KABAENA HARUS JADI KABUAPATEN

OLEH YAMIN INDAS

ISHAK ISMAIL, KETUA DPC PDI-P KOTA KENDARI

KABAENA adalah sebuah pulau yang menampilkan alam pegunungan indah. Lahannya terbentang luas di lembah dan lereng-lereng pegunungan dan bukit. Potensi sumber daya alam tersebut seolah berseru agar penghuni pulau segera bangkit untuk mengolah lahan pertanian yang luas itu menjadi sumber ekonomi nyata.

Buang jauh penyakit malas. Singsingkan lengan baju, ambil parang dan cangkul. Lahan pekarangan jadikan sasaran prioritas. Olah dan bersihkan lahannya lalu tanami jagung, padi, ubi, sayur terong, tomat, labu, kacang-kacangan. Tiga bulan kemudian Anda menjadi makmur. Bahan pangan berlebih. Nah, kelebihannya itu dijual untuk membeli kebutuhan lain.

Lahan yang mulai menghasilkan itu diolah dan ditanami terus setiap musim. Selain tanaman semusim, lahan diperkaya dengan tanaman keras seumpama kelapa, alpukat, mangga arum manis, rambutan. Bila tanaman jangka panjang ini sudah mantap berbuah setiap tahun, Anda bergeser lagi ke sebelah membuka lahan baru dengan pola pertanian seperti semula tadi.

Syukur jika lokasi lahan baru masih dekat dengan kampung Anda. Artinya, kegiatan pertanian tentu dengan mudah dikerjakan karena jaraknya dekat. Tetapi jika lokasi sudah agak jauh lantaran warga lain juga memanfaatkan lahan sekitarnya untuk pertanian seperti yang Anda lakukan, tidak masalah. Berjalan kaki beberapa kilometer malah membuat tubuh makin sehat.

Mengapa saya buka tulisan ini dengan gaya penyuluhan sangat praktis? Hampir semua warga pulau itu memiliki hubungan emosional dengan saya. Kalau bukan hubungan kekerabatan ya hubungan etnis, persahabatan,  dan hubungan sesama anak bangsa. Sebagai sesama orang Kabaena (Tokotu’a) dan Moronene, saya sangat terobsesi agar warga pulau itu juga hidup makmur.

Mereka tidak menjadi penonton kehidupan makmur yang mulai dinikmati orang Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok di Lengora Pantai, Pising, Tedubara, dll. Eks-transmigran itu bergelut usaha pertanian seperti yang saya paparkan di atas, tanpa mengenal lelah..

        Modalnya cukup untuk hidup makmur. Ya lahan luas itu tadi dan sumber daya manusia Tokotu’a dan umumnya Moronene yang berbadan sehat, kekar dan berotot. Dua potensi kekuatan ini yang belum optimal didayagunakan  sehingga Kabaena belum maju-maju.

 

KEKUATAN lain yang bisa mendobrak kebuntuan Kabaena adalah keberpihakan pemerintah. Kabaena sudah hampir 20 tahun menjadi bagian dari kabupaten baru, Bombana, namun nyaris tanpa makna bagi kesejahteraan penduduk pulau yang indah itu.

Dalam kurun waktu itu justru sumber daya alam mineral berupa bijih nikel yang terkuras habis oleh kerakusan para pengusaha tambang bekerja sama dengan oknum-oknum pejabat terkait di kabupaten,  provinsi, dan Kementerian terkait di pusat.

Ketika kekayaan alam itu dikuras, kehidupan orang Kabaena sangat menyedihkan. Bukan hanya soal pukulan batin dan perasaan sebagai penonton pengapalan ratusan juta metrik ton nikel ore di sepanjang pantai pulau. Tetapi secara fisik mereka sangat teraniaya.

Pada musim kemarau warga pulau bermandi abu dari  butiran halus tanah merah yang mengandung bijih nikel (ore), dan pada musim hujan semua badan jalan sulit dilewati akibat pelumpuran. Jalan raya yang membelah pulau itu dari timur ke barat masih jalan tanah. Sering diberi lapisan kerikil namun hanyut dibawa banjir pada musim hujan  berikutnya.

“Tidak bisa lain, Pak, Kabaena harus jadi kabupaten”, ujar Ishak Ismail sepulang dari Kabaena mengantar istrinya sosialisasi sebagai calon anggota DPR-RI Dapil Sultra dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Istrinya, Hj Lirna Lachmuddin SPd di posisi nomor urut 3 kartu suara pemilih di TPS pada 17 April mendatang ini.

Ishak, Ketua Dewan Pengurus Cabang PDI-P Kota Kendari mengaku prihatin melihat kondisi sosial ekonomi dan kondisi fisik Pulau Kabaena. Mantan calon walikota Kendari (2017-2022) tersebut mengatakan, isu pemekaran adalah aspirasi yang kami serap dan akan diperjuangkan secepatnya secara serius.

Saya sendiri optimistis perjuangan masyarakat Kabaena yang sejak awal dimotori Ir Ny Masyhura Ladamay terkait dengan pemekaran itu, akan berhasil pasca Pemliu 2019.

Saya lebih berbesar hati lagi karena PDI-P sebagai partai berkuasa, melalui fungsionarisnya Ishak Ismail dan Nirna Lachmuddin menunjukkan perhatian dan berjanji akan ikut memperjuangkan aspirasi masyarakat tersebut. Siapa tahu jika Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden RI periode 2019-2024, dia cabut keputusan moratorium pemekaran daerah otonom baru (DOB).

HJ NIRNA LACHMUDDIN SPd, CALON ANGGOTA DPR-RI DAPIL SULAWESI TENGGARA DARI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (PDIP)

Secara prinsip saya setuju dengan kebijakan moratorium itu. Sebab pembentukan DOB selama ini tak lebih hanya untuk kepentingan elite setempat. Jika kalah bersaing, maka elite yang lain memperjuangkan suatu DOB di tempat baru agar dia bisa menjadi bupati di situ. Permainan ini sangat merugikan rakyat. Kucuran dana pembangunan disetop oleh kepentingan pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan di ibu kota kabupaten baru. Termasuk pembelian mobil dan rumah dinas para pejabat baru.

Tetapi Kabaena agak berbeda. Pertimbangannya lebih pada sisi kemanusiaan seperti yang saya paparkan tadi. Kabaena membutuhkan affirmatif action dalam rangka memelihara dan mengangkat martabat kemanusiaan di sana. Dan langkah-langkah keberpihakan yang berhasil guna selalu datangnya dari pemerintah.

Ibu Lirna bersama tim konsultannya tidak akan memulai dari awal terkait perjuangan pembentukan DOB Kabaena. Sebab Ny Masyhura dkk sudah agak lama menyiapkan segala persyaratan yang diperlukan.

Bila koalisi ini kompak, DOB Kabaena telah di ambang pintu. Bila demikian halnya, maka persoalan terpulang kepada masyarakat Kabaena, mau hidup makmur atau tetap menderita. Kalau pilihannya  adalah kehidupan yang lebih baik, ya harus bekerja keras mulai sekarang seperti diutarakan di awal tulisan ini.

Saya ingin mengingatkan, bila Kabaena menjadi kabupaten, maka dia praktis menjadi gula bagi semut. Masyarakat dari berbagai penjuru Tanah Air, akan berdatangan mencari peluang untuk ikut menikmati berkah dan rezki yang dianugrahkan Tuhan melalui pemekaran itu. Jika warga Kabaena tidak segera mengambil dan mencari posisi sejak sekarang, baik dalam arti social maupoun ekonomi,  maka Anda akan tergeser bahkan jatuh untuk menjadi buruh, atau orang gajian bagi para pendatang. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>