ETNIK MORONENE CERDAS MENGELOLA KAWASAN HUTAN

 

OLEH REKSON SOLO LIMBA DAN ASRUN LIO

 

 

REKSON SOLO LIMBA

CATATAN: Dua sarjana bergelar doktor (S3) ini mengatakan, masyarakat etnik Moronene memiliki kearifan lokal dan cukup cerdas dalam  mengelola kawasan hutan terkait kegiatan pertanian sistem ladang. Etnik ini memiliki tradisi sangat ketat dan sistematis sebagai panduan moral dan spiritual dalam melakukan usaha pertanian ramah lingkungan. Dengan demikian, kawasan hutan dan lingkungan pada umumnya   tetap akan terjaga dan lestari sepanjang kehidupan manusia.

Kedua sarjana tersebut adalah ahli sosiologi pedesaan Rekson Solo Limba dan ahli antropologi budaya Asrun Lio. Dalam jurnal tulisan ini, mereka membahas  bentuk-bentuk kearifan lokal suku Moronene yang berhubungan dengan konservasi atau pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan dalam sistem pertanian ladang. “Segenap perilaku, tradisi, dan adat istiadat suku Moronene terkait pemanfaatan hutan dalam rangka kegiatan dan usaha pertanian, kami telah sisir dan gali melalui narasumber dari para pelaku maupun sisa-sisa generasi tua”, tutur Rekson saat saya ke rumahnya di Jl Chairil Anwar, Kendari, Minggu 31 Maret 2019.

Jurnal ini juga merupakan bagian dari disertasi S3  yang diraih Rekson dari almamaternya, Universitas Haluoleo. Saya sangat mengapresiasi kedua Saudaraku: Rekson (lahir di Kasipute 12 Agustus 1953) dan Asrun Lio (lahir di Pasar Wajo 25 Mei 1968) karena mereka telah memaksimalkan kapasitas sebagai ilmuwan untuk menggali dan menyusun sebagian dari budaya dan tradisi suku Moronene yang eksistensinya  terancam punah akibat terkikis dan ditelan peradaban modern.

Tambahan catatan untuk Asrun Lio, ayahnya bernama Asmar Lio berasal dari Poo Montoro di daratan besar semenanjung Sulawesi Tenggara, Kabupaten Bombana. Sedangkan ibunya Munira berdarah campuran Kabaena dan Pasar Wajo. Gelar  PhD, S3 Antropologi Budaya diraih Asrun dari Australian National Univerfsity, Canberra, Australia. ANU berada di peringkat 23 dari 200 universitas terbaik di dunia.

 

Tujuan penelitian ini adalah untuk menemu-kenali bentuk-bentuk dan nilai-nilai kearifan lokal, kemudian menjelaskan sistem penerapan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya bagi Masyarakat Adat Moronene (MAM) di kampung Huka Ea – La Ea. Hasil penelitian ini pun diharapkan bermanfaat terutama bagi masyarakat etnik Moronene, serta semua pihak yang berkepentingan sebagai sumber informasi ilmiah.

ASRUN LIO

 

============================

 

 

ADA 3 (tiga) bentuk kearifan lokal suku Moronene yang diterapkan dalam sistem pertanian ladang. Pertama, dalam bentuk “adat istriadat” yang disebut “adat me’uma, atau “adat bertani”, yang meliputi proses dan tahap-tahap pertanian ladang.

 

Kedua, bentuk pengetahuan tradisional yang meliputi: 1. Sistem peredaran waktu, 2. Sistem penanggalan kalender ala Moronene, 3. Sistem peramalan, yang disebut (a) bilangari; (b) kalapuaro; (c) kilala, dan (d) memanu.

 

Ketiga, bentuk kepercayaan terhadap 4 (empat), yakni Dewa Tanah, Dewa Api, Dewa Air, dan Dewa Angin. Kepercayaan orang Moronene  tersebut telah melahirkan budaya sombolik “hitungan empat” yang dilafalkan dengan ungkapan “ asa, orua, otolu, opaa” (1,2,3,4). Budaya simbolik tersebut melambangkan adanya keempat dewa tersebut yang diyakini selalu hadir dalam kehidupan manusia.

 

 

Implikasi dari kepercayaan terhadap 4 (empat) dewa dan budaya simbolik “hitungan empat” tersebut, secara filosofi tradisi Moronene menghubungkan dengan keberadaan kawasan hutan sebagai ruang (space), tempat hidupnya makhluk ciptaan Tuhan, termasuk manusia dalam jagad raya ini. Sehingga dengan demikian pola pengelompokan kawasan hutan dalam tradisi/adat Moronene dibagi dalam 4 (empat) bagian kawasan yakni: (1) hutan inalahipue, sebagai hutan lindung; (2) hutan inalahi popalia, sebagai hutan keramat yang tidak boleh dirambah; (3) hutan inombo, sebagai kawasan hutan produksi; dan (4) hutan lueno (padang rumput) sebagai habitat marga satwa.

 

Dalam aplikasinya keempat zona kawasan hutan tersebut, menjadi pedoman dan pola pemanfaatan kawasan hutan di kampung Adat Moronene Huka Ea – La Ea tersebut yang pengaturannya menjadi tanggung jawab Lembaga Adat Moronene Totongano Wonua Huka Ea – La Ea. Penerapan nilai-nilai kearifan lokal Moronene tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan terhadap upaya penyelamatan hutan di wilayah ini.

 

Di sebuah kampung Moronene yang disebut Huka Ea – La Ea, hidup masyarakat Moronene yang menamakan dirinya Masyarakat Adat Moronene dan selanjutnya disingakt MAM, yang diatur oleh Lembaga Adat Moronene  “totongano wonua Huka Ea – La Ea”. Status kelembagaan tersebut telah berkekuatan hukum berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bombana Nomor 4 tahun 2015 tanggal 9 September 2015.

 

MAM di wilayah ini secara turun temurun memelihara dan menerapkan cara-cara hidup tradisional sesuai adat istiadat terutama dalam sistem pertanian ladang. Pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan (konservasi) oleh MAM dilakukan secara tradisional berdasarkan adat istiadat warisan leluhur Moronene. Karena wilayah kampung tersebut  berada di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), maka pengelolaan taman nasional itu dilakukan bersama MAM dan pemerintah (pihak TNRAW).

 

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah pokok yang dikaji adalah “Bagaiman Bentuk-bentuk Kearifan Lokal Masyarakat Adat Moronene Dalam Sistem Pertanian Ladang di Kampung Huka Ea – La Ea Kabupaten Bombana”.

 

Teori Kearifan Lokal (Local Wisdom)

       

        Menurut Quaritch Wales (1949), istilah local wisdom yang berarti kearifan lokal adalah sebagai kemampuan kebudayaan lokal menghadapi pengaruh kebudayaan asing, pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan (Rosidi, 2011:29). Mariane 2014:289) menjelaskan, kearifan local adalah keseluruhan nilai dalam suatu masyarakat yang diyakini kebenarannya sehingga menjadi kebijakan yang dijadikan acuanmasyarakat local dalam bertingkah laku sehari-hari. Demikian juga Keraf (2002:289) menyatakan,kearifan local adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan, serta adat istiadat atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis.

E.B taylor (1999) menyatakan bahwa kearifan lokal (local wisdom) adalah nilai-nilai yang merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan sebagai pedoman manusia di dalam menjalani proses kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya Taylor berpandangan bahwa kebudayaan adalah seluruh kompleks yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

 

Sejalan pandangan Tylor di atas, Mariane (2014:114) memandang kearifan lokal adalah keseluruhan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah laku  sehari-hari  oleh masyarakat setempat.

 

Selanjutnya, sehubungan dengan masalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam (hutan), derajat kualitas kepercayaan (trust) dan pengetahuan tradisional lokal (local knowledge) tersebut dapat mempengaruhi timbulnya kesadaran kolektif masyarakat, yang kemudian membentuk sikap hati-hati bagi manusia terhadap dalam mengelola sumber daya alam (hutan). Di dalam kesadaran kolektif tersebut, terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang membimbing manusia dalam berprilaku terhadap alam dan sumber daya yang ada di dalamnya. Sebagai kebijakan, kearifan lokal adalah suatu pola kehidupan yang mengandung nilai-nilai kebenaran, yang diyakini dan berlaku dalam masyarakat sebagai pedoman dan berprilaku sehari-hari.

 

Konsep kearifan lokal pada dasarnya dapat dipelajari dalam dua aspek, yakni dari aspek nilai budaya, dan dari aspek kebijaksanaan. Dari aspek nilai budaya, kearifan lokal adalah aplikasi nilai-nilai budaya lokal, adat istiadat yang dimanfaatkan mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau  bijaksana. Sementara dari aspek kebijakan, kearifan lokal adalah peraturan/hukum adat berdasarkan nilai luhur dan tradisi budaya yang menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan masyarakat (Sibarani,2012 : 113).

 

Pengetahuan Tradisional

 

Dalam masyarakat Moronene terdapat 4 (empat) sistem pengetahuan tradisional lokal tentang cara-cara mencari dan memilih waktu yang baik untuk memulai suatu pekerjaan, serta mendeteksi faktor keberuntungan dan/atau keselamatan melalui sarana/alat yang disebut:  (a) bilangari; (b) kalapuaro; (c) kilala; (d) memanu.

 

Bilangari adalah petunjuk waktu di mana berbagaI kegiatan dapat dilaksanakan (Rambe, 2002:189:191). Sedangkan kilala adalah sistem pengetahuan orang Moronene untuk mencari petunjuk akan adanya tanda-tanda. Selain kilala dan bilangari, ada pula sistem pengetahuan lokal masyarakat Moronene yang disebut kalapuaro dan memanu. Kalapuaro adalah cara mencari penunjuk arah bila hendak bepergian agar dapat memperoleh keuntungan/dana atau kemenangan (Rambe, 2002:191). Demikian juga memanu adalah cara untuk mengetahui baik buruknya sesuatu yang dikerjakan. Disebut memanu karena menggunakan sayap bulu ayam jantan sebagai medianya.

 

Selain pengetahuan tradisional tersebut di atas, suku Moronene mempunyai pengetahuan tentang peredaran waktu, yaitu yang disebut  oleo (hari), wotiti (bulan), ta’u (tahun), dan perhitungan/penamaan hari, bulan,  dan tahun ( Limba, 2015:219).

 

 

Lembaga Adat Moronene

 

Lembaga yang mengayomi dan mengatur penerapan nilai-nilai kearifan lokal di tingkat MAM adalah Lembaga Adat Moronene yang dibentuk oleh masyarakat Adat bernama “Adati Totongano Wonua” Huka Ea – La Ea.

 

Secara konseptual, bentuk-bentuk kearifan lokal suku Moronene dalam sistem pertanian ladang sehubungan dengan program konservasi hutan, pada hakikatnya dapat dilihat dalam dua dimensi, yakni: (1) dimensi kebudayaan, dan (2) dimensi kebijaksanaan.

 Pada dimensi pertama, bentuk-bentuk kearifan lokal adalah menyangkut kebudayaan. Hal ini berarti, bentuk-bentuk kearifan lokal dalam sistem pertanian ladang dapat dilihat dalam bentuk adat istiadat, pengetahuan trdisional, dan sistem kepercayaan terhadap unsur kekuatan gaib. Bentuk kearifan lokal dalam dimensi adat istiadat, meliputi aturan-aturan pelaksanaan sistem pertanian ladang mulai dari memilih lokasi/areal peladangan sampai dengan pemetikan hasil (panen). Seluruh rangkaian proses pertanian harus dilaksnakan sesuai tata aturan Adat Me’uma (adat Bertani).

 

Selanjutnya, bentuk-bentuk keaarifan lokal dalam dimensi pengetahuan tradisional  meliputi sistem keterampilan mengelola sumber daya alam, agar tetap lestari sebagai sumber penghidupan yang utama bagi manusia. Kemudian dimensi keprcayaan (trust) terhadap dewa-dewa. Bentuk kearifan lokal dalam kaitannya dengan sistem pertanian ladang berbentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap kekuatan gaib (supernatural) yang membimbing manuasia dalam berperilaku terhadap alam semesta agar manusia tidak merusak alam dan lingkungan hidup.

 

Kemudian pada dimensi kedua, yaitu kebijkasanaan. Maka bentuk-bentuk kearifan lokal dalam sistem pertanian ladang adalah berupa peraturan-peraturan lembaga adat yang telah dirumuskan menjadi pedoman untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan berdasarkan “nilai adat istiadat” kearifan lokal dalam bentuk kebijaksanaan, merupakan peraturan-peraturan lembaga adat, yang tidak bertentangan dengan pedoman pelaksanaan program pembangunan dan perundang-undangan yang berlaku. Sikap hati-hati dari masyarakat adat dalam mengelola hutan secara baik dan ramah lingkungan, adalah salah satu bentuk perwujudan kearifan lokal.

 

Dalam peraturan Lembaga Adat Moronene Totongano Wonua Huka Ea – La Ea khususnya yang mengatur tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati pada umumnya dan hutan pada khususnya, telah diatur kewajiban penduduk terhadap wilayah adat sebagai bentuk partisipasi masyarakat bagi kehidupan masyarakat adat itu sendiri. Berdasarkan keputusan-keputusan yang bersifat kebijakn lembaga adat, seyogyanya menjadi kewajiban semua penduduk, baik secara individu maupun secara kelompok untuk melaksanakannya. Bentuk-bentuk kearifan lokal sebagai kebijakan lembaga adat adalah keseluruhan peraturan yang telah disepakati bersama untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan pembangunan masyarakat adat. Sehingga dengan demikian, pelaksanaan kebijakan-kebijakan atau kearifan lokal harus mendapat legitimasi dari MAM itu sendiri. Untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri, MaM telah membentuk Lembaga Adat Totongano Wonua Huka Ea – La Ea.

 

Di struktur lembaga adat tersebut ada 4 (empat) fungsi yang terkait dengan konservasi hutan yakni: (1) totongano inalahi (urusan kehutanan), (2) totongano lombo  (urusan pertanian), (3) totongano kadadi (urusan margasatwa), dan (4) pembue’a (urusan kesehatan/tradisional).

Bentuk-bentuk Kearifan Lokal

Sebagai produk dari kebudayaan Moronene, pembahasan kearifan lokal dalam studi ini meliputi  adat istiadat, pengetahuan lokal, dan sistem kepercayaan. Ketiga bentuk kearifan lokal tersebut mempunyai keterkaitan yang erat dalam pengelolaan dan pemanfaatan (konservasi) sumber daya alam/hutan, karena ketiganya tidak dapat dipisahkan. Bentuk-bentuk kearifan lokal tersebut diuraikan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Adat Istiadat

 

Secara etimologi, istilah adat adalah aturan atau perbuatan dan sebagainya yang lazim dituruti diikuti atau dilakukan sejak dahulu kala. Atau adat dapat juga diartikan sebagai kebiasaan atau cara dan kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan. Selanjutnya, istiadat adalah berbagai adat kebiasaan (Purwadarminta,1976:16).

 

Dalam studi adat – istiadat dirumuskan bahwa semua peraturan /dan atau kelakuan yang pernah dilakukan oleh leluhur (nenek moyang) yang diwariskan secara turun temurun hingga dewasa ini.

 

Dalam kaitannya dengan usaha pertanian ladang di daerah ini, orang Moronene secara penuh mengikuti apa yang disebut  adat me’uma (adat bertani), yakni aturan-aturan pelaksanaan sistem pertanian ladang mulai dari memilih lokasi/areal perladangan sampai dengan pemetikan hasil (panen).

 

Seluruh rangkaian proses pertanian harus dilaksanakan sesuai adat me’uma tersebut, yang secara garis besar terdiri dari tahap-tahap berikut; (1) Mo’oonto wita (mencari lokasi; (2) Umowu (membabat pohon kecil dan gulma); (3) Monea (menebang pohon besar); (4) Humuni (membakar hasil tebangan); (5) Modahai (memotong dahan dan ranting sisa pembakaran; (6) Wungkali (merancak,merumpuk dan membakar sisa-sisa kayu hingga bersih dan siap tanam); (7) Mewala (memagar keliling area ladang); (8) Motasu (menanam padi); (9) Morabusi (membersihkan tanaman padi dari rumput dan gulma); (10) Mongkotu (potong padi/panen); dan (11) Mewuwusoi (pesta panen akhir tahun dalam rangka melepas kepergian sangkoleompae atau Dewi Sri/Dewi padi untuk kembali kekayangan.

 

 

Pengetahuan Tradisional

 

Dalam masyarakat Moronene terdapat 4 (empat) sistem pengetahuan tradisional lokal tentang cara-cara mencari dan memilih waktu yang baik untuk memulai suatu pekerjaan, serta mendeteksi faktor keberuntungan dan/atau keselamatan melalui sarana/alat yang disebut:  (a) bilangari; (b) kalapuaro; (c) kilala; (d) memanu.

 

Bilangari adalah petunjuk waktu di mana berbagaI kegiatan dapat dilaksanakan (Rambe, 2002:189:191). Sedangkan kilala adalah sistem pengetahuan orang Moronene untuk mencari petunjuk akan adanya tanda-tanda. Selain kilala dan bilangari, ada pula sistem pengetahuan lokal masyarakat Moronene yang disebut kalapuaro dan memanu. Kalapuaro adalah cara mencari penunjuk arah bila hendak bepergian agar dapat memperoleh keuntungan/dana atau kemenangan (Rambe, 2002:191). Demikian juga memanu adalah cara untuk mengetahui baik buruknya sesuatu yang dikerjakan. Disebut memanu karena menggunakan sayap bulu ayam jantan sebagai medianya.

 

Selain pengetahuan tradisional tersebut di atas, suku Moronene mempunyai pengetahuan tentang peredaran waktu, yaitu yang disebut  oleo (hari), wotiti (bulan), ta’u (tahun), dan perhitungan/penamaan hari, bulan,  dan tahun ( Limba, 2015:219).

 

Tentang waktu dalam kehidupan orang Moronene,  mencakup 3 (tiga) hal, yakni  (1) sistem peredaran waktu, (2)  sistem penanggalan/kalender yang meliputi perhitungan 1 hari = 24 jam, 1 minggu = 7 hari, 1 bulan = 4 minggu atau 29/30 hari, dan 1 tahun = 365 hari atau 12 bulan, yang dimulai dari bulan Januari sampai bulan Desember; dan (3) sistem peramalan untuk mengetahui waktu yang baik untuk memulai suatu pekerjaan, serta untuk mendeteksi faktor keberuntungan dan/atau keselamatan, melalui sarana/alat yang telah disebutkan sebelumnya: bilangari, kalapuaro, kilala, memanu.

 

 

1)  Sistem Peredaran Waktu

 

Seperti masyarakat pada umumnya, sebelum orang mengenal kalender nasional justru orang Moronene telah mempunyai sistem perhitungan waktu yang terdiri atas 4 kategori, yaitu: ta’u (tahun), wotiti (bulan), tadoha/mincu (pekan/minggu) dan oleo (hari). Jika dihitung lamanya masing-masing adalah sebagai berikut;

a)   Asa Ta’u (satu tahun) sama dengan (12 bulan)

b)  Asa Wotiti (satu bulan) sama dengan (30 hari)

c)    Asa Tadoha (satu minggu/pekan) sama dengan (7 hari)

d)  Asa Oleo (satu hari) sama dengan (12 jam di siang hari)

e)   Asa Malo (satu malam) sama dengan (12 jam pada malam hari)

 

Dalam waktu sehari-semalam, dihitung mulai dari waktu pagi sampai waktu pagi berikutnya selama 24 jam. Kemudian kurun waktu tersebut, dibagi lagi dalam 7 (tujuh) waktu: 1) Komeanta (menjelang subuh), 2) Dumondo (pagi), 3) Meanta (siang), 4) Tonga Oleo (tengah hari), 5) Telia Oleo (senja hari), 6) Kiniwia (sore), dan 7) Malo (malam hari).

 

2) Sistem kalender/penanggalan

 

Menurut Rambe (2002), orang Moronene telah memiliki pengetaahuan tentang penyebutan nama hari dalam setiap bulan yang artinya sama dengan tanggal dalam kalender nasional. Berdasarkan pengetahuan tersebut, orang Moronene menghitung jumlah hari dalam sebulan sebanyak 29/30 hari, yang dibagi dalam 2 (dua) putaran waktu. Putaran pertama sebanyak 15 hari yang disebut wotiti mongura ( bulan muda), dimulai dari terbitnya bulan sabit sampai membentuk lingkaran bulat penuh yanag bersinar sangat terang, yang disebut mata mondo (bulan purnama). Putaran kedua disebut wotiti motu’a (bulan tua), yang dihitung mulai dari mengecilnya bulan di langit sampai hari ke-29/30 atau hingga bulan tidak tampak lagi, yang disebut wulampusu.

 

Untuk jelasnya penamaan hari-hari dalam sistem penanggalan/kalender Moronene adalah sebagai berikut:

Komata (tanggal 1)

Kompendua (tanggal 2)

Olo (tanggal 3)

Kawe (tanggal 4)

Merorawusi (tanggal 5)

Mehau-hau (tanggal 6)

Te’ala (tanggal 7)

Kompendua hoalu (tanggal 8)

Te’ue (tanggal 9)

Tompara (tanggal 10)

Toe (tanggal 11)

Leleangkia (tanggal 12)

Montete (tanggal 13)

Matamondo (tanggal 14)

Kosoo-soo (tanggal 15)

Mo’ila (tanggal 16)

Moseka (tanggal 17)

Kompendua Pobuliliano (tanggal 18)

Olo Motu’a 9tanggal 19)

Kawe Motu’a (tanggal 20)

Merorawusi Motu’a (tanggal 21)

Mehau-hau Motu’a (tanggal 22)

Te’ala Motu’a (tanggal 23)

Kompendua Motu’a (tanggal 24)

Te’ue Motu’a (tanggal 25)

Tompara Motu’a (tanggal 26)

Toe Motu’a (tanggal 27)

Lelengkia Motu’a (tanggal 28)

Montete Motu’a (tanggal 29)

Wulampusu (tanggal 30)

 

 

3)  Sistem peramalan

Salah satu bentuk karifan lokal yang banyak digunakan oleh MAM adalah sistem peramalan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kearifan lokal tersebut dijelaskan sebagai berikut;

 

1)             Bilangari. Menurut  Strom (1925;7) dalam Rambe (2002:189), istilah bilangari adalah sistem pengetahuan lokal masyarakat Moronene untuk mencari petunjuk di mana berbagai kegiatan dapat dilaksanakan.  Konsep bilangari adalah salah satu jenis pengetahuan tradisional Moronene yang dipakai untuk memprediksi kejadian, baik masa lalu maupun hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang. Bilangari biasa digunakan dalam hal yang berkaitan dengan faktor keselamatan dan keberuntungan dalam berbagai kegiatan manusia. Misalnya, dalam suatu perjalanan jauh, orang biasanya memilih waktu  jam D yang menunjukkan simbol keselamatan yang ada. Demikian juga dalam suatu pekerjaan yang berkaitan dengan usaha ekonomi, maka orang harus memilih dan menyesuaikan simbol keberuntungan.

 

2)             Kalapuaro. Istilah Kalapuaro secara harfiah adalah alat petunjuk (isyarat) tanda-tanda alam, dan arah mata angin. Kalapuaro lazim digunakan untuk mencari petunjuk bila dalam perjalanan kehilangan arah (molengu) atau bila hendak bepergian jauh agar dapat memperoleh keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan. Selain itu kalapuaro juga untuk melacak sesuatu yang hilang baik benda, hewan, maupun manusia.

 

3)  Kilala. Menurut Strom (1925:2) dalam Rambe (2992:192) istilah kilala adalah suatu pengetahuan lokal yang berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan petunjuk tentang tanda-tanda. Dalam sistem pertanian, kilala sering digunakan untuk mencari petunjuk tentang  “baik tidaknya” suatu kawasan tertentu dijadikan lokasi perladangan bagi warga kampung.

 

Menurut Bakati, 79 tahun, (wawancara, 17 Januari 2016),  apabila kilala tersebut memperlihatkan tanda tanda yang baik, maka kawasan yang dimaksud adalah baik untuk dijadikan areal perladangan. Akan tetapi kalau yang terjadi sebaliknya, maka para petani harus mencari kawasan lain. Secara ringkas ketiga jenis pengetahuan tradisional tersebut, akan dijelaskan lagi sebagai berikut;

 

a)              Kilala Me’otuwe; Kilala Me’otuwe yaitu sistem pengetahuan tradisional untuk mengetahui dan mendapatkan petunjuk/tanda-tanda tentang hal yang diniatkan. Medianya berupa sebuah kolungku (bejana kecil) terbuat dari kuningan yang berisi kapur sirih. Pelaksanaan kilala dilakukan dengan ritual me’ otuwe(menjengkal) 2 kali. Caranya, ritual pertama dimulai dengan mengambil kapur secuil ujung dari tengah tangan kanan diberi mantra kilala, lalu me’otuwe (menjengkal) 2 kali pada lengan kiri dari ujung jari tengah ke arah siku. Tanda batas jengkal dan kedua. Kemudian dilakukan ritual kedua dengan cara yang sama. Jarak jengkal pada ritual pertama dijadikan patokkan untuk dibandingkan dengan jarak ritual kedua. Uniknya dengan kekuatan magis dalam mantera kilala me’otuwe tersebut, dapat mengeluarkan”energy” sehingga jarak jengkal ritual kedua dapat berbeda dari jengkal yang pertama. Perubahan tersebut memiliki 3 (tiga) makna simbolik sebagai berikut.

 

b)  Kilala Niwoti atau Riri lanu. Untuk kilala jenis ini medianya 3 (tiga) utas tali, sepanjang 30 cm. tali tersebut terbuat dari niwoti  (tali yang dipilin) atau daun agel yang diiris selebar ± 1 cm.

Setelah ketiga kali tersebut dikerjakan oleh ahli kilala, kemudian dilepas/dijatuhkan ke bawah, akan terjadi 3 (tiga) kemungkinan. Apabila yang terjadi adalah sebagaimana simpul pertama, berarti tanda mobui, simbol boros, berarti “tidak baik”. Apabila simpulnya saling terkait  maka hal seperti itu disebut kobara-bara (ragu-ragu), artinya “tidak pasti”. Jika yang terjadi seperti simpul ketiga, maka hal itu disebut Moniu yang berarti pertanda “baik dan mujur”.

 

c)    Memanu

 

Kilala Memanu adalah cara meramal yang menggunakan media bulu ayam (wulu manu), sepotong balok, dan parang. Bahannya adalah (1) lembar dari sayap kanan. Caranya, dengan menggunakan bulu ayam jantan pada sayap kanan, selanjutnya memberi mantera sambil meniatkan hajat tertentu. Setelah itu bulu ayam tadi diletakkan melintang di atas balok (popala), sambil membaca mantera “asa, orua, otolu, opaa” (1, 2, 3, 4), lalu bulu ayam tadi dipotong. Bulu ayam tersebut akan terpelanting ke atas dan jatuh di atas tanah dengan posisi dua kemungkinan yaitu, jatuh mengadah ke atas atau terpelungkup ke bawah. Jika terpelungkup ke bawah, itu berarti tidak baik.

 

 

 Sistem Kepercayaan

 

Bentuk- bentuk kearifan lokal suku Moronene, banyak dipengaruhi oleh sistem-sistem kepercayaan yang diyakini berhubungan dengan realitas kehidupan manusian pada umumnya. Sebagai sumber salah satu kearifan lokal MAM di Huka Ea – La Ea adalah kepercayaan terhadap 4 (empat) dewa yang memiliki kekuatan gaib (supernatural) yang mengatur dan mengontrol kehidupan alam semesta termasuk manusia yaitu: (1) Dewa Tanah, (Sangia Tumondete), (2) Dewa Api (Sangia Mponga’e), (3) Dewa Air (Sangia Olaro),  dan (4) Dewa Angin (Sangia Lamoa). Keempat dewa tersebut sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan MAM di wilayah ini sejak dahulu sampai sekarang. Pengaruh tersebut telah melahirkan budaya simbolik “hitungan empat” sebuah ungkapan bernuansa do’a yakni; “ asa, orua, otolu, opaa” (1, 2, 3, 4), yang melambangkan kehadiran empat dewa dalam setiap urusan manusia. Dengan keyakinan tersebut, MAM menunjukan bahwa di samping mereka melaksanakan syariat agama yang di anut (Islam), mereka juga secara aktif melaksanakan ritual-ritual sebagai persembahan kepada para dewa yang diyakini karena takut melanggar adat para dewa tersebut. Kepatuhan terhadap adat para dewa dan kehati-hatian dalam mengelola hutan tersebut, berimplikasi positif terhadap pelaksanaan nilai-nilai kearifan lokal dalam program konservasi hutan, yang pada gilirannya dapat menjamin keselamatan dan kelestarian sumber daya alam utamanya hutan.

 

Dalam kehidupan nyata, budaya simbolik “ hitungan empat” tersebut diaplikasikan pula dalam sistem pengelompokan tanah ulayat menjadi 4 (empat) zona yakni;” Inalahipue,Inalahi popalia, Inombo, dan Lueno”. Keempat  kawasan “Hutan Adat Moronene” tersebut, merupakan wilayah adat yang ada dalam kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) dengan fungsinya masing-masing. Kawasan hutan inilahipue adalah sebagai hutan lindung, kawasan hutan inalahi popalia sebagai hutan keramat yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat, kawasan hutan inombo, adalah kawasan hutan produksi, yaitu kawasan perladangan/perkebunan rakyat, dan kawasan lueno, adalah kawasan padang rumput (savannah)sebagai habitatnya margasatwa. Kearifan lokal berbentuk kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gaib (supernatural) pada dewa-dewa tersebut, telah mendorong timbulnya kesadarn kolektif masyarakat untuk senantiasa berhati-hati dalam memanfaatkan hasil-hasil hutan.

Kesadaran kolektif yang senantiasa takut dan patuh pada ketentuan adat tersebut sehingga tidak berani merusak hutan secara sia-sia sangat mendukung terpeliharanya kearifan lokal dalam menjaga keamanan dan kerusakan hutan di wilayah MAM Huka  Ea- La Ea. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>