput hijau di tengah-tengah kota. Di Jawa, alun-alun biasanya  menjadi bagian dari kompleks hunian kaum elite, seperti rumah dinas bupati maupun pembesar lainnya.

 

Pahri sejak lama mengharapkan Pemkot Kendari mengakomodasi program pembangunan taman kota yang digalakkan pemerintah provinsi. Pemda Sultra (Dinas Cipta Karya) membuat program lalu diusulkan pembiayaannya ke Kementerian PUPR. Namun, sangat disayangkan peluang bagus itu masih kurang dimanfaatkan pemerintah kota dan kabupaten di Sultra.

 

Ia mengatakan, hampir semua kota di Indonesia memiliki alun-alun. Kendari tidak memiliki alun-alun. Taman kota juga nyaris tidak punya. Padahal fungsi sarana tersebut sangat strategis. Alun-alun dan taman kota berfungsi sebagai tempat berinteraksi sosial,  sebagai sarana olahraga dan rekreasi.

 

Lebih jauh Pahri berkata: “Masih banyak fungsi taman kota bagi kesejahteraan warga. Selain fungsi estetika dan kelestarian lingkungan, taman kota juga dapat mencegah erosi, tanah longsor, dan banjir. Dalam hal kelestarian lingkungan tadi, taman kota menjadi habitat berbagai macam burung yang memeriahkan datangnya pagi yang indah”.

 

Pemerintah provinsi kemudian membangun taman kota di depan kantor walikota (dahulu kantor Gubernur Sultra). Semula, banyak warga mengira taman itu dibuat pemerintah kota.

 

Di taman kota tersebut warga melakukan rekreasi setiap hari libur. Mereka berolahraga antara lain dengan jogging karena di situ tersedia sarananya yaitu jogging track. Bila beristirahat, mereka menikmati kuliner yang tersedia hampir di setiap jalur jogging track.

 

Selain taman kota di depan kantor walikota, pemerintah provinsi juga membangun Taman Kali Kadia dan Taman Hutan Mangrove di bibir Teluk Kendari, tepatnya di depan Hotel Claro.

 

Taman Kali Kadia mirip Taman Kayoon di Kota Surabaya. Tamannya dibelah Kali Brantas dengan aliran airnya yang jernih. Taman Kali Kadia juga begitu. Tamannya dibelah kali kecil yang disebut Kadia.

 

Akan tetapi, pembangunan Taman Kali Kadia tidak maksimal. Menurut Pahri, taman itu mestinya dibangun hingga jembatan Kadia di depan Pasar Swalayan Rabam. Namun mentok karena terhalang lapak-lapak milik warga yang dioperasikan sebagai rumah makan, tempat penjualan burung, dan bibit tanaman (kembang).

 

Seandainya pemerintah kota membebaskan lahan tersebut, Taman Kali Kadia akan menjadi obyek rekreasi yang lebih spesifik. Pahri mengatakan, Kali Kadia akan ditata agar berfungsi sebagai alur pelayaran perahu bwermotor dari muara di Teluk Kendari hingga jembatan di depan Swalayan Rabam.

 

Kerap kali saya menyebut mendiang La Ode Kaimoeddin sebagai konseptor pembangunan fisik Kota Kendari. Dia   menciptakan slogan pembangunan kota itu ‘Kota Dalam Taman’. Selain memiliki taman-taman sebagai paru-paru kota, setiap bangunan baik milik pemerintah maupun masyarakat harus menyisakan sekian persen lahannya untuk ruang terbuka hijau. Begitu kira-kira penjabaran konsep itu.

 

La Ode Kaimoeddin adalah Gubernur Sultra dua periode (1992-2003). Kota Kendari yang semula hanya memiliki sebuah jalan panjang mulai dari pelabuhan laut hingga pelabuhan udara, dipermak dengan membuka ruas-ruas jalan baru dan melebarkan jalan yang ada.

 

Gerakan tersebut dilancarkan dalam rangka persiapan Kendari dinaikkan statusnya dari kota administratif menjadi kotamadya. Peresmian menjadi kotamadya (otonom) terjadi dalam tahun 1995.

 

Pahri  Yamsul menyayangkan konsep ‘Kota Dalam Taman’ tidak dilaksanakan pemerintah Kota Kendari. “Bagus sekali konsep itu”, kata arsitek tersebut.

Ide dan gagasan Kaimoeddin tersebut sebetulnya sejalan juga dengan obsesi Pahri tentang keindahan dan lingkungan kota yang nyaman bagi warga. Namun, sebagai birokrat dia tentu mengharapkan dukungan masyarakat, termasuk dari kalangan teman-temannya sesama arsitek di dunia usaha jasa konsultan.

 

Di organisasi profesi IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Sultra, Pahri mengaku hanya sebagai anggota biasa. Tetapi dia tetap membangun kebersamaan dengan teman-temannya di organisasi tersebut.

 

Pahri siap dan selalu membantu teman-temannya baik secara perorangan maupun organisasi jika mengalami masalah terkait usaha jasa konsultan. “Kewajiban saya yang memiliki akses dengan pemerintah adalah ikut menyelesaikan jika ada sesuatu yang mengganjal. Harapan saya ialah terbangunnya keberpihakan pemerintah terhadap bukan saja hanya kepada pengusaha jasa konsultan melainkan juga untuk dunia usaha pada umumnya dalam rangka pembangunan ekonomi di daerah”, kata Pahri.

Pahri berasal dari keluarga sederhana. Paharuddin Sila, ayahnya adalah pegawai negeri sipil. Ia memutuskan hijrah dari Makassar ke Kendari tahun 1970 dan menjadi staf Biro Keuangan Kantor Gubernur Sultra hingga pensiun.  Dengan istrinya HB Intan, Paharuddin memiliki 6 anak, termasuk anak ke-4 Pahri. Dari 6 bersaudara hanya 3 mengikuti jejak ayah mereka sebagai PNS, termasuk Pahri sendiri.

 

Ke-5 orang saudara Pahri ialah Ir Syamsul Alam, Ir Abdul Rifai MSi, Megawati SE,  Muh Asri SE, DR Muh Tafsir SE MM. Sejak mahasiswa S1 Arsitek Fakultas Taknik Unhas, Pahri mulai ikut teman bekerja di perusahaan jasa konsultan. Gajinya untuk biaya kuliah sehingga beban  orangtua di Kendari kian ringan.

 

Ketika menikah dengan Rosmala Dewi, gadis asal Palopo yang kuliah di STAIN Kendari, Pahri sudah mandiri dari segi ekonomi. Dia sudah berstatus PNS dengan seabrek kegiatan sebagai staf berbagai proyek APBN maupun APBD.

Perkenalannya dengan Rosmala terjadi saat Pahri menjadi pengawas proyek APBN di   STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Kendari. Mereka kemudian menikah dan membuahkan 3 anak. Mereka adalah Devita Giscka Rezkqi Aulia, Nadia Kiranti Annissa Amalia, dan Deandra Audi Aisyiah Islami. Anak pertama dan kedua masih kuliah di Unhas. Adapun si bungsu saat ini (2019) duduk di kelas terakhir sebuah SD di Kendari.

 

Keberhasilan karier Pahri merupakan hasil kerja keras. Etos kerjanya tinggi. Sebagian besar waktu kantor digunakan mengecek kegiatan di lapangan, minimal proyek yang berlokasi di ibu kota provinsi. Kantor Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sultra juga sederhana, kendati gedungnya masih baru.

 

Berbagai pendidikan kejenjangan dan keahlian tidak dilewatkan Pahri, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk beberapa prestasi, kesetiaan dan dedikasi pengabdian, Pahri telah mendapatkan reward berupa Satya Lencana Pembangunan (2011) dan Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun (2014).

 

Dalam diri Pahri sebagai kader birokrat terdapat keistimewaan yang patut dicontoh. Aktivitasnya sebagai pengurus olahraga, khususnya cabang softball sangat tinggi. Bahkan menurut teman-temannya, Pahri tak jarang mengeluarkan uang pribadi bagi pembiayaan kegiatan olahraga beregu tersebut.

 

Pahri adalah Ketua Pengurus Provinsi Perserikatan Baseball dan Softball Amatir Indonesia (Pengprov Perbasasi) Sultra. Bahkan di tingkat pusat dia menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Besar Perbasasi periode mulai 2013 hingga saat ini (2019).

 

Aktivitasnya di cabang olahraga tersebut didorong juga semangat kepentingan membangun daerah. Dalam rangka itu hampir setiap tahun dia menggelar event kejuaraan di Kota Kendari, baik yang bersifat regional maupun nasional. Tujuannya selain peningkatan prestasi atlet,  juga dalam rangka pengembangan pariwisata.

 

Sebab kegiatan pariwisata secara ekonomi langsung dirasakan masyarakat. Baik dia sebagai pelaku industri pariwisata,  seumpama pengelola hotel dan restoran, travel biro maupun pelaku ekonomi kreatif seperti perajin tenun kain adat, makanan olahan khas lokal dari hasil pertanian dan perikanan.

 

Sangat beruntung provinsi yang pembangunannya masih tertinggal jauh seperti Sultra, punya kader kreatif seperti Pahri. Menurut saya, kader kreatif inovaif seperti dia, masih sedikit. Sultra tentu membutuhkan lebih banyak agar lebih cepat mengejar ketinggalannya di berbagai bidang dan sektor kehidupan. ***

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>