RUSLAN MEMBANGUN SDM BUTON

OLEH YAMIN INDAS

HAJI LA ODE RUSLAN BAKARA SE MM

IDEALISME orang kepulauan adalah merantau. Di sana, di tempat perantauan baru dimulai kehidupan yang sesungguhnya. Berjuang dan bekerja keras untuk meraih cita-cita. Bila suatu waktu harus pulang kampung, maka harus ada sesuatu yang dibawa. Sesuatu itu boleh konsep, rencana, atau program, atau wawasan dan pengalaman yang bisa dibagi untuk memajukan kampung halaman. Akan lebih produktif lagi jika membawa modal investasi untuk membuka usaha dan kegiatan ekonomi.

Perjalanan hidup La Ode Ruslan bergerak kurang lebih seperti itu. Setamat SD dan SMP di Kelurahan Pongo, Wanci, Kabupaten Wakatobi, Ruslan ke Makassar. Dia melanjutkan pelajaran ke SMA Ampera, salah satu sekolah swasta di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan.

Ada alasannya mengapa dia memilih sekolah partikelir. Biasanya, sekolah swasta tidak terlalu ketat dalam pelaksanaan disiplin belajar mengajar.

Kelonggaran itulah yang dimanfaatkan Ruslan untuk mencari nafkah buat hidup dan biaya sekolah.

Kecerdasan di beberapa mata pelajaran tertentu membuat masalah keuangan Ruslan di Makassar lebih ringan. Dia menguasai mata pelajaran Biologi, Matematika, dan Kimia. Setelah tamat di SMA Ampera tahun 1986, Ruslan pun dipercayakan mengajar sebagai guru honorer ketiga mata pelajaran tadi di sekolah itu.

Namun demikian, dia tetap bekerja serabutan untuk menambah penghasilan. Pasalnya, biaya kuliah di IAIN Alauddin Makassar, perguruan tinggi negeri tempat dia melanjutkan studinya, kian berat.

Orangtua sebetulnya termasuk keluarga mapan di Wanci. Ukurannya, La Ode Bakara, ayah Ruslan memiliki perahu layar. Perahu layar tersebut bolak balik Wakatobi – Surabaya – Banyuwangi. Ke Jawa Timur mengangkut kopra dan hasil laut. Sedangkan muatan balik ke Wanci atau kawasan Indonesia timur lainnya berupa barang campuran, termasuk bahan pangan seperti beras.

Tetapi prinsip Ruslan tidak mau merepotkan orangtua. Sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara, dia memberi kesempatan kepada adik-adiknya untuk mendapatkan perhatian penuh dari orangtua. Ke-6 saudaranya itu adalah Nurbaya, Abdul, Sunawati, Mustafa, Saiful, dan Mahyudin.

Pendidikan Ruslan tidak tuntas di IAIN Makassar. Hanya sampai semester 7 jurusan Tarbiyah (pendidkan). Darah muda dalam dirinya membuatnya tidak puas merantau dan menuntut ilmu hanya sampai Makassar saja.

Dia ke Yogyakarta, kota pelajar terkenal di Tanah Air. Di sini dia mengambil jurusan manajemen pada STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Isti Ekotama Upaweda (IEU). Dari perguruan tinggi swasta itu Ruslan berhasil meraih gelar S1 Manajemen pada tahun 2001.

Jelajah Ruslan makin melebar. Dari Yogya sekarang dia ke Surabaya. Di kota Pahlawan Ruslan kuliah di perguruan tinggi swasta Artha Bodhi Iswara dan berhasil meraih gelar S2 Magister Manajemen.

Ketika menjadi mahasiswa di Yogya maupun Surabaya, jiwa wiraswasta makin tumbuh dalam diri anak Wanci ini. Ia sering ke Jakarta dan membangun pertemanan dengan sesama anak muda yang mempunyai ide dan semangat entrepreneurship, seperti dirinya.

“Saya mempunyai dua sahabat, satu dari Sumatera dan seorang lagi dari Kalimantan. Kami berkongsi dan berbisnis rotan jenis daerah masing-masing. Saya dari Sulawesi tentu mengandalkan rotan jenis batang dan tohiti. Bisnis kami ini ditopang seorang pemodal asing”, tutur Ruslan.

Pemodal itu membutuhkan perabot rotan dalam bentuk setengah jadi (semi produkct). Maka Ruslan dkk harus bekerja sama dengan sebuah industri mebel rotan di Cirebon, Jawa Barat. Bisnis ini berjalan tanpa hambatan hingga memasuki tahap ekspor ke Yunani.

Bagaimana bisa menembus pasar ekspor hingga ke negeri tempat lahirnya budaya dunia Barat, Ruslan mengungkapkan bahwa pemilik modal adalah orang Yunani. “Modal itulah yang kami investasikan. Kami hanya memasok produksi bentuk semi produk sesuai kebutuhan investor tersebut”, kata Ruslan.

DALAM kurun waktu itu Ruslan bersama rekannya juga merambah bisnis sektor perikanan. Berbagai jenis ikan produksi cold strorage Indonesia diekspor ke Jepang. Mereka mudah memasuki pasar Jepang karena melalui perantaraan Mr Tang, semacam Kepala Biro Jepang di struktur Kadin Singapura. Ruslan bersama rekannya tentu sering main ke Singapura dalam rangka membangun kerja sama lebih intensif dengan pejabat Kadin Singapura itu.

Hingga pulang kampung di Baubau, La Ode Ruslan masih menggeluti bisnis ekspor ikan. Tapi ketika bisnisnya ini masuk perangkap dan dimainkan mafia

pasar, kegiatan ekspor macet. Masalah tersebut muncul setelah jalur ke Jepang tidak lagi melalui perantara Kadin Singapura. “ Saya tinggalkan. Terlalu banyak rintangan di bisnis perikanan”, ujarnya.

Saat pulang kampung, Ruslan tidak ke Wanci di Wakatobi. Dulu, Wakatobi dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi. Yaitu gugusan pulau-pulau di laut Banda yang terdiri dari pulau Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, Binongko dengan akronim Wakatobi. Kala itu Wanci dianggap kurang strategis untuk membangun basis bisnis yang berorientasi pasar lokal.

Saat ini Wanci telah berfungsi sebagai ibu kota Kabupaten Wakatobi, hasil pemekaran Kabupaten Buton. Tentu peluang bisnis mulai terbuka di kabupaten baru tersebut.

Dia pilih Baubau, kota pelabuhan paling ramai di Provinsi Sultra. Baubau adalah ibu kota Kabupaten Buton yang waktu itu masih merepresentasi semua wilayah eks Kesultanan Buton. Sebagai kota pelabuhan, Baubau merupakan pintu lintasan kapal penumpang PT Pelni (Persero) yang beroperasi di kawasan timur, juga pelabuhan bagi kapal-kapal kargo lokal dan antarpulau.

Dengan modal dan kekuatan sendiri, Ruslan membuka toko kendaraan roda dua Kawasaki atas nama CV Nikmah Baubau. Satu merek lagi kendaraan bermotor yang dipasarkan Ruslan di Baubau, yakni garuda Motor.

Merek lain seperti Yamaha, Suzuki, dan Honda ikut pula dipajang di toko Nikmah Baubau bersama barang elektronik kebutuhan rumah tangga seperti kulkas, TV, parabola, dan lain-lain.

Setelah dua tahun merintis bisnis sebagai dealer kendaraan bermotor, Ruslan makin merasa eksis di Baubau, yang secara emosional masih termasuk kampung halaman. Dari hasil perkembangan usaha, dia membeli beberapa rumah di Makassar sebagai aset. Antara lain di Panakukang Mas, Perumahan Surya Mas Makassar dan Graha Indah Family. Ruko di Panakukang Mas digunakan sebagai toko barang elektronik termasuk kendaraan bermotor Kawasaki dan Yamaha.

Bahkan di Jakarta pun, Ruslan memiliki sebuah apartemen. Di Kota Baubau tercatat 7 unit rumah pribadi. Semua aset tersebut baik yang ada di Jakarta, Makassar, maupun Baubau sejauh ini belum dikomersialkan, dalam arti disewakontrakkan atau semacamnya.

Bintang Ruslan sebagai pengusaha kian bersinar ketika mendapat perhatian pejabat pemerintah setempat. Sebagai dealer kendaraan bermotor, CV Nikmah Baubau sering menangani proyek pengadaan kendaraan roda bagi kepentingan pemerintah Kabupaten Buton.

Melihat kinereja yang baik sebagai rekanan, Bupati Buton Kolonel (Zipur) Saidoe (waktu itu) menawarkan Ruslan agar dia juga ikut menangani proyek-proyek fisik. Maka, Ruslan pun merambah bisnis jasa konstruksi.

Ruslan merindukan kepemimpinan era yang lalu terkait pembinaan pengusaha. Para pejabat tinggi setempat, termasuk Bupati Saidoe, menunjukan keberpihakan kepada pengusaha anak daerah tanpa pamrih. Tanpa kepentingan yang belakangan ini diwujudkan dalam bentuk fee suatu proyek untuk kantong oknum-oknum mulai level rendah hingga bupati dan gubernur.

SEPERTI umumnya kelas menengah baru di Indonesia, ketika kehidupan sosial ekonomi terasa mulai mapan, Haji La Ode Ruslan Bakara SE MM juga terpanggil merambah dunia organisasi kemasyarakatan dan politik. Dia aktif di ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan partai politik Demokrat. Tetapi di parpol tokoh ini secara ideologis tidak fanatik. Buktinya, dia sekarang aktif sebagai calon legislatif provinsi dari sebuah partai baru besutan Keluarga Soeharto dalam rangka Pemilu 2019.

NAMUN, Ruslan memiliki komitmen kuat dalam dirinya sebagai putra daerah untuk ikut berkontribusi dalam usaha memajukan daerahnya sendiri. Sekecil apa pun kontribusi yang disumbangkan, tapi peran itu sangat penting sehingga sejarah pasti akan mencatatnya.

Ketika diwujudkan dalam tindakan nyata, komitmen dan kontribusi La Ode Ruslan bukan perkara kecil. Kontribusi tersebut berdimensi kemanusiaan. Bahkan bersifat universal.

Dia bergerak di sektor peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dia membangun pendidikan tinggi ilmu kesehatan, lalu produknya dimanfaatkan bagi peningkatan kualitas SDM di bidang kesehatan. “Sebab hanya manusia sehatlah yang bisa mengelola dan membangun kehidupannya dengan baik”, begitu pendapat Ruslan.

Dalam kapasitasnya sebagai pengusaha dan berlatar pendidikan memadai, Ruslan melihat masyarakat Buton dan kepulauan pada umumnya masih membutuhkan infrastruktur di bidang peningkatan kualitas kesehatan. Maka, dia memutuskan membuka pendidikan tinggi kesehatan bernama Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buton di Baubau pada tahun 2009.

STIKES Buton bernaung di bawah Yayasan Haji Abdul Rahman. Ini nama kakek Ruslan. Keluarga Ruslan berasal dari Wanci, Kelurahan Pongo sekarang (Kabupaten Wakatobi). Ruslan lahir di situ tanggal 7 Juli 1966 sebagai anak pertama pasangan La Ode Bakara dan Waode Ruwaya.

Ruslan sendiri memiliki 5 putra-putri. Mereka adalah Nikma Saro, Sarjana Gizi; Dwi Wahyuni S.Ked; La Ode Wahidin Abdul Rahman, Ahmad Chair Asidiqiu, Wa Ode Umi Rahmawani. Empat yang pertama merupakan buah pernikahannya dengan Dra Hj Nursiah. Sedangkan Umi Wahyuni adalah anak dari Hj Asna Alimuddin SE MM, istri kedua Ruslan.

Kedua istri Ruslan hidup rukun. Hj Nursiah adalah pegawai negeri sipil berstatus guru SMAN di Wanci. Adapun Hj Asna adalah ibu rumah tangga yang mendampingi dan membantu langsung suami di Baubau sebagai pengusaha dan tokoh masyarakat.

Struktur organisasi dan kepengurusan STIKES Buton telah dibagi habis ke-5 anak Ruslan. Anak pertama, Nikma Saro dipercayakan sebagai Ketua Yayasan haji Abdul Rahman. Ia dibantu anak kedua, dr Dwi Wahyuni sebagai sekretaris yayasan. Adapun anak ketiga dan keempat (La Ode Wahidin SST dan Ahmad Chair) berstatus sebagai Pembina dan pengawas. Si bungsu Umi Rahmawani diberi tugas sebagai bendahara.

STIKES Buton menyelenggarakan 3 bidang studi: Program Strata 1 Keperawatan dan Program Strata 1 Kesehatan Masyarakat, serta Diploma 3 Kebidanan. Ketiga program studi tersebut telah 6 kali menyelenggarakan wisuda sarjana. “Ketiganya menghasilkan sekitar 200 wisudawan per tahun”, tutur Ruslan.

Para alumni STIKES Buton kini tersebar bekerja di lembaga-lembaga pelayanan kesehatan masyarakat, baik lembaga swasta maupun pemerintah.

Secara keseluruhan manajemen STIKES Buton dikendalikan Nikmah Saro M Kes sebagai anak tertua. Harapan Ruslan adalah agar anak-anaknya dapat mengembangkan STIKES Buton menjadi lembaga pendidikan berkualitas yang mampu bersaing di era global yang ditandai dengan teknologi canggih saat ini.

“Cita-cita saya, STIKES Buton bekembang menjadi sebuah universitas berkualitas, agar mengharumkan nama bukan saja Buton (Sulawesi Tenggara) melainkan juga Indonesia”, ujar Ruslan membuka isi hatinya dalam sebuah wawancara di Kendari, bulan Maret 2019

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>