HAKIM NYAMAN DI BISNIS PERUMAHAN

OLEH YAMIN INDAS

H. ABDUL HAKIM

DIA pegawai kantor pos, BUMN di bidang jasa pengantaran barang yang beroperasi sejak zaman Belanda. Tidak heran jika Abdul Hakim berjiwa ramah, berwajah cerah dan bersuara lembut bila berbicara dengan  siapa pun. Pembawaan itu dikedepankan saat dia melayani publik yang berurusan di kantor pos.

 

Gaya interaksi itu tidak berubah ketika Hakim beralih profesi. Dia berbinis. Justru keramahan dan kelembutannya membuat Hakim cepat banyak teman, dan kemudian menjadi pasar dari produk bisnisnya.

 

Mula-mula perantau asal  Polewali Mamasa (Polmas), Sulawesi Selatan, ini  membuka usaha makanan olahan dari ikan berupa abon. Dia memanfaatkan potensi ikan yang melimpah di Kota Kendari. Tetapi ikan yang diolah diseleksi juga. Lebih banyak dia mengolah jenis marlin yang disebut manumbu dalam istilah lokal.

 

Marlin bukan sembarang ikan. Para pakar mengatakan, ikan marlin putih misalnya,  mengandung asam lemak Omega 3 yang dapat mencegah serangan bagi mereka yang suka makanan berlemak tinggi.

 

Marlin juga berkhasiat membantu perkembangan otak, terutama untuk anak-anak yang masih dalam proses pertumbuhan. “Ikan marlin besar-besar karena habitatnya di dasar laut lepas”, tutur Hakim menambahkan.

 

Kendati bersifat kerajinan rumah tangga, produk ikan olahan Hakim disukai pasar. Artinya, belum pernah dikembalikan bila dititip ke toko-toko makanan. Habis terjual. Seperti dijelaskan Drs Sapoan, Kepala Bidang Luar Negeri Dinas Perindag Sultra, Hakim membuka toko makanan olahan. Selain produk sendiri,  tokonya juga menampung titipan kawan-kawan sesama pengusaha kecil, semisal kacang mete. Kacang mete olahan dikenal sebagai buah tangan (oleh-oleh) spesifik dari Kendari.

 

Setelah merambah usaha di level menengah, yakni bisnis properti, usaha makanan olahan dihentikan untuk memberi kesempatan lebih lebar bagi pendatang baru di bidang usaha mikro kecil dan menengah tersebut. Bahkan dia minta pensiun dari PT Pos Indonesia dalam rangka lebih berkonsentrasi di dunia bisnis.

 

Menurut Sapoan, Hakim adalah sosok pengusaha yang kreatif. “Saya amati dia mulai melirik bisnis mobil second. Hanya saya belum tahu apakah usaha barunya itu sudah jalan atau masih ancang-ancang”, ujarnya.

 

Bukan hanya di bidang pekerjaan. Hakim juga tidak lupa meningkatkan kualitas sumber daya diri pribadi maupun keluarganya. Bermodal ijazah SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) ketika mulai bekerja di PT Pos Indonesia, ayah 6 anak hasil perkawinan dengan Hajjah Siti Sumarni, saat ini tengah mengikuti program doctoral bidang manajemen di Universitas Haluoleo Kendari.

 

Desember adalah bulan yang indah bagi Hakim. Dia lahir di Polmas pada tanggal 12 bulan 12 tahun 1964, buah pernikahan pasangan Bachtiar-Siti Subaedah. Keduanya sudah tiada. Hakim adalah anak pertama dari dua bersaudara.

Dari Sumarni kemudian dia dianugrahi dua putri dan empat putra. Kecuali dua anak perempuan yang sudah menikah, ke-4 anaknya yang lain bersekolah di pesantren di Jawa maupun Kendari. Mereka mengikiti pendidikan ekstrakurikuler menghafal Al Qur’an.

 

Religiusitas kehidupan Hakim terkesan saat kami bincang-bincang di kantornya Jalan Singa, Andonohu, Kendari, beberapa waktu lalu. Dia tampak gelisah ketika masjid di kompleks itu mulai mengumandangkan lagu-lagu tahrim menjelang azan shalat zuhur. “Kita ke masjid dulu Pak, ya”, katanya kemudian dengan senyum yang bersinar.

 

Bangunan yang digunakan sebagai kantor pemasaran Grand Anissa, adalah contoh hunian tipe 60. Di situ perusahaan tersebut akan membangun sekitar 60 unit. Di tempat lain, masih dalam Kota Kendari juga tengah dikerjakan proyek perumahan tipe 36 dan tipe 48.

 

Hakim mengaku tidak buru-buru dalam mengerjakan kegiatan perusahaannya. Pekerjaan baru dikebut apabila ada calon konsumen yang ingin segera menempati rumah yang dipesannya. Dalam proses perjanjian tentu melibatkan pihak bank. Sebab dana yang digunakan ada juga yang bersumber dari dana subsidi pembiayaan rumah murah dari pemerintah.

 

Ada tiga kekuatan yang menopang pengusaha kecil menengah H Abdul Hakim SE, MSi. Pertama ketersediaan lahan milik sendiri. Kedua modal pribadi dan juga dana subsidi rumah murah dari pemerintah. Ketiga pengembangan manajemen. “Ini ada ilmunya sendiri”, ujarnya. Intinya mengoptimalkan pemanaafatan sumber daya dan jeli melihat peluang.

 

Kakek dari dua cucu ini melihat prospek industri perumahan di Kendari dan Sultra umumnya lumayan menjanjikan. Situasi itu berkembang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk di kota-kota. Fenomena pertambahan penduduk harus diimbangi penyediaan sarana dan fasilitas kemudahan. Penyediaan tempat berteduh bagi keluarga, menurut ungkapan yang digunakan Hakim.

 

Pandangan Pemda Sultra juga senada dengan pengalaman Hakim. Menurut Kepala Bidang Rumah Swadaya Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Sultra, Budiman M, ST, MT, ada lima asosiasi perusahaan pengembang (developer) yang beroperasi di provinsi tersebut saat ini.

 

Kehadiran asosiasi tersebut sangat berdampak positif bagi pertumbuhan industri properti. Mereka memanfaatkan prospek yang baik. Menurut Budiman, anggota asosiasi perusahaan itu aktif menjalankan proyek masing-masing untuk memenuhi permintaan pasar.

 

Kelima asosiasi itu ialah REI (Real Estate Indonesia), Perumnas (BUMN), Apersi (Asosiasi pengembang Perumahan Seluruh Indonesia), Apernas (Asosiasi Pengembang Nasional), dan PI (Pengembang Indonesia).

 

Umumnya mereka menangani hunian tipe-36. Terkait pemanfaatkan dana subsidi rumah murah bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah), Budiman melihat perlu ada regulasi yang menjadi pedoman bagi aparat terkait di lapangan. Budiman belum menyebut regulasi seperti apa yang dibutuhkan itu.

 

Bagi Hakim yang bernaung di bawah asosiasi PI, tidak atau belum melihat hambatan serius dalam bisnis perumahan di Sultra. “Kerja sama selama ini cukup baik, dengan pemerintah dan dengan perbankan”, ujarnya.

 

Hakim sendiri menjabat Ketua Bidang Pengembangan Rumah Subsidi Dewan Pengurus PI Sultra. Ketua Umum Pusat adalah Barkah Hidayat. Selain aktif di asosiasi developer, Hakim juga sibuk mengurus teman-temannya di UKM. Dia Ketua Forum UKM Sultra.

 

Di tengah belantara kesibukannya Hakim masih menyisakan sekitar 10 jam waktunya dalam seminggu untuk mengajar di bebarapa perguruan tinggi swasta di Kendari. Di antara di UMK (Universitas Muhammadiyah Kendari) dan STIE 66 Kendari.

 

Kelihatannya Hakim memang sibuk. Tetapi dia sendiri mengaku sangat menikmati kegiatan pembangunan rumah hunian masyarakat. Dia nyaman di bisnis ini. Hakim ikut berbahagia melihat sesama warga hidup nyaman dan tenang di kompleks hasil karyanya. Pepohonan yang tertata hijau di kompleks hunian ikut menyaksikan. ***

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>